NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 Gadis Pendengar Hampa

Genangan air di lantai saluran pembuangan Sektor Empat memantulkan cahaya senter yang bergetar hebat di tangan Arlan. Napasnya masih menderu, uap putih keluar dari mulutnya dalam ritme yang tidak beraturan. Di saku jaketnya, lembaran manifes tahun 2012 terasa seberat logam cair, membakar kesadarannya dengan fakta bahwa namanya telah dicoret sebagai anomali yang tidak bisa disalin.

"Pelankan napasmu, Arlan. Kau menarik perhatian dinding-dinding ini," bisik Mira.

Gadis itu berdiri beberapa langkah di depan, tubuhnya yang ramping tampak seperti bayangan di tengah kabut bawah tanah. Ia tidak menoleh, namun telinganya tampak bergerak sedikit, seolah sedang menyaring jutaan frekuensi yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia biasa.

Arlan berusaha menekan dadanya, memaksa paru-parunya untuk melambat. "Bagaimana aku bisa tenang? Mereka tahu siapa aku. Di kantor itu, di dalam manifes yang mereka simpan di gudang arsip bawah tanah, namaku ditandai dengan tinta merah. Mereka menyebutku darah murni. Mereka tahu aku tidak bisa disalin."

Mira berbalik perlahan. Di bawah cahaya redup, matanya tampak menyimpan melankoli yang dalam, jenis kesedihan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah melihat dunia asli runtuh berkali-kali. "Itu alasan kenapa Dante memilihmu. Dan itu juga alasan kenapa kau harus tetap hidup. Jika kau tertangkap sekarang, memori kolektif yang kau bawa dalam koin-koin itu akan lenyap selamanya."

"Tapi aku tidak tahu cara bertarung seperti kalian, Mira," Arlan menatap telapak tangannya yang masih ternoda debu panel listrik yang meledak tadi. "Aku hanya kurir yang terobsesi pada detail kecil."

"Obsesi itu adalah senjatamu," Mira mendekat, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sama sekali di atas beton basah. "Tapi mulai sekarang, detail kecil tidak hanya tentang apa yang kau lihat. Kau harus mulai belajar tentang apa yang hilang."

Kesunyian yang Mengancam

Mereka terus berjalan menyusuri terowongan hingga sampai di sebuah tangga besi yang menuju ke permukaan. Mira memberi isyarat agar Arlan berhenti. Ia memejamkan mata, memiringkan kepalanya ke arah lubang keluar.

"Ada apa?" tanya Arlan pelan.

"Dengar," Mira berbisik.

Arlan menajamkan pendengarannya. Ia mendengar tetesan air dari pipa yang bocor. Ia mendengar suara tikus yang mencicit di kejauhan. Ia mendengar suara angin yang masuk melalui celah tutup lubang got. "Aku mendengar semuanya. Suara kota yang biasa."

"Bukan itu," sela Mira tajam. "Dengar di balik suara-suara itu. Ada lubang. Ada ruang di mana suara seharusnya ada, tapi tiba-tiba terputus."

Arlan mencoba lagi, memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya seperti saat ia mencoba melihat Echo di kolam refleksi tempo hari. Tiba-tiba, ia merasakannya. Tekanan udara di telinganya berubah, seperti saat seseorang masuk ke dalam ruang kedap suara yang sangat pekat. Suara angin di atas sana mendadak hilang, bukan karena anginnya berhenti bertiup, tapi karena ruang di atas sana telah menjadi hampa.

"Hampa Akustik," desis Arlan, merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Itu adalah tanda patroli Eraser sedang melakukan pembersihan area," Mira menjelaskan dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Mereka tidak hanya menghapus orang; mereka menghapus frekuensi realitas. Di dalam zona itu, jeritanmu tidak akan terdengar oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang berdiri satu meter di depanmu."

"Lalu bagaimana kita bisa lewat?"

Mira merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sepasang sarung tangan tipis berbahan serat karbon. "Kita tidak akan lewat dengan suara. Kita akan menggunakan bahasa isyarat kurir. Dante bilang kau sudah mempelajarinya saat pelatihan dasar di bunker."

