Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kecelakaan yang Mengubah Segalanya
Aku melangkah dengan kaki telanjang di atas aspal basah yang terasa kasar, sama sekali tidak peduli pada kerikil tajam yang menusuk kulit kakiku. Dunia di sekelilingku seolah bergerak dalam gerak lambat yang ganjil. Suara klakson yang bersahut-sahutan, gemuruh guntur di kejauhan, dan hiruk pikuk kota malam itu hanyalah latar belakang dari kesunyian yang mematikan di dalam kepalaku. Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin ditemukan siapa pun. Aku hanya ingin lenyap, melebur bersama kegelapan.
Namun, ketenangan semu itu pecah oleh suara decitan ban yang memekakkan telinga dari arah persimpangan di belakangku. Sedetik kemudian, disusul bunyi hantaman logam yang sangat keras, suara tabrakan yang membuat jantungku seolah mencelos ke perut. Aku berhenti melangkah. Entah kenapa, firasat buruk mendadak merambat dingin di sepanjang tulang belakangku.
Aku menoleh perlahan. Di bawah lampu jalan yang remang dan berkedip, aku melihat mobil hitam milik Mas Fikar, mobil yang tadi disebutkan Pak Hendra sedang mengejarku, kini ringsek setelah dihantam sebuah truk besar yang tampaknya kehilangan kendali. Mobil itu terpelanting hebat, berguling dua kali di atas aspal sebelum akhirnya berhenti dalam posisi terbalik di tengah jalan. Asap kelabu mulai mengepul dari mesinnya yang hancur.
"Mas Fikar!" teriakku. Suaraku yang tadi serasa hilang mendadak muncul dalam jeritan yang menyayat malam.
Aku berlari sekuat tenaga kembali ke arah kerumunan kecelakaan itu. Masa bodoh dengan rasa sakit di kaki, masa bodoh dengan segala pengkhianatannya. Saat melihat mobil itu hancur berkeping-keping, semua kebencianku seolah menguap begitu saja, digantikan oleh ketakutan luar biasa akan sebuah kehilangan yang permanen. Aku jatuh bangun di aspal, merangkak mendekati reruntuhan mobil yang mulai mengeluarkan api kecil dari tangkinya.
Di sana, di balik serpihan kaca yang pecah berserakan, aku melihatnya. Mas Fikar tergantung terbalik dengan sabuk pengaman yang mencekik lehernya. Darah segar mengalir dari keningnya, membasahi kemeja putih yang ia kenakan hingga berubah warna. Matanya terpejam rapat, wajahnya pucat pasi seputih kertas.
"Mas! Mas Fikar, bangun!" Aku mencoba menarik pintu mobil yang sudah penyet dan terkunci, namun sia-sia. Tanganku terluka parah karena goresan kaca, darahku sendiri mulai bercampur dengan darahnya di gagang pintu itu. "Tolong! Siapa saja, tolong!"
Beberapa orang mulai berdatangan untuk membantu. Pak Hendra, yang ternyata berada di mobil tepat di belakangnya, lari mendekat dengan wajah seputih mayat. Dengan susah payah dan napas terengah, mereka berhasil mengeluarkan tubuh Mas Fikar yang terkulai lemas, tepat beberapa saat sebelum api mulai melahap tangki bensin.
Saat tubuhnya diletakkan di atas aspal yang dingin, aku segera memangku kepalanya di pangkuanku. Tanganku gemetar hebat saat menyentuh pipinya yang mulai mendingin. "Mas, jangan tinggalkan aku... jangan sekarang," isakku pecah. Air mataku jatuh tak terbendung di wajahnya, seolah ingin membasuh luka-luka di sana.
Tiba-tiba, sebuah mobil lain berhenti dengan kasar di lokasi kejadian. Ibu Sofia dan Clara keluar dari sana dengan tergesa-gesa. Ibu Sofia menjerit histeris melihat putra tunggalnya bersimbah darah. Namun, Clara tampak berbeda. Ia berdiri mematung dengan wajah penuh ketakutan, bukan karena cemas pada kondisi Fikar, melainkan karena ia melihat map dokumen yang tadi terjatuh dari tanganku kini berantakan tertiup angin di dekat kaki para saksi mata.
"Semua ini gara gara kamu, Kiki! Kalau kamu tidak lari, Fikar tidak akan mengejarmu dan kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi!" teriak Ibu Sofia sambil mencoba mendorongku menjauh dari sisi Fikar.
Aku tidak bergeming sedikit pun. Aku menatap Ibu Sofia dengan tatapan yang begitu tajam dan penuh luka, hingga wanita itu mendadak terdiam seribu bahasa. "Cukup, Bu! Hentikan sandiwara menjijikkan ini," kataku dengan suara dingin yang terasa mematikan. "Pak Hendra sudah memberikan semuanya padaku. Aku tahu tentang laboratorium itu. Aku tahu tentang donor itu. Dan aku tahu betapa busuknya rencana Ibu dengan wanita di belakang Ibu itu."
Clara gemetar hebat, wajahnya pucat pasi. Di tengah kerumunan orang yang menonton, kebenaran itu mulai tercium seperti bau busuk yang menyengat. Namun, sebelum Ibu Sofia sempat membalas, petugas medis datang dan segera mengangkat Mas Fikar ke dalam ambulans.
Di dalam ambulans yang melaju kencang dengan sirine yang meraung membelah malam, aku memegang erat tangan Mas Fikar. Di ambang kesadarannya yang sangat tipis, jari-jarinya bergerak sedikit, seolah mencoba membalas genggamanku. Bibirnya bergerak lambat, menggumamkan sesuatu yang hampir tak terdengar di tengah bisingnya alat medis.
"Ma... maaf... Kiki..."
Itu adalah kalimat terakhirnya sebelum ia kehilangan kesadaran sepenuhnya. Dokter di dalam ambulans segera melakukan tindakan darurat karena detak jantung Mas Fikar mulai melemah dan tidak stabil. Aku hanya bisa menatap monitor jantung yang mengeluarkan suara pip yang semakin lambat.
Di detik itu, aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan. Kecelakaan ini bukan hanya menghancurkan tubuh Mas Fikar, tapi juga meruntuhkan dinding pelindung yang selama ini kubangun dengan susah payah. Aku membencinya karena ia begitu lemah di hadapan ibunya, tapi aku jauh lebih takut jika kebenaran ini terungkap hanya untuk menyaksikan dia pergi selamanya dari dunia ini.
"Tetaplah hidup, Mas," bisikku tepat di telinganya. "Tetaplah hidup, agar kamu bisa melihat sendiri bagaimana aku akan menghancurkan orang orang yang sudah memanipulasi hidup kita."
Malam itu, di selasar rumah sakit yang dingin dan berbau obat, pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai. Ini bukan lagi tentang kontrak pernikahan yang konyol, tapi tentang hidup, mati, dan pembalasan atas setiap tetes air mata yang telah mereka peras paksa dariku.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.