Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Mahkota Berduri
Suara hujan yang menghantam jendela kaca setinggi langit-langit di ruang kerja Dante terdengar seperti ribuan peluru kecil yang mencoba menembus pertahanan Isola del Sangue. Di dalam ruangan itu, udara terasa begitu padat hingga setiap helai napas Aruna terasa berat dan menyesakkan. Map merah yang tadinya merupakan rahasia paling mematikan bagi keluarga Valerius kini tergeletak di lantai, lembaran kertasnya berserakan seperti reruntuhan hidup Aruna.
Dante berdiri diam di ambang pintu, sosoknya yang jangkung menutupi cahaya remang dari koridor. Ia menatap Aruna yang masih duduk bersimpuh di lantai marmer, tangan gadis itu masih memegang lembar dokumen terakhir tentang kecelakaan ibunya.
"Kau sudah membaca bagian akhirnya?" suara Dante rendah, tidak ada nada emosi di dalamnya, namun getarannya membuat Aruna tersentak.
Aruna mendongak. Matanya yang merah tidak lagi memancarkan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan kilatan kemarahan yang dingin—sesuatu yang belum pernah dilihat Dante sebelumnya. "Bagian akhir? Maksudmu bagian di mana kau menjelaskan bahwa aku hanyalah sebuah kunci untuk brankas rahasia ayahmu? Atau bagian di mana kau mengaku bahwa kau sengaja membiarkan pamanku mencelakai ibuku agar kau bisa tampil sebagai pahlawan?"
Dante melangkah masuk, menutup pintu kayu mahoni itu dengan bunyi klik yang halus namun terasa seperti vonis mati. Ia berjalan menuju bar kecil di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal tanpa mengalihkan pandangan dari Aruna.
"Aku tidak membiarkannya terjadi, Aruna. Aku hanya tidak menghentikannya tepat waktu," Dante menyesap minumannya. "Ada perbedaan tipis di sana."
"Perbedaan itu adalah darah ibuku, Dante!" Aruna berdiri dengan kaki gemetar. Ia melemparkan map itu ke arah dada Dante. "Kau menggunakan kecelakaan itu untuk menculikku! Kau menggunakan Leonardo sebagai alasan untuk menjadikanku tawanan! Selama ini aku mengira kau hanya monster yang terobsesi pada wanita... tapi ternyata kau adalah monster yang sedang bermain politik dengan nyawaku!"
Dante menangkap map itu sebelum jatuh ke lantai. Ia meletakkannya di atas meja kerja dengan tenang. "Duduklah, Aruna. Kita perlu bicara sebagai orang dewasa, bukan sebagai penculik dan korbannya."
"Aku tidak ingin duduk! Aku ingin keluar dari sini!"
"Keluar?" Dante tertawa kecil, suara tawa yang hampa dan dingin. Ia melangkah mendekati Aruna, mengurung gadis itu di antara tubuhnya dan rak buku yang tinggi. "Ke mana kau akan pergi? Ke pelukan Aris yang malang itu? Dia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri dari satu peluru Marco. Atau ke polisi? Luciano Valerius memiliki setengah dari kepolisian di benua ini. Begitu kau keluar dari gerbang pulau ini tanpa perlindunganku, kau akan berakhir di laboratorium pribadinya. Dia akan membedah otakmu hanya untuk mencari rangkaian angka yang ditinggalkan ayah kandungmu."
Aruna terdiam. Kata 'ayah kandung' itu terasa seperti pisau yang diputar di dadanya. "Ayahku... Adrian. Kau bilang dia mati?"
"Lorenzo Valerius bukan pria yang suka memaafkan pengkhianatan," Dante membungkuk, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Aruna. "Adrian adalah tangan kanannya. Pria itu mencuri harta terbesar Lorenzo: ibumu dan kode akses akun bayangan itu. Ayahku memburu mereka selama sepuluh tahun. Adrian tewas dalam sebuah ledakan di pinggiran Roma. Ibumu berhasil lolos ke Indonesia, mengubah identitasnya, dan membawamu tumbuh dalam kemiskinan agar kau tidak pernah ditemukan."
