NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Murni
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Boneka dalam Kotak Kaca

​Setelah konfrontasi kecil di ruang makan, Nala memutuskan untuk mencari udara segar. Ia melangkah keluar melalui pintu kaca geser yang menghubungkan ruang makan dengan taman belakang.

​Udara di luar masih menyisakan aroma tanah basah dan daun pinus yang tajam pasca hujan. Taman belakang Adhitama Estate ternyata jauh lebih luas daripada yang Nala perkirakan. Taman itu dirancang dengan gaya Victorian yang melankolis, jalan setapak dari batu alam yang berliku, bangku-bangku besi yang cat hitamnya mulai mengelupas, dan patung-patung malaikat batu yang sebagian wajahnya tertutup lumut hijau.

​Tidak ada bunga mawar merah yang merekah atau bunga matahari yang ceria di sini. Yang ada hanyalah tanaman pakis raksasa, hydrangea berwarna biru pucat yang nyaris layu, dan semak-semak ivy yang merambat liar membelit batang pohon-pohon tua.

​Indah, tapi menyedihkan.

​Nala berjalan menyusuri jalan setapak itu, ujung sepatu kets-nya yang basah berdecit pelan. Ia berhenti di depan sebuah bangunan kaca di sudut taman. Itu adalah sebuah rumah kaca (greenhouse) tua.

​Kaca-kacanya buram tertutup debu tahunan. Beberapa panelnya retak. Nala mendekatkan wajahnya, mencoba mengintip ke dalam. Di sana, ia melihat rak-rak kayu yang kosong dan pot-pot tanah liat yang pecah berserakan. Namun, di tengah kekacauan itu, ada satu tanaman anggrek bulan putih yang tumbuh liar di sela-sela retakan lantai, mekar sendirian tanpa ada yang merawat.

​Nala tersenyum tipis. Ia merasa memiliki koneksi aneh dengan anggrek itu. Tumbuh di tempat yang terlupakan, bertahan hidup tanpa kasih sayang.

​"Nyonya?"

​Nala terlonjak kaget. Ia berputar cepat.

​Pak Hadi berdiri dua langkah di belakangnya, kedua tangannya terlipat sopan di depan perut. Nala bahkan tidak mendengar langkah kaki pria tua itu. Pelayan di rumah ini sepertinya dilatih untuk bergerak seperti hantu.

​"Maaf mengagetkan Anda, Nyonya," ucap Pak Hadi datar. "Tamu yang diundang Tuan Muda sudah datang. Mereka menunggu di ruang duduk lantai dua."

​"Tamu?" Nala mengerutkan kening. "Tapi Tuan Raga bilang saya tidak boleh menerima tamu."

​"Mereka bukan tamu biasa, Nyonya. Mereka adalah tim stylist dan desainer butik langganan keluarga. Tuan Muda memerintahkan agar seluruh isi lemari Nyonya diganti hari ini juga."

​Nala menelan ludah. Ia melirik kemeja biru lusuhnya. Rupanya Raga tidak main-main dengan ucapannya tentang pakaian Nala yang "membuat matanya sakit".

​"Baik, Pak Hadi," jawab Nala pasrah.

​Satu jam berikutnya adalah siksaan dalam bentuk kemewahan.

​Ruang duduk pribadi di lantai dua telah disulap menjadi butik dadakan. Tiga orang asisten sibuk mengeluarkan puluhan gaun, blus, rok, dan celana dari koper-koper besar. Rak-rak gantung beroda memenuhi ruangan, memamerkan kain-kain sutra, cashmere, dan beludru dalam berbagai gradasi warna.

​Di tengah kesibukan itu, berdiri seorang pria flamboyan dengan kacamata bingkai tebal berwarna merah. Ia bernama Elian, desainer kepercayaan kalangan elit Jakarta.

​Elian menatap Nala dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan kritis, seolah Nala adalah seonggok kain perca yang salah jahit.

​"Ya ampun," desah Elian dramatis sambil memijat pelipisnya. "Tuan Raga bilang 'perbaiki dia', tapi aku tidak menyangka tugasnya seberat ini. Kulitnya pucat seperti orang sakit, rambutnya kering, dan badannya... astaga, Sayang, apa kau pernah makan karbohidrat seumur hidupmu?"

