kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SHEN SHUI BUKAN JURU MASAK BIASA
Di bawah kawalan ketat beberapa ksatria berbaju zirah, Shen shui melangkah dengan tenang menyusuri koridor panjang menuju The Prince’s Chamber—kamar utama sang pangeran yang terletak di puncak menara.
Di belakangnya, Raja Valerius berjalan dengan langkah berat namun berwibawa. Setiap pelayan dan penjaga yang mereka lewati segera menundukkan kepala, memberikan penghormatan terdalam saat sang penguasa melintas.
Suasana di lorong itu begitu sunyi, hanya terdengar denting zirah ksatria dan langkah kaki yang bergema di lantai batu.
"Beri hormat pada Baginda Raja!" seru sang Lord Chamberlain dengan suara lantang saat rombongan itu tiba di depan pintu kayu ek besar berukir lambang singa.
Dua ksatria penjaga pintu segera menghunjamkan tombak mereka ke lantai dan membungkuk hormat. Salah satu dari mereka kemudian berdiri tegak dan menarik gagang pintu besi yang berat, membukanya lebar-lebar untuk sang raja.
Lord Chamberlain melangkah masuk lebih dulu untuk memastikan ruangan siap, diikuti oleh Raja Valerius dengan jubah kebesarannya yang menyapu lantai.
Shen shui masuk setelahnya, memegang tas kulitnya dengan erat, diikuti oleh beberapa pelayan senior yang membawa baki berisi air hangat dan kain bersih.
Dengan sigap, seorang pelayan pria segera menarik sebuah kursi kayu berukir dan meletakkannya tepat di samping ranjang besar berkanopi tempat Pangeran Alaric terbaring.
"Silakan, Tuan Tabib," ujar Sang Raja dengan nada yang rendah namun penuh penekanan, matanya menatap tajam ke arah putranya yang masih tak sadarkan diri.
Shen shui mendekati ranjang itu. Di bawah temaram cahaya lilin, wajah sang pangeran tampak sangat pucat, hampir menyatu dengan warna bantal sutranya.
Shen shui meletakkan tasnya di atas meja kecil, lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Keheningan di dalam kamar itu begitu mencekam; semua orang menahan napas, menunggu apa yang akan dilakukan oleh pria asing yang disebut-sebut sebagai penyelamat di detik-detik terakhir ini.
Raja Valerius memandangi wajah pucat putra kesayangannya dengan rasa iba yang mendalam. Di bawah temaram cahaya lilin, ketampanan sang pangeran tetap terpancar meski maut tengah mengintai; garis rahangnya tegas, kulitnya bersih, dan sepasang alis tebal yang terbentuk sempurna—paras yang membuat putri-putri dari kerajaan tetangga bersedia melakukan apa saja demi mendapatkan perhatiannya.
"Silakan, Your Majesty," bisik sang Lord Chamberlain, mempersilakan sang Raja untuk duduk.
Perlahan, Raja Valerius mendudukkan dirinya di kursi kayu berukir tersebut. Matanya yang merah karena kurang tidur beralih menatap Shen shui, yang masih berdiri beberapa langkah dari ranjang besar itu.
"Mulailah," perintah Sang Raja dengan suara parau.
Shen menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda hormat. Detik berikutnya, ia melangkah mendekat dengan gerakan yang sangat tenang, hampir tanpa suara.
Alih-alih berdiri, Shen justru bersimpuh di lantai di samping ranjang, menyejajarkan dirinya dengan posisi sang pangeran. Ia meraih pergelangan tangan Pangeran Alaric dengan sangat hati-hati.
Jari-jarinya yang ramping meraba bagian nadi di pergelangan tangan pangeran, lalu ia memejamkan mata, terdiam selama beberapa saat untuk merasakan aliran kehidupan yang tersisa di sana.
Suasana kamar menjadi begitu sunyi hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti hantaman palu. Setelah memastikan sesuatu, Shen perlahan mengembalikan tangan pangeran ke atas seprai beludru, meletakkannya dengan kelembutan seorang ayah kepada anaknya.
Sekali lagi, Shen membungkukkan badannya dengan sangat rendah sebelum mengungkapkan apa yang ia rasakan dari nadi sang pangeran.
