Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.
Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.
Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.
Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di lantai tiga rumah sakit, terdapat sebuah rooftop yang menawarkan pemandangan luas ibu kota. Langit mulai bergradasi jingga, menandakan senja yang hampir tiba. Tempat itu sering menjadi pelarian bagi para pengunjung yang mencari ketenangan, tetapi bagi Yudha, ketenangan terasa seperti sesuatu yang tak terjangkau.
Ia berdiri di tepi pembatas, memandang jauh ke arah gedung-gedung tinggi yang berbaris seperti saksi bisu kegelisahannya. Angin sore menggulung perlahan, tetapi dinginnya justru mengingatkan Yudha pada kekacauan yang berputar di dalam dirinya. Tangannya gemetar saat merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok.
Ia memutar rokok itu di jari-jarinya, ragu sebelum akhirnya menyelipkannya ke bibir. Korek gas sudah tergenggam di tangan, api kecil bergetar di ujungnya. Tapi jempolnya berhenti di tengah jalan. Hatinya dipenuhi pertanyaan yang membelenggu, lebih menyakitkan daripada apapun yang pernah ia rasakan.
“Ini yang aku butuhkan? Atau ini hanya caraku lari dari semua ini?” pikirnya.
Bayangan Arya melintas di benaknya. Wajah kecil itu, dengan napasnya yang kini tenang, seolah memanggilnya kembali ke dalam kenyataan. Tapi bersamaan dengan itu, ada amarah lain yang membara, dendam kepada Sonya yang begitu sulit ia padamkan. Ia merasa terjebak di antara dua dunia, masa lalu yang menyakitkan dan masa kini yang penuh tuntutan.
Angin sore membawa sebagian dari beban itu pergi, meski hanya sedikit. Korek gas di tangannya akhirnya mati, tanpa pernah membakar apa pun. Yudha menurunkan tangannya perlahan, lalu melepas rokok dari bibirnya. Ia menatap benda kecil itu sebelum menggenggamnya erat hingga hancur di tangannya.
"Nah, gitu, Paman. Jangan merokok. Kata Bunda, merokok bisa membuat orang di sekitarnya juga ikut sakit," suara lembut seorang anak kecil tiba-tiba terdengar, memecah keheningan dan pikirannya yang kusut.
Yudha tersentak, menoleh. Di belakangnya berdiri seorang gadis kecil dengan baju rumah sakit kebesaran, wajah pucat pasi, dan mata yang menatapnya dengan polos. Gadis itu tampak rapuh, tetapi ada sesuatu di wajahnya yang membuat Yudha tak bisa berpaling—seperti melihat bayangan dirinya sendiri dalam versi yang lebih muda dan tak berdosa.
Yudha membeku. Siapa dia?
"Paman, apa Paman marah?" tanya gadis kecil itu dengan suara lirih, seolah takut mengganggunya.
Yudha menarik napas panjang, memaksa dirinya kembali ke kenyataan. Ia menggeleng pelan, wajahnya yang dingin melunak tanpa sadar. "Tidak, sayang. Paman tidak marah. Tapi, apa yang kamu lakukan di sini? Di mana orang tuamu?"
Gadis kecil itu menunduk, menggoyangkan sandal rumah sakit yang kebesaran di kakinya. "Sepertinya Sasa tersesat, Paman," jawabnya dengan nada sendu.
"Sasa?" Yudha bertanya, jongkok hingga tinggi tubuhnya sejajar dengan gadis itu.
Gadis itu menggeleng pelan, tetapi kemudian tersenyum kecil. "Nama aku Yasya Khairunnisa. Tapi aku dipanggil Sasa. Kata Bunda, nama itu gabungan nama Bunda dan Ayah."
Hati Yudha mencelos. Kalimat sederhana itu seperti ledakan kecil yang menghancurkan semua tembok pertahanannya. Ingatan lama yang ia pendam selama bertahun-tahun menyeruak tanpa permisi. Janji bodoh yang pernah ia buat bersama Sonya kini terngiang jelas, Kalau kita punya anak perempuan, namanya Yasya. Gabungan nama kita, Yudha dan Sonya dan ini diambil dari huruf depan dan akhir nama kita agar buah cinta kita hadir dari pertama sampai akhir, dan selamanya.
Yudha menatap Sasa lebih lama, mencari sesuatu di mata gadis itu sepotong kebenaran, jawaban, atau mungkin keajaiban. Tenggorokannya terasa kering. Apa mungkin? Anak ini…
Tapi pikirannya terpatahkan oleh suara lembut Sasa yang kembali berbicara, "Kata Bunda, Ayah Sasa sudah pergi jauh. Katanya, dia seperti matahari terbenam. Apa Paman tahu maksudnya?"