"Tapi pamanmu menemukanku," bisik Aruna.
"Luciano lebih cerdik daripada ayahku. Dia menunggu. Dia membiarkanmu tumbuh besar. Dia menunggu sampai kau berusia dua puluh satu tahun—usia di mana kode genetik atau pesan tersembunyi itu biasanya aktif menurut protokol keamanan yang dibuat Adrian," Dante mengusap pipi Aruna dengan lembut, namun Aruna bisa merasakan kekuasaan di balik sentuhan itu. "Dan sekarang, seluruh dunia bawah tanah tahu bahwa 'Kunci Valerius' telah ditemukan."
Aruna menelan ludah. Ia merasa seperti domba yang baru saja menyadari bahwa hutan tempatnya tinggal adalah arena perburuan. "Lalu kenapa kau melindungiku? Jika kau ingin kodenya, kenapa tidak kau ambil saja dengan paksa?"
Dante tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tampak sangat tulus sekaligus mengerikan. "Karena aku tidak seperti pamanku. Aku tidak butuh kodenya hari ini atau besok. Akun itu berisi miliaran dolar yang akan memperkuat kekuasaanku di masa depan. Tapi yang lebih penting dari itu... aku menginginkanmu, Aruna. Sejak aku melihat fotomu di berkas investigasi Luciano, aku tahu kau bukan sekadar kunci. Kau adalah tantangan. Kau adalah satu-satunya hal yang murni di tengah dunia berdarah ini."
Aruna menatap Dante. Ia melihat pria yang sanggup membantai tanpa kedip, namun kini pria itu menatapnya dengan pemujaan yang berbahaya. Sebuah pemikiran mulai terbentuk di kepala Aruna—sebuah rencana yang lahir dari sisa-sisa harga dirinya yang hancur.
"Jika aku memang begitu berharga bagi rencanamu," Aruna memulai, suaranya kini stabil dan berwibawa, "maka kau harus berhenti memperlakukanku seperti hewan peliharaan."
Dante mengangkat alisnya, tampak tertarik. "Oh? Dan bagaimana menurutmu aku harus memperlakukanmu?"
"Mari kita buat kesepakatan baru, Dante. Bukan kontrak ibu susu, tapi perjanjian antara dua orang yang saling membutuhkan."
Dante meletakkan gelas wiskinya. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja kerja, melipat tangannya di dada. "Aku mendengarkan, Nona Salsabila."
"Pertama," Aruna melangkah maju, memperkecil jarak. "Lepaskan Aris. Sekarang juga. Beri dia paspor, uang, dan pastikan dia sampai ke negara yang tidak bisa dijangkau oleh pengaruhmu atau pamanmu. Jika satu rambut di kepalanya terluka, kau tidak akan pernah mendapatkan apa pun dariku. Aku akan menggigit lidahku sendiri sampai mati sebelum kau bisa menggunakan kode apa pun."
Dante menyipitkan mata. "Kau rela mati demi tikus itu?"
"Aku rela mati demi keadilan atas ketulusannya," jawab Aruna tajam.
Dante diam sejenak, lalu ia menekan tombol interkom di mejanya. "Marco, bawa pemuda itu ke dermaga barat. Beri dia paspor palsu dan seratus ribu dolar. Pastikan dia berada di pesawat menuju Amerika Selatan dalam dua jam. Jika dia mencoba kembali atau menghubungi Aruna, bunuh dia tanpa ragu."
"Baik, Tuan," suara Marco terdengar dari pengeras suara.
Aruna mengembuskan napas yang sedari tadi tertahan. "Kedua. Aku ingin akses penuh ke sanatorium ibuku. Aku ingin bicara dengannya melalui video setiap hari, tanpa ada penjagamu yang berdiri di belakangku. Aku ingin tahu setiap perkembangan medisnya langsung dari dokter, bukan lewat laporan yang kau saring."
"Adil," sahut Dante singkat. "Dan yang ketiga?"
Aruna menatap lurus ke mata abu-abu Dante yang pekat. "Ketiga... Berhenti mengurungku di kamar ini. Ajari aku. Jika kau bilang aku adalah 'Kunci Valerius', maka ajari aku cara menjadi seorang Valerius. Aku tidak ingin menjadi target yang lemah. Aku ingin belajar cara bermain di duniamu. Ajari aku cara menembak, cara bernegosiasi, dan cara mengenali musuh-musuhmu."
Dante terdiam. Keheningan itu berlangsung lama, hanya dipecah oleh suara guntur di luar. Tiba-tiba, Dante tertawa—suara tawa yang berat dan penuh kekaguman yang tulus.
"Kau ingin belajar menjadi monster, mawar kecilku?" Dante berdiri, melangkah mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. "Kau tahu risikonya? Sekali kau masuk ke sisi gelap ini, tidak ada jalan kembali ke kehidupan mahasiswamu yang membosankan."
"Kehidupan itu sudah mati sejak kau mengirim Marco menjemputku," balas Aruna pahit. "Sekarang, pilihannya adalah menjadi mangsa atau menjadi pemangsa. Aku memilih untuk berdiri di sampingmu, bukan di bawah kakimu."
Dante meraih pinggang Aruna, menariknya dengan sentakan yang kuat hingga Aruna terpekik kecil. "Kau sangat berbahaya, Aruna. Lebih berbahaya daripada yang kubayangkan. Tapi itu justru membuatku semakin menginginkanmu."
Dante membungkuk, hidungnya bergesekan dengan hidung Aruna. "Baiklah. Kesepakatan diterima. Mulai besok, kau akan menjalani latihanmu. Kau akan belajar bahwa mahkota Valerius terbuat dari duri, dan kau harus belajar cara berdarah tanpa mengeluh."
"Aku sudah terbiasa berdarah karena perbuatanmu, Dante," bisik Aruna, tangannya perlahan naik ke leher Dante, jari-jarinya yang halus merayap ke rambut pria itu.
Dante mengerang pelan, ia mencium Aruna dengan gairah yang meledak-ledak—bukan ciuman penaklukan, melainkan ciuman persetujuan atas aliansi baru yang gelap ini. Aruna membalas ciuman itu, meski hatinya terasa seperti batu. Ia tahu bahwa mulai malam ini, ia sedang bermain dengan api paling panas.
Dante mengangkat Aruna, mendudukkannya di atas meja kerja yang luas. Kertas-kertas rahasia itu kini terinjak oleh tubuh mereka, namun tak ada yang peduli. Di bawah lampu remang ruang kerja, di tengah badai yang mengamuk di pulau terpencil itu, Aruna Salsabila menyerahkan sisa-sisa kepolosannya untuk ditukar dengan kekuatan.
"Tunjukkan padaku," bisik Aruna di antara ciuman Dante. "Tunjukkan padaku seberapa besar kekuasaan yang bisa kau berikan padaku."
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mulai melepaskan kancing kemejanya sendiri, matanya tidak pernah lepas dari Aruna. Di ruangan itu, di atas meja yang menjadi saksi bisu banyak rencana pembunuhan, mereka berdua mengikat janji baru—sebuah janji yang akan mengubah jalannya sejarah keluarga Valerius.
Aruna menatap langit-langit ruangan saat Dante membenamkan wajah di lehernya. Ia tahu, ia mungkin tidak akan pernah bisa lari lagi. Namun, jika ia harus tinggal di neraka, maka ia akan memastikan bahwa ia adalah iblis yang memegang kunci pintu gerbangnya.