"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Lala Jadi Relawan Gadungan
Baru saja Adrian hendak memasukkan kembali foto itu ke dalam saku, ia melihat sosok Dokter Siska yang sedang berdiri di seberang jalan sambil menatap ke arah mobilnya dengan pandangan yang sangat dingin dan penuh dengan api cemburu. Perempuan itu melangkah mendekat dengan jas dokter yang berkibar tertiup angin pagi seolah sedang bersiap untuk melakukan otopsi mendadak pada privasi Adrian. Adrian segera memasukkan foto Lala ke bagian terdalam dompetnya sebelum Siska sempat memergoki bukti nyata dari kedekatannya dengan sang siswi sekolah menengah atas.
"Pagi yang sangat cerah untuk seorang spesialis bedah saraf yang biasanya tidak pernah mau mengantar jemput siapa pun," sindir Siska sambil mengetuk jendela mobil.
"Saya hanya kebetulan lewat karena ada urusan administrasi yang harus segera diselesaikan di area ini," jawab Adrian dengan wajah yang sangat datar.
Siska menyipitkan mata sambil menghirup udara di sekitar kabin mobil yang masih menyisakan aroma parfum vanila serta pelembut pakaian milik keluarga Lala. Ia tersenyum sinis karena tahu betul bahwa Adrian adalah tipe pria yang sangat benci dengan bau-bauan manis yang terlalu menyengat. Perang dingin di antara dua rekan sejawat ini pun dimulai tepat di depan gerbang sekolah yang masih ramai dengan lalu lalang para siswa.
"Aroma mobilmu berubah, Adrian, sejak kapan kamu suka wangi toko kue seperti ini?" tanya Siska dengan nada yang sangat menyelidik.
"Mungkin itu efek dari cairan pembersih udara yang baru saya beli secara tidak sengaja," kilah Adrian sambil mulai memutar kemudi untuk pergi.
Siska tidak menjawab dan hanya menatap kepergian mobil Adrian dengan tangan yang terkepal sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih. Sementara itu, di dalam area sekolah, Lala sedang berlari menuju ruang kepala sekolah dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang sangat bersemangat. Ia tidak peduli jika ia hampir menabrak beberapa guru karena fokus utamanya sekarang adalah mendaftarkan diri dalam program pengabdian masyarakat.
"Ibu Kepala Sekolah, saya ingin mendaftar menjadi relawan di rumah sakit tempat Dokter Adrian bekerja!" seru Lala sambil menggebrak meja kerja pimpinan sekolah.
"Lala, program itu hanya untuk siswa kelas dua belas yang mengambil jurusan ilmu pengetahuan alam, bukan untuk siswi seperti kamu," jawab Ibu Kepala Sekolah dengan heran.
Lala segera mengeluarkan sebuah dokumen yang sudah ia tandatangani sendiri dengan menggunakan nama palsu serta memalsukan cap tanda tangan dari kakaknya, Danu. Ia bersikeras bahwa dirinya memiliki bakat terpendam dalam bidang perawatan pasien meskipun nilai pelajaran biologinya sering berada di bawah rata-rata. Dengan segala kelincahan lidahnya, Lala berhasil meyakinkan pihak sekolah bahwa ini adalah bagian dari penebusan dosa atas aksi bolosnya kemarin pagi.
"Kalau Ibu tidak mengizinkan, saya akan terus menangis berulang-ulang di depan gerbang sampai sekolah ini banjir air mata!" ancam Lala dengan ugal-ugalan yang khas.
"Baiklah, tapi ingat, kamu hanya menjadi relawan pembantu yang tugasnya mengantar berkas, bukan mengoperasi orang!" tegas Ibu Kepala Sekolah dengan pasrah.
Lala melompat kegirangan dan segera berlari menuju toilet untuk mengganti seragam abu-abu miliknya dengan rompi relawan berwarna biru muda yang sudah ia siapkan. Ia merasa rencananya untuk menjadi relawan gadungan akan berjalan sangat mulus karena ia sudah menghafal seluruh denah rumah sakit tersebut. Gadis itu bahkan sudah menyiapkan sebuah kacamata besar agar tidak mudah dikenali oleh para petugas keamanan yang sempat mengejarnya beberapa waktu lalu.
"Operasi penyamaran dimulai, Dokter Adrian tunggu asisten cantikmu ini datang menyelamatkan hari-hari kaku milikmu!" bisik Lala pada pantulan cermin.
