Menikah selama 12 tahun, Siti Nurmala yang begitu setia kepada suaminya sampai mengorbankan mimpinya sebagai dokter spesialis, malah dikhianati Suami dan anak-anaknya.
Yusuf Kaliandra, berselingkuh dengan Keponakan Nurmala dan menikahinya secara siri, bahkan didukung oleh anak-anaknya, Raden dan Sofia.
Nurmala yang sakit hati pergi dengan gugatan cerai.
Di tengah usahanya mencari pekerjaan, Ia bertemu dengan juniornya saat kuliah. Dewangga Pramudya!
Pria tampan pemilik rumah sakit, duda anak 1 yang kemudian dengan gigih mengejarnya!
Akankah Nurmala bisa menerima cinta baru diantara ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang timbul akibat pengkhianatan Yusuf?
Bagaimana reaksi anak-anaknya melihat Nurmala yang begitu menyayangi putra dari Dewangga?
Selamat membaca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mau Nggak jadi Mommyku?
"Oh iya, Ergi, kenalin ini teman Daddy, namanya dokter Nurmala, say hello dong"
"Halo dokter Nurmala... Aku Ergi... Anaknya Daddy..."
Ah.. Ternyata betul, anaknya...
"Halo Ergi, salam kenal..."
"Ergi ini anak Saya, Kak Nurma.. Umurnya 6 tahun, harusnya hari ini masuk sekolah, tapi tadi pagi demam jadi Saya bawa kesini"
"Oh gitu...."
"dokter Nurma cantik, mau nggak jadi Mommyku?
"Ap-apa?" Nurma terkejut mendengar pertanyaan polos itu. Tapi, itu artinya Ergi tidak punya...
"Aduh, Ergi nggak boleh begitu ya, nggak sopan, kan nanti dokter Nurmala nya jadi takut" Ucap Dewangga dengan sedikit kikuk.
"Emang iya Bu dokter?"
"Enggak kok, Bu dokter nggak takut, tapi Daddy Kamu benar, nggak boleh nanya kaya gitu ke orang yang baru dikenal, ok?"
"Ok. Maaf ya Bu dokter... Soalnya Ergi pengen punya Mama kaya temen-temen, terus pas liat dokter, Ergi langsung suka, Daddy juga suka kan?"
'Ya ampun, anak ini...' Ergi tersenyum canggung, wajahnya sedikit memerah.
Nurma melihat interaksi Ayah dan anak yang terasa hangat sekaligus menggemaskan itu.
Dulu, Raden dan Sofia juga sangat manis dan menggemaskan. Entah di usia berapa sikap mereka jadi sangat kasar.
Mungkin karena melihat sikap Yusuf yang juga sering kasar padanya, jadi anak-anaknya meniru.
Ucapan seperti kucel, kumal, malu-maluin, kaya pembantu, semuanya adalah ucapan Yusuf padanya. Anak-anak yang sangat pandai mengcopy paste sikap orang-orang di lingkungan terdekatnya pun kemungkinan besar akan menirunya, walaupun itu sikap yang salah.
"Dokter Nurma... Tolong jangan di pikirkan ya, Ergi memang sering ngomong begitu ke perempuan-perempuan yang dia anggap cantik, maklum saja, Mommy nya meninggal saat Ergi belum genap 40 hari jadi Dia pengen banget punya Mama" Dewangga tiba-tiba berkata, sepertinya Pria itu sedikit tidak enak hati melihat ekspresi murung di wajah Nurmala.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, maaf ya, Saya nggak tahu... Saya nggak apa-apa kok, Saya cuma keinget sama Putra sulung Saya, dulu pas seumuran Ergi, Dia juga lucu dan polos kayak gini..."
"Oh gitu, memangnya berapa umur anak-anak dokter Nurma sekarang kalau boleh tahu?"
"Anak sulung saya 10 tahun, yang bungsu 9 tahun"
"Wah jaraknya cuma setahun ya, pasti saat itu dokter Nurma capek banget ngurusinnya, Saya denger dokter Nurma ngurus sendiri anak-anaknya tanpa pembantu, dokter Nurma hebat banget... Saya ngurus Ergi aja kadang masih kuwalahan walaupun ada baby sitter"
"Enggak hebat kok, kan udah kewajiban Saya sebagai Ibunya..."
Dewangga tersenyum. Ia tanpa sadar sudah membongkar kartunya sendiri. Dulu, meskipun Nurma sudah menikah, Dewangga masih sering mencari informasi tentang senior cantiknya itu. Sampai akhirnya Dia menyerah setelah merasa bahwa Nurmala telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Ia pun tergolong terlambat menikah karena terlalu sibuk juga kehilangan minat untuk menikah.
Seolah ketidakberuntungannya tidak berakhir, setelah berhasil menemukan pasangan yang cocok, Allah SWT mengambilnya, setelah melahirkan Ergi, Almarhumah Istrinya meninggal karena demam nifas dan akibat komplikasi asam lambung yang parah.
Semenjak itu Ia hanya fokus pada putra semata wayangnya dan juga karir. Sampai tiba-tiba bertemu dengan Nurmala lagi.. Apa ini adalah takdir?
Meski Nurmala tidak memberitahu apapun tentang permasalahan pribadinya, tapi Dewangga mendapatkan sedikit informasi bahwa Seniornya itu sudah mendaftarkan gugatan perceraian dengan Yusuf Kaliandra.
Yusuf Kaliandra.
Padahal Pria itu memiliki banyak noda kelam. Entah kenapa Nurmala bisa kepincut pada Pria seperti itu. Apa Nurmala sama sekali tidak tahu sepak terjang suaminya sendiri?
Hmmm, itu sudah bukan lagi masalah. Meskipun terlambat, Nurmala mengambil langkah yang tepat, dan Dewangga memutuskan untuk membantunya dari belakang, sampai wanita itu benar-benar bangkit dari luka batinnya.
"Dokter Dewangga?"
"Ya?"
"Kenapa melamun, itu Ergi nya manggil-manggil dari tadi loh..."
"Oh iya maaf. Ya sudah dokter Nurma, saya permisi dulu. Semangat bekerja kembali ya, sampai ketemu. Say bye-bye sama Bu dokter nak"
"Bye-bye Bu dokter, nanti lain kali main yah sama Ergi" Ucap Ergi dengan ceria.
Imutnyaaa... Batin Nurmala gemas.
"Oke deh, bye-bye" Jawabnya kemudian. Dewangga pun berlalu dari sana dengan Ergi yang berada dalam gendongannya.
Setelahnya, pasien yang datang tidak terlalu ramai sampai jam makan siang tiba-tiba.
Nurmala jadi ingat dengan gugatan perceraiannya dengan Yusuf.
Retno sudah mengabari bahwa Dia telah mengadakan pertemuan pribadi dengan Yusuf. Tapi lelaki itu menolak gugatan perceraiannya, apalagi soal tuntutan harta gono-gini, katanya meski ada bukti perselingkuhan, Yusuf tidak akan bersedia memberikannya. Dia juga mengancam tidak akan membiarkan Nurmala bertemu dengan Raden dan Sofia sekalipun kalau tetap kekeuh ingin bercerai.
Tapi, Nurmala sudah tidak perduli. Toh, anak-anak yang telah di besarkannya sudah tidak memiliki nurani, apalagi rasa sayang kepada Ibu yang telah mengandung dan melahirkan Mereka, serta merawat sampai sebesar ini.
Malah Mereka berani menghardik dan menghina ibunya dengan kasar. Nurmala tidak mungkin kehilangan rasa sayang terhadap anak-anaknya, tapi rasa sakit dan kecewanya juga tidak kalah besar. Jadi, jika memang anak-anaknya lebih memilih untuk bersama Ayah beserta ibu barunya, ya sudah, mau bagaimana lagi. Nurma merengek pun tidak ada gunanya bukan?
Suatu saat nanti jika Mereka butuh, Mereka pasti akan mencari Nurmala dengan sendirinya. Nurmala yakin itu. Anak-anaknya akan sadar bahwa apa yang Mereka lakukan saat ini adalah perbuatan yang salah.
"Halo, Assalamualaikum, Retno gimana dengan proses perceraian Aku?"
"Semuanya sudah beres. Untuk sidang pertamanya akan diadakan tanggal 27, Minggu depan. Kamu mau datang?"
"Menurutmu gimana?
"Menurutku sih Kamu hadir aja, kalau nanti si brengsek Ucup enggak Dateng, malah putusannya akan lebih cepat"
"Ok deh, nanti Aku izin dulu di tempat kerjaku"
"Siap... Gimana kerjaan Kamu? Nyaman?"
"Alhamdulillah nyaman, oh ya Ret, Kamu tahu nggak siapa bos Aku?"
"Siapa?"
"Dewangga Pramudya, dia Junior Aku pas tahun terakhir program spesialis Aku. Jadi, Akun lulus 2011, Dia lulus 2015"
"Serius? Si Dewangga yang tinggi, ganteng, plus kaya raya itu?"
"Emang iya? kok Aku nggak tahu?"
"Ya iyalah nggak tahu, orang otak Kamu waktu itu di penuhin sama si Ucup"
"Hahahaha, iya juga sih.."
"Iya Kamu tuh bulol banget waktu itu, sampe nasihat Aku aja nggak mempan"
"Iyaa maaf deh"
"Ya udah, pokoknya semangat ya, sampai ketemu di sidang pertama Kamu. Kamu nikahnya di Jakarta, jadi Kamu harus balik kesini tanggal 27 ya, mau nginep di tempatku juga boleh"
"Oke, gampang itu mah, bisa di atur"
"Oh ya, Tante Aminah sehat?"
"Alhamdulillah sekarang udah membaik banget. Yang penting jangan sampai banyak pikiran aja, makanya Aku berusaha sebaik mungkin biar nggak kelihatan stress atau sedih karena perceraian ini"
"Hmmm, emang Benar-benar ye si Ucup, bajingan tengik itu. Beruntung banget udah dapetin Kamu malah di sia-siakan!"
"Udahlah, yang penting Aku kan udah ambil keputusan yang tepat"
"Hmmn... Semangat, Nurmala-ku pasti bisa melewati semua ini"
"Aamiiin, makasih ya Ret"
"Sama-sama...."
harus ada anti hero yang membuat cerita seruu🎸🎸