NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Clara Rosenberg

Norah mengitari Greta seperti hiu yang menemukan luka di permukaan air.

matanya yang tajam memindai setiap inci fitur wajah Asia gadis itu dengan penghinaan yang terang-terangan. Ia berhenti tepat di depan Greta, lalu dengan kasar menjepit dagu Greta menggunakan ibu jari dan telunjuknya, memaksa gadis itu mendongak.

​"Lihat mata ini," desis Norah, suaranya cukup keras untuk memancing tawa dari lingkaran pengikutnya. "Apa kau benar-benar bisa melihat dunia dengan celah sesempit itu, Greta? Atau apakah semuanya tampak buram seperti masa depanmu di sini?"

​Greta mencoba memalingkan wajah, namun cengkeraman Norah semakin kuat, kuku-kukunya yang tajam menekan kulit pucat Greta hingga meninggalkan bekas kemerahan.

​"Rev bilang kau bahkan tidak bisa bicara bahasa Inggris dengan benar tanpa terdengar seperti mesin rusak," Norah mencibir, lalu menoleh ke arah Revelyn. "Benar kan, Rev? Dia hanya membawa polusi suara dan bau aneh ke kelas kita."

​Revelyn hanya tertawa sinis sambil melipat tangan. "Dia bilang dia ingin 'berbaur', Norah. Lucu sekali, bukan?"

​Norah kembali menatap Greta, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti. "Dengarkan aku baik-baik, Porselen Kecil. Toronto tidak butuh satu lagi parasit yang hanya bisa menunduk dan diam. Kau datang ke sini membawa aroma rempah busuk dan berharap kami menerimamu?"

​Dengan satu gerakan cepat, Norah menarik ikat rambut Greta hingga terlepas. Rambut hitam panjang itu tergerai berantakan, dan Norah dengan sengaja meludahi helai hitam itu.

​"Kembalilah ke tempat asalmu jika kau ingin dihargai. Di sini, kau hanyalah barang pajangan yang cacat," Norah kemudian mendorong bahu Greta hingga gadis itu terhuyung ke belakang. "Mulai besok, jangan duduk di barisan depan. Aku tidak sudi melihat wajah 'asingmu' merusak pemandangan kelasku. Duduklah di lantai belakang, atau lebih baik lagi, di tempat sampah."

​Norah tertawa meledak, suara yang diikuti oleh ejekan rasis dari yang lain saat mereka mulai menirukan aksen yang dilebih-lebihkan untuk menghina Greta. Greta berdiri mematung, dadanya sesak oleh hinaan yang jauh lebih dingin daripada angin Toronto, menyadari bahwa warna kulit dan garis matanya telah menjadi dosa yang tak termaafkan di mata mereka.

Keheningan yang dingin menyelimuti halaman belakang saat sebuah bayangan tinggi jatuh menaungi Greta. Dari belakang Norah, muncul seorang pria dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi. Zev.

​"Jangan terlalu keras dengannya, Norah," suara pria itu rendah, namun getarannya membuat bulu kuduk Greta meremajakan.

​pria itu melangkah maju dan tiba-tiba meletakkan tangannya yang besar di bahu Greta. Greta tersentak, tubuhnya menegang hebat hingga ia nyaris lupa cara bernapas. Sentuhan itu tidak terasa seperti perlindungan; itu terasa seperti cengkeraman seekor predator yang baru saja menandai mangsanya. Greta menatap pria itu dengan mata yang membelalak ketakutan, namun pria itu justru membalasnya dengan tatapan intimidasi yang seolah menguliti harga diri Greta di depan umum.

​Norah tertawa kecil, suara tawa yang melengking di antara deru angin. "Zev, awas! Jangan memegang dia terlalu lama kalau kau tidak mau tertular oleh baunya."

​Zev tidak langsung melepaskan cengkeramannya. Ia justru menyunggingkan senyum miring yang mengerikan. "Bau? Bau apa?" Zev bertanya dengan nada pura-pura penasaran yang menjijikkan. "Biar kucium lebih dekat."

​Tanpa peringatan, Zev menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke arah wajah Greta. Greta bisa merasakan hawa napas Zev di kulit pipinya. Ia memejamkan mata erat-erat, memalingkan wajah sejauh mungkin hingga lehernya terasa sakit. Seluruh tubuhnya gemetar; ia merasa seperti seekor kelinci yang terpojok di bawah taring serigala. Di sekeliling mereka, tawa pengikut Norah semakin pecah, menikmati setiap detik penghinaan yang sedang berlangsung.

Suasana mencekam itu tiba-tiba pecah oleh sebuah seruan yang memotong udara seperti silet.

​"Greta!"

​Zev tersentak, refleks menarik tangannya dari bahu Greta dan mundur selangkah. Lingkaran intimidasi itu terbuka saat seorang gadis melangkah maju dengan langkah tegap. Ia memiliki kulit eksotik yang manis dan tatapan mata yang cerdas namun waspada.

​"Maaf semuanya," ucap gadis itu, suaranya tenang namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. Ia berdiri tepat di antara Greta dan para perundungnya. "Tapi Greta dipanggil oleh kepala sekolah sekarang juga."

