NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana yang tertunda

Sinar matahari pagi di hari Selasa itu terasa berbeda bagi Brixton. Sejak rahasia besar tentang Elena terungkap, dunianya seolah jungkir balik. Beban kebencian yang selama ini ia pikul di pundaknya luruh, menyisakan ruang kosong yang kini mulai ia isi dengan rasa bersalah yang akut dan keinginan besar untuk menebus dosa. Sepanjang pagi di kantor Vance International, pikirannya sama sekali tidak tertuju pada grafik saham atau laporan akuisisi. Bayangannya terus tertuju pada sosok Alana—wanita yang selama ini ia anggap sebagai musuh, namun ternyata adalah pelindung jiwanya yang paling setia.

Sambil memutar-mutar pena emas di jemarinya, Brixton menatap keluar jendela kaca kantornya yang menghadap ke arah cakrawala kota. Ia ingin melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya untuk Alana: mengajaknya berkencan. Sebuah kencan yang normal, tanpa paksaan, tanpa drama keluarga, dan tanpa bayang-bayang masa lalu. Ia ingin Alana merasa seperti wanita yang dihargai, bukan sekadar "Nyonya Vance" yang terkunci di dalam mansion.

Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi asisten pribadinya. "Batalkan semua agenda makan malamku hari ini. Pesan satu meja di restoran taman yang paling tenang, dan pastikan mereka menyiapkan bunga lili segar—bukan mawar—di atas meja. Aku akan menjemput istriku jam tujuh malam."

Setelah menutup telepon, senyum tipis yang tulus tersungging di bibir Brixton. Ia merasa bersemangat, sebuah perasaan yang sudah lama mati di dalam dirinya. Ia membayangkan wajah Alana yang mungkin akan terkejut, omelannya yang khas saat melihat Brixton pulang lebih awal, dan mungkin—hanya mungkin—sebuah senyum kecil dari bibir merah muda itu.

Di kediaman Vance, Alana menerima pesan singkat dari Brixton tepat pukul dua siang. “Bersiaplah malam ini. Aku akan menjemputmu jam tujuh. Kita akan makan malam di luar.”

Alana menatap layar ponselnya cukup lama. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, namun ia juga merasa sedikit gugup. Ini adalah pertama kalinya Brixton mengajaknya pergi dengan cara yang manusiawi. Selama ini, kepergian mereka keluar rumah selalu berkaitan dengan acara formal atau pemeriksaan dokter yang kaku.

"Bibi Martha," panggil Alana dengan nada sedikit riang. "Brixton mengajakku makan malam di luar nanti malam."

Bibi Martha, yang sedang menata buah di meja, seketika menghentikan kegiatannya. Matanya berbinar senang. "Oh, benarkah, Nyonya? Ini berita yang luar biasa! Saya akan bantu menyiapkan gaun yang paling cantik untuk Anda. Bayi ini juga sepertinya senang diajak jalan-jalan," ucap Bibi sambil mengusap perut Alana yang kini sudah sangat menonjol.

Alana tertawa kecil. "Iya, dia bergerak terus sejak tadi. Mungkin dia juga ingin menghirup udara malam."

Sore itu dihabiskan Alana dengan persiapan yang penuh antusiasme. Ia memilih gaun hamil berbahan sutra lembut berwarna krem yang membuatnya tampak sangat anggun. Ia merias wajahnya dengan tipis, hanya untuk memberikan rona segar pada pipinya yang biasanya pucat. Sambil duduk di depan cermin, ia sesekali mengomel pada bayinya yang bergerak aktif, membuat Alana sedikit kesulitan saat mengenakan sepatu.

"Sabar ya, Nak. Ayahmu sebentar lagi pulang," bisiknya lembut.

Pukul tujuh kurang lima belas menit. Alana sudah siap sepenuhnya. Ia duduk di ruang tamu, menatap pintu besar mansion, menanti deru mesin mobil Brixton.

Namun, di gedung Vance International, situasi mendadak berubah menjadi kacau. Sebuah masalah teknis pada sistem keamanan data perusahaan yang baru saja diintegrasikan mengalami kegagalan sistem yang fatal. Puluhan miliar aset perusahaan terancam terkena peretasan massal. Para direktur dan teknisi berlarian panik, dan sebagai pemilik tunggal, Brixton tidak bisa meninggalkan gedung itu.

"Tuan, kita tidak bisa membiarkan server ini turun lebih dari sepuluh menit, atau semua data nasabah akan bocor ke publik!" teriak manajer IT dengan wajah bersimbah keringat.

Brixton mengepalkan tangannya. Ia melihat jam di tangannya. Pukul 19.10. Ia sudah terlambat. Ia mencoba menghubungi Alana, namun sinyal di ruang server yang sangat terproteksi itu sama sekali tidak ada. Ia terjebak dalam krisis yang tidak bisa ia hindari. Tanggung jawab terhadap ribuan karyawan dan kepercayaan publik memaksanya untuk tetap berada di sana, bertarung dengan kode-kode rumit hingga berjam-jam kemudian.

Di rumah, Alana masih menunggu. Pukul delapan malam berlalu. Pukul sembilan malam pun lewat. Lilin di meja tamu sudah mulai memendek. Rasa kecewa mulai merayap di hati Alana. Ia menatap gaun cantiknya, lalu menatap perutnya sendiri.

"Mungkin dia sibuk," bisik Alana pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Pasti ada sesuatu yang sangat penting di kantor."

Alana menarik napas panjang. Ia teringat janjinya untuk tidak lagi menjadi wanita yang rapuh dan mudah hancur karena perilaku Brixton. Ia memutuskan untuk mengalihkan rasa kecewa kecilnya itu. Ia tahu bahwa Brixton yang sekarang sedang mencoba berubah, dan pembatalan tanpa kabar ini pasti memiliki alasan yang sangat mendesak.

