NovelToon NovelToon
Balas Dendam Suamiku!

Balas Dendam Suamiku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pelakor / Keluarga / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
​Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.

Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa dia?

Amsterdam, Belanda

Pagi ini Arini memutuskan untuk lari pagi mengelilingi sekitar komplek perumahan. Jam sudah menunjukkan pukul 6, dan kini ia hampir sampai di jalanan kota.

Langkah kakinya beradu lembut dengan jalanan paving block yang masih lembap oleh embun. Suasana sangat tenang, hanya ada suara gesekan daun pohon elm dan sesekali kepakan sayap burung yang terbang rendah di atas kanal.

Arini menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma tanah basah dan udara bersih yang memenuhi paru-parunya.

Di sepanjang jalan utama kota, terlihat beberapa orang berlalu-lalang dengan menaiki sepeda, ada juga kereta trem yang berjalan di sudut jalanan membawa orang-orang menuju tujuannya masing-masing.

Arini singgah di sebuah cafe yang terletak di ujung jalan. Begitu ia membuka pintu, aroma biji kopi panggang langsung menyapa indra penciumannya.

Arini menghampiri meja kasir dan mulai melihat daftar menu yang tertera di atas meja tersebut. Seorang laki-laki muda pun datang dan menyambut Arini dengan ramah.

"Goedemorgen! Mag ik een warme zwarte koffie, alstublieft?" ucap Arini. (Selamat pagi! Boleh saya pesan satu kopi hitam hangat?)

"Natuurlijk, komt eraan!" sahut laki-laki itu sambil tersenyum. (Tentu, segera datang!)

Setelah memesan, Arini pun berbalik dan mendekati kursi kayu yang menghadap ke jendela besar cafe. Disana ia bisa melihat pemandangan jalanan kota sambil menyenderkan punggungnya pada ujung kursi.

Tiba-tiba ponselnya mengeluarkan suara. Arini pun meraih benda itu dan membukanya. Beberapa berita terbaru yang sedang menjadi trending topik di Amsterdam. Namun ia sedang tidak tertarik untuk membaca artikel-artikel itu.

Ada beberapa notif pesan dari Ryan. Pria itu dari kemarin mengirimkan pesan kepadanya, sekadar menanyakan kabar atau suasan hatinya. Ya, dia jadi semakin khawatir setelah Arini tiba-tiba saja membatalkan untuk makan malam bersamanya.

Bukan karena Arini tak mau, namun Arini sendiri masih syok saat mendengar berita meninggalnya Erina. Ia bahkan tidak bisa tidur semalaman.

Ia mencoba mencari masalah itu di internet, namun nihil. Yang ia dapatkan hanya informasi itu-itu saja, tidak ada satupun informasi yang penting yang bisa membuka spekulasi baru terkait siapa pelaku pembunuhan itu.

Uap kopi hitam yang dipesan Arini mengepul, menari-nari di depan wajahnya sebelum menghilang ditelan udara dingin yang menyusup setiap kali pintu kafe terbuka.

Di luar, Amsterdam mulai sibuk. Bunyi bel sepeda dan gemuruh trem kini mulai terdengar di luar sana.

Ia baru saja hendak meletakkan ponselnya ketika sebuah pesan masuk. Bukan dari Adrian, melainkan dari nomor yang tidak ia kenal.

​Amsterdams blauw (Biru Amsterdam) tidak akan bisa menutupi noda merah di tanganmu, Arini

​Napas Arini tercekat. Jari-jarinya yang melingkari cangkir porselen bergetar hebat. Siapa? Bagaimana orang ini tahu dia di sini? Sebelum ia sempat memproses rasa takutnya, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya matahari yang masuk dari jendela.

​"Arini?"

Arini tersentak, hampir menyenggol cangkirnya hingga tumpah. Ia mendongak dan menemukan Ryan berdiri di sana. Pria itu mengenakan trench coat cokelat panjang dengan syal rajut yang melilit lehernya. Wajahnya tampak khawatir, namun ia tetap menggulung senyum pada wajahnya.

​"Ryan? Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Arini terkejut.

"Tadi aku mampir ke rumahmu, tapi kaya Vino kanu keluar,"

"Dan ya aku menebak-nebak dan sampai disini." ucap Ryan.

Ryan duduk di hadapannya tanpa diundang. Ia meraih tangan Arini yang dingin di atas meja.

"Tanganmu seperti es, Arini. Kamu baik-baik saja?"

​Sentuhan tangan Ryan terasa hangat, sangat hangat hingga Arini merasa sedikit tenang. Namun, di sudut matanya, ia melihat seseorang di seberang jalan, pria dengan jaket hitam yang tampak memperhatikannya dari balik pohon Elm.

Apakah itu Adrian? Atau orang lain?

​"Aku... aku hanya kurang tidur," bisik Arini. Ia tidak berani menceritakan pesan misterius itu.

"Soal makan malam kemarin, maafkan aku, Ryan.

" Ssh," Ryan menggoyangkan jari telunjuknya dihadapan wajah Arini sambil menggeleng.

"Tidak apa-apa, santai saja,"

Arini tersenyum. Meski ia terlihat baik-baik saja, namun bagi Ryan ada yang berbeda. Pria itu menatap sahabatnya itu lekat, lalu membuka suara.

"Kamu kenapa Arini?"

Arini mengangkat wajahnya, menatap Ryan. Senyumnya perlahan memudar, ia lalu menghela napas panjang.

"Aku bingung..." Lirih Arini.

Ryan mengangkat sebelah alisnya, ia pun ikut bingung mendengar ucapan Arini. "Why? Apa ini soal Adrian? Atau ada sesuatu di Jakarta?"

"Bukan Adrian, lebih tepatnya selingkuhan Adrian.." Arini menghentikan kata-katanya sejenak.

