Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta hal gila kepada Farhan
Helena benar-benar emosi melihat banyak sekali tuntunan chat dari enam nomor yang tidak di kenal, bahkan beberapa dari nomor tersebut sengaja mengirimkan video disinya saat masih berumur 23 tahun yang sedang di ikat di sebuah kursi kayu dengan kedua matanya yang tertutup oleh kain hitam.
"Kurang ajar sekali, mereka bahkan mengambil gambarku saat itu,"
Kedua mata Helena memerah, menahan segala rasa yang bergejolak di dalam hatinya, antara marah, kecewa, sakit hati dan juga sedih. Semuanya bercampur menjadi satu.
"Kita lihat apakah kalian masih bisa menjatuhkanku setelah ini?" kekeh Helena menatap ponselnya yang masih menampilkan gambar dirinya sedang dilecehkan, walaupun tidak dengan sentuhan, tapi tetap saja dirinya yang hanya memakai pakaian dalam diikat di sebuah kursi kayu dan mereka secara diam-diam mengambil gambar dirinya.
Dengan langkah pasti, Helena melangkah keluar kamar dan berjalan ke ruang kerja suaminya, jam menunjukkan angka 10 malam, dan biasanya Farhan masih sibuk mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja.
"Assalamu'alaikum, mas,"
Helena langsung masuk dan mengucapkan salam, ia menampilkan wajah sedihnya agar Farhan peka apa yang sedang terjadi kepadanya.
"Waalaikumsalam," jawab Farhan medongak dan mendapati istrinya berwajah sedih.
"Loh kamu kenapa? Tidak bisa tidur?" tanya Farhan bingung.
Tiba-tiba saja Helena menjatuhkan tubuhnya dan memeluk Farhan. Tubuh Farhan yang belum siap dengan skinship itu langsung menegang, dan sialnya jantungnya malah berdetak cepat.
Farhan hendak melepaskan pelukannya sebelum suara isakan Helena terdengar di telinganya.
"Helena, kamu menangis?" tanya Farhan lembut.
Mendengar pertanyaan seperti itu, Helena semakin menangis kencang, kedua tangannya meremas baju Farhan begitu kencangnya.
"Mas, bisakah kamu menyingkirkan mereka, mereka benar-benar sudah keterlaluan?" tanya Helena melonggarkan pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah Farhan.
Farhan mengerutkan dahinya bingung. Mereka? Mereka siapa yang Helena maksud? Apakah masih berhubungan dengan keluarganya?
"Mereka siapa?"
"Mas lihat!"
Helena menyerahkan ponselnya kepada Farhan untuk melihat semua pesan yang masuk ke dalam ponselnya, Farhan menerimanya dan membaca satu-satu pesan yang masuk ke dalam ponsel istrinya.
Urat-urat di lehernya langsung terlihat menonjol, rahangnya mengeras, dan genggaman tangannya pada ponsel mengerat, seakan ponsel itu akan hancur saat itu juga jika Helena tidak menyentuh lembut tangan suaminya.
"Kamu tau siapa saja yang mengirim pesan ini?" tanya Farhan menatap Helena.
Helena menganggukkan kepalanya, tentu saja dia tahu, memangnya siapa lagi jika bukan saudaranya, iparnya, papanya juga ibunya.
"kak Farrel, kak Gavriel, kak Janetta, Papa, ibu dan juga mama, mereka masih berusaha kembali mengambilku,"
Rahang Farhan semakin mengeras, bahkan kedua tangannya sudah terkepal erat, entah apa yang merasuki Farhan, tapi malam ini, ia benar-benar sangat marah kepada keluarga dari istrinya yang memiliki niat untuk membawa Helena dari sisi-Nya. Karena mulai malam ini, Farhan tidak akan pernah lagi membiarkan mereka hidup tenang, akan Farhan buat kehidupan mereka menjadi menderita, seperti yang pernah istrinya rasakan saat tinggal bersama mereka dulu.
"Hancurkan mereka untukku mas," lirih Helena menatap putus asa Farhan, dan tatapan itu sukses membuat Farhan semakin luluh dengan Helena.
Kesabaran Helena habis sudah malam ini, ia benar-benar ingin membalas semua rasa sakitnya, semua lukanya yang mereka torehkan kepada Helena, tidak ada lagi kata maaf yang Helena simpan untuk mereka, hatinya benar-benar sudah di penuhi oleh rasa amarah.
