"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik: Ketika Ibu tidak lagi diam
Gangguan itu tidak lagi bersembunyi di balik kata-kata.
Jika dulu saudara tirinya menyelipkan ejekan di sela tawa, kini mereka tidak lagi repot berpura-pura. Dorongan di lorong menjadi sengaja. Barang-barangnya hilang bukan karena “tidak sengaja”. Luka kecil di lengannya tak lagi bisa disembunyikan dengan alasan jatuh.
Dan yang paling kejam—mereka tahu tidak ada yang akan membelanya.
Bai Ruoxue mengerti itu lebih cepat daripada siapa pun.
Ia melihat cara ayah tirinya memalingkan wajah setiap kali namanya disebut. Ia mendengar nada ibunya yang semakin pelan saat menegurnya agar bersabar. Ia tahu rumah ini telah membuat satu keputusan tanpa pernah mengucapkannya dengan suara keras.
Ia sendirian.
Hari itu langit kelabu. Angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Bai Ruoxue berjalan pulang dengan langkah cepat, kepalanya tertunduk. Ia membawa buku-buku erat di dada—bukan untuk melindungi buku itu, melainkan dirinya sendiri.
Saudara tirinya menunggu.
Bukan di rumah.
Bukan di lorong.
Melainkan di tepi sungai kecil di belakang paviliun, tempat yang jarang dilewati orang dewasa. Mengapa mereka ada di sana? Tidak biasanya mereka bermain di sana.
“Ke sini sebentar,” kata salah satu dari mereka, suaranya ringan. Terlalu ringan.
Bai Ruoxue berhenti. Jantungnya berdetak keras. Nalurinya berteriak untuk lari. Tapi ia tahu—lari hanya akan memperburuk segalanya. Ia sudah tak bisa berbalik. Karena, jika ia berbalik ia akan tampak seperti saudara yang aneh. Akhirnya perlahan ia memajukan langkahnya.
“Ada apa?” tanyanya pelan.
Senyum mereka menyeringai. Tidak ada jawaban.
Tangan kasar mendorongnya dari belakang. Buku-bukunya jatuh. Satu per satu tercecer di tanah lembap. Bai Ruoxue berusaha berbalik, tapi dorongan berikutnya lebih kuat.
Ia terjatuh.
Tubuhnya tergelincir ke arah sungai.
Ia hanya sempat melihat air yang gelap—
dan duri.
Banyak duri.
Teriakan tercekat di tenggorokannya saat tubuhnya jatuh ke dalam air dingin. Rasa sakit langsung menyambar. Duri-duri itu menggores kulitnya, menahan tubuhnya agar tidak bisa bergerak bebas. Air masuk ke hidung dan mulutnya. Ia tersedak, panik, berusaha meraih apa pun.
Duri-duri itu semakin gencar menusukkan dirinya ke kulit yang masih lembut itu. Menimbulkan warna merah di tengah aliran sungai yang jernih. Ia meringis kesakitan dan juga berusaha menghilangkan duri-duri itu dengan menggoyang-goyang kan kakinya. Namun, hal itu sia-sia. Duri-duri itu semakin menempel di kakinya kala ia bergerak dalam air tersebut.
Tawa terdengar di atas.
“Jangan pura-pura mati.”
“Biar tahu diri.”
Air menelan suaranya.
Dalam kekacauan itu, Bai Ruoxue tidak berpikir tentang menyalahkan siapa pun. Ia tidak berpikir tentang membalas. Yang ada di kepalanya hanya satu hal yang anehnya tenang:
Aku tidak boleh mati di sini.
Ia menggigit bibirnya, menahan jerit. Menggerakkan tubuhnya perlahan, meski setiap gerakan terasa seperti disayat. Duri menancap, mencabik pakaian dan kulitnya. Tangannya berdarah. Lututnya perih. Tapi ia terus bergerak.
Saat akhirnya ia berhasil merangkak keluar, tubuhnya gemetar. Air menetes dari rambutnya. Pakaian lusuh, sobek di beberapa tempat. Darah bercampur lumpur menodai kulitnya.
Saudara tirinya sudah pergi.
Seolah apa yang mereka lakukan hanyalah permainan sore. Permainan yang memuaskan keinginan mereka. Tanpa peduli luka atau perasaan seseorang.
