NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lapak Mika Mendadak Sepi

Pasar mulai ramai ketika Mika menggelar lapaknya. Jambu air tersusun rapi, masih berembun, warnanya merah pucat, ada juga mangga dan pisang di sebelahnya. Beberapa pembeli sudah berhenti, menimbang, tersenyum.

Lalu suara itu muncul. “Eh, jangan beli di situ.” Tidak keras. Tapi cukup jelas. Seorang pria berdiri di antara dua lapak, pakaiannya biasa saja. Wajahnya asing, tapi caranya bicara seperti sudah lama ada di sini.

“Kenapa?” tanya seorang ibu yang sudah memegang jambu Mika.

Pria itu mengangkat bahu. “Katanya kebunnya dekat sungai kecil. Airnya sering keruh.”

Ia melangkah satu langkah mendekat ke ibu itu. Tangannya masuk ke saku celana. Keluar dengan beberapa lembar uang.

“Kalau mau beli di lapak sebelah,” katanya sambil menyelipkan uang itu ke tangan si ibu, “saya ganti selisihnya.”

Ibu itu terkejut. “Lho....”

“Tidak apa-apa,” potong pria itu cepat. “Biar sama-sama enak.”

Beberapa orang melihat. Ada yang berbisik. Ada yang berpura-pura sibuk. Tidak ada yang menegur. Uang berpindah tangan dengan cepat.

Ibu itu mundur satu langkah, ragu. Lalu mengangguk kecil dan pergi ke lapak lain.

Lapak Mika mendadak sepi.

Mika berdiri kaku, tangannya masih memegang timbangan. Jantungnya berdebar bukan karena malu, tapi karena rasa asing yang dingin. Ini bukan gosip pasar biasa. Ini terlalu terarah.

Ia merasa… diperhatikan.

Bukan satu tatapan. Tapi banyak. Terlalu banyak untuk kebetulan.

“Buahnya segar seperti biasa,” kata seorang ibu langganan yang datang sambil memilih mangga. Tapi suaranya terdengar ragu. Tangannya berhenti, lalu mundur.

“Harganya sama?” tanya ibu itu lagi.

“Masih,” jawab Mika. “Seperti minggu lalu.”

Ibu itu mengangguk, tersenyum tipis, lalu anehnya, ibu itu meletakkan kembali mangga yang sudah dipilih.

“Nanti saja,” katanya. “Aku lihat-lihat dulu.”

Ia pergi ke lapak sebelah.

Mika menelan ludah.

Satu orang mungkin kebetulan. Dua masih wajar. Tapi tiga, empat orang melakukan hal yang sama datang, melihat, bertanya, lalu pergi tanpa membeli.

“Kenapa hari ini sepi?” bisik Mika pada Bu Sari di lapak sebelah.

Bu Sari menoleh, rautnya canggung. “Ah… mungkin orang-orang lagi hemat.”

“Tapi lapakmu ramai.” Mika melihat sayur seperti terung dan wortel laris.

Bu Sari terdiam sesaat, lalu menunduk pura-pura merapikan sayur.

“Kadang… orang desa tidak suka perubahan,” katanya akhirnya, pelan.

Mika mengerutkan kening. “Perubahan apa?”

Bu Sari tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas ke ujung pasar ke arah seorang pria asing yang duduk di warung kopi, membelakangi mereka.

Mika mengikuti arah pandangnya.

Pria itu tidak melakukan apa-apa. Tidak melihat langsung ke arahnya. Tidak mencatat. Tidak berbicara. Tapi entah kenapa, keberadaannya terasa… tidak salah tempat, dan justru itu yang membuatnya mencolok.

Ketika Mika kembali menoleh, pria itu sudah tidak ada.

Pria itu melangkah pergi setelah uangnya habis. Tidak menoleh lagi. Seolah semua ini tidak penting.

Tapi sebelum benar-benar pergi, ia berhenti di ujung pasar. Menoleh sebentar ke arah Mika.