Beberapa jam kemudian, Adrian sedang sibuk memeriksa hasil pemindaian otak di ruang kerjanya yang sangat sunyi dan sangat dingin. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk dengan irama yang sangat berisik dan tidak beraturan seolah ada keadaan darurat yang sangat besar. Sebelum ia sempat mempersilakan masuk, sosok relawan kecil dengan kacamata kebesaran dan topi yang menutupi dahi sudah berdiri di hadapannya sambil membawa tumpukan map cokelat.
"Laporan administrasi untuk Dokter Adrian yang paling tampan sedunia sudah siap untuk diperiksa sekarang juga," ucap relawan itu dengan suara yang sengaja diberatkan.
"Lala? Apa lagi yang kamu lakukan dengan penyamaran yang sangat buruk seperti ini di ruangan saya?" tanya Adrian sambil menghela napas panjang.
Adrian segera berdiri dan menutup pintu ruangannya rapat-rapat agar tidak ada perawat atau dokter lain yang melihat keberadaan siswi ajaib itu. Ia merasa kepalanya mulai berdenyut-denyut karena menyadari bahwa Lala baru saja melakukan aksi nekat untuk menembus pengawasan ketat rumah sakit. Gadis itu justru tertawa bangga sambil melepas kacamata besarnya dan menunjukkan kartu identitas relawan yang tergantung di lehernya dengan sangat bangga.
"Aku sekarang adalah relawan resmi, Dokter tidak bisa mengusirku karena aku punya surat tugas dari sekolah!" seru Lala sambil menepuk-nepuk rompinya.
"Menjadi relawan berarti harus bekerja secara profesional, bukan malah menyusup ke ruangan dokter spesialis tanpa izin," tegur Adrian dengan nada tegas.
Namun, sebelum Adrian sempat menceramahi Lala lebih lanjut, pintu ruangan itu kembali terbuka secara mendadak oleh dorongan yang sangat keras dari luar. Dokter Siska berdiri di sana dengan wajah yang sangat murka sambil menunjuk ke arah Lala yang masih memegang tumpukan berkas pasien milik Adrian. Ternyata Siska sudah mengikuti Adrian sejak pagi dan ia merasa telah menemukan bukti bahwa Adrian sengaja membawa masuk orang asing ke area steril rumah sakit.
"Jadi ini alasan kamu mengantar jemput anak sekolah itu, Adrian? Untuk menjadikannya asisten gelap di rumah sakit ini?" bentak Siska dengan suara menggelegar.
"Dokter Siska, tolong jaga bicara Anda, anak ini memiliki surat tugas resmi dari sekolahnya sebagai relawan pembantu," bela Adrian sambil mencoba menenangkan suasana.
Lala yang merasa terpojok segera berdiri tegak di depan Adrian seolah ingin melindungi sang dokter dari amukan Dokter Siska yang tampak sangat menyeramkan. Ia tidak menyangka bahwa misi rahasianya akan langsung terbongkar oleh rival yang paling ia benci dalam waktu kurang dari satu jam. Ketegangan di antara kedua dokter itu semakin memuncak hingga beberapa staf medis mulai berkumpul di depan pintu untuk mengintip apa yang sedang terjadi.
"Relawan? Saya akan melaporkan pelanggaran prosedur ini kepada dewan etik rumah sakit sekarang juga!" ancam Siska sambil mengeluarkan telepon genggamnya.
"Silakan lapor, tapi Dokter Siska juga harus menjelaskan kenapa Dokter sering meninggalkan pasien di jam operasional hanya untuk mengikuti mobil Dokter Adrian!" balas Lala dengan sangat berani.
Siska terdiam seribu bahasa karena rahasianya yang sering membuntuti Adrian ternyata sudah diketahui oleh gadis kecil yang ia anggap remeh tersebut. Adrian menatap Lala dengan pandangan yang sangat tidak percaya sekaligus merasa sedikit terbantu oleh keberanian ugal-ugalan milik gadis tersebut. Namun, ia tahu bahwa masalah ini akan menjadi bola salju yang sangat besar jika tidak segera diredam dengan sebuah pengorbanan yang cukup berat.
"Semuanya bubar! Lala, ikut saya ke ruang direktur sekarang juga untuk menjelaskan status kamu yang sebenarnya!" perintah Adrian sambil menarik tangan Lala.
Lala mengikuti langkah kaki Adrian dengan perasaan yang sangat campur aduk antara takut dan senang karena tangannya sedang digenggam sangat erat oleh sang dokter. Mereka melewati lorong panjang yang penuh dengan tatapan penuh tanya dari para pasien dan rekan sejawat lainnya yang merasa heran melihat pemandangan itu. Adrian tidak menyadari bahwa di ujung koridor, ayah Lala yang sedang berpakaian dinas polisi sedang berjalan menuju ke arah mereka dengan wajah yang sangat bingung.