NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Ayu tampak sudah rapi dengan kemeja kerjanya, sedang memeriksa tumpukan dokumen di dalam map.

"Nek, Ayu berangkat sekarang ya. Taksinya sudah di depan," pamit Ayu sambil mencium tangan Nenek Tari.

"Iya, hati-hati di jalan ya, Yu. Jangan lupa makan kalau sudah sampai di sana," pesan Nenek Tari.

Ayu mengangguk. "Ayu izin ke Jakarta dulu ya, Nek. Mau urus apartemen yang dulu itu, mau langsung Ayu jual aja. Tadi agennya bilang calon pembelinya sudah nunggu buat urusan surat-surat di notaris. Sayang kalau ditinggal lama-lama, biayanya jalan terus."

"Iya, lebih baik begitu. Uangnya bisa kamu tabung atau buat besarin kedai ini," sahut Nenek Tari bijak.

Begitu Ayu masuk ke dalam taksi dan kendaraan itu menghilang di tikungan jalan, barulah sebuah motor CB berhenti dengan terburu-buru di depan kedai.

"Loh, Nek? Kok sudah tutup? Ayu mana?" tanya Rangga heran.

Nenek Tari menoleh dan sedikit terkejut melihat kedatangan Rangga. "Eh, Rangga. Ayu baru aja mau ke stasiun, Ngga. Dia mau ke Jakarta hari ini."

Rangga langsung membelalakkan matanya. "Hah? Ke Jakarta? Udah lama, Nek?"

"Baru aja pergi naik taksi, paling baru lima menit yang lalu. Katanya mau urus jual apartemennya yang dulu itu," jawab Nenek Tari.

Tanpa babi-bu lagi, Rangga langsung memasang kembali helmnya "Aduh, kenapa nggak bilang-bilang dari kemarin sih! Nek, Rangga pamit ya, mau nyusul ke stasiun!"

"Eh, hati-hati, Ngga! Jangan ngebut-ngebut!" teriak Nenek Tari, tapi suaranya nyaris tenggelam oleh raungan mesin Honda CB Rangga yang langsung dipacu keluar dari halaman kedai.

Begitu sampai di area parkir Stasiun Bandung, Rangga langsung mematikan mesin motornya dengan terburu-buru. Ia tidak sempat mencari tempat parkir yang nyaman, ia hanya melompat turun dan menghampiri petugas penitipan motor.

"Mas, titip ya! Buru-buru banget!" seru Rangga sambil menyodorkan kunci dan selembar uang, tanpa menunggu kembalian.

Sambil berlari kecil menuju pintu masuk keberangkatan, Rangga merogoh ponsel dari saku celananya. Jari-jarinya dengan cepat mendial nomor Ayu. Napasnya sedikit memburu saat nada sambung mulai terdengar.

"Halo, Yu? Kamu di mana? saya sudah di stasiun!" ucap Rangga langsung begitu panggilan diangkat.

Di seberang telepon, terdengar suara Ayu yang sedikit kaget bercampur bingung. "Loh, Mas Rangga? Ngapain ke stasiun?"

"Mau nganterin kamu lah! Masa kamu pergi ke Jakarta aku nggak tahu. Posisi kamu di mana sekarang? Sudah di peron?" tanya Rangga sambil mengedarkan pandangan ke arah kerumunan orang yang sedang check-in.

"Ini aku lagi di dalam taksi, Mas. Baru aja masuk area parkir stasiun, ini mau turun," jawab Ayu pelan.

Rangga langsung menghentikan langkahnya dan berbalik arah menuju lobi kedatangan taksi. "Oke, jangan turun dulu! Eh, maksudnya kalau turun, tunggu di situ. saya samperin ke lobi depan sekarang. Jangan ke mana-mana!"

Rangga kembali berlari, kali ini menuju drop-off zona taksi. Matanya menyisir setiap mobil yang berhenti menurunkan penumpang. Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Pintu belakang terbuka, dan muncul sosok Ayu yang tampak terkejut melihat Rangga sudah berdiri di sana dengan kaos hitam dan napas yang belum teratur.

"Mas Rangga... kamu beneran ke sini?" tanya Ayu pelan saat sudah berdiri di depan Rangga.

Rangga mengatur napasnya sejenak, lalu menatap Ayu dengan sungguh-sungguh. "Saya nggak mau kamu pergi gitu aja tanpa pamit. Apalagi ke Jakarta sendirian," ucap Rangga.

Ayu menunduk sebentar, menyembunyikan senyumnya. "Kan tadi sudah pamit sama Nenek, Mas."

