Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rolikur (22)
Jam ke-48. Detik-detik terakhir yang menentukan.
Ladang Padi Baja itu kini bukan lagi sekadar sawah. Tempat itu telah berubah menjadi pusaran energi berwarna ungu dan perak yang berputar gila-gilaan. Angin menderu kencang, membuat atap gubuk bergetar. Ayam-ayam di kandang (termasuk si mata-mata yang masih terikat) meringkuk ketakutan di pojokan.
Di pusat badai energi itu, Feng Shura membuka matanya. Sepasang pupil matanya kini bersinar keemasan. Otot-otot di tubuhnya menegang, membesar sedikit, lalu kembali memadat dengan densitas yang mengerikan. Ia merasakan aliran tenaga yang meluap-luap di setiap inci pembuluh darahnya.
"HAAAAAAH!" Shura meraung, melepaskan energi kotor dari paru-parunya. Suaranya menggelegar seperti auman naga, menciptakan gelombang kejut yang meratakan rumput liar dalam radius sepuluh meter.
Sementara itu, di sebelahnya...
"EUREKA! SINTESIS PROTEIN SELESAI!"
Han Jia melompat berdiri. Bukan dengan raungan gagah, tapi dengan teriakan antusias ala ilmuwan gila yang baru menemukan vaksin wabah. Tubuhnya diselimuti cahaya putih kebiruan yang berkedip-kedip seperti lampu neon rusak.
[TING! TING! TING!]
Suara notifikasi sistem berbunyi bertalu-talu di kepala Han Jia, lebih nyaring daripada lonceng gereja.
[Selamat Misi 'Sinkronisasi Bii-Energi' selesai!]
[Kalkulasi Ulang Status Fisik...]
[Distribusi Hadiah...]
Han Jia segera menepis debu di bajunya dan menatap layar hologram di depannya dengan mata berbinar. "Ayo, tunjukkan padaku! Apakah aku sudah menjadi 'Dewi Pertanian'? Atau 'Ratu Genetika'?"
Teks di layar muncul perlahan:
[Nama: Han Jia]
[Pangkat Baru: Buruh Tani Tingkat Lanjutan (Advanced Farm Laborer)]
Keahlian Baru: Manipulasi Genetik Dasar (Mempercepat pertumbuhan tanaman kecil dengan sentuhan)]
[Status Fisik: Sehat (Tidak lagi malnutrisi)]
[Nama Rekan: Feng Shura]
[Pangkat Baru: Buruh Tani Tingkat Menengah]
[Keahlian Baru: Otot Penghancur Batu (Kekuatan fisik meningkat 300%)]
Hening.
Angin berhenti berhembus. Cahaya ungu meredup.
Han Jia menatap kata "Buruh Tani Tingkat Lanjutan" itu selama sepuluh detik penuh tanpa berkedip. Urat di pelipisnya mulai berkedut.
"Buruh..." desis Han Jia, suaranya pelan tapi mengerikan. "Lagi-lagi... BURUH?!"
Shura, yang sedang sibuk mengagumi kekuatan barunya dengan meremas sebongkah batu kali hingga hancur menjadi debu, menoleh ke arah Han Jia. "Ada apa, Profesor? Lihat! Aku bisa menghancurkan batu dengan tangan kosong! Ini luar biasa! Apa pangkatmu? Pasti lebih tinggi dariku, kan?"
Han Jia berbalik perlahan menghadap Shura, wajahnya menampilkan senyum yang sangat dipaksakan dan terlihat menyeramkan.
"Ya, Shura. Pangkatku sangat tinggi. Aku adalah... Buruh Tani Lanjutan." Han Jia mengucapkan kata terakhir itu dengan nada jijik seolah sedang memakan lemon busuk.
"Heraaa!" teriak Han Jia tiba-tiba, menendang udara kosong. "Keluar kau, kalkulator berjalan!"
Hera muncul dalam wujud hologramnya, kali ini membawa papan jalan dan kacamata tebal, bergaya seperti HRD perusahaan. "Selamat atas promosi Anda, Profesor. Kenaikan gaji tidak tersedia, tapi Anda dapat akses bibit baru."
"Persetan dengan bibit!" Han Jia menunjuk papan statusnya. "Jelaskan padaku struktur karir bodoh ini! Kenapa setelah hampir mati digigit nyamuk selama dua hari, aku masih seorang BURUH?! Kapan aku bisa menjadi bos?!"