​Norah menyipitkan mata, melipat tangan di depan dada dengan ekspresi tak percaya. "Dipanggil kepala sekolah? Untuk apa?"

​"Iya, sepertinya urusan administrasi penting terkait perpindahannya dari sekolah sebelumnya," jawab Clara tanpa ragu sedikit pun. Sebelum Norah sempat menginterogasi lebih lanjut, gadis itu langsung menyambar lengan Greta. "Ayo, kita tidak boleh terlambat."

​lalu menarik Greta dengan gerakan yang sedikit terburu-buru, membawa gadis yang masih gemetar itu menjauh dari pohon maple yang terkutuk itu. Greta mengikuti dengan langkah limbung, seolah-olah jiwanya baru saja dikembalikan ke dalam tubuhnya.

​Di bawah naungan pohon, Norah, Revelyn, dan Zev terdiam menatap punggung mereka yang menjauh.

​"Sialan Clara," desis Revelyn, wajahnya memerah karena kesal. "Dia pikir dia siapa? Dia mencoba main-main dengan kita?"

​Norah justru mengeluarkan tawa kecil yang rendah, sebuah suara yang menandakan bahwa ia sama sekali tidak merasa kalah. Ia menatap kepergian mereka dengan tatapan seorang predator yang baru saja menemukan mangsa tambahan.

​"Biarkan saja," ucap Norah sambil mengibaskan rambut pirangnya dengan angkuh. "Dua mainan akan jauh lebih seru daripada satu, kan?"

​Ia berbalik, memberikan isyarat kepada kelompoknya untuk bergerak. "Ayo kita ke kantin. Aku sudah lapar."

Mereka melangkah menyusuri koridor yang kini mulai sepi, hanya menyisakan gema langkah sepatu mereka yang beradu dengan lantai linoleum. Clara tidak melepaskan genggamannya, seolah ia adalah satu-satunya jangkar yang menjaga Greta agar tidak hanyut dalam ketakutan.

​"Apakah kau tidak apa-apa?" tanya Clara lembut, suaranya sarat akan kekhawatiran yang tulus.

​Greta tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, kepalanya masih tertunduk, namun matanya sesekali melirik Clara melalui celah rambut hitamnya yang berantakan. Ia menatap gadis berkulit eksotik itu dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara rasa syukur dan kebingungan yang mendalam.

​Langkah Clara tidak berhenti di depan kantor administrasi. Ia justru membawa Greta melewati deretan loker logam yang dingin, lalu berbelok menuju sebuah tangga beton di ujung sayap bangunan yang jarang dilewati.

​Greta mulai merasa bingung. Detak jantungnya kembali berpacu. Mereka tidak menuju ke ruang kepala sekolah seperti yang dijanjikan Clara di hadapan Norah tadi. Namun, lidah Greta terasa kelu; ia hanya terdiam, membiarkan lengannya yang pucat dan dingin tetap berada dalam tuntunan tangan Clara yang hangat.

​Mereka menaiki anak tangga terakhir hingga tiba di depan sebuah pintu besi berat. Dengan satu dorongan kuat, pintu itu terbuka, menyambut mereka dengan embusan angin Toronto yang kencang dan aroma kebebasan.

​Atap sekolah itu membentang luas, dikelilingi pagar kawat tinggi yang sudah sedikit berkarat. Dari sana, cakrawala kota Toronto terlihat jelas—pucuk-pucuk gedung pencakar langit di pusat kota menyembul di balik kabut musim gugur. Bunyi klakson kendaraan di kejauhan terdengar seperti dengung lebah yang jauh, kalah oleh siulan angin yang menari di antara tangki air raksasa di atas sana.

​"Sekarang kita aman di sini," sahut Clara sambil mengembuskan napas lega. Ia tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti musik di telinga Greta yang masih berdenging akibat makian Norah. "Walaupun mungkin hanya untuk sementara."

​Clara melepaskan genggamannya, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Greta. Sinar matahari sore yang tipis menerpa kulit eksotiknya, membuatnya tampak bersinar. Ia mengulurkan tangannya dengan gerakan yang ramah dan terbuka.

​"Oh iya, kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Clara. Clara Rosenberg."

​Greta menatap tangan yang terulur itu dengan ragu. Jemarinya yang ramping gemetar saat ia perlahan menyambut tangan Clara. Rasanya aneh menyentuh seseorang yang tidak berniat menyakitinya.

​"Aku..." Greta menelan ludah, suaranya parau dan bergetar hebat akibat trauma yang masih segar. "Greta... Greta Hildegard."

​Ia menyebutkan namanya seolah itu adalah sebuah rahasia yang rapuh, sebuah identitas yang nyaris dihancurkan di bawah pohon maple beberapa menit yang lalu. Di atap gedung yang sunyi itu, di bawah langit Ontario yang luas, Greta merasakan untuk pertama kalinya bahwa mungkin hanya mungkin ia tidak sepenuhnya sendirian di kota yang kejam ini.

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!