"Nenek ya Nenek, kalau ke saya kan belum," sahut Rangga sambil terkekeh pelan.

"Saya merasa nggak tenang kalau kamu sendirian ke sana urus ginian," ucap Rangga sambil mengambil alih koper kecil dari tangan Ayu.

Ayu mengernyit bingung. "Maksudnya gimana, Mas? Kan tadi sudah dibilang, aku cuma sehari dua hari di sana."

Rangga terdiam sebentar, lalu mengeluarkan kalimat yang sama sekali tidak disangka-sangka. "Saya ikut ya ke Jakarta? Saya temenin kamu urus semuanya sampai beres."

Ayu langsung melongo. Ia mematung di pinggir trotoar stasiun, menatap Rangga dengan mata yang tidak berkedip, seolah sedang memastikan apakah pria di depannya ini sedang kerasukan atau hanya sedang bercanda terlalu jauh.

"Mas... Mas Rangga sehat?" tanya Ayu setelah berhasil menguasai diri.

"Ikut ke Jakarta? Terus bengkel gimana? Mas cuma pakai kaos begini, nggak bawa baju ganti, nggak bawa apa-apa. Lagian Mas nggak punya tiketnya!"

Rangga malah nyengir santai, seolah keputusannya itu adalah hal paling logis di dunia. "Bengkel ada Kang Rian sama anak-anak, aman lah. Baju mah gampang, tinggal beli kaos di sana. Tiket? Ya sekarang saya beli, kalau habis ya saya beli tiket berdiri atau apa pun itu yang penting bisa masuk gerbong yang sama sama kamu."

Ayu masih tidak percaya. "Mas, ini urusan jual apartemen, bukan mau liburan! Nanti kalau Mas di sana malah bikin ribet gimana?"

"Nggak akan ribet, Yu. Justru kalau ada saya, agen properti atau pembelinya nggak akan berani macam-macam sama kamu. Saya jadi ajudan kamu hari ini," balas Rangga mantap.

Ayu hanya bisa mengelus dada, mencoba mencerna kegilaan Rangga yang rela meninggalkan pekerjaannya demi menyusulnya ke Jakarta tanpa persiapan apa pun.

Ayu masih terdiam, sementara Rangga dengan gerakan cepat menarik ponselnya untuk memesan tiket secara online melalui aplikasi.

"Mas, jangan gila! Mas cuma pakai kaos begini, terus motor Mas gimana di penitipan?" Ayu mencoba memberikan alasan logis agar Rangga membatalkan niatnya.

"Motor aman, bisa menginap di sana. Baju? Gampang, nanti di Jakarta saya beli di mal terdekat. Yang penting sekarang saya dapat tiket," sahut Rangga fokus pada layar ponselnya. Jarinya bergerak lincah menekan menu pemesanan.

"Nah! Ada satu kursi sisa di gerbong yang sama sama kamu, cuma beda baris. Saya beli ya!"

Ayu hanya bisa menepuk dahi, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan mantan kekasihnya ini. "Mas Rangga, ini nekat banget namanya."

"Bukan nekat, Yu. Ini namanya tanggung jawab," jawab Rangga mantap setelah transaksinya berhasil. Ia menunjukkan layar ponselnya ke depan wajah Ayu.

"Lihat, saya sudah punya tiket. Jadi sekarang kamu nggak punya alasan lagi buat melarang saya ikut."

"Ya sudah, ayo cepat masuk! Lima belas menit lagi keretanya jalan!" seru Ayu sambil berjalan mendahului.

Rangga tersenyum lebar dan segera mengikuti langkah Ayu. "Saya aja yang bawa kopernya, Yu."

1
Evi Lusiana
mnjaga diri sbg wanita itu wajib,tp hrsny ayu jg jgn egois hrsny dia tahu mksd perhatian rangga slm ini,untung rangga bnr² tulus klo laki² ny model playboy psti d kira ayu sok jual mahal
Aidil Kenzie Zie
yang murahan itu mamanya si Ayu sampai hamil sama selingkuhan nggak ingat umur
Aidil Kenzie Zie
Rangga kalau Ayu nggak mau nggak usah dipaksain mungkin bukan jodoh kamu
Aidil Kenzie Zie
si Ayu dikit dikit hutang diajak nikah nggak mau sok jual mahal apalagi sih yang dicari pria seperti Rangga susah dicari
Evi Lusiana
kok sgtuny ayu sm rangga,pdhl dia udh baik slm ini
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!