​Nala hanya diam, berdiri kaku di tengah ruangan seperti patung. Ia sudah kebal dengan hinaan fisik. Di rumah ayahnya, Bella sering mengatakan hal yang lebih kejam.

​"Kita mulai dari pengukuran," perintah Elian sambil menjentikkan jarinya.

​Dua asisten wanita maju membawa pita ukur. Mereka mulai melilitkan pita kuning itu ke tubuh Nala. Pinggang, dada, pinggul, panjang lengan, lingkar leher. Mereka bekerja dalam diam, mencatat angka-angka itu di buku catatan, sesekali bergumam mengomentari betapa kecilnya ukuran tubuh Nala.

​Nala merasa seperti boneka. Tidak ada yang bertanya, "Apa warna kesukaanmu?" atau "Gaya apa yang kau suka?". Pendapatnya tidak diperlukan. Di sini, dia hanyalah sebuah objek yang harus dibungkus semenarik mungkin agar layak dipajang di samping Raga Adhitama.

​"Tuan Raga meminta gaya yang elegan, tertutup, tapi tetap powerful," gumam Elian sambil memilah-milah gantungan baju. "Tidak ada warna neon norak. Tidak ada rok mini murahan. Kita main di warna monochrome, navy, emerald, dan maroon."

​Elian menarik sebuah gaun midi berwarna emerald green (hijau zamrud) berbahan satin tebal.

​"Coba ini."

​Nala masuk ke ruang ganti di balik partisi. Saat kain mahal itu menyentuh kulitnya, rasanya dingin dan lembut, kontras dengan kulit tangannya yang kasar bekas mencuci piring. Gaun itu pas di badannya, memeluk lekuk tubuhnya yang ramping dengan sempurna. Potongan lehernya sopan namun anggun, memberikan ilusi leher yang lebih jenjang.

​Saat Nala keluar, Elian mengangguk puas. "Nah, itu baru manusia. Sebelumnya kau terlihat seperti hantu gentayangan."

​Sesi itu berlanjut tanpa henti. Nala disuruh mencoba dua puluh pasang pakaian. Gaun malam, pakaian santai rumah (yang harganya setara motor), hingga pakaian tidur.

​Elian juga memotong rambut Nala yang bercabang, memberinya perawatan hair mask instan, dan menata rambutnya menjadi gelombang lembut yang jatuh di bahu. Wajah Nala dipoles makeup tipis natural yang menonjolkan fitur wajahnya yang sebenarnya halus.

​Terakhir, Elian memakaikan sepasang sepatu hak tinggi berwarna nude.

​"Lihat cermin," perintah Elian.

​Nala berbalik menghadap cermin besar berbingkai emas.

​Napasnya tertahan.

​Gadis di cermin itu... dia cantik. Sangat cantik. Gaun hijau zamrud itu membuat kulit pucatnya terlihat bersinar seperti pualam. Rambutnya berkilau sehat. Postur tubuhnya terlihat lebih tegak dan berkelas.

​Sekilas, dia terlihat seperti Bella. Tapi jika diperhatikan lebih lama, dia berbeda. Bella memiliki kecantikan yang "berteriak" minta diperhatikan. Sedangkan gadis di cermin ini memiliki kecantikan yang sunyi, seperti danau dalam yang menyimpan misteri.

​"Kau puas?" tanya Elian sambil membereskan peralatan makeup-nya.

​"Ini... bukan saya," bisik Nala jujur. Ia menyentuh pipinya sendiri, seolah memastikan itu nyata.

​"Tentu saja itu bukan kau," sahut Elian santai. "Itu adalah Nyonya Adhitama. Ingat, Sayang, pakaian adalah baju zirah. Di dunia orang kaya, penampilanmu adalah senjatamu. Jika kau terlihat lemah, mereka akan memakanmu hidup-hidup. Tuan Raga memberimu baju zirah terbaik, jadi pakailah dengan benar."

​Kata-kata desainer itu menohok Nala. Baju zirah.

​Nala menegakkan bahunya. Benar. Jika dia harus bertahan hidup di medan perang ini, dia tidak boleh terlihat seperti korban. Dia harus terlihat seperti ratu, meskipun hatinya berdarah.