Ia tidak ingin merusak malamnya dengan kesedihan. Dengan gerakan perlahan, ia berdiri dan memutuskan untuk mengganti gaunnya dengan pakaian tidur yang nyaman. Ia berjalan menuju dapur, membuat segelas susu hangat untuk dirinya sendiri.

"Bibi Martha, tidurlah lebih dulu. Sepertinya Brixton akan pulang terlambat," ucap Alana dengan suara tenang saat berpapasan dengan pelayan tua itu yang juga tampak cemas.

"Tapi Nyonya, Anda sudah berdandan begitu cantik..."

Alana tersenyum tulus. "Tidak apa-apa, Bibi. Aku berdandan untuk diriku sendiri juga. Aku akan merajut sebentar di kamar lalu tidur. Jangan khawatirkan aku."

Di dalam kamar, Alana menyalakan lampu tidur yang redup. Sambil duduk di kursi goyangnya, ia mulai merajut topi kecil untuk bayinya. Ia memikirkan hal-hal positif—tentang gerakan bayinya hari ini, tentang bunga-bunga mawarnya yang baru mekar, dan tentang kenyataan bahwa setidaknya Brixton berniat mengajaknya kencan. Itu sudah merupakan kemajuan besar. Sekitar pukul sebelas malam, rasa kantuk akhirnya menguasainya. Alana berbaring di tempat tidur, memeluk bantalnya, dan tertidur dengan damai tanpa ada amarah yang tersisa di hatinya.

Hampir tengah malam saat mobil Brixton akhirnya memasuki halaman mansion. Wajahnya tampak sangat letih, matanya merah karena menatap layar komputer selama berjam-jam tanpa henti. Begitu mesin mati, ia segera keluar dan berlari masuk ke dalam rumah.

"Alana!" panggilnya pelan saat masuk ke aula, namun rumah itu sudah gelap dan sunyi.

Bibi Martha muncul dari arah dapur dengan wajah mengantuk. "Tuan baru pulang? Nyonya Alana menunggu Anda sangat lama tadi, Tuan."

Brixton memejamkan mata, rasa bersalah menghujam jantungnya. "Aku tahu, Bibi. Ada masalah besar di kantor. Di mana dia sekarang?"

"Nyonya sudah tidur sekitar satu jam yang lalu. Beliau tidak marah, Tuan. Beliau malah menyuruh saya tidur dan berkata bahwa Anda pasti sedang sibuk."

Mendengar itu, Brixton merasa dadanya sesak. Ia merasa sangat tidak pantas mendapatkan pengertian sebesar itu dari Alana setelah semua yang ia lakukan di masa lalu. Ia kemudian teringat sesuatu. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kecil berwarna cokelat tua—cokelat artisan terbaik yang ia beli di toko yang masih buka dalam perjalanannya pulang. Ia tahu Alana menyukai cokelat yang tidak terlalu manis.

Dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Brixton menaiki tangga dan menuju kamar Alana. Ia membuka pintu dengan perlahan. Cahaya remang dari lampu tidur menunjukkan sosok Alana yang sedang tertidur lelap dengan posisi menyamping, memeluk perutnya yang besar.

Brixton berjalan mendekat dan berlutut di samping tempat tidur. Ia menatap wajah Alana yang damai. Sisa-sisa riasan tipis di matanya masih terlihat sedikit, menunjukkan bahwa wanita ini benar-benar telah mempersiapkan diri dengan penuh harapan untuk kencan mereka yang gagal.

"Maafkan aku, Alana," bisik Brixton sangat lirih. "Lagi-lagi aku mengecewakanmu."

Ia meletakkan kotak cokelat itu di atas nakas, tepat di samping buku pengasuhan anak yang sedang dibaca Alana. Brixton menarik napas panjang, menghirup aroma tenang dari kamar itu. Ia merasakan dorongan yang sangat kuat untuk menyentuh Alana, bukan dengan nafsu, melainkan dengan rasa sayang yang murni.

Brixton membungkuk sedikit, lalu dengan sangat lembut, ia mencium bibir Alana sekilas. Hanya sebuah kecupan ringan yang penuh dengan permohonan maaf dan kasih sayang yang baru ia sadari. Alana sedikit bergerak dalam tidurnya, bergumam kecil namun tidak terbangun.

Brixton tersenyum kecil, lalu ia berdiri. Ia tidak ingin mengganggu istirahat istrinya lebih jauh. Ia keluar dari kamar Alana, menutup pintu dengan sangat pelan, dan berjalan menuju kamarnya sendiri yang berada di sebelah.

Di kamarnya, Brixton segera membersihkan diri. Ia mengganti kemejanya yang kusut dengan kaos tidur yang nyaman. Saat ia berbaring di tempat tidurnya sendiri, pikirannya kembali pada Alana. Ia berjanji dalam hati bahwa besok pagi, hal pertama yang akan ia lakukan adalah meminta maaf secara langsung dan menebus kencan yang batal itu dengan sesuatu yang jauh lebih istimewa.

"Aku akan memperbaikinya, Alana. Satu per satu," gumam Brixton sebelum akhirnya ia juga jatuh terlelap karena kelelahan yang luar biasa.

Malam itu, meskipun kencan pertama mereka batal, ada sebuah jembatan tak kasat mata yang terbangun lebih kuat di antara mereka. Alana yang belajar untuk mengerti dan bersikap positif, serta Brixton yang belajar untuk merasa bersalah dan menghargai keberadaan istrinya. Di kediaman yang dulunya penuh dengan teriakan dan tangisan, kini hanya ada nafas teratur dari dua jiwa yang sedang belajar untuk saling memaafkan di bawah naungan malam yang tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!