Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENJA YANG BERGANTI NAMA
Arka meletakkan pemantik Zippo tua itu tepat di atas ukiran S & A. Logam dingin itu beradu dengan permukaan kayu meja, menciptakan bunyi denting kecil yang menggema di keheningan kafe. Arunika menahan napas, matanya terpaku pada benda itu seolah-olah sedang melihat hantu dari masa lalunya.
"Ibuku juga kasih aku ini..." ucap Arka dengan suara yang lebih stabil, meski jemarinya masih sedikit gemetar. "Katanya ini satu-satunya benda dari ayahku yang aku bawa ke mana-mana. Walaupun sekarang ibuku memang sudah menikah lagi, bahkan dari sebelum aku koma, dia tetap simpan benda ini untukku."
Arunika perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan logam pemantik itu. Dingin. Namun, sentuhan itu mengirimkan gelombang dejavu yang sangat kuat. Ia teringat suara di telepon tiga tahun lalu—suara pria yang tertawa pelan sambil sesekali terdengar bunyi klik khas pemantik yang dibuka-tutup. Pria itu pernah bercerita bahwa ia suka membawa pemantik itu hanya untuk mendengar suaranya, sebuah pengingat akan ayahnya yang telah lama tiada.
"Dia pernah bilang..." suara Arunika hampir hilang, "...kalau suara denting pemantik ini adalah suara harapan. Dia nggak merokok, tapi dia suka apinya. Dia bilang api itu seperti semangat yang nggak boleh padam."
Arka menatap Arunika dengan tatapan kosong yang mulai terisi oleh ketakutan yang nyata. "Kalau begitu... apa itu artinya aku adalah dia? Apa itu artinya aku adalah 'Senja' yang kamu cari, tapi dengan nama yang berbeda?"
Arunika menarik tangannya kembali, seolah tersengat. Ia teringat peringatan Erlina. Jangan langsung berharap. Dunia ini luas.
"Aku nggak tahu, Arka. Aku takut kalau ini cuma kebetulan yang jahat," bisik Arunika. "Bagaimana kalau pemantik ini adalah barang populer? Bagaimana kalau banyak orang punya barang peninggalan yang sama? Tapi... kenapa harus huruf S? Kenapa namamu Arka, tapi pemantikmu berinisial S?"
Arka memegang kepalanya, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. "S... Senja... Arka..." ia bergumam sendiri. "Mungkin ibuku tahu sesuatu. Mungkin ada alasan kenapa dia memanggilku Arka, tapi ayahku meninggalkan benda berinisial S. Atau mungkin... Senja itu memang bukan nama asli, melainkan hanya sebuah identitas yang aku buat supaya aku bisa merasa bebas saat bicara denganmu."
Suasana di antara mereka menjadi sangat berat. Kebenaran seolah-olah sudah ada di depan mata, terbungkus kain tipis yang hanya perlu ditarik satu kali lagi. Namun, keduanya terlalu takut untuk menarik kain itu. Mereka takut bahwa di balik kebenaran itu, ada luka yang lebih besar lagi.
"Arka," panggil Arunika, kali ini ia menatap langsung ke dalam mata pria itu. "Kalau ternyata kamu benar-benar orang itu... orang yang membuatku menunggu selama tiga tahun... apa yang akan kamu lakukan?"
Arka terdiam lama. Ia menatap pemantik itu, lalu menatap ukiran di meja, dan akhirnya kembali ke mata Arunika yang penuh harap sekaligus penuh luka.
"Aku akan meminta maaf setiap hari selama sisa hidupku," jawab Arka tulus. "Bukan karena aku lupa, tapi karena aku membiarkan kamu merasa sendirian di dunia ini, padahal aku sebenarnya masih ada, hanya saja aku tersesat di dalam kepalaku sendiri."
Sore itu, Bandung kembali diguyur hujan rintik-rintik, persis seperti suasana tiga tahun yang lalu. Mereka tetap duduk di sana, membiarkan kopi mereka mendingin. Arka mulai menceritakan sedikit demi sedikit tentang keluarganya, tentang ibunya yang menikah lagi dengan pria bernama Gunawan, dan tentang bagaimana ia merasa asing di rumahnya sendiri sejak bangun dari koma.
Arunika mendengarkan setiap detail, mencoba mencari kecocokan dengan cerita-cerita "Senja" di masa lalu. Ia mulai menyadari bahwa banyak detail yang meleset, namun esensi perasaannya tetap sama.
"Besok..." ucap Arka memecah keheningan hujan. "Besok aku mau ajak kamu ketemu ibuku. Mungkin dia punya jawaban kenapa ada inisial S di pemantik ini, dan mungkin dia tahu apakah aku pernah punya nama lain sebelum kecelakaan itu."
Arunika mengangguk pelan. Ia tahu ini adalah langkah yang besar. Langkah yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.