Arlan mengangguk. Ia teringat kode-kode tangan yang digunakan para kurir Archivist untuk berkomunikasi di bawah tanah agar tidak memicu sensor gerakan. "Aku ingat. Tapi melakukannya di bawah tekanan patroli... itu berbeda."

"Aku akan memandumu," Mira meraih tangan Arlan. Telapak tangannya terasa hangat namun gemetar halus. "Jika aku meremas tanganmu dua kali, artinya berhenti total. Jika aku mengetuk pergelangan tanganmu dengan ritme cepat, itu artinya mereka sangat dekat. Jangan bicara, jangan bernapas terlalu keras. Gunakan napas manual untuk menyinkronkan diri dengan statisnya lingkungan."

Pelajaran di Taman yang Mati

Mereka merangkak keluar dari lubang got dan mendapati diri mereka berada di pinggiran taman Sektor Empat. Tempat ini dulunya adalah area hijau yang asri, namun sekarang pohon-pohonnya tampak kaku dengan daun-daun yang memiliki saturasi warna kebiruan yang salah. Lampu taman merkuri menyala dengan cahaya statis, tidak berkedip, menciptakan bayangan yang tampak seperti lubang hitam di atas rumput.

Mira membawa Arlan bersembunyi di balik semak-semak yang kaku. Di depan mereka, sebuah pemandangan mustahil terjadi. Seekor burung kecil mencoba terbang melintasi area terbuka taman. Saat burung itu memasuki zona tertentu, kepakan sayapnya yang tadinya terdengar jelas tiba-tiba lenyap. Burung itu menabrak sebuah tiang lampu dengan keras, terjatuh ke tanah, namun tidak ada suara dentuman. Sunyi tuli.

Arlan menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak. "Burung itu... dia masih hidup tapi suaranya hilang."

"Zonanya meluas," Mira memberi isyarat tangan: Tetap rendah. Jangan bergerak.

Dari arah jalanan utama, tiga sosok tinggi muncul. Mereka mengenakan seragam gelap yang tampak menyerap cahaya di sekitarnya. Gerakan mereka sinkron, dada mereka bergerak naik turun dalam jeda yang terlalu teratur—tanda nyata bahwa mereka adalah para Peniru yang sedang menjalankan protokol pencarian.

Arlan merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia teringat bagaimana ibunya di dapur dulu melakukan gerakan napas manual yang sama saat tahi lalatnya berpindah tempat. Ketakutan itu kembali menyergapnya, sebuah trauma domestik yang kini berubah menjadi ancaman maut di depan mata.

Mira menyentuh bahu Arlan, matanya memberikan instruksi tanpa kata. Ia mulai menggerakkan jari-jarinya di udara, membentuk kode isyarat: Ikuti frekuensi lantai. Rasakan getaran langkah mereka.

Arlan meletakkan telapak tangannya di atas ubin taman yang dingin. Suhu endotermik di area ini sangat rendah, mungkin mendekati sepuluh derajat Celsius. Melalui ubin itu, ia tidak mendengar langkah kaki, tapi ia merasakan getaran mikro yang beraturan. Deg. Deg. Deg.

"Mereka mencari jejak residu panas," Mira berbisik di telinga Arlan, sangat pelan hingga bibirnya hampir menyentuh kulit Arlan. "Gunakan botol air raksa netral yang kau bawa dari kantor tadi. Teteskan sedikit di atas ubin untuk mengacaukan sensor suhu mereka."

Arlan teringat botol yang ia ambil sebelum menyabotase panel listrik. Ia mengeluarkannya dengan hati-hati, memastikan tidak ada bunyi gesekan kaca. Dengan tangan yang gemetar, ia meneteskan cairan perak itu ke arah yang berlawanan dengan posisi mereka bersembunyi.

Cairan raksa itu menyebar, menciptakan anomali suhu dingin yang sangat tajam di mata sensor Eraser. Para pengejar itu berhenti, kepala mereka menoleh serentak ke arah tetesan raksa tersebut.

Sekarang, isyarat tangan Mira memberi perintah.

