Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror dan ancaman dari masa lalu
Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Jam menunjukkan pukul empat kurang sepuluh, tapi Kirana sudah terjaga sejak setengah jam lalu. Bukan karena excited seperti biasa, melainkan karena perutnya terasa mual. Bukan mual karena lapar, tapi mual yang datang dari rasa tidak enak yang tiba-tiba menyeruak sejak kemarin sore.
Semuanya berawal dari pesan singkat yang masuk ke nomor pribadinya—nomor yang seharusnya hanya diketahui Bu Anita, Mbak Sari, Mbak Yuni, dan beberapa pelanggan tetap. Nomor yang sengaja tidak pernah dia kasih ke siapa pun dari kehidupan lamanya.
Pesan itu hanya satu baris:
“Kamu pikir bisa lari selamanya?” Aku akan mengambil Gio ."
Tidak ada nama pengirim. Hanya nomor asing dengan kode area yang sama dengan kota asal mereka dulu. Kirana langsung blok nomor itu, lalu matikan ponsel. Tapi efeknya sudah telanjur masuk. Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak. Setiap Gio bergeser sedikit saja, dia langsung terbangun, takut ada ketukan di pintu ruko.
Pagi ini, dia memaksakan diri bangun. Dapur harus tetap hidup. Pesanan hari ini 130 porsi—campuran ayam goreng mentega dan rendang sapi untuk acara pensiun karyawan di perusahaan besar.
Kirana nyalakan kompor, mulai iris bawang, tapi tangannya gemetar. Gio muncul di ambang pintu, masih mengantuk.
“Ma, kenapa matanya merah?” tanya Gio polos sambil menggosok mata.
Kirana buru-buru tersenyum. “Mama cuma ngupas bawang banyak-banyak tadi, Nak. Pedes matanya. Kamu mandi dulu ya, nanti Mbok Tini datang.”
Gio mengangguk, tapi matanya masih memperhatikan Mama-nya dengan khawatir. Anak kecil memang peka. Dia tahu ada yang tidak beres, tapi belum bisa menjelaskan apa.
Jam enam pagi, Mbak Sari dan Mbak Yuni datang. Mereka langsung sadar suasana hati Kirana berbeda.
“Bu kenapa mukanya pucet gini? Kurang tidur?” tanya Mbak Sari sambil ikat celemek.
Kirana menggeleng cepat. “Nggak apa-apa. Cuma agak pusing. Kita mulai aja ya, pesanan banyak hari ini.”
Mereka bekerja seperti biasa, tapi Kirana lebih pendiam. Setiap ada suara motor lewat di depan ruko, dia langsung menoleh. Setiap ponsel bergetar, dia langsung cek—takut pesan baru datang.
Sampai jam delapan, semua kotak sudah siap. Pak Dedi datang menjemput seperti biasa. “Pagi, Bu Kir! Wah, hari ini wangi banget rendangnya. Pasti laris manis nih!”
Kirana tersenyum tipis. “Makasih, Pak. Hati-hati di jalan ya.”
Setelah Pak Dedi pergi, Kirana duduk sebentar di kursi plastik depan ruko. Dia membuka ponsel lagi. Ada satu pesan baru dari nomor berbeda.
“Kamu tahu Aris lagi cari kamu mati-matian. Jangan bikin susah kami semua. Kembalilah, sebelum jadi urusan polisi.”
Kirana merasa darahnya langsung dingin. Polisi? Apa yang Aris ceritakan ke orang-orang? Dia kabur diam-diam, tanpa kekerasan, tanpa mencuri apa pun selain haknya untuk hidup bebas bersama Gio. Tapi dia tahu, mertuanya punya koneksi.
Aris punya teman di kantor polisi. Mereka bisa saja membuat cerita yang membuat Kirana terlihat salah.
Tangan Kirana gemetar sampai ponsel hampir jatuh. Dia buru-buru masuk ke dalam, tutup pintu ruko rapat, lalu duduk di lantai dapur. Air matanya mulai menetes tanpa suara.
“Kenapa harus sekarang?” bisiknya.
“Kenapa pas semuanya mulai membaik ?”
Gio yang baru selesai mandi keluar dari kamar kecil, langsung lari ke Mama-nya. “Ma… Mama nangis?”
Kirana cepat hapus air mata. “Nggak, Sayang. Mama cuma… kangen sama ayah Gio.”
Itu bohong pertama yang dia ucapkan pagi itu. Gio memeluk kaki Kirana erat. “Ayah nggak baik, Ma. Aku nggak mau ketemu ayah. Aku mau sama Mama aja.”
Kirana peluk anaknya kuat-kuat. “Iya, Nak. Mama juga cuma mau sama kamu.”
Tapi di dalam hatinya, ketakutan semakin membesar. Kalau Aris benar-benar datang, apa yang akan terjadi? Gio akan ditarik paksa? Atau lebih buruk lagi, mereka akan bilang Kirana menculik anak sendiri?
Siang harinya, setelah pesanan selesai dikirim, Kirana memutuskan untuk cerita ke Bu Anita. Dia telpon, suaranya bergetar.
“Bu… saya dapat pesan aneh. Kayaknya dari keluarga dan mantan suami saya.”
Bu Anita diam sejenak. “Kir, kamu di mana sekarang? Aku ke situ.”
Tiga puluh menit kemudian, Bu Anita sudah duduk di kursi plastik depan ruko. Gio bermain di dalam dengan puzzle, sementara Kirana cerita semuanya: pesan-pesan itu, ketakutan bahwa Aris akan datang, dan rasa bersalah karena merasa membahayakan Gio.
Bu Anita mendengarkan dengan serius. Setelah Kirana selesai, beliau pegang tangan Kirana erat.
“Kir, dengar aku baik-baik. Kamu nggak salah. Kamu itu diusir mereka ,dan kamu sekarang disini untuk selamatkan diri dan anakmu. Itu bukan kejahatan. Kalau mereka mau bikin ribut, biar aku yang urus. Suamiku kenal banyak orang di pengadilan. Kita bisa ajukan perlindungan hukum kalau perlu.”
Kirana menunduk. “Tapi Bu… kalau mereka bilang saya kabur bawa anak tanpa izin? Gio kan anak sah Aris juga.”
Bu Anita menghela napas. “kamu itu tidak kabur ,mereka sendiri yang mengusir kamu ,hak asuh anak di bawah umur berada di ibunya ." Ucap Bu Anita ,Kirana melihat kearah Bu Anita .
"Dan Kalau kamu bisa buktikan bahwa kamu dan Gio dalam bahaya selama tinggal bersama mereka—kekerasan verbal, tekanan psikologis, atau bahkan fisik—hak asuh akan tetap jatuh ke kamu. Aku tahu kamu nggak pernah cerita detailnya, tapi aku yakin ada bukti. Foto memar, chat kasar, saksi dari tetangga dulu. Kita cari.”
Kirana terdiam. Dia memang punya beberapa foto lama: lengan biru karena dicubit mertua,dan pukulan dari Aris , chat Aris yang memaki karena masakannya dianggap gagal, bahkan rekaman suara singkat ketika mertuanya mengancam akan ambil Gio kalau Kirana tidak nurut. Semua itu disimpan di folder tersembunyi di ponsel lamanya—yang sekarang sudah rusak, tapi file-nya dia pindah ke flashdisk kecil.
“Aku… aku punya buktinya, Bu. Cuma aku takut kalau dibuka lagi, semuanya akan terbuka lebar.”
Bu Anita mengangguk pelan. “Itu wajar. Tapi kalau kamu diam, mereka akan datang dan ambil Gio paksa. Lebih baik kita siap duluan. Besok aku ajak kamu ke pengacara yang aku kenal. Gratis konsultasi pertama. Kita lihat langkah apa yang bisa diambil.”
Kirana mengangguk lemah. “Terima kasih, Bu. Saya… saya nggak mau Gio tahu. Dia masih kecil.”
“Tentu. Kita jaga dia baik-baik. Dan kamu juga harus jaga diri. Jangan sendirian keluar malam-malam. Kalau perlu, aku suruh anakku jemput Gio ke sekolah nanti.”
Malam itu, setelah Bu Anita pulang, Kirana duduk di samping Gio yang sudah tidur. Dia memandangi wajah anaknya yang damai, lalu berbisik.
“Mama janji, Nak. Mama akan lawan. Mama nggak akan biarkan mereka ambil kamu.”
Tapi di luar ruko, hujan mulai turun deras.
Di antara suara gemericik air, Kirana mendengar suara motor pelan berhenti di depan gang. Lampu depannya menyala sebentar, lalu padam. Kirana langsung bangun, mati lampu dapur, dan mengintip dari celah gorden.
Ada seorang pria berdiri di bawah payung hitam, memandang ke arah ruko. Wajahnya tidak jelas karena gelap dan hujan, tapi postur tubuhnya… mirip sekali dengan Aris.
Kirana mundur pelan, jantungnya berdegup kencang. Dia kembali ke samping Gio, memeluk anaknya erat-erat. Air matanya jatuh pelan ke rambut Gio.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tinggal di ruko itu , Kirana benar-benar takut. Bukan takut pada dirinya sendiri, tapi takut kehilangan satu-satunya alasan dia bertahan selama ini.
Hujan semakin deras. Dan di luar sana, bayangan masa lalu mulai mendekat.