Keesokan harinya, tepat saat jam kantor berakhir, Arka segera merapikan meja kerjanya. Pikirannya tidak lagi tertuju pada laporan atau berkas, melainkan pada pertemuan yang akan menentukan nasib jiwanya. Ia melangkah keluar gedung kantor, di mana Arunika sudah menunggu di depan gerbang dengan tas ransel kecilnya.
Arka tidak membawa kendaraan sendiri. Sejak ia siuman, orang tuanya—terutama ibunya—masih diliputi trauma hebat. Mereka melarangnya menyetir motor atau mobil, takut jika insiden tiga tahun lalu terulang kembali.
"Kita naik bus ya?" sapa Arka dengan senyum canggung. "Ibu masih protektif banget. Dia belum kasih izin aku bawa kendaraan sendiri."
Arunika tersenyum tipis, merasa ada kehangatan yang akrab dari sikap protektif itu. "Enggak apa-apa, Arka. Lagipula, duduk di bus kota sore-sore di Bandung itu... menenangkan."
Mereka menaiki bus Trans Metro Bandung yang tidak terlalu padat. Arka memilih tempat duduk di barisan belakang, membiarkan Arunika duduk di dekat jendela. Di sepanjang jalan, Arka tampak gelisah. Ia terus memainkan sim card rusak yang kini ia simpan di dalam saku kemejanya, sementara tangan satunya menggenggam erat pemantik Zippo tua itu.
"Kamu gugup?" tanya Arunika pelan, melihat buku-buku jari Arka yang memutih karena meremas logam pemantik.
"Banget," aku Arka jujur. "Aku takut kalau jawaban Ibu nanti bukan apa yang kita harapkan. Aku takut kalau ternyata aku benar-benar bukan 'Senja' yang kamu cari, dan aku cuma orang asing yang kebetulan punya barang yang sama."
Arunika menatap keluar jendela, pada lampu-lampu toko yang mulai menyala di sepanjang Jalan Riau. "Tahu nggak, Arka? Selama perjalanan dari Yogyakarta semalam, aku mikir satu hal. Kalaupun ternyata kamu bukan 'dia', fakta bahwa kita bisa duduk di sini, berbagi luka yang sama, itu sudah cukup buat aku nggak merasa gila lagi."
Bus berhenti di sebuah halte dekat pemukiman tua di sudut utara Bandung. Mereka berjalan kaki menyusuri gang yang asri hingga sampai di depan sebuah rumah dengan pagar tanaman yang rapi. Di sana, seorang wanita paruh baya—ibu Arka—sedang menyiram bunga.
Wajah wanita itu mendadak tegang saat melihat Arka pulang tidak sendirian. Matanya beralih pada Arunika, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ibu..." panggil Arka. "Ini teman Arka yang Arka ceritain kemarin. Arunika."
Ibu Arka meletakkan selang airnya. Ia mengusap tangannya ke daster yang ia kenakan, lalu tersenyum—sebuah senyum yang dipaksakan. "Oh, ini... Arunika? Mari, masuk dulu. Arka, ajak temannya duduk di teras."
Suasana di teras terasa sangat kaku. Ibu Arka membawakan dua gelas teh hangat, lalu duduk di kursi rotan di depan mereka. Matanya terus melirik ke arah pemantik Zippo yang diletakkan Arka di atas meja.
"Bu," Arka membuka suara, "Arunika tanya soal pemantik ini. Kenapa ada huruf 'S' di sini? Dan kenapa dulu aku sering bilang ke Ibu kalau aku lagi nunggu 'Senja' di Braga?"
Ibu Arka menghela napas panjang, tatapannya beralih dari pemantik Zippo itu ke wajah Arunika yang penuh harap. Ada gurat kesedihan yang mendalam saat beliau mulai membuka suara, memberikan jawaban yang seketika mendinginkan suasana di teras sore itu.
"Nak Arunika, Ibu mengerti kamu sedang mencari seseorang," ucap Ibu Arka dengan nada sangat hati-hati. "Tapi Arka bukan Senja. Huruf S di pemantik itu adalah inisial dari almarhum Ayah Arka, Sudirta. Itu barang peninggalan yang Arka bawa sebagai jimat keberuntungan, bukan identitas dirinya."
Arunika tertegun, tangannya yang tadi menyentuh pemantik itu perlahan ditarik kembali. "Tapi... Arka bilang dia punya janji di Braga malam itu, Bu. Sama seperti Senja."
"Janji itu memang ada," sambung ibunya, "tapi malam itu Arka sedang mengejar klien fotografinya. Dia harus menyerahkan dokumen penting tepat waktu. Itulah kenapa dia panik dan lari ke arah halte. Arka tidak pernah mengenal atau bercerita tentang gadis bernama Arunika selama ini. Sejak kecil, dunianya hanya kamera dan pekerjaannya."