Mereka bergerak merayap di balik bayangan pohon-pohon logam. Arlan merasakan tekanan udara di telinganya semakin berat, tanda mereka sedang berada di titik pusat Hampa Akustik. Di sini, ia bahkan tidak bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Dunia terasa seperti film bisu yang rusak. Hanya ada Mira, genggaman tangannya, dan ketakutan yang mengkristal di dalam dada.

Saat mereka mencapai tepi taman, Mira menarik Arlan ke balik sebuah monumen batu tua. Ia bersandar di sana, napasnya tersengal-sengal meskipun wajahnya tetap terlihat tenang.

"Kenapa kau membantuku sejauh ini, Mira?" tanya Arlan saat mereka keluar dari zona hampa. Suaranya terdengar asing bagi telinganya sendiri setelah keheningan tadi. "Kau bisa saja lari sendiri. Kau punya kemampuan untuk menghilang."

Mira menatap langit yang berwarna kelabu kebiruan, sebuah cakrawala salinan yang tidak pernah menjanjikan fajar asli. "Karena aku juga pernah menjadi sepertimu, Arlan. Seorang manusia yang kehilangan jangkar emosinya dan mendapati dunia di sekitarnya berubah menjadi plastik. Bedanya, kau memiliki koin-koin itu. Kau membawa memori yang tidak bisa mereka hapus. Dan bagiku... memori adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih ingin bernapas."

Arlan terdiam. Ia melihat luka batin yang sama di mata Mira, sebuah cermin dari kehancuran yang ia rasakan saat melihat ibunya berubah. Di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan ini, rasa sakit mereka adalah satu-satunya hal yang terasa nyata.

Gema yang Terkubur

Mira masih bersandar pada monumen batu yang permukaannya terasa sedingin es. Di kejauhan, lampu-lampu taman yang statis berpendar seperti mata predator yang sedang mengawasi dari kegelapan. Arlan memperhatikan bagaimana jari-jari Mira mengetuk-ngetuk batu dengan ritme yang ganjil, sebuah pola yang tidak ia kenali dalam protokol Archivist mana pun.

"Itu kode apa?" tanya Arlan pelan, memecah kesunyian yang masih terasa menyesakkan.

Mira menarik tangannya, menyembunyikannya di balik saku jaket. "Bukan kode. Hanya kebiasaan lama. Ayahku dulu seorang pianis sebelum Sektor Empat... diubah. Dia selalu bilang bahwa setiap benda memiliki resonansi unik, bahkan batu yang paling bisu sekalipun."

"Pianis?" Arlan mencoba membayangkan kehidupan normal di kota ini sebelum invasi halus dimulai. "Lalu, apa yang terjadi padanya? Apakah dia juga ada dalam daftar manifes 2012 itu?"

Mira menatap ubin taman dengan pandangan kosong. "Dia tidak ada dalam daftar itu. Dia lebih buruk. Dia menjadi salah satu dari mereka, tapi sistemnya gagal total. Dia tidak bisa meniru nada piano dengan benar. Setiap kali dia menyentuh tuts, suaranya terdengar seperti besi yang digesekkan ke kaca. Para Eraser membawanya pergi karena dianggap sebagai produk cacat."

Arlan merasakan sebuah remasan kuat di jantungnya. Ia teringat ibunya yang tahi lalatnya berpindah tempat—sebuah kesalahan kecil yang menghancurkan seluruh realitasnya. "Mereka tidak hanya mencuri wajah kita, Mira. Mereka mencuri apa pun yang membuat kita berharga."

"Tepat," Mira menoleh, menatap Arlan dengan intensitas yang membuat Arlan terpaku. "Dan kau, Arlan, kau adalah anomali karena kau menyimpan apa yang tidak bisa mereka baca. Kau adalah nada yang tidak bisa mereka tiru."

Bahasa Tanpa Suara

"Ajarkan aku lebih banyak," ucap Arlan tiba-tiba. Suaranya terdengar lebih mantap sekarang. "Tentang bahasa isyarat kurir itu. Jika kita akan bergerak menuju Sektor Tujuh besok, aku tidak boleh menjadi beban karena ketidaktahuanku."

Mira tampak sedikit terkejut, namun kemudian sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. "Baiklah. Perhatikan tanganku baik-baik. Di zona hampa, penglihatanmu adalah telingamu."