"Dia.. Meninggal," lanjutnya.

Arini memijit pelipisnya pelan, berusaha menahan frustasi di kepalanya. "Dan dia baru saja meninggal kemarin. Masalahnya, aku dan Adrian kini menjadi sorotan, kami juga dicari untuk menjadi saksi terkait kasus gadis itu,"

Ryan mengelus pelan pundak wanita itu, memberi semangat hanya lewat tepukan pelan. "Ini mendadak sekali, dan sangat kebetulan bukan?"

Arini mengangguk setuju, "Benar, seolah pembunuhnya memang sudah menunggu waktu ini,"

"Mungkin dunia hanya sedang berusaha membersihkan jalanmu, Arini," ucap Ryan pelan, suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah kekacauan pikiran Arini.

"Tapi aku mengerti kenapa kamu cemas. Menjadi pusat perhatian dalam kasus kriminal bukanlah hal yang menyenangkan, apalagi saat kamu sedang berusaha mencari kedamaian di sini."

​Arini menatap mata Ryan, mencari kejujuran di sana. Ryan selalu punya cara untuk membuat segalanya terdengar lebih sederhana.

​"Ryan," panggil Arini lirih. "Apa kamu percaya kalau setiap orang punya sisi gelap yang tidak pernah mereka tunjukkan?"

​Ryan terdiam sejenak, tatapannya beralih ke jalanan di luar jendela, mengikuti arah pandangan Arini sebelumnya. Tepat ke arah pohon Elm tempat pria berjaket hitam tadi sempat berdiri, namun kini tempat itu sudah kosong.

Ryan kembali menatap Arini dengan senyum tulus yang mampu melelehkan keraguan apapun.

​"Setiap orang punya rahasia, Arini. Tapi tidak semua rahasia itu jahat. Beberapa orang hanya menyembunyikan luka mereka agar tidak menyakiti orang lain," jawab Ryan.

Ia menggenggam tangan Arini lebih erat. "Sudahlah, jangan bahas kematian atau Jakarta lagi. Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku tahu satu tempat di dekat kanal Prinsengracht yang punya pemandangan terbaik untuk menjernihkan pikiran."

​Arini ragu, namun kehangatan tangan Ryan seolah menjadi satu-satunya pegangan yang ia miliki saat ini. "Boleh. Aku butuh udara segar yang bukan berasal dari rasa takut."

​Keduanya bangkit dari kursinya dan beranjak meninggalkan cafe itu. Pintu cafe berdenting begitu langkah keduanya keluar dari sana.

Jakarta, Indonesia

​Di ruangan yang remang-remang, Gio memutar kembali rekaman CCTV dari area parkir apartemen Erina. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, dan pada waktu 10 menit sebelum kejadian kamera itu mati.

Gio pun menyalakan rekaman cctv dari sudut lain, dan untungnya itu menyala. Ia menekan tombol untuk mempercepat video, hingga di satu titik. Ia menekan tombol pause.

Terlihat Erina berjalan dengan tergesa sambil menggeret kopernya, dan saat ia berhenti lalu berbalik, seseorang menikam dirinya dnegan cepat dari belakang.

Terlihat pelaku sepertinya adalah pria. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Proposi tubuhnya cukup bagus, ia tinggi dan terlihat bugar. Seperti familiar bagi Gio.

Ia menekan tombol pause itu berkali-kali dan melihat sosok itu dengan detail. Hingga akhirnya ia menulis beberapa nama pelaku yang kini menjadi tersangka untuk sementara.

Vano, Dion, dan Bram.

1
gina altira
ada apa ini,, kasusnya jd merembet ke Arini. jd target utamanya itu Arini?
Allea
laaa yg selingkuh si andrian kenapa u yg takut arini 😄
stela aza
lanjut thor langsung 3 bab
Ariany Sudjana
semangat Ryan, jangan diam saja, nanti Arini diambil orang lho
lovina
cerita bgni pasti balikan lg. sok kuat tp lemah, cerita pasaran ini akan sm aja dgn cerita lainnya mana mampu author buat beda, kalau hasil imajinasi sndiri pasti beda tp kalau taulah pasti bakal sama, cerita ini kek hanya ganti nama pemeran sj...membosankan ketika ceritanya di buat ribet pdhl konfliknya ringan,
...: manusia bego
total 2 replies
Ariany Sudjana
biarkan saja laki-laki pecundang seperti Adrian, kamu kejar kebahagiaan kamu sendiri Arini
kriwil
pertama tama colok mata nya si elang lalu si andrian 🙄
ig@__02chani: halo kakak 🙋🏻‍♀️ salam kenal.. jika berkenan & suka novel nuansa korea yg santai & humoris boleh mampir jg di novel "Chef Do", saya up tiap hari kak, terima kasih🙏🏻👍
total 1 replies
kriwil
wong tingal jawab ae kok ribet to arini ,malah kesan nya km itu kayak gundik nya🤣
kriwil
fokus cuma diam sampai memuji si gundik lakinya🤣
kriwil
ga rela buat biayain wanita itu nyatanya gundik lakinya udah kenyang dari otong lakimu juga hidup hedon nya si gundik🤣
kriwil
jalang nya aja dapat kertu ulimite lah bini sah cuma seseran🙄
Aretha Shanum
di awal ya pendaftaran
Nurjannah Rajja
Iya kalau di depan pengumuman...
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁
Mommy Dza
Semangat Author 💪🔥
Mommy Dza
Semangat Arini 💪🔥🤭❤️
gina altira
makan tuh penyesalan
Mommy Dza
IM here Rin ❤️
Mommy Dza
Gak usah takut Rin 🤭
Mommy Dza
Eehh bocor ceritanya
Mommy Dza
Rembes yaahh 😩😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!