Bai Ruoxue berdiri tertatih. Setiap langkah menuju rumah terasa berat. Pandangannya berkunang-kunang. Tapi ia berjalan. Tidak menangis. Tidak memanggil.
Ia hanya ingin pulang.
Ketika pintu terbuka, ibunya sedang berdiri di ruang dalam.
Dan untuk pertama kalinya—ibunya melihat semuanya.
Bai Ruoxue berhenti di ambang pintu. Air masih menetes dari ujung bajunya, membentuk genangan kecil di lantai. Rambutnya menempel di wajahnya. Luka-luka merah terlihat jelas di lengan dan kakinya.
Ibunya membeku.
Wajah itu…
wajah itu tidak langsung berubah jadi amarah.
Yang muncul lebih dulu adalah ketakutan.
“Ruoxue…?” suaranya nyaris tak terdengar.
Bai Ruoxue membuka mulut, tapi tak ada suara keluar. Tubuhnya akhirnya menyerah. Lututnya melemas.
Ibunya berlari.
Ia menangkap tubuh putrinya sebelum jatuh sepenuhnya. Memeluknya erat—terlalu erat. Tangannya gemetar saat menyentuh luka-luka itu.
“Siapa yang melakukan ini…?” bisiknya, suaranya pecah.
Bai Ruoxue tidak menjawab. Ia hanya menempelkan wajahnya ke dada ibunya, napasnya terengah.
Dan di situlah—
sesuatu dalam diri sang ibu runtuh sepenuhnya.
Selama ini ia tahu.
Ia tahu tatapan itu. Ia tahu perubahan sikap. Ia tahu luka-luka kecil yang selalu muncul dengan alasan yang terlalu rapi. Ia tahu, dan ia memilih diam.
Karena ia takut.
Takut kehilangan rumah ini. Takut membuat segalanya lebih buruk. Takut jika ia melawan, maka putrinya akan menerima balasan yang lebih kejam.
Ia memilih diam demi bertahan.
Tapi kini, tubuh putrinya yang dingin dan penuh luka berada di dalam pelukannya.
Dan untuk pertama kalinya, ia sadar: diam tidak melindungi siapa pun. Diam hanya memberi izin.
Ibunya mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi tatapannya tajam. Tidak lagi ragu.
“Sudah cukup,” katanya lirih. Namun suaranya mengandung sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya—tekad.
Ia membersihkan Bai Ruoxue. Mengeringkan rambutnya. Membalut luka-lukanya dengan tangan yang masih gemetar. Setiap goresan terasa seperti pisau yang menusuk hatinya sendiri.
Maaf tidak cukup.
Tangis tidak cukup.
Malam itu, ketika ayah tiri pulang, rumah terasa berbeda.
Ibunya berdiri di ruang utama. Tidak duduk. Tidak menyambut. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
“Anakku hampir mati hari ini,” katanya datar.
Ayah tiri itu terdiam. “Apa maksudmu?”
Ibunya menatapnya lurus. “Jangan pura-pura tidak tahu.”
Keheningan meregang.
“Aku sudah diam terlalu lama,” lanjutnya. “Aku menelan semuanya. Aku membiarkan putriku disakiti demi rumah ini.”
Suaranya bergetar, tapi ia tidak berhenti.
“Tapi hari ini, aku melihat darah di tubuhnya. Dan aku sadar—jika aku tetap diam, aku bukan ibu yang baik.”
Ayah tiri itu mengerutkan kening. “Kau melebih-lebihkan—”
“Tidak,” potongnya. “Akulah yang mengecilkan semuanya selama ini.”
Untuk pertama kalinya, ia tidak menunduk.
“Jika ini terus berlanjut,” katanya pelan tapi tajam, “aku akan membawa Ruoxue pergi. Aku tidak peduli reputasi. Aku tidak peduli posisi.”
Itu ancaman.
Dan ia tahu itu.
Ayah tiri itu terdiam lebih lama dari sebelumnya.
Di kamar, Bai Ruoxue berbaring dengan mata terbuka. Ia mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap jeda.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Ia tidak tahu apakah ibunya akan menang.
Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasakan sesuatu yang hampir terlupakan: seseorang berdiri di sisinya.
Dan meski luka-lukanya masih perih, meski dunia tetap kejam, satu hal berubah malam itu—Bai Ruoxue tidak lagi sepenuhnya sendirian.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi