Indira, gadis muda keturunan Tionghoa dan Indonesia. dia sudah dari kecil ikut dengan sang ibu, karena ayahnya sudah meninggal
Indira, melanjutkan perusahaan otomotif milik sang Ayah, tapi saat dia akan kembali ke Indonesia. dia mengalami kecelakaan pesawat...
Penasaran dengan cerita nya Yuk ikuti terus Cerita ini. akan banyak menguras tenaga dan emosi, siapkan kata-kata yang indah saat Indira Gandhi masuk ketubuh perempuan muda yang ditinggal oleh orang tua nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intanpsarmy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One
"Mam... Ind pergi ya, satu minggu lagi Ind pulang kok. Mam jangan sedih mulu ah, kaya Ind mau pergi selama nya aja ah" itu lah kata-kata yang membuat Mama Isti menangis
Putri satu-satunya pergi meninggalkan dia sendiri di dunia ini, Indira Gandhi. wanita yang berumur dua puluh tiga, dia anaknya ceria dan pintar, Indira berkuliah mengambil tiga jurusan sekaligus
Bahkan dia sengaja mengambil kelas Akselerasi, agar semua pendidikan nya bisa dia rangkumkan dalam pikiran nya itu
Indira pergi ke China untuk menghadiri acara pernikahan saudara dari Ayahnya, awalnya mama Isti akan ikut tapi. karena pekerjaan nya yang tak bisa ditinggal pun terpaksa mengizinkan sang putri pergi sendiri
"Kalau saja mama tahu kamu akan menyusul ayah mu? mama ngga akan izin kan itu Nak, hiks...hiks... kalian meninggalkan mama didunia yang kejam ini sendiri" ucap lirih mama Isti
...----------------...
"Uh... sakit sekali, eh tunggu bukan nya Ay mati ya? kok bisa ngerasain sakit?" ucap wanita muda yang sedang berbaring
"Hiks.... hiks... Jie jie, jangan tinggaltan tami beldua, tami tatut Jie jie, tami tatut tinggal di hutan ini beldua" suara kecil yang membuat Indira melihat ke sekeliling nya
Atap yang berlubang, dinding anyaman yang hancur, Indira pun bergerak sedikit untuk memiringkan tubuhnya, dia melihat dua anak kecil yang saling memeluk
Tubuh mereka kotor dan kurus, Indira melihat tangannya, dia bisa melihat tangan dirinya nya begitu kecil dia memejamkan mata nya untuk menenangkan pikiran nya itu
"Dimana aku? apa yang terjadi dengan ku? kenapa bisa aku berada disini?" pertanyaan demi pertanyaan yang terus berputar dalam pikiran nya
Indira mendengar suara yang membuat dia kaku dan tidak percaya, suara mendiang ayah yang dia rindukan suara cinta pertama yang sangat ingin dia mendengar kembali
"Jaga tubuh yang kamu tempati nak, ayah sudah meminta pada sang Khalik, agar memberikan mu hidup.... jadi lah Xiao Lin, jaga kedua adik pemilik tubuh itu, mereka sudah kehilangan kedua orang tua nya, sekarang hanya tinggal dirimu yang menjaga mereka nak, Ayah pergi... jangan lupa periksa ruang Qi mu" suara itu terdengar begitu merdu, suara lelaki yang sering memanjakan nya
"Ayah.... jadi aku hidup kembali? jadi ceritanya aku Trasi? eh... Transmigrasi? gila... kirain aku yang begini hanya ada di novel atau cerpen, tau nya aku sekarang ngalamin Trasi, hais... transmigrasi, susah banget sih ini lidah" gumam hati Xiao Lin
"Xiao Nam... Xiao Xie, Jie jie minta air" ucap Indira yang kita panggil jadi Xiao Lin
DEG
Jantung kedua adiknya kakak itu berdetak, mereka pun mendongak melihat kearah ranjang yang di tempati oleh Jie jie nya
"Jie jie? hiks... hiks... athilnya jie jie membuta mata" ucap Xiao Xie. anak perempuan yang berumur tiga tahun pun langsung mendekati sang jie jie dan berusaha naik keatas ranjang
Greb
"Jangan tinggalin Xie... Xie janji nda natal lagi" ucap Xiao Xie. sambil memeluk erat sang kakak perempuan. Xiao Nam yang melihat itu pun langsung mengambil air minum
"Jie jie... apa jie jie bisa duduk? ini minum dulu, jie jie sudah tiga hari tidak bangun" ucap Xiao Nam sambil gemetar, dia antara lega dan lapar, dia tadi hanya meminum air untuk menemani sang kakak yang tak bangun-bangun