Kalimat itu bagaikan hantaman keras bagi Arka. Ia menoleh ke arah ibunya dengan tatapan tidak percaya, namun ibunya hanya menunduk, seolah menegaskan bahwa itulah kebenaran yang sah secara administratif dan sejarah keluarga. Arka merasa identitas yang baru saja ia "temukan" kembali hancur berkeping-keping. Rasa sesak yang ia rasakan tempo hari kini terasa seperti sebuah kesalahan medis—sebuah delusi otak yang rusak akibat koma panjang.
Arunika berdiri dengan kaki gemetar. Harapan yang baru saja membubung tinggi kini jatuh terhempas ke aspal. Jika Arka bukan Senja, maka siapa pria yang ia temui di dunia antara selama tiga tahun itu? Dan kenapa jiwa Arka bisa berada di sana mengenakan wajah pria lain? Logika medis mulai mengambil alih pikirannya: mungkin ia memang hanya berhalusinasi selama masa depresi, dan Arka hanyalah orang asing yang kebetulan mengalami trauma di lokasi yang sama.
"Maaf..." bisik Arunika, suaranya nyaris hilang. "Sepertinya saya yang terlalu berharap. Saya permisi, Bu. Arka... maaf saya sudah melibatkanmu dalam kegilaan saya."
Tanpa menunggu jawaban, Arunika melangkah cepat keluar dari halaman rumah, meninggalkan Arka yang masih terpaku di kursinya. Arka ingin mengejar, namun ia tertahan oleh keraguan yang luar biasa hebat. Jika ibunya saja berkata demikian, siapa lagi yang bisa ia percayai?
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Arka merasa ada sesuatu yang salah. Jika ia benar-benar bukan Senja, kenapa setiap helai rambut Arunika, setiap nada suaranya, dan bahkan aroma tubuhnya terasa seperti sesuatu yang lebih nyata daripada penjelasan ibunya barusan?
Arka tidak membiarkan pagar itu tertutup. Ia berlari keluar, mengabaikan teriakan ibunya dari teras, dan berhasil mencekal lengan Arunika tepat sebelum gadis itu melangkah menjauh di ujung gang. Napas Arka memburu, bukan karena jarak larinya, melainkan karena rasa takut yang tiba-tiba menyergapnya—takut jika ia membiarkan gadis ini pergi, ia akan kehilangan satu-satunya petunjuk tentang siapa jiwanya yang sebenarnya.
"Arunika, tunggu!" seru Arka.
Arunika berbalik dengan mata yang sudah basah oleh air mata. "Buat apa, Arka? Ibumu sudah bilang, kamu bukan dia. Huruf S itu bukan Senja. Kamu punya kehidupanmu sendiri, dan aku... aku cuma mengejar hantu yang sudah mati."
Arka menggeleng kuat-kuat. Ia menatap mata Arunika dengan intensitas yang membuat gadis itu tertegun. "Kita masih bisa cari sama-sama, Arunika. Kamu sendiri yang bilang, sekalipun aku bukan Senja, kamu senang mengenalku. Apa itu sudah nggak berlaku lagi sekarang?"
Arunika terdiam, isakannya tertahan di tenggorokan.
"Aku jujur sama kamu," lanjut Arka, suaranya merendah dan bergetar hebat. "Logikaku bilang Ibu benar. Aku bahkan nggak merasa punya janji apa-apa sebelum akhirnya aku koma. Hidupku dulu datar, hanya soal kerjaan. Tapi perasaan ini... rasa sesak tiap sore, tangisanku di kamar... ini seperti janji pada seorang gadis yang nggak sanggup aku lupakan meski otakku sudah bersih."
Arka melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. "Mungkin Ibu tahu tentang ragaku, tapi dia nggak tahu apa yang terjadi di jiwaku selama tiga tahun aku tertidur. Tolong, jangan pergi dulu. Kalaupun aku bukan Senja yang punya wajah itu, izinkan aku jadi Arka yang mencoba mengerti kenapa hatinya hancur melihat kamu menangis."
Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Di bawah langit Bandung yang perlahan menggelap, mereka berdiri berhadapan—dua orang yang sebenarnya sudah saling menemukan, namun dipisahkan oleh dinding identitas dan memori. Mereka saling mencari di tempat yang jauh, tanpa menyadari bahwa pemilik getaran jiwa yang mereka rindukan sedang berdiri tepat di depan mata.
Arunika menatap tangan Arka yang masih memegang lengannya. Ada kehangatan yang sama, frekuensi yang serupa dengan pria yang menemaninya di "dunia antara" dulu.
"Kenapa kamu maksa, Arka? Kamu bisa hidup tenang tanpa beban janji orang lain," bisik Arunika lirih.
"Karena ini bukan beban orang lain, Arunika. Ini bebanku," jawab Arka tegas. "Bantu aku ingat. Atau kalau aku nggak bisa ingat, bantu aku buat janji baru yang nggak akan pernah aku lupakan lagi."
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