NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Rangga akan memamerkan kotak nasi itu ke depan wajah anak-anak buahnya dengan gaya yang sangat sombong. Ia mengangkat kotak makan itu tinggi-tinggi seolah sedang memegang piala kemenangan.

"Lihat nih! Makanya kerja yang bener biar dapet perhatian." seru Rangga sambil menepuk-nepuk kotak nasi itu.

"Kalian mah sarapannya gorengan dingin, gue dapet nasi kuning cinta dari calon istri!"

"Alah, palingan juga itu nasi sisa kedai yang nggak laku, Bos!" sahut si Udin sambil tertawa.

"Sisa? Enak aja! Ini tuh special edition dibuat dengan penuh perasaan," balas Rangga sambil membuka tutup kotaknya. Aroma nasi kuning yang harum langsung menyeruak.

Rangga duduk di atas kursi plastik panjang di pojok bengkel, menikmati setiap suapan nasi kuning pemberian Ayu dengan perlahan. Sesekali ia tersenyum sendiri mengingat bagaimana jari-jari Ayu tadi mengusap pipinya. Rasanya noda oli itu tidak ingin ia cuci seumur hidup.

Setelah suapan terakhir, Rangga tidak tahan untuk tidak mengirim pesan singkat. Sambil bersandar di tumpukan ban bekas, ia mengetik:

“Nasinya enak banget, Yu. Makasih ya sudah jadi suster pribadi yang antar asupan gizi ke bengkel. Nanti sore kalau kedai tutup. Aku jemput pakai CB, kita cari angin sore di Dago. Nggak ada penolakan"

Rangga menekan tombol send dengan perasaan puas. Ia kembali berdiri, menarik napas dalam, dan kembali ke tumpukan mesin dengan energi yang berkali lipat lebih besar.

Pesan singkat dari Ayu masuk tak lama setelah Rangga kembali berkutat dengan mesin. Rangga buru-buru menyeka tangannya yang berminyak ke kain majun dan membuka ponselnya.

"Ngapain lagi? Sore ini aku nggak bisa, Mas. Mau bantu Nenek beres-beres gudang belakang kedai, banyak barang yang mau dipindahin," balas Ayu, lengkap dengan emoji menghela napas.

Rangga tidak menyerah begitu saja. Sambil nyengir, ia langsung mengetik balasan dengan cepat.

"Kalau sore nggak bisa, ya sudah, malam juga oke. Jangan nolak terus lah, Yu. Nanti sekalian kita ke rumah Kang Rian, istrinya baru lahiran kemarin. Masa saya ke sana sendirian, nanti disangka jomblo karatan sama mereka," tulis Rangga.

Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar lagi.

"Kang Rian montir senior Mas itu? Yang istrinya ramah banget? Wah, sudah lahiran ya? Laki-laki apa perempuan?" tanya Ayu, tampak mulai tertarik.

Rangga tersenyum menang. Ia tahu Ayu punya kelemahan kalau soal urusan bayi atau kabar bahagia seperti ini.

"Iya, Kang Rian yang dulu pernah servis motor di sini.

Katanya laki-laki, mirip banget bapaknya, kumisan juga mungkin. Hehe. Pokoknya nanti jam tujuh malam saya jemput ke kedai. Nggak ada alasan gudang lagi ya, kan bisa dikerjain besok pagi bareng saya."

Ayu akhirnya membalas dengan singkat namun membuat Rangga bersorak pelan.

"Ya sudah, jam tujuh jangan telat. Tapi aku nggak mau ya kalau Mas Rangga masih bau oli!"

......................

Rangga langsung bersemangat. Begitu jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam, ia sudah rapi dengan kemeja flanel andalannya dan aroma parfum yang maskulin

Ia menjemput Ayu tepat waktu. Ayu sudah menunggu di depan kedai dengan tunik simpel dan wajah yang segar. Begitu melihat Rangga, Ayu tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala melihat betapa rapinya Rangga malam itu.

"Tumben wangi banget, Mas. Biasanya baunya kayak knalpot bocor," canda Ayu saat naik ke atas motor CB Rangga.

"Harus dong, kan mau bawa bidadari jenguk bayi," sahut Rangga sambil tertawa.

Sebelum menuju rumah Kang Rian, Rangga memelankan motornya di depan sebuah toko perlengkapan bayi yang cukup besar.

"Yu, temenin cari kado ya? Aku mana paham urusan ginian. Kalau aku yang beli, takutnya malah kubeliin kunci pas ukuran kecil buat anaknya nanti," ucap Rangga sambil memarkirkan motor.

Ayu tertawa. "Ya nggak gitu juga kali, Mas! Yuk, mumpung belum terlalu malam."