​"Terima kasih, Tuan Elian," ucap Nala, kali ini dengan nada yang lebih percaya diri.

​Menjelang sore, tim desainer itu pulang, meninggalkan lemari pakaian Nala yang kini penuh sesak dengan barang-barang branded.

​Matahari mulai terbenam, menyiramkan cahaya oranye kemerahan ke seluruh penjuru Adhitama Estate. Suasana rumah berubah menjadi lebih mencekam saat bayangan-bayangan mulai memanjang di lorong.

​Nala duduk di sofa kamarnya, memegang sebuah buku sketsa baru yang ia temukan di laci meja kerja, sepertinya Raga menyuruh seseorang menyiapkannya, atau mungkin itu kebetulan. Nala mulai mencoret-coret dengan pensil, mencoba menggambar anggrek liar yang ia lihat di rumah kaca tadi.

​Tangannya menari di atas kertas, satu-satunya momen di mana ia merasa menjadi dirinya sendiri.

​Tiba-tiba, telinganya menangkap suara alunan musik.

​Sayup-sayup, namun jelas. Suara denting piano.

​Nadanya berat, rendah, dan penuh emosi. Lagu itu terdengar seperti Moonlight Sonata karya Beethoven, namun dimainkan dengan tempo yang lebih lambat dan penekanan tuts yang lebih keras, seolah sang pianis sedang menumpahkan kemarahan pada instrumen itu.

​Nala meletakkan pensilnya. Rasa penasaran itu datang lagi, menggelitik tengkuknya.

​Suara itu berasal dari arah koridor sebelah kiri kamarnya. Arah menuju Sayap Barat. Area terlarang.

​Jangan melanggar aturan, bisik logika Nala. Raga bisa mengusirmu.

​Tapi kakinya bergerak sendiri. Nala membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Lorong itu kosong dan gelap, hanya diterangi lampu dinding yang redup. Suara piano itu semakin jelas. Nadanya semakin intens, berubah menjadi crescendo yang memburu, seakan mengejar sesuatu yang tak tergapai.

​Nala berjalan jinjit, gaun hijaunya berdesir pelan di lantai marmer. Ia melewati batas imajiner antara area utama dan Sayap Barat.

​Udara di sini terasa lebih dingin. Debu terlihat lebih tebal di atas meja hias. Sepertinya para pelayan jarang membersihkan area ini.

​Nala sampai di ujung lorong, di depan sebuah pintu ganda yang sedikit terbuka. Cahaya kuning temaram memancar dari celah pintu.

​Nala mengintip.

​Di dalam ruangan yang besar itu, tidak ada perabotan selain sebuah Grand Piano berwarna hitam pekat di tengah ruangan. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan yang ditutupi kain putih.

​Dan di sana, duduk membelakangi pintu, adalah Raga.

​Dia masih di kursi rodanya. Tubuhnya condong ke depan, jari-jarinya menari liar di atas tuts piano dengan kecepatan yang mengerikan. Bahunya naik turun mengikuti napasnya yang berat.

​Permainan itu indah, tapi menyakitkan. Nala bisa merasakan keputusasaan dalam setiap nadanya. Itu bukan sekadar musik; itu adalah jeritan minta tolong yang dibungkus dalam harmoni.

​BRAK!

​Tiba-tiba Raga membanting penutup tuts piano dengan kasar, menghentikan musik itu secara paksa. Bunyinya menggelegar di ruangan kosong itu.

​Nala terlonjak kaget, tangannya tanpa sengaja menyenggol sebuah vas bunga hiasan di meja koridor.

​Ting.

​Bunyi kecil vas beradu dengan meja marmer. Suara yang sangat pelan, tapi di keheningan itu, suaranya terdengar seperti lonceng kematian.

​Tubuh Raga menegang. Dia berputar cepat dengan kursi rodanya.

​"SIAPA DI SANA?!" bentaknya, suaranya menggelegar marah.

​Nala membeku. Ia ketahuan.

​Tidak ada gunanya lari. Nala melangkah keluar dari persembunyiannya, masuk ke dalam lingkaran cahaya pintu.