"Baik, akan mas hancurkan mereka untukmu," lirih Farhan memeluk Helena.
Helena tersenyum puas, rasanya tenang sekali begitu tau Farhan benar-benar akan menghancurkan keluarganya demi dirinya, bukan lagi demi balas dendam ia kepadanya, tapi kini balas dendam untuk istrinya, karena Farhan sudah mulai terjatuh ke dalam pesona Helena.
***
Keesokan paginya, Helena mendengar kabar dari sebuah siaran di televisi jika keluarga black baru saja terkena sebuah kasus penggelapan uang juga menyebarkan sabu ke berbagai daerah.
Entah bagaimana mereka bisa begitu mudahnya tertangkap oleh polisi, padahal selama puluhan tahun, Helena sama sekali sangat tahu jika keluarganya itu benar-benar sangat handal bermain, tidak sekalipun mereka ketahuan telah berkali-kali menggelapkan uang dari pemerintahan, penyebaran sabu, obat-obatan terlarang, bahkan sampai berhasil menghindari perpajakan, licik memang, tapi itulah mereka.
"Kamu senang?" tanya Farhan memeluk Helena dari belakang.
Helena tersenyum dan menaruh tangannya di atas tangan suaminya yang ada di perutnya.
"Kenapa mas tahu jika mereka telah melakukan itu semua?" tanya Helena tanpa menoleh ke belakang.
Farhan terkekeh, "maaf aku lancang, aku sebenarnya tidak tahu jika mereka telah melakukan banyak hal gila itu, tapi aku sengaja memakai ponselmu untuk mencari semua jejak buruk mereka agar aku bisa melaporkan kejahatan mereka kepadamu, tapi aku justru menemukan banyak hal yang tidak terduga, hingga akhirnya aku memutuskan melaporkan bisnis mereka yang sangat gelap, tapi sebelum itu aku meminta kepada seseorang yang sangat handal untuk menghapus semua jejak rekamanmu di ponsel mereka tanpa ada yang tersisa satupun," jawab Farhan yang ternyata menemukan semuanya di ponsel istrinya.
"Kamu tahu semuanya tentang mereka, tapi kenapa kamu tidak melaporkan mereka ke polisi?" tanya Farhan.
Helena menggeleng, "jika aku yang melapor kemungkinan besar aku juga akan menjadi orang yang terlibat dengan mereka, secara aku dulu masih tinggal satu rumah dengan mereka,"
"Benar juga, bagusnya semalam aku langsung menghapus semua jejak rekaman yang ada di dalam ponselmu, karena akan sangat bahaya jika polisi mendeteksi nomor ponselmu sebagai nomor yang pernah berinteraksi dengan mereka,"
"Aku tidak pernah berinteraksi dengan mereka, mas," protes Helena tidak terima, karena pada nyatanya, memang mereka yang sengaja mengirimkan pesan kepada Helena untuk memberikan ancaman. Padahal Helena baru memiliki ponsel setelah ia menikah dengan Farhan, tapi keluarganya rela mempersulit diri demi mendapatkan nomor Helena.
Helena pun menggunakan ponselnya untuk mengumpulkan semua bukti kejahatan dan juga bisnis gelap keluarganya, dan beruntungnya Helena dulu memiliki sebuah flashdisk, sehingga dapat menyalinnya dan membawa semua bukti mereka saat dirinya kabur.
Yang tidak Farhan sadari adalah, Helena memang sengaja menyalin semua buktinya ke dalam ponselnya, lalu ia pun sengaja tidak mengunci ponselnya agar Farhan mudah mengakses semua yang berada di dalam ponselnya, lagi pula, nomor yang digunakan olehnya adalah nomor kosong yang ia dapatkan dari seorang kenalannya saat ia berusaha kabur dari dalam rumah.
Helena tidak mau mengotori tangannya untuk membalas semua kejahatan keluarganya, jadinya ia sengaja menjadikan Farhan sebagai alat untuk menuntaskan balas dendamnya.
Entah benar atau salah, Helena tidak peduli, karena suaminya sendiri yang mengajarkan balas dendam kepada seseorang yang membuat ia terluka.