Ceni yang tak lama ini baru kehilangan sang sahabat untuk selamanya, kini ia harus menelan pahit nya kehidupan karena harus kehilangan untuk yg ke sekian kali nya yaitu sang kakek tercinta.
Sebelum kematiannya, sang kakek sempat memberikan sebuah giok dan cincin dengan ukiran rumit dan kuno, yg kata nya warisan turun temurun.
Bagaimana kah kisah kelanjutan nya.?
Nantikan kisah Ceni di cerita ini.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon astiana Cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Kakek Wen Chen gao
Dokter pun tiba untuk memeriksa keadaan kakek Wen Chen gao.
Pelayan pribadi kakek dan Ceni pun di minta ke Luar agar memudahkan dokter dalam memeriksa keadaan Kakek.
Tak lama kemudian, dokter pribadi sang kakek pun keluar dari kamar sambil menghela nafas dalam dengan pandangan kosong lalu menoleh pada Ceni.
"Maaf nona muda, Tuan besar sudah tiada." Ucap dokter tersebut.
DUAR
Bak di sambar petir siang bolong, tubuh Ceni hampir limbung kalau saja tidak di tahan oleh pelayan pribadi kakek nya.
" Tidak, paman dokter pasti bohong kan.?" Ucap Ceni menggeleng kuat sambil berlari masuk ke dalam kamar kakek nya, dan di atas kasur besar itu kakek nya menutup mata dengan damai.
"Kakek, kakek bangun kek, kakek, kakek hanya tidur kan Kek,? Kakek bangun kek hiks hiks." Raung Ceni sambil mengguncang tubuh kakek nya yg sudah tak bergerak lagi.
Ceni pun terduduk di lantai tepat di samping jasad sang kakek.
"Kenapa kakek juga meninggal kan ku, mama, papa, nenek, Ara , semua orang meninggal kan ku." lirih Ceni memandang kosong pada jasad sang kakek.
Seluruh para pelayan yg melihat kondisi nona muda mereka pun juga merasakan kesedihan yg mendalam, terlebih mereka yg sudah puluhan tahun mengabdi di kediaman keluarga Wen.
Para pelayan di kediaman itu pun segera mengurus jasad Tuan besar mereka, sedangkan Ceni hanya dapat terdiam walaupun air mata nya tak berhenti mengalir, kepergian sang kakek membuat nya terpukul untuk yg ke sekian kali nya, di hidup ini ia bahkan tak punya siapa-siapa lagi hanya kakek nya lah yg ia punya selama beberapa tahun ini, tapi kini dunia nya seakan runtuh kehilangan seluruh orang terkasih yg ia sayangi.
.
.
Seminggu sudah berlalu semenjak kepergian Kakek nya, Ceni hanya menghabiskan waktu dengan berlatih beladiri gila-gilaan, berlatih menembak dan sebagainya, itu semua hanya untuk mengalihkan pikiran nya agar tak terlalu bersedih dengan nasib nya yg hanya sebatang kara di dunia ini.
Malam hari nya untuk yg pertama kali setelah kematian kakek nya, Ceni pun mengunjungi aula leluhur nya, dimana di sana berjejer papan nama mendiang seluruh keluarga nya.
Tak lupa Ceni pun berdoa lalu bersujud di aula tersebut, setelah itu ia pun memasang 3 dupa yg sudah di khususkan.
Lalu Ceni pun keluar dari aula tersebut dan berjalan menuju kamar kakek nya.
Setelah menarik nafas dalam, Ceni pun membuka kamar kakek nya lalu menutup nya kembali.
Lama ia perhatikan sudut-sudut ruangan kamar kakek nya yg bergaya Tradisional kuno itu.
Ceni pun duduk di sisi ranjang kakek nya sambil mengusap kasur tersebut.
"Kakek." Ucap Lirih Ceni sambil mengusap kasur dimana sebelumnya sang kakek terbaring lemah.
Pandangan Ceni pun tak sengaja mengarah pada sebuah kotak yg di berikan kakek nya sebelum kematiannya.
"Kotak apa ini.?" Ucap nya penasaran.
Lalu Ceni pun membuka kotak tersebut dimana di dalam nya terdapat sebuah Giok dengan ukuran rumit dan adapula sebuah cincin dengan batu persegi empat yg memancar kan kilau emas nya.
"Apa maksud kakek memberikan benda ini,? bahkan kegunaan nya saja aku tidak tau." Ucap Ceni.