Di umur yang baru delapan tahun dia harus di paksa menjadi dewasa, dia sering membantu Xiao Lin untuk mencari sayur liar di hutan yang mereka tempati
Xiao Lin tersenyum lembut pada kedua adik pemilik tubuh yang baru dia tempati, dia berjanji akan menjaga keduanya, dia juga akan membuat kedua adiknya itu kuat, semua tanggung jawab kehidupan adiknya akan menjadi urusan dirinya
"Bantu Jie jie duduk Nam'er" ucap Xiao Lin
Xiao Nam pun dengan sekuat tenaga membantu kakak perempuan satu-satunya, mereka hanya bertiga. ibu dan ayahnya mati saat akan melakukan perjalanan bisnis di pusat kota, sedangkan semua harta orang tua nya di ambil oleh keluarga sang ayah
Mereka di usir saat umur Xiao Lin tiga belas tahun, dan Xiao Nam baru berumur enam tahun. dan lebih menyakitkan Xiao Xie baru berumur satu tahun
Mereka di usir dari kediaman yang ayah beli untuk keluarga kecilnya, nenek dan kakek nya itu tinggal di desa. Mereka pindah ke kediaman itu saat tahu putra mereka itu meninggal, paman-paman nya pun sama tega nya merampas hak mereka. hanya dua orang yang baik, mereka berdua itu Bibi pertama dan putrinya yang bernama Xiao Cun. sebelum mereka pergi ke hutan Bibi pertama memberikan bekal yang di sembunyikannya untuk mereka bertiga, untuk Xiao Cun dia memberikan beberapa baju dan perhiasan, awal nya Xiao Lin menolak tapi Xiao Cun bilang itu tabungan yang dia kumpulkan saat mendiang paman mendatanginya
"Brengsek... mereka menikmati warisan yang ditinggal ke tiganya? ha... ternyata ada yang begitu tega juga, baiklah Xiao Lin, sekarang aku yang akan menjaga kedua adik mu" gumam nya
...----------------...
Xiao Lin bangun lebih pagi, dia mengelilingi kediaman yang mau roboh itu. dan dia bisa melihat di sana ada sungai yang jernih dan banyak beberapa tanaman yang menurut nya bisa di makan
"Apa mereka tidak tahu ya? ubi dan talas ini bisa dimakan, bahkan ada buah kelengkeng dan mangga di dekat tempat tinggal mereka" gumam Xiao Lin. dia pun segera menggali ubi jalar ungu dan kuning yang tumbuh subur, saat dia sedang menggali Xiao Nam adik lelaki nya itu datang
"Jie jie sedang apa?" tanyanya karena tidak biasanya jie jie nya itu menggali tanah yang di penuhi daun besar itu
"Nam'er... kamu membuat jie jie terkejut, sini dek bantu Jie jie" ucap Xiao Lin. sambil terus menggali
Karena tidak ingin membantah jie jie nya, Xiao Nam pun mengikuti keinginan kakak satu-satunya itu
Xiao Lin bersorak, karena ubi yang dia dapatkan ternyata besar-besar. dia sudah berencana untuk merebus, agar kedua adiknya tak kelaparan
"Nam'er, kamu cuci kelima ubi ini... biar jie jie yang membawa semua ke dalam rumah" ucap Xiao Lin
"Baik jie jie" jawab Xiao Nam. dia adik yang baik dan tak pernah sekalipun melawan apa yang jie jienya ucapkan
Xiao Lin pun langsung menyalakan api, dia menyiapkan air untuk merebus ubi, saat Xiao Nam datang dia pun langsung memasukkan ubi itu
"Nam'er kamu tetap disini ya, jie jie keluar sebentar" ucap Xiao Lin. dia akan memetik buah kelengkeng dan mangga, tadi juga Xiao Lin melihat anggur hutan yang begitu besar dan segar. Xiao Nam pun mengangguk
Dengan semangat yang berkobar Xiao Lin terus berjalan, dia bisa melihat disana banyak pohon kelapa dan durian
"Astaga... mereka memilih kelaparan dari pada memetik buah-buahan ini? ck ck ck... jaman sekarang emang ngga tahu apa buah-buahan ini bisa di makan" ucap Xiao Lin sambil memanjatkan
Xiao Lin juga tidak lupa memetik kelapa yang paling pendek, dia juga melihat ada durian yang sudah jatuh. anggur pun tidak lupa dia petik
"Baiklah. ini cukup kalau habis aku bisa mengambil lagi" ucap Xiao Lin
Xiao Lin pun kembali kediaman nya, dia melihat Xiao Nam duduk dekat Tungku. Xiao Lin menurunkan keranjangnya
"Jie jie bawa apa itu?
TBC