"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai New York
Suasana sore yang tenang di apartemen Zane mendadak pecah oleh bunyi bel yang ditekan dengan tidak sabar. Salena, yang baru saja hendak menyuapkan pasta ke mulutnya, meletakkan garpunya dengan perasaan tidak enak. Zane masih berada di kamar mandi, suara gemericik air terdengar samar dari arah kamar.
Salena berjalan menuju pintu, menarik napas panjang, dan membukanya.
Berdiri di sana, seorang pria dengan setelan jas mahal yang tampak sedikit berantakan. Wajahnya tampan, namun matanya memancarkan amarah yang bisa membakar apa saja. Salena langsung mengenalinya dari katalog Daisy: Phoenix Valois.
"Siapa kau?" tanya Salena dengan suara sedingin puncak Everest. Ia berdiri tegak, menghalangi jalan masuk dengan keanggunan yang mengintimidasi.
Phoenix tidak menjawab. Ia hanya menatap Salena dengan tatapan tajam yang merendahkan, lalu tanpa permisi, ia merangsek masuk, menabrak bahu Salena. "Zane! Keluar kau, berandal!" teriak Phoenix dengan suara menggelegar.
Seakan Phoenix seolah sudah hafal seluk-beluk apartemen itu. Ia langsung menuju kamar utama. Di saat yang sama, pintu kamar mandi terbuka. Zane keluar dengan uap air yang masih mengepul dari tubuhnya, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan tato-tatonya yang basah.
"Phoenix? Apa yang kau..."
BUGH!
Belum sempat Zane menyelesaikan kalimatnya, sebuah tinju mentah mendarat telak di rahangnya. Zane tersungkur ke belakang, menabrak pinggiran tempat tidur. Sudut bibirnya langsung pecah dan mengeluarkan darah.
"Beraninya kau menyakiti Kharel, Zane!" teriak Phoenix, napasnya memburu.
"Dia menangis semalaman karena ucapan jalangmu itu di telepon! Kau membiarkan orang asing menghina Kharel?!"
Salena yang menyaksikan itu merasa darahnya mendidih. Ia melihat Zane yang hanya diam, tidak membalas, seolah ia merasa layak dipukul karena rasa bersalah masa lalu. Tapi bagi Salena, ini sudah keterlaluan. Phoenix adalah pria yang dibutakan oleh obsesi wanita gila.
Salena berlari masuk ke tengah mereka. Sebelum Phoenix sempat melayangkan pukulan kedua, Salena mengayunkan tangannya dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. Kepala Phoenix terlempar ke samping.
"Jangan. Pernah. Menyentuh. Zane-ku," desis Salena, suaranya rendah namun penuh ancaman yang mematikan. Ia berdiri di depan Zane yang masih terduduk di lantai, melindungi pria itu dengan tubuhnya sendiri.
Phoenix memegang pipinya yang mulai memerah, menatap Salena dengan tidak percaya. "Kau... kau hanya wanita simpanan yang dia temukan di pulau terpencil ini—"
"Aku adalah Salena Blair Ashford," potong Salena tajam, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Phoenix. "Dan kau berada di tanahku. Jika kau tidak keluar dari apartemen ini dalam hitungan tiga, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa kembali ke New York dengan kaki yang utuh. Polisi, imigrasi, dan media di Islandia ada dalam genggamanku."
Zane menatap punggung Salena dari bawah, matanya membelalak tak percaya melihat "Ratu Es" yang biasanya diam kini berubah menjadi singa betina demi membelanya.
Salena terpaku di tempatnya, tangannya masih mengepal dan napasnya masih memburu karena amarah yang baru saja memuncak. Matanya mengerjap tidak percaya melihat pemandangan di depannya.
Phoenix, pria yang sedetik lalu terlihat seperti monster yang ingin membunuh Zane, kini justru memeluk Zane dengan erat. Kemarahan yang tadinya memenuhi ruangan itu menguap begitu saja, digantikan oleh tawa kecil yang terdengar sangat akrab, seperti dua kawan lama yang baru saja menyelesaikan perkelahian konyol di bar.
"Hey, bro... gadismu ini benar-benar tampak seperti singa Islandia," ucap Phoenix sambil melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Zane yang masih basah. Ia melirik Salena dengan senyum tipis yang kini tidak lagi mengandung kebencian, melainkan kekaguman yang aneh.
Salena berdiri mematung di tengah kamar. "Drama apa lagi ini?" tanyanya dengan suara bergetar karena bingung sekaligus dongkol. "Kau baru saja memukulnya! Kau berteriak soal Kharel, dan sekarang kau memeluknya seolah tidak terjadi apa-apa?"
Zane mengusap darah di sudut bibirnya, lalu menatap Phoenix dengan pandangan datar namun ada secercah kelegaan di matanya. Ia tidak membalas ucapan Phoenix, hanya mengangguk kecil.
Phoenix kemudian berbalik menatap Salena sepenuhnya. "Aku minta maaf soal tadi, Salena Ashford. Aku perlu memastikan apakah Zane benar-benar sudah pindah ke lain hati atau masih terjebak dalam obsesi Kharel yang merusak kami. Dan melihat caramu melindunginya tadi... aku rasa aku bisa tidur tenang."
Phoenix kembali menatap Zane dengan sorot mata yang serius, namun kali ini penuh dengan kasih sayang seorang saudara. "Aku memaafkan mu, Zane. Kejadian di New York... biarlah tertinggal di sana. Sekarang kau sudah punya kekasih, kau punya kehidupan baru di sini. Jadi, kumohon padamu sebagai saudaramu—jangan ganggu Kharel lagi. Biarkan dia tetap bersamaku, meski aku tahu dia gila."
Zane akhirnya bersuara, suaranya berat dan serak. "Aku tidak pernah berniat mengganggunya, Nix. Dia yang tidak bisa berhenti."
"Aku tahu," desah Phoenix. Ia mengambil napas panjang seolah beban berat baru saja diangkat dari bahunya. "Aku terbang langsung dari Manhattan begitu mendengar suaramu di telepon semalam, Salena. Aku pikir Zane menyewa wanita untuk mempermainkan perasaanku lagi. Tapi ternyata, dia menemukan seseorang yang berani menamparku demi dia."
Salena merasa kepalanya pening. Ia baru saja menyadari bahwa Phoenix adalah tipe pria yang cintanya begitu buta pada Kharel, hingga ia rela mengabaikan kenyataan pahit asalkan Zane tidak lagi berada di antara mereka.
"Jadi, kau jauh-jauh dari New York hanya untuk melakukan tes kesetiaan ini?" tanya Salena ketus, meski hatinya mulai sedikit melunak melihat perdamaian kedua pria itu.
Phoenix terkekeh, lalu merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat tamparan Salena. "Anggap saja ini kunjungan keluarga yang agak agresif. Zane, obati lukamu. Salena, jaga berandal ini baik-baik. Dia memang ganteng, tapi dia sangat merepotkan."
Zane hanya mendengus, namun tangannya perlahan meraih tangan Salena, menggenggamnya erat di depan Phoenix. "Dia tidak menjagaku, Nix. Dia mengaturnya."
Salena menatap genggaman tangan Zane. Meskipun drama ini sangat konyol dan melelahkan, ia bisa merasakan ketegangan yang selama sebulan ini menghantui Zane perlahan menghilang. Tapi jauh di dalam hatinya, Salena masih waspada. Jika Phoenix ada di sini, maka Kharel tidak mungkin tinggal diam di New York.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