Hera menghela napas digital. "Baiklah, izinkan saya mempresentasikan Jenjang Karir Agrikultur Semesta:"
Sebuah bagan piramida muncul di udara:
Buruh Tani Pemula (Kasta Terendah - Posisi Awal)
Buruh Tani Tingkat Lanjutan (Anda di sini - Bisa menyuruh tanaman tumbuh sedikit)
Penggarap Tanah Terampil (Bisa memanipulasi tanah dan air)
Juragan Ladang Berwibawa (Bisa mengendalikan cuaca lokal)
Master Pertanian Tingkat Akhir (Dewa Tani)
Mata Han Jia terpaku pada poin nomor 5. "Master Pertanian Tingkat Akhir... Apa yang bisa dilakukan level itu?"
Hera tersenyum misterius. "Pada level itu, Profesor, Anda bukan lagi menanam. Anda memerintah alam. Anda bisa menghidupkan hutan mati dalam sedetik. Anda bisa membuat satu butir padi cukup untuk memberi makan satu kota. Anda bisa memanipulasi kehidupan dan kematian biologis hanya dengan kehendak pikiran. Singkatnya: Anda menjadi Tuhan bagi segala flora."
Han Jia terdiam. Ambisi yang tadinya redup karena hinaan kata "buruh", kini menyala kembali dengan api yang berkobar-kobar.
Kekuatan untuk memanipulasi biologi secara absolut... itu adalah puncak dari segala sains yang ia kejar.
"Aku menginginkannya," bisik Han Jia. "Aku harus mencapai level Master itu."
"Bagus!" Shura menepuk bahu Han Jia dengan semangat (membuat Han Jia hampir terpental karena kekuatan baru Shura). "Jadi, apa yang harus kita lakukan? Latihan pedang? Meditasi lagi?"
"Misi, Shura. Kita butuh Misi dan Poin Pengalaman (XP)!" Han Jia mengepalkan tangannya. "Tapi masalahnya..."
Han Jia mendongak ke langit, menatap awan yang berarak. Ia mengangkat tinjunya ke arah langit biru.
"BAGAIMANA AKU BISA CEPAT NAIK LEVEL KALAU OTHOR SIALAN ITU HOBI SEKALI MENGIRIM LALAT PENGGANGGU KE SINI?!" teriak Han Jia frustasi.
Shura bingung. "Lalat? Maksudmu prajurit bayaran kemarin?"
"Iya! Mereka itu cuma filler! Cuma pengisi durasi yang menghambat risetku!" Han Jia mulai mondar-mandir dengan agresif. "Setiap kali aku mau fokus bertani, Othor mengirim orang jahat. Kirim warga desa lah, kirim tentara lah, kirim mata-mata seksi lah! Kapan aku bisa fokus grinding XP kalau harus terus-terusan main Tower Defense?!"
Han Jia mengambil napas panjang, lalu menatap Shura dengan tatapan berapi-api.
"Dengar, Asisten Kuli Tingkat Menengah! Mulai sekarang, kita ubah strategi. Kita tidak akan menunggu diserang. Kita akan selesaikan semua misi secepat kilat. Jika ada musuh datang, kau hancurkan mereka dalam hitungan detik dengan otot barumu itu. Jangan kasih mereka durasi dialog! Mengerti?!"
Shura meneguk ludah, sedikit ngeri melihat semangat Han Jia. "S-siap, Profesor! Hancurkan musuh, tanpa dialog!"
Han Jia tersenyum puas. "Bagus. Sekarang, cek hadiah tambahannya. Katanya ada kemampuan teleportasi jarak pendek... atau apa tadi istilahnya? Ah, masa bodoh. Ayo kita coba lompat!"
Han Jia memejamkan mata, membayangkan dirinya berpindah ke depan pintu gubuk.
WOOSH!
Han Jia menghilang.
Sedetik kemudian...
BRUK!
"AAWWWW!!"
Shura menoleh kaget. Han Jia tidak ada di depan pintu gubuk. Suaranya terdengar dari... atas atap kandang ayam.
Han Jia tergantung di sana dengan posisi terbalik, kakinya tersangkut di jaring laba-laba.
"HERAAA! KALIBRASI KOORDINATNYA MELENCENG TIGA METER! TURUNKAN AKU SEBELUM AKU JADI MAKANAN AYAM!"
Shura menahan tawanya sekuat tenaga. "Sepertinya 'Buruh Tani Lanjutan' masih butuh banyak latihan lompat, Profesor."