Tatapan singkat.

Terukur.

Seperti memastikan pesan sudah sampai.

Siang menjelang. Mika menghitung hasil jualannya.

Kurang dari separuh hari biasa.

Jantungnya berdegup tidak nyaman.

Jovan menunggu di tepi pasar, berdiri di bawah pohon besar. Ia tidak ikut mendekat ke lapak Mika, sengaja. Ia tahu kehadirannya bisa membuat orang-orang semakin kaku.

Dari tempatnya berdiri, ia melihat semuanya.

Hanya satu lapak yang setengah kosong. Dan pasar mulai sepi.

“Mika?” Jovan berhenti di depannya. “Kenapa?”

Mika mengangkat wajahnya. Ia ingin bilang tidak apa-apa. Tapi suaranya lebih jujur dari niatnya. “Lapakku sepi." katanya pelan. “

Jovan tidak langsung bereaksi. Ia melihat sekitar. Lapak-lapak. Wajah-wajah yang pura-pura sibuk.

Ia tahu pola ini.

Ini bukan serangan.

Ini ujian wilayah.

Jovan mengepalkan rahangnya. Dalam kepalanya, satu kesimpulan berdiri jelas dan dingin.

Levis sudah mulai bermain kotor.

Dan ia memilih pasar tempat yang tidak bisa Jovan lindungi tanpa terlihat.

Tatapan singkat ke arah Mika.

Ini bukan spontan.

Ini diarahkan.

Mika mengangguk. “Entah kenapa.”

Jovan tidak bertanya lagi. Ia membantu mengangkat keranjang. Tangannya mantap, tapi pikirannya bergerak cepat.

Levis tidak mengirim orang untuk membeli.

Levis mengirim orang untuk membuat orang lain ragu.

Tekanan tanpa sentuhan.

Cara yang sama seperti dulu.

Di perjalanan pulang, Mika berjalan lebih cepat dari biasanya. “Mereka tidak kasar,” katanya, seolah membela desa itu sendiri. “Tidak ada yang bicara buruk. Tapi rasanya… berbeda.”

“Karena mereka disuruh diam,” jawab Jovan tenang.

Mika berhenti melangkah. “Disuruh siapa?”

Jovan menatap jalan tanah di depan mereka. “Orang yang tidak ingin terlihat.”

Mika memeluk keranjang lebih erat. Untuk pertama kalinya sejak Jovan tinggal di rumah mereka, rasa takut itu nyata bukan bayangan, bukan kemungkinan.

“Ini karena kamu?” tanyanya lirih.

Jovan tidak langsung menjawab. Tapi diamnya sudah cukup.

Pak Raka berdiri di ambang pintu ketika mereka tiba. Pandangannya langsung jatuh pada keranjang Mika.

Masih penuh.

Bukan penuh karena panen bagus tapi karena tidak berpindah tangan.

Ia tidak bertanya apa-apa. Tidak menyapa lebih dulu. Ia hanya menyingkir sedikit, memberi jalan, lalu menutup pintu pelan setelah mereka masuk.

“Taruh saja di dapur,” katanya akhirnya.

Mika meletakkan keranjang di meja. Buah-buah itu masih segar, tapi sekarang tampak seperti beban. Ia menunggu ayahnya berkata sesuatu, marah, mengeluh, atau setidaknya bertanya.

Tidak ada.

Pak Raka mengambil satu jambu, memeriksanya. Menekan sedikit. Matangnya pas.

“Ini bagus,” katanya. “Tidak mungkin tidak laku.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Mika menunduk.

“Ada orang di pasar,” katanya akhirnya. “Dia bilang macam-macam. Orang-orang jadi...”

Pak Raka mengangkat tangan, menghentikannya. “Ayah tahu,” katanya pelan.

Mika terkejut. “Ayah… tahu?”

