Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dominasi Sang Iblis
Tubuh Shasha menggeliat di bawah dekapan selimut tebal saat indra pendengarannya menangkap suara kegaduhan di sekitar kamar. Perlahan, ia membuka mata. Semburat cahaya pagi yang menembus jendela terasa sedikit menusuk netranya, memaksanya untuk duduk sambil mengucek mata dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
“Suara apa ini?” gumamnya lirih, berusaha memfokuskan pandangan yang masih buram.
Begitu kesadarannya pulih dan menyadari apa yang sedang terjadi, Shasha tersentak. Ia buru-buru meloncat dari ranjang dengan jantung berdebar.
“Kalian sedang apa di sini?!” teriaknya kaget melihat beberapa pengawal Jake tampak sibuk keluar-masuk kamarnya sambil menggotong kotak-kotak besar.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyahut. Para pria berseragam itu seolah telah dilatih untuk menulikan telinga terhadap keberadaannya.
Rasa penasaran mulai mengalahkan ketakutannya. Tatapan Shasha terpaku pada deretan kotak yang dibawa masuk ke arah walk-in closet. Dengan langkah ragu, ia mengikuti mereka, ingin melihat apa yang sedang mereka tata dengan begitu berisik di sana.
“Waahhh...”
Shasha terpana. Tanpa sadar, decak kagum lolos dari bibirnya saat melihat ruang ganti yang kini telah berubah total.
Ruangan itu dipenuhi dengan deretan pakaian dari desainer ternama, perhiasan yang berkilau, serta berbagai aksesori mewah yang jelas-jelas bukan barang sembarangan. Semuanya tertata rapi, menciptakan kontras yang aneh dengan statusnya sebagai tawanan.
Sementara di sudut ruangan, Kevin tengah sibuk memeriksa daftar barang melalui tablet di tangannya. Menyadari kehadiran Shasha di ambang pintu, Kevin pun mendongak, lalu berjalan menghampiri gadis yang masih melamun karena takjub itu.
“Belum pernah melihat hal seperti ini?” tanya Kevin dingin.
Shasha mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menarik kembali kesadarannya. “Ekhem,” Ia berdehem untuk menyembunyikan rasa kagumnya, “Ini semua... untuk siapa?”
“Untuk gadis tidak tahu diri sepertimu,” jawab Kevin tanpa ekspresi.
“Kau!” Shasha menunjuk Kevin dengan telunjuk gemetar, tersinggung oleh ucapan pedas pria itu.
“Sudahlah,” Kevin mematikan tabletnya dengan gerakan tegas, lalu menatap Shasha dengan pandangan meremehkan, “Buang-buang waktu saja mengobrol denganmu. Setelah menghilangkan bekas air liur di pipimu itu, segera turunlah. Tuan sudah menunggumu di meja makan.”
Kevin melangkah pergi melewati Shasha begitu saja. Sontak, Shasha membulatkan mata dan refleks mengusap pipinya. Benar saja, ada bekas kering yang terasa di sana. Dengan wajah merah karena malu, Shasha segera menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berlari kencang menuju kamar mandi.
Setelah melakukan ritual pagi dan keluar dari kamar mandi, Shasha mendapati kamarnya telah kembali sepi. Ia menyempatkan diri untuk mengintip ke dalam walk-in closet sekali lagi, menatap deretan pakaian mewah itu dengan perasaan ragu. Dalam benaknya, ia menimbang-nimbang apakah benar ia diperbolehkan menggunakan barang-barang itu. Namun setelah menghela napas panjang, ia menggeleng pelan. Shasha memilih untuk tetap mempertahankan harga dirinya dengan menolak pemberian itu, dan lebih memilih mengenakan dress yang sama sejak kemarin.
Dengan langkah yang masih terasa berat, ia keluar dari kamar menuju ruang makan. Pikirannya mulai berkelana liar, membayangkan hal mengerikan apa yang mungkin disajikan oleh pria semacam Jake.
“Sup tikus? Kalajengking goreng?” gumamnya lirih sambil bergidik ngeri. Mengingat kekejaman Jake sebelumnya, ia sangat yakin pria itu pasti akan memperlakukannya dengan buruk.
Sambil berjalan, pandangannya kembali memutari interior mansion yang begitu luas. Begitu banyak koridor panjang dan ruangan-ruangan tertutup yang belum sempat ia eksplorasi. Shasha merasa seolah setiap sudut bangunan ini menyimpan rahasia kelam, sama seperti ruang bawah tanah yang sempat ia kunjungi.
Langkah kaki Shasha akhirnya membawanya ke meja makan yang terletak di sebelah dapur. Di sana, Jake duduk di kursi utama dengan map di tangannya, tampak begitu serius mempelajari lembar demi lembar dokumen itu. Pagi itu, suasana lantai bawah terasa sangat sunyi. Tidak ada Kevin maupun pengawal lain yang terlihat.