​"Sa-saya, Tuan..." cicit Nala.

​Wajah Raga terlihat mengerikan. Bukan karena luka bakarnya, tapi karena ekspresi kemarahan yang membara di matanya. Urat-urat lehernya menonjol. Napasnya memburu.

​"Kau..." desis Raga, menjalankan kursi rodanya mendekat dengan cepat. "Sudah kubilang Sayap Barat terlarang! Apa kau tuli? Atau kau memang cari mati?"

​Nala mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding. "Maaf! Saya... saya mendengar suara piano. Permainannya sangat indah, saya... saya hanya ingin mendengarkan."

​Raga berhenti tepat di depan Nala. Ia menatap gadis itu dengan nyalang. Namun, saat matanya menyapu penampilan Nala, kemarahannya terhenti sesaat.

​Dia melihat gaun hijau zamrud itu. Dia melihat rambut yang tertata rapi. Dia melihat "Nyonya Adhitama" yang ia ciptakan dengan uangnya.

​Nala terlihat sangat berbeda dari gadis kumuh tadi pagi. Dia terlihat... pantas. Pantas berdiri di sampingnya.

​Perlahan, napas Raga mulai teratur. Cengkeramannya pada roda kursi melonggar.

​"Indah?" tanya Raga sinis, mengalihkan topik dari kemarahannya. "Kau sebut musik tadi indah? Itu adalah musik untuk orang mati."

​"Musik adalah perasaan, Tuan," jawab Nala, mencoba memberanikan diri meski kakinya gemetar. "Dan saya merasakan kesedihan yang sangat dalam. Bukan kematian, tapi kesepian."

​Raga terdiam. Ia menatap Nala lekat-lekat, seolah mencari kebohongan di mata gadis itu. Tapi mata cokelat Nala hanya memancarkan kejujuran yang polos.

​Gadis ini terlalu berbahaya, pikir Raga. Dia bisa melihat menembus tembok pertahanannya terlalu mudah.

​"Jangan sok tahu," ucap Raga dingin, memutar kursi rodanya menjauh. "Kembali ke kamarmu. Makan malam akan diantar ke sana. Aku tidak mau melihat wajahmu malam ini. Kau merusak selera makanku."

​Nala mengangguk cepat. Ia tahu ia baru saja lolos dari lubang jarum. "Baik, Tuan. Maafkan saya."

​Nala berbalik dan berjalan cepat, hampir berlari, meninggalkan Sayap Barat.

​Namun, sebelum ia menghilang di tikungan lorong, suara Raga terdengar lagi, lebih pelan kali ini, hampir seperti gumaman yang terbawa angin.

​"Gaun itu..."

​Nala berhenti, menoleh sedikit.

​Raga tidak melihatnya, dia kembali menatap piano hitamnya.

​"...tidak buruk."

​Nala terpaku sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Itu adalah pujian pertama, atau sesuatu yang mendekati pujian yang pernah ia terima dari suaminya.

​Dengan hati yang berdebar aneh, campuran antara takut dan rasa hangat yang membingungkan, Nala kembali ke kamarnya.

​Malam itu, Nala menyadari satu hal: Raga Adhitama bukanlah monster yang tidak punya hati. Dia hanya pria yang hatinya hancur berkeping-keping, dan dia takut jika ada orang yang mencoba menyatukannya kembali, dia akan terluka lagi oleh pecahannya.

1
@arven_marvendo
👍👍👍👍👍👍👍
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
ren_iren
bagus ceritanya 🤗
Almahara Ara
keren bgt cerita nya... ga bertele tele... best thor
Risma Hye Chan
kalimatnya sngat indah perpaduan mkna kiasan dan sesungguhnya ak suka baca novel yg sprti ini kalimat ny tidak membosankan mksih kak
Bunga
lanjut Thor
ceritanya bagu😍
Hazard: bagus mbak bunga🤭
total 1 replies
Ayu Rahayu
lajuttt kak .Hem suka bgettt crityaa😢
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Luar biasa
Bunga
semangat Thor
Bunga
salam kenal thor😍
Hazard: salam kenal🙏
total 1 replies
moon
karyanya menarik, suka dengan cerita yang taak bertele-tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!