Di dalam toko, Ayu tampak sangat telaten memilih. Ia mengambil beberapa set baju bayi berbahan katun lembut dan perlengkapan mandi. Rangga hanya mengekor di belakang sambil membawa keranjang, memandangi Ayu yang terlihat sangat keibuan saat sedang memilih-milih perlengkapan bayi.

"Mas, menurutmu yang biru ini bagus, atau yang motif jerapah ini?" tanya Ayu sambil menunjukkan dua pasang sepatu bayi yang sangat kecil.

Rangga terdiam sejenak, matanya menatap sepatu mungil itu lalu beralih ke wajah Ayu. "Apa saja bagus kalau kamu yang pilih, Yu. Tapi kalau lihat sepatu sekecil itu, aku jadi mikir..."

"Mikir apa?" tanya Ayu tanpa curiga.

"Mikir kapan kita yang belanja ginian buat anak kita sendiri," goda Rangga dengan suara rendah namun terdengar sangat serius.

Ayu yang sedang memegang set baju bayi langsung tertegun. Ia meletakkan kembali baju itu ke rak dan menatap Rangga dengan kening berkerut, mencoba menutupi rasa gugupnya.

"Lah? Kita emang apaan, Mas? Jangan kejauhan deh mikirnya, aku ke sini kan cuma bantu Mas aja biar nggak salah beli kado," ucap Ayu dengan nada bicara yang dibuat sedatar mungkin, meski sebenarnya jantungnya berdegup kencang.

"Ya... ya maksudnya kan persiapan masa depan, Yu. Siapa tahu aja kan?" Rangga mencoba mencairkan suasana dengan tawa canggung.

Ayu mendengus pelan, lalu mengambil satu paket perlengkapan mandi bayi dan memasukkannya ke keranjang yang dibawa Rangga. "Sudah, jangan banyak ngayal. Ini saja kadonya, sudah cukup lengkap. Ayo ke kasir, nanti kemalaman sampai rumah Kang Rian."

Rangga hanya bisa mengangguk pasrah, mengekor di belakang Ayu sambil memandangi punggung perempuan itu.

Setelah membayar kado yang sudah dibungkus cantik dengan kertas kado bermotif bintang, mereka kembali ke motor. Suasana sedikit lebih hening dari biasanya saat Rangga membelah jalanan menuju rumah Kang Rian.

Sesampainya di rumah Kang Rian, suasana terasa sangat hangat. Kang Rian langsung menyambut mereka dengan wajah berseri-seri, meskipun matanya terlihat sedikit mengantuk khas bapak baru.

"Wah, Rangga! Kirain siapa yang datang bawa motor berisik, ternyata Bos kita!" seru Kang Rian sambil menyalami Rangga. Ia kemudian menatap Ayu yang berdiri di samping Rangga.

"Eh, ada Mbak Ayu juga. Masuk, masuk! Istri saya di dalam lagi menyusui, tapi sudah bisa dijenguk kok."

Begitu masuk ke kamar, Ayu langsung mendekat ke arah istri Kang Rian. Saat melihat bayi mungil yang baru berusia dua hari itu, wajah Ayu yang tadinya ketus pada Rangga seketika melembut.

"Ya ampun, ganteng banget, Teh. Selamat ya," ucap Ayu tulus.

Istri Kang Rian tersenyum lebar. "Makasih ya, Ayu. Mau coba gendong nggak? Mumpung dia lagi tenang habis bangun tidur."

Ayu tampak ragu sejenak, tapi kemudian ia mengangguk. Dengan sangat luwes dan hati-hati, Ayu menimang bayi itu dalam dekapannya. Ia tampak begitu terbiasa, mengayun pelan sambil membisikkan kata-kata lembut. Rangga yang berdiri di ambang pintu hanya bisa terpaku. Ia belum pernah melihat sisi Ayu yang selembut itu.

Kang Rian yang menyadari tatapan Rangga yang tidak lepas dari Ayu, langsung menyenggol lengan Rangga sambil berbisik.

"Luwes banget ya Ayu gendong bayinya, Ngga. Udah pantes banget tuh. Lo jangan kelamaan, keburu disalip orang," goda Kang Rian pelan.

Rangga hanya nyengir kuda. "Iya, Kang. Doakan saja, ini lagi usaha keras."

Kang Rian tertawa kecil, lalu dengan suara yang agak keras agar terdengar sampai ke Ayu, ia berkata,

"Oh iya, Ayu, tahu nggak? Si Rangga ini kalau di bengkel kerjaannya bengong terus sambil nyebut nama kamu. Saya sampai pusing dengernya!"

