Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Tinta Darah dan Janji Racun
Dunia persilatan sedang bergejolak. Sebuah rumor liar menyebar seperti api yang ditiup angin kencang, menghanguskan akal sehat para praktisi bela diri.
Kabar tentang eksistensi Kitab Racun Legendaris yang ditulis langsung oleh Sang Leluhur Racun Kuno telah membangkitkan ketamakan di hati setiap pendekar.
Dari sekte ortodoks hingga faksi hitam, semua mata tertuju pada satu tujuan: memiliki kunci menuju kekuatan yang tak tertandingi itu.
Namun, di sebuah desa terpencil yang jauh dari ambisi duniawi, keluarga Xiao Chen justru terbalut dalam kehangatan yang kontras dengan kekacauan di luar sana.
"Ibu, apakah menurutmu kitab racun itu benar-benar ada?" tanya Xiao Chen sambil menatap ibunya yang sedang merapikan sayuran.
Sang ibu menghentikan aktivitasnya, jemarinya yang lembut menyeka peluh di dahi. Ia tampak berpikir sejenak. "Entahlah, Nak. Mungkin saja itu hanya dongeng untuk menakuti anak kecil agar tidak bermain di hutan terlarang." jawabnya dengan senyum tenang, meski ada gurat rasa ingin tahu di matanya.
"Ah, Ibu selalu saja begitu! Ragu-ragu," sahut sang ayah yang baru saja masuk ke dalam rumah. Ia tertawa lebar hingga kumis tipisnya bergetar. "Ayah justru yakin kitab itu nyata. Coba bayangkan, jika kita yang menemukannya, lalu menjualnya kepada sekte besar, kita tidak perlu lagi berkebun di bawah terik matahari. Kita akan mandi keping emas! Hahaha!"
Ibu Xiao Chen mendengus geli lalu mencubit pinggang suaminya dengan gemas. "Berhenti memberi mimpi yang aneh-aneh pada anakmu, suamiku!"
"Aduh, aduh! Ampun, Bu! Ayah menyerah!" serunya sambil terkekeh, meski tangannya mengelus pinggang yang memerah.
Xiao Chen tertawa kecil melihat tingkah kedua orang tuanya. Baginya, keharmonisan ini jauh lebih berharga daripada emas atau kitab sakti mana pun. Ia merasa menjadi anak paling beruntung di bawah langit.
Keesokan harinya, matahari belum tinggi ketika sang ayah pulang dengan langkah terburu-buru dan wajah yang berseri-seri. Di tangannya, ia mendekap sebuah benda. "Lihat apa yang kubawa!"
Xiao Chen dan ibunya segera menghampiri dengan rasa penasaran yang memuncak. "Apa itu, Ayah?" tanya Xiao Chen, matanya berbinar.
Dengan gaya dramatis seolah sedang memegang harta karun paling berharga di jagat raya, sang ayah mengangkat benda itu tinggi-tinggi. "Inilah dia... Kitab Racun Legendaris yang dicari seluruh dunia! Hahaha!"
Mereka tidak menyadari, bahwa di balik bayang-bayang pepohonan di luar sana, seorang mata-mata dari sekte besar sedang mengintai.
Mendengar pengakuan itu, sang pendekar tidak menunggu sedetik pun untuk mendengar lanjutannya. Ia langsung melesat pergi, membawa kabar yang akan menjadi lonceng kematian.
"B-benarkah? Ayah mendapatkannya?" Xiao Chen mendekat dengan napas tertahan.
Tawa sang ayah pecah. "Hahaha! Tentu saja bukan! Ini hanya buku kosong yang kubeli di pasar untukmu. Kau selalu ingin belajar menulis, bukan? Gunakan ini dengan baik." Ia menyerahkan buku itu kepada Xiao Chen dengan penuh kasih.
Ibu kembali mencubit lengan suaminya. "Kau ini! Jantungku hampir copot karena candaanmu yang tidak lucu itu!"
Xiao Chen tersenyum lebar, mendekap buku kosong itu di dadanya. Namun, kehangatan itu menguap dalam sekejap ketika sebuah getaran hebat mengguncang bumi.
Saat Xiao Chen hendak berlari ke dalam rumah untuk menyimpan bukunya, suara siulan tajam membelah udara. Sebuah pedang raksasa bermandikan energi Qi melesat dari langit, menghujam tepat ke arah kedua orang tuanya.
BOOM!
Ledakan energi itu melempar tubuh kecil Xiao Chen hingga tersungkur. Telinganya berdenging, pandangannya buram oleh debu. Saat ia berusaha bangkit dan menoleh, dunianya runtuh.
"I-ibu... A-ayah..." Suaranya tercekat di tenggorokan.
Pemandangan di depannya adalah neraka. Tanah yang tadinya bersih kini bersimbah darah pekat. Potongan tubuh manusia berserakan dengan ngeri.
Dan yang paling menghancurkan jiwanya, kepala ayahnya menggelinding perlahan, berhenti tepat di depan ujung kakinya dengan mata yang masih terbuka lebar.
Kebahagiaan yang baru saja ia rasakan dicabut paksa, menyisakan lubang hitam yang menganga di dadanya.
Di langit, langit yang tadinya biru kini tertutup oleh ribuan pendekar yang berdiri di atas pedang terbang dan awan energi. Mereka turun seperti burung pemangsa yang mencium bau bangkai.
"Di mana kitab itu?!" teriak seorang pria tua dengan jubah megah yang melangkah maju.
Pandangan mereka jatuh pada Xiao Chen yang gemetar di antara puing-puing. "Apakah bocah ini keturunan dari orang yang baru saja kita musnahkan?"
"Sepertinya begitu. Lihat apa yang ada di tangannya!"
Dengan kasar, salah satu pendekar menyambar buku dari dekapan Xiao Chen. Xiao Chen bangkit dengan sisa tenaganya, matanya merah karena amarah dan duka. "KEMBALIKAN! KENAPA KALIAN MEMBUNUH MEREKA?! ITU BUKAN KITAB YANG KALIAN CARI!"
DUGH!
Sebuah tendangan telak menghantam dada Xiao Chen, membuatnya terlempar dan menabrak pohon hingga tulang-tulangnya terasa retak. Ia terbatuk darah, tubuhnya tak lagi bisa digerakkan.
Para pendekar itu membuka buku tersebut dengan kasar. Wajah mereka yang tadinya penuh ketamakan berubah menjadi kemarahan yang meluap. "Kosong? Tidak ada apa pun di sini! Ini hanya kertas biasa!"
"Bangsat! Siapa yang memberi informasi bahwa keluarga petani miskin ini menyimpan pusaka?!" Pria tua itu berbalik dan menebas leher informannya dalam sekali gerakan. "Sia-sia saja kita membuang energi di sini. Pergi!"
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, mereka melesat kembali ke langit, meninggalkan Xiao Chen di tengah genangan darah orang tuanya.
"T-tunggu... kembalikan... kembalikan mereka..." gumam Xiao Chen lirih. Air matanya bercampur dengan darah yang mengalir dari pelipisnya.
Pandangannya perlahan menggelap, namun api dendam mulai menyala di lubuk jiwanya yang terdalam. Sebagai satu-satunya yang tersisa—Xiao Chen harus mengalami rasa traumatis dan penderitaan.
"Aku bersumpah... demi darah yang membasahi bumi ini... aku akan membalas dendam pada setiap sekte yang hadir hari ini. Jika kitab itu tidak ada, maka aku sendiri yang akan menulisnya. Aku akan menciptakan Kitab Racun yang akan membuat dunia kalian membusuk ketakutan!"
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.