Mira mulai menunjukkan serangkaian gerakan tangan yang cepat namun anggun. Ia melipat ibu jari ke dalam telapak tangan untuk menandakan 'Bahaya Statis', lalu menyilangkan dua jari telunjuk untuk 'Jalan Buntu'.

"Bagaimana dengan kode untuk 'Aku akan melindungimu'?" tanya Arlan dengan nada sedikit bercanda, mencoba mencairkan suasana yang kaku.

Mira terhenti sejenak. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu perlahan menggenggam tangan Arlan dan menempelkan ibu jarinya ke pergelangan tangan Arlan, tepat di atas denyut nadinya. "Tidak ada isyarat untuk itu dalam protokol Dante. Tapi kurir Archivist punya cara sendiri. Jika kau merasakan denyut jantung rekanmu melalui kontak fisik, itu artinya kau tidak sendirian."

Arlan merasakan kehangatan dari sentuhan itu merambat ke seluruh tubuhnya, melawan suhu endotermik yang menyengat. Di tengah dunia yang sedang dihapus, kontak fisik sederhana itu terasa lebih nyata daripada ribuan kata-kata yang pernah ia dengar.

"Arlan, lihat itu," Mira tiba-tiba menarik tangannya dan menunjuk ke arah jalan raya di luar taman.

Sebuah truk logistik besar lewat tanpa suara mesin. Hanya ada getaran udara yang aneh saat kendaraan itu membelah kabut. Di sisi truk itu, terdapat logo kantor kurir tempat Arlan bekerja, namun warnanya telah berubah menjadi perak pekat.

"Itu truk pengangkut residu," bisik Mira. "Mereka sedang mengumpulkan apa pun yang tersisa dari operasi pembersihan tadi. Kita harus bergerak sekarang sebelum zona hampa ini ditutup dan digantikan oleh sensor aktif."

Langkah di Tengah Statis

Mereka mulai bergerak menyusuri bayangan gedung-gedung tinggi yang tampak seperti raksasa beton yang sedang tidur. Arlan mempraktikkan apa yang baru saja dipelajari. Ia tidak lagi mengandalkan telinganya; ia menggunakan matanya untuk mencari distorsi udara, mencari tempat di mana debu tidak bergerak, menandakan adanya kantong Hampa Akustik.

Saat mereka melewati sebuah gang sempit, Arlan melihat bayangan mereka di kaca jendela sebuah toko tua. Ia menggunakan kemampuan Echo-nya secara insting. Di dalam pantulan itu, ia melihat Mira bukan sebagai bayangan hitam, melainkan sebagai gadis kecil yang sedang memegang tangan ayahnya di depan sebuah piano. Bayangan itu hanya bertahan sedetik sebelum kembali menjadi Mira yang dewasa dan waspada.

"Kau melihat sesuatu?" Mira bertanya tanpa menoleh.

"Hanya... memori yang tertinggal di kaca," jawab Arlan lirih.

"Jangan terlalu sering menoleh ke belakang, Arlan. Cermin bisa menjebakmu dalam kerinduan yang mematikan," peringat Mira.

Mereka akhirnya mencapai batas Sektor Empat, sebuah gerbang besi tua yang menuju ke jalur penghubung menuju Sektor Tujuh. Di sana, Arlan berhenti sejenak dan menatap tumpukan koin perak di dalam kantong kecilnya. Ia tahu, setiap babak baru dalam perjalanannya akan menuntut pengorbanan yang lebih besar.

"Mira," panggil Arlan sebelum mereka menyeberang.

"Ya?"

"Terima kasih. Karena tidak membiarkanku menjadi sunyi."

Mira hanya mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke arah kegelapan di depan mereka. "Simpan terima kasihmu untuk saat kita benar-benar melihat matahari asli lagi, Kurir."

Mereka melangkah masuk ke dalam kegelapan jalur penghubung, meninggalkan Sektor Empat yang kini sepenuhnya tenggelam dalam keheningan mekanis para Peniru. Di balik jaketnya, Arlan menggenggam manifes 2012 itu erat-erat, bersiap untuk menghadapi badai pembersihan yang akan segera menghantam rumah lamanya.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!