Lalu Ceni pun hanya iseng mengenakan Cincin tersebut.
Cincin yg awal nya agak besar seketika mengecil menyesuaikan bentuk jari nya yg mungil.
Ceni pun mengerjapkan mata nya sekejap.
"Woah, ajaib sekali cincin ini, seperti cincin penyimpanan zaman kuno saja hahaha." Ucap Ceni asal bicara.
Untuk pertama kali nya Ceni tertawa geli karena menurut nya sangat lucu, yg bahkan bagi orang lain itu biasa-biasa saja.
"Cantik juga cincin ini, tapi gimana lepasin nya, masa ia aku make cincin kuno begini, aduh kok susah sih.?" Ucap Ceni cemas karena cincin tersebut tak mau lepas dari jari nya sehingga membuat jari telunjuk nya berdarah tak sengaja tergores bingkai batu persegi empat di cincin tersebut.
Darah Ceni pun menetes mengenai cincin tersebut lalu mengalir dan mengenai Pin Giok putih yg berada di pangkuan nya.
"Haiya." Ucap Ceni pasrah.
Belum sempat Ceni mengeluh tiba-tiba Ceni sudah berada di ruang penyimpanan yg sangat luas, dan tumpukan koin emas, senjata, perhiasan dan juga bahan-bahan obat serta racun pun memenuhi ruang tersebut.
"Astaga, apa apaan ini, apakah aku salah lihat, itu gunung emas kah,? Eh tapi tadi kan aku berada di kamar kakek, kok tiba-tiba di sini.?" Ucap nya Bingung sekaligus takjub.
"Aku pasti berhalusinasi, ia benar, pasti halusinasi." Ucap Ceni menggeleng.
PLAK
Ceni pun menampar pipi nya sendiri.
"Auh perih, berarti ini bukan halusinasi dong, kok aku jadi takut ya.?" Gumam nya sambil mata nya liar mengarah ke sana kemari.
"Terus gimana keluar nya dong,? Masa ia aku terjebak di sini.?" Gumam nya sambil terduduk selonjoran.
"Harta sebegitu mau aku apain, kenapa sih aku punya banyak harta tapi kesepian.?" Ucap nya sendu sambil menarik nafas dalam.
"Tapi ini gimana dong, aku gak mau terjebak di sini, kakek gak bilang apapun lagi, hanya menitipkan cincin dan giok tapi tak menjelaskan, kek di novel-novel aja punya cincin penyimpanan." Ucap nya lagi.
"Tapi tunggu, kalau seperti di novel-novel itu berarti.?" Gumam nya lalu menarik nafas dalam-dalam habis itu bilang keluar.
Ceni pun terperanjat kala ia sudah berada di kamar kakek nya kembali, seketika mata nya membola sempurna dengan berbinar-binar.
"Woah OMG ini keren banget, tapi buat apa semua ini,?" Gumam nya lagi.
Cincin itu seakan menyatu dan melekat di jari Ceni tanpa bisa di lepas.
Sedangkan giok peninggalan sang kakek ia ikat di tali celana jeans nya, lalu Ceni pun teringat akan kata-kata kakek nya yg menunjuk ke sebuah dinding.
Ceni pun sejenak menatap Dinding tersebut dengan seksama, lalu mata nya tanpa sengaja melihat retakan segitiga di sebelah pajangan dengan iseng nya ia menyentuh retakan tersebut yg ia sangka permukaan nya padat tapi ternyata itu adalah sebuah tombol kamuflase demi menghubungkan kamar kakek nya dengan ruangan lain nya.
CKLEK
GREEETT
Dinding yg tadi nya ia sangka hanya dinding biasa pun tiba-tiba bergeser dan terbuka sehingga memperlihat kan sebuah ruangan yg tampak gelap dan berbau debu.
Ceni pun melongok kan kepala nya ke dalam.
Uhuk
Uhuk
Hatcu
Hatcu
"Astaga, sudah berapa lama ruangan ini tidak pernah di buka." Ucap nya sambil menggosok-gosok hidung nya yg terasa gatal akibat debu.
Ceni pun berusaha mencari saklar untuk menghidupkan lampu ruangan tersebut dengan pencahayaan dari handphone nya.
KLAK
Lampu pun menyala terang di ruangan luas tersebut.
"Gila sih ini, perpustakaan kakek kayak perpustakaan toko aja, kok aku gak sadar ya, ternyata rumah kakek seluas ini." Ucap nya takjub.
Bersambung.
jadi ga sabar.....
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