Shasha hanya berdiri mematung di belakang pria itu sambil meremas jemarinya dengan cemas. Dari posisi ini, Jake terlihat seperti pria normal yang sedang sibuk bekerja, jauh dari kesan iblis yang ia tunjukkan selama ini.
“Duduklah,” ucap pria itu tiba-tiba tanpa menoleh.
Shasha tersentak, lalu melangkah maju, “Sebenarnya kau memiliki berapa mata?” tanyanya heran karena Jake selalu tahu keberadaannya tanpa perlu melihat.
Jake hanya terkekeh pelan sambil menutup mapnya, “Pekerjaanku menuntut kewaspadaan tinggi. Sekarang duduklah.”
Shasha memilih kursi di ujung meja lainnya sehingga berhadapan langsung dengan Jake.
Pilihan itu pun memicu senyum miring di wajah Jake, “Menghindariku?”
“Sedang melindungi diri,” ketus Shasha. Namun kemarahannya segera berganti dengan kebingungan saat melihat meja makan itu kosong melompong.
“Berharap aku memberimu makan?” tanya Jake seolah bisa membaca pikiran Shasha.
Shasha memalingkan wajah, merasa bodoh karena sempat mengira akan ada hidangan, bahkan jika itu sup tikus sekalipun.
“Masak sesuatu untukku.”
“Apa kau bilang? Memasak untukmu?” Shasha menggeleng cepat, “Aku yakin ada yang salah dengan otakmu. Kau membakar barang-barangku, memberiku banyak pakaian mewah, dan sekarang menyuruhku memasak? Kau sebenarnya menyekapku atau apa?”
Jake memajukan tubuhnya, menatap Shasha dengan intensitas yang mencekam, “Kau ingin benar-benar disekap? Di ruang bawah tanah?”
Ancaman itu seketika membungkam Shasha. Bayangan jeruji besi dan aroma darah semalam kembali membuat tubuhnya bergetar hebat.
“Tentu tidak!” jawabnya.
Jake kemudian meneliti penampilan Shasha, “Lalu kenapa kau tidak memakai pakaian yang kusediakan?”
“Aku tidak bisa menerima barang mewah dari penyekapku sendiri. Aku takut... aku takut kau mempermainkanku lagi,” ucap Shasha sambil menunduk dalam.
Jake menyandarkan punggungnya, suaranya terdengar sedikit lebih rendah, “Semua itu kuberikan untukmu. Kau marah semalam karena barang-barang rongsokanmu, anggap saja itu sebagai pengganti.”
Mendengar kata rongsokan lagi, Shasha mendongak dengan mata berkaca-kaca, “Sudah kubilang, itu bukan rongsokan bagiku! Semahal apa pun barang darimu, tidak akan bisa menggantikan apa yang kubeli dengan usahaku sendiri!”
BRAK!
Jake menggebrak meja hingga vas bunga di tengahnya bergetar. Rahangnya mengatup keras, menahan amarah yang mulai menyulut.
“Keras kepala!”
“Kalau kau tidak tahan, maka lepaskan gadis keras kepala ini!” tantang Shasha. Ia segera berdiri dan melangkah pergi, tidak sudi berlama-lama di sana.
Namun, Jake tidak membiarkannya lolos begitu saja. Dengan langkah lebar, ia mengejar dan menarik tangan Shasha, lalu menyentakkan tubuh gadis itu hingga punggungnya menghantam dinding dengan keras.
“Lepaskan aku!” teriak Shasha di depan wajah Jake, mengabaikan rasa nyeri di tangan dan punggungnya.
Jake menunduk dan mengunci pergerakan Shasha sepenuhnya, “Hukuman karena membantahku,” desisnya, sebelum akhirnya membungkam bibir Shasha dengan ciuman paksa yang penuh amarah.
Pria itu benar-benar tuli terhadap rontaan Shasha yang tertahan. Hatinya bahkan telah membatu saat menghadapi air mata yang mulai membanjiri pipi gadis itu. Fokus Jake hanya satu, yakni meluapkan seluruh amarah dan egonya melalui dominasi fisik yang menyesakkan.
Ciuman paksa itu kian dalam dan menuntut, meski Shasha tidak memberikan balasan sedikit pun.
Ketika tautan bibir mereka akhirnya terlepas, keheningan mencekam menyelimuti keduanya. Mereka saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat. Shasha dengan napas yang memburu dan tatapan terluka, sementara Jake dengan sorot mata yang masih dipenuhi api amarah.
Namun belum sempat Shasha menghirup oksigen dengan lega, Jake kembali menyerang. Kali ini, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Shasha, mencumbunya dengan kasar hingga membuat gadis itu tersentak dan tanpa sadar meremas bahu Jake dengan kuat.
Jake semakin gila, ia terus menciumi area sensitif itu bahkan dengan sengaja meninggalkan bercak kemerahan sebagai bukti kepemilikan yang nyata. Shasha hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat sambil menggigit bibir bawahnya. Berusaha sekuat tenaga menahan gejolak rasa yang campur aduk antara benci, takut, dan kehancuran harga diri yang kian mendalam.