Yudha terdiam, merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari apapun. Matahari terbenam… sebuah keindahan yang hanya bisa dilihat dari kejauhan, sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak. Apakah ini cara ibu anak itu menjelaskan sosok ayah? Atau karena sosok ayah telah menghilang dari hidup anak ini tanpa pernah tahu?
Yudha mencoba tersenyum, tetapi hanya sebuah lengkungan kecil yang penuh kepedihan muncul di bibirnya. Ia tak tahu harus menjawab apa, hanya mampu menatap gadis kecil itu dengan rasa asing yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain, harapan yang menyakitkan.
Di sisi lain, Sonya dan Intan baru saja tiba di kamar rawat Sasa. Namun, langkah keduanya terhenti di ambang pintu saat mendapati kamar itu kosong. Tempat tidur Sasa tampak rapi, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis kecil itu.
“Kak, di mana Sasa?” tanya Sonya, suaranya pecah oleh kepanikan yang langsung menyeruak.
“Tadi dia masih tidur di sini, Dek. Kakak cuma tinggal sebentar untuk mencari makan,” jawab Intan cepat, matanya mengedar ke seluruh ruangan seolah berharap menemukan Sasa bersembunyi di balik tirai atau di sudut kamar. Tapi, tidak ada apa-apa. “Apa jangan-jangan dia terbangun lalu mencari kita?” tambahnya, nada suaranya mulai tergetar.
Sonya melangkah mendekati tempat tidur yang kosong, tangannya meremas erat selimut yang tersisa di sana. “Kak, Sasa tidak tahu rute rumah sakit ini. Kalau dia terjebak di suatu tempat… bagaimana kalau dia jatuh atau…” suaranya terhenti, digantikan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Melihat kepanikan adiknya, Intan berusaha mengendalikan dirinya. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan kegelisahannya sendiri sebelum mencoba menenangkan Sonya. “Oke,” katanya, suaranya tegas meskipun ada ketakutan yang terselip di baliknya. “Sekarang kita berpencar. Kita bisa menemukannya lebih cepat kalau cari di tempat berbeda.”
Sonya mengangguk meskipun tangannya masih gemetar. Ia tahu tak ada waktu untuk menangis atau berdiam diri. Sambil menyeka air matanya yang mulai mengalir, ia berlari keluar ruangan, menuju koridor sebelah kanan yang berujung ke lantai tiga.
Intan, meskipun hatinya juga diliputi kekhawatiran, memaksa dirinya tetap tenang. Ia berjalan ke arah kiri, mencoba memeriksa setiap sudut lorong rumah sakit dengan harapan menemukan bayangan kecil Sasa. Namun, dalam hatinya, doa-doa kecil terus ia panjatkan, Tolong, biarkan Sasa baik-baik saja. Biarkan kami menemukannya sebelum terjadi sesuatu.
Koridor rumah sakit yang biasanya terasa terang dan bersih kini terasa mencekam bagi mereka. Suara langkah kaki Sonya yang tergesa-gesa menggema, sementara pikiran buruk mulai membanjiri benaknya. Di mana Sasa? Apakah dia ketakutan? Apakah dia menangis, mencari mereka?
"Jangan membuat Bunda, khawatir, Sasa," ungkap Sonya di sela-sela langkahnya yang kini terus maju.
Setiap detik terasa seperti menit yang panjang. Meski terpisah, Sonya dan Intan merasakan hal yang sama, ketakutan yang mengoyak hati. Namun di sela-sela itu, ada harapan. Harapan bahwa gadis kecil yang mereka cintai akan ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
Langkah kaki Sonya menggema saat ia menaiki lantai tiga. Napasnya tertahan ketika pandangannya terarah ke rooftop. Di sana, ia melihat Sasa bersama seorang pria. Yudha. Lelaki yang pernah ia sakiti, kini berdiri memegang tangan anak yang selama ini tak pernah diketahuinya.
Air mata mengalir di pipinya tanpa bisa ditahan. Sonya merasakan perih yang tak terdefinisikan di dadanya. Namun, di balik itu semua, pikirannya bergemuruh dengan satu pertanyaan yang tak bisa dihindari.
Apa aku harus memberitahunya bahwa anak itu... adalah miliknya?
Tangan Sonya gemetar, nyaris bergerak maju, namun langkahnya terhenti saat Sasa menangkap bayangan dan memanggilnya.
"Bunda," panggil Sasa dengan suara riang yang menusuk keheningan, membuat Yudha menoleh tajam ke arah yang dituju Sasa.