“Desa kecil,” jawab Pak Raka. “Kalau satu lapak dijauhkan, itu bukan kebetulan.” Ia menoleh ke Jovan. Tatapannya tajam, tapi tidak menyalahkan.

“Kau sudah merasa dia?” tanyanya.

Jovan mengangguk. “Sejak kemarin.”

Pak Raka menarik napas panjang, lalu duduk. Ia menyandarkan tongkatnya ke dinding.

“Orang seperti itu tidak ingin ribut,” katanya. “Dia ingin kita saling menekan. Pelan-pelan.”

Mika mengepalkan jemarinya. “Lalu kita harus bagaimana?”

Pak Raka terdiam sejenak. Ia menatap jendela, ke arah jalan desa yang terlihat biasa saja.

“Kita tetap hidup seperti biasa,” katanya akhirnya. “Kita tidak menutup lapak. Tidak pindah pasar. Tidak melawan.”

Mika menatap ayahnya, ragu. “Itu saja?”

“Itu yang paling membuat orang tidak sabar,” jawab Pak Raka. “Karena dia ingin kita takut.”

Jovan menyandarkan punggungnya ke dinding. “Dia akan naikkan tekanannya.”

“Pasti,” kata Pak Raka. “Tapi setiap tekanan meninggalkan jejak.”

Ia bangkit, berjalan ke dapur, mengambil pisau dan mulai membelah jambu-jambu itu. Gerakannya tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Kita tidak membuang apa pun,” katanya sambil bekerja. “Buah ini kita makan. Kita bagikan. Kita jual besok.”

Mika menelan ludah. Ada ketenangan aneh di dadanya.

Pak Raka menoleh padanya. “Kau tidak salah. Dan kau tidak sendirian.” Lalu ia menatap Jovan.

“Dan kau,” katanya datar, “kalau kau mau tinggal di rumah ini… kau ikut aturan desa.”

Jovan mengangguk. “Aku mengerti.”

Pak Raka melanjutkan memotong buah, suara pisaunya kembali memenuhi dapur.

Di luar, sore berjalan seperti biasa.

Tapi di dalam rumah itu, satu keputusan sudah dibuat,

mereka tidak akan mundur.

Dan bagi orang seperti Levis, sikap tidak mundur adalah tantangan.

Sore itu, kepala dusun mampir lagi.

Lebih lama dari biasanya.

Ia duduk, minum teh, berbicara tentang pasar, tentang harga buah yang turun, tentang “isu kecil” yang katanya hanya gosip.

“Orang kota memang selalu bikin penasaran,” katanya sambil tersenyum.

Jovan tersenyum balik. Tipis. Terkontrol.

“Biasanya,” jawabnya, “yang bikin penasaran bukan orangnya. Tapi cerita yang beredar.”

Kepala dusun tertawa kecil. Terlalu cepat.

“Ah, desa kecil. Cerita mudah menyebar.”

Jovan mengangguk. “Dan mudah diarahkan.”

Tawa itu berhenti sepersekian detik.

Cukup.

Malamnya, Mika duduk di dapur, menatap uang hasil jualan yang sedikit. Jovan berdiri di ambang pintu, memperhatikan cara bahu gadis itu sedikit turun.

“Aku bisa berhenti ke pasar beberapa hari,” kata Mika pelan. “Sampai… tenang.”

Jovan menggeleng. “Itu yang mereka mau.”

Mika menatapnya. “Mereka?”

Jovan melangkah mendekat. Suaranya rendah, tapi tegas. “Kalau kau berhenti hidup normal, berarti tekanan berhasil.”

Mika terdiam. Ada ketakutan. Tapi ada juga kemarahan kecil bukan pada Jovan, melainkan pada situasi yang merayap masuk ke hidupnya.

“Aku tidak mau takut di tempatku sendiri,” katanya.

Kalimat itu sederhana.

Dan bagi Jovan De Luca, itu adalah garis yang jelas.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!