Wajah Ayu seketika memerah padam. Ia mencoba tetap fokus menimang bayi, tapi senyumnya tertahan.

"Ah, Kang Rian jangan percaya, paling Mas Rangga cuma lagi kurang minum makanya ngaco gitu."

"Eh, beneran loh Yu! Sampai-sampai dia pernah salah pasang kabel gara-gara ngelamunin kamu katanya," tambah Kang Rian makin menjadi-jadi, membuat Rangga jadi salah tingkah sendiri.

"Eh, Kang! Jangan buka kartu di sini dong, jatuh harga diri saya di depan calon!" potong Rangga sambil tertawa canggung, berusaha menutupi wajahnya yang ikut memerah.

"Itu mah Mas Rian aja yang hiperbola, Yu. Jangan didengerin."

Ayu hanya melirik Rangga sambil menahan tawa, tapi ia tidak menyahut lagi dan kembali asyik menciumi aroma bayi yang menenangkan itu.

Setelah hampir satu jam mengobrol dan memberikan kado, mereka akhirnya berpamitan. Udara malam Bandung yang sejuk menyambut mereka begitu keluar dari rumah Kang Rian. Rangga menghidupkan mesin Honda CB-nya, tapi bukannya mengarahkan motor ke arah jalan pulang ke kedai, ia justru mengambil jalur yang berbeda.

"Loh, Mas? Ini kan jalan ke arah Dago Atas? Bukannya balik ke kedai?" tanya Ayu sambil sedikit berteriak agar suaranya terdengar di balik helm.

Rangga sedikit menoleh ke belakang, senyum jahil tersungging di wajahnya. "Masih jam sembilan, Yu. Belum terlalu malam. Kita mutar-mutar dulu sebentar ya? Cari angin"

Ayu sempat terdiam sebentar, lalu ia menghela napas dan perlahan menyandarkan dahi di punggung Rangga. "Ya sudah, sebentar aja ya. Aku capek habis beresin etalase tadi pagi."

Mendengar itu, Rangga sengaja memacu motornya perlahan, menikmati lampu-lampu kota yang mulai terlihat dari ketinggian.

Saat motor mereka sampai di sebuah tanjakan yang menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota Bandung dari ketinggian, Rangga tiba-tiba meminggirkan motor CB-nya. Suasana di situ cukup tenang, hanya ada cahaya lampu jalan yang agak remang namun memberikan kesan hangat.

"Loh, kok berhenti di sini, Mas?" tanya Ayu sambil turun dari motor, merasa heran.

Rangga tidak menjawab, ia justru sibuk merogoh ponsel dari sakunya dan berjalan mundur beberapa langkah. Ia memicingkan mata, melihat ke arah sebuah sudut di dekat pagar pembatas jalan yang latar belakangnya langsung menghadap ke kerlap-kerlip kota di bawah sana.

"Yu, coba kamu berdiri di sebelah sana deh, dekat lampu jalan itu," perintah Rangga sambil mengarahkan tangannya.

"Ngapain sih, Mas? Aneh-aneh aja," gerutu Ayu, tapi kakinya tetap melangkah ke titik yang ditunjuk Rangga.

"Sudah, diam di situ! Sudutnya aesthetic banget, Yu. Pas banget kena cahaya lampunya, terus latarnya lampu kota. Kamu nggak usah lihat kamera, coba lihat ke arah bawah aja, kayak lagi melamun gitu," Rangga mulai beraksi seperti fotografer profesional, badannya sampai sedikit membungkuk untuk mengambil angle yang pas.

Ayu sempat protes, "Mas, aku nggak dandan loh! Pasti jelek."

"Percaya sama Mas, kamu nggak dandan aja udah bikin mesin motor Mas mau copot, apalagi ini," sahut Rangga tanpa menoleh dari layar ponselnya. "Satu... dua... tahan, Yu. Bagus!"

Cekrek! Cekrek!

Ayu yang awalnya merasa risi, lama-lama ikut terbawa suasana. Ia berganti posisi beberapa kali sesuai instruksi Rangga yang tampak sangat bersemangat. Setelah beberapa kali jepretan, Rangga menghampiri Ayu dengan wajah bangga dan menunjukkan layar ponselnya.

"Tuh, lihat. Cantik banget kan?"

Ayu melihat hasil fotonya. Memang benar, Rangga pandai mengambil sudut. Di foto itu, Ayu terlihat sangat anggun dengan latar belakang cahaya malam yang berkilauan.

Ayu tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Rangga. "Kirim ya ke WhatsApp aku fotonya, Mas. Bagus banget, sayang kalau cuma di galeri kamu doang," ucap Ayu dengan nada yang lebih manis dari biasanya.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!