"Denyut nadi Pangeran kian meredup, Your Majesty," suaranya tenang namun mengandung urgensi yang nyata.
"Izinkan hamba untuk menyalurkan sedikit energi murni ke dalam tubuh Pangeran Alaric guna memancing detak jantungnya kembali. Apa Baginda mengizinkannya?"
Raja Valerius terdiam sejenak. Ia melirik putranya yang terbaring kaku; kulit Alaric tampak begitu pucat dan dingin, seolah-olah darah tak lagi mengalir di bawah permukaannya. Keheningan yang berat menyelimuti kamar itu.
"Lakukan, jika itu memang satu-satunya cara untuk menyelamatkannya," ujar Sang Raja dengan nada mengancam yang tak tertutupi.
"Namun ingatlah satu hal, Tabib: jika tindakanmu justru membawa putraku ke ambang maut yang lebih cepat, maka nyawamu dan seluruh garis keturunanmu akan berakhir di tangan algojoku."
"Hamba mengerti, Your Majesty," jawab Shen tanpa rasa ragu.
Sang Raja kemudian sedikit menoleh, menatap tajam ke arah para pelayan, ksatria penjaga, dan bahkan Lord Chamberlain yang berdiri di dekat pintu.
"Semuanya, keluar," perintahnya dengan suara rendah namun tak terbantahkan.
Satu per satu, mereka membungkuk hormat dan melangkah mundur dengan teratur. Pintu kayu ek yang berat itu ditutup rapat dari luar, meninggalkan kesunyian yang mencekam.
Kini, di dalam kamar luas yang hanya diterangi cahaya lilin tersebut, hanya tersisa Shen dan Sang Raja—yang bersikeras tetap tinggal demi memastikan tidak ada seorang pun yang menyakiti putra mahkotanya.
Shen mulai membuka tas kulitnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minyak aromatik.
Ia memandang ke arah jendela, di mana bulan mulai mencapai titik tertingginya.
"Waktunya hampir tiba, Your Majesty," bisik Shen sambil mulai memposisikan tangan pangeran.
"Maafkan kelancangan hamba, Your Majesty," bisik Shen dengan nada khidmat sebelum ia mulai bergerak.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati namun bertenaga, ia menarik tubuh Pangeran Alaric dari pembaringan.
Ia mengatur posisi tubuh sang pangeran hingga duduk tegak dengan kaki bersilang, sementara kedua tangan sang pangeran diletakkan terbuka di atas lututnya—sebuah posisi meditasi asing yang belum pernah dilihat di daratan Eropa.
Shen kemudian mengambil posisi duduk bersila tepat di belakang punggung Pangeran Alaric. Ia memejamkan mata, menciptakan keheningan yang begitu pekat di dalam kamar itu. Kedua tangannya terangkat ke atas dengan tegap, telapak tangan menengadah seolah sedang mengumpulkan kekuatan dari udara.
Secara perlahan, ia memutar telapak tangannya, menggerakkannya turun melewati depan dada, lalu dengan satu gerakan pasti, ia menekankan kedua telapak tangannya tepat ke punggung sang pangeran.
Seketika itu juga, cahaya putih keemasan yang terang mulai berpendar dari celah jemari Shen, merambat masuk ke dalam tubuh Alaric. Cahaya itu berdenyut selaras dengan napas Shen yang kini menjadi berat dan dalam.
Fenomena mistis ini membuktikan satu hal yang tak terbantahkan bagi siapa pun yang melihatnya: Shen bukanlah sekadar juru masak atau tabib biasa; ia adalah seorang pemegang ilmu kuno yang melampaui logika manusia.
Raja Valerius terpaku di kursinya. Matanya yang biasanya penuh otoritas kini membelalak menyaksikan keajaiban yang terjadi di depan matanya. Ia tetap diam, menahan napas, dan terus memperhatikan setiap perubahan pada wajah putranya.
Di dalam hatinya, ia memanjatkan doa yang paling tulus, berharap agar kekuatan asing ini mampu menarik kembali nyawa Alaric dari kegelapan, demi masa depan takhta dan kerajaannya.