arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM BELAS
Erika mengerutkan bibirnya. Apa semua mi tidak bisz dihindari?
Dia sudah berniat untuk bertanya pada Gardan kapan akan mengurus perceraian mereka, tetapi untuk beberapa alasan Gardan ingin Erika datang sendiri secara pribadi. Erika tidak ingin tinggal lebih lama lagi dan berbalik untuk kembali ke ruangannya.
Swing!
Pandangannya berputar dan sebelum dia bisa menyadarinya, Gardan sudah menariknya ke dalam ruangan kosong!
Brak!
Dia membanting pintu hingga tertutup
Gardan mencengkram kedua pergelangan tangannya.
Erika menatap pria paranoid di depannya, lalu mengerutkan alis dan memaksakan senyumnya, "Tuan Wistam, apa yang kau lakukan?"
Dia lah orang yang lebih dulu menginginkan perceraian ini. Dia lah orang yang ingin bersama dengan Lanni. Kenapa dia bersikap seperti ini hanya karena dirinya makan malam dengan Wisnu?
Erika hampir salah paham dengan sikapnya itu hingga mengira dia punya perasaan untuknya.
Tetapi dia ingat saat-saat yang mereka habiskan bersama, dan dia tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Dia tidak naif hingga percaya bahwa dirinya bisa mendapatkan hati Gardan.
Dia sudah menyerah.
Gardan melihat ke dalam matanya, tetapi yang tersisa hanyalah kekesalan di sana. Mata Gardan seperti pecahan es, dan suaranya mencerminkan itu, "Erika Baswara, perceraiannya masih belum selesai. Kenapa kau sangat tidak sabaran?"
Erika tertawa di tengah kemarahannya, Apa maksudmu aku bisa tidak sabaran? Diantara kita berdua, siapa yang lebih tidak sabar?"
Ketika mereka masih menikah, dia selalu mengutamakan Lanni di atas segalanya. Dia hanya berhubungan dengan Wisnu hanya karena pekerjaan! Di samping itu juga, ini terjadi setelah mereka bercerai. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Gardan bertindak dengan tidak masuk akal!
Tatapan mata Gardan tidak pernah meninggalkan wajah Erika. Seakan-akan dia mencoba untuk menggali lubang hingga menembus ke dalam kulitnya.
Tetapi Erika tidak takut. "Jika menurut Tuan Wistam aku keterlaluan, bagaimana kalau kita melakukan tugas kita masing-masing dan tentukan kapan kita berdua bisa membuat akta perceraian?"
"Erika Baswaral"
Gardan menggertakkan giginya. Melihat penghinaan di matanya, dia mencibir, "Apa menurutmu aku tidak akan melakukan itu?"
Erika menaikkan sebelah alisnya, "Kalau begitu lakukan saja.
Hatinya merasa sakit setiap kali melihatnya. Tetapi setelah tiga tahun penuh penderitaan dan diabaikan, dia sudah belajar dari pengalamannya. Sekarang rasanya sudah dak sesakit dulu.
Gardan terbakar amarah! Dia tidak ingin apa-apa lagi selain memakannya hidup-hidup. Cengkeramannya di tangan Erika menjadi lebih erat.
Erika mengernyit, "Tuan Wistam, jika memang kau sangat membenciku, kenapa kau tidak lepaskan saja aku?"
Sakit.
Dia sangat mengenal Gardan. Suaminya itu bukanlah tipe orang yang bisa memperlakukan wanita dengan lembut. Oh, salah.. Dia tidak pernah memperlakukannya dengan lembut. Sedangkan pada Lanni, Gardan tidak pernah berhenti memperlakukannya dengan lemah lembut.
Gardan melotot padanya. "Erika Baswara, aku tidak peduli apa yang kau pikirkan tentangku. Begitupun dengan aku yang tidak peduli dengan siapa kau pergi, tapi saat ini, kita masih belum bercerai secara sahl Kau masih Nyonya Wistan! Dan sebagai Nyonya Wistam, kau punya kewajiban sebagai menantu Ingat bagaimana nenekku memperlakukanmu dengan baik dan jangan permalukan keluargaku!"
Erika gemetar dan menghela napas....
Untung saja dia tidak salah paham dengan reaksinya dan mengira kalau Gardan punya perasaan padanya. Satu-satunya alasan Gardan marah adalah karena mereka masih belum bercerai secara sah dan tindakannya mungkin bisa merugikan keluarganya dan akibatnya nilai saham perusahaan mungkin akan terpengaruh
Gardan mencibir padanya saat melihat Erika hendak menyerah, "Erika..."
Erika tiba-tiba tersenyum cerah, "Tuan Wistam, nenekmu bukanlah tipe orang yang akan mengutamakan kekayaan, begitu pula soal reputasi. Yang dia inginkan hanyalah agar kita bisa hidup dengan bahagia. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuknya, karena dia bahkan melihatmu seolah-olah kau bukan cucu kandungnya sendiri. Aku akan memikirkan cara lain untuk membalas budi pada nenekmu.
Gardan menjadi lebih lebih marah. Erika mengangkat dagunya dan berkata dengan menantang. "Kau tidak akan bisa mengancamku dengan menggunakan kebaikan nenekmu padaku selama ini."