NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah!

Maaf, Aku Menyerah!

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Hijjatul Helna

Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?

Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?


Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Mencintainya

Soraya yang berjalan di sisi Ardan merasa risih saat banyak mata memandang padanya.

Ardan yang paham akan hal itu berdehem. Segera para pegawai yang memandang Soraya memalingkan wajahnya dan berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.

Mereka masih ingin menjadi pegawai di perusahaan ini. Jangan sampai hanya karena mengurusi urusan pribadi pimpinan membuat mereka harus kehilangan pekerjaan.

Soraya menghela napas. Dia sadar bahwa semua ini karena suaminya memang tidak pernah mengenalkan dirinya sebagai istri pimpinan kepada mereka. Jadi, jangan salahkan mereka yang kepo dengan wanita yang bersama CEO sekarang.

Sedangkan Ardan yang juga memahami hal itu tidak ingin mengenalkan Soraya begitu saja. Soraya adalah istri seorang pimpinan. Dan dia akan diperkenalkan secara resmi sebagai istrinya pada acara Anniversary perusahaan tak lama lagi.

Mereka berhenti di depan meja sekretaris yang tadi di panggil Amel oleh resepsionis.

Amel berdiri melihat kedatangan Ardan. Dan tersenyum hormat pada Soraya.

"Amel, kenalkan ini istriku, Soraya! Jadi selain Soraya dan mamiku, jangan biarkan wanita lain masuk ke dalam ruanganku.'

" Baik, Pak!"

"Satu hal lagi. Aku sedang tak mau diganggu. Jadi, aku tak mau menerima tamu hari ini. Mengerti?"

"Mengerti, Pak!"

Ardan membukakan pintu pada Soraya.

Soraya melangkah masuk dan memandang ke sekeliling ruangan suaminya.

Ardan membimbing Soraya ke meja besar yang ada di ruangan itu.

"Kita makan siang sekarang ya!" katanya sambil mengambil rantang dari tangan Soraya.

Ardan membuka rantang dan menyiapkan di atas meja.

Soraya berjalan berkeliling dan berhenti di depan kaca yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit. Soraya melihat ke bawah, tampak arus lalu lintas yang memang sibuk di jam sekarang ini.

Kemudian Soraya melihat sebuah pintu. Soraya merasa penasaran dan membuka pintu itu. Ternyata sebuah kamar pribadi.

Apakah suaminya pernah membawa wanita lain kemari? Pikir Soraya sambil memperhatikan dengan cermat kamar tersebut.

Kamar yang cukup luas. Terdapat ranjang besar, lemari pakaian, dan sebuah cermin besar terpasang di salah satu dinding.

Dan sebuah pintu yang Soraya yakini adalah kamar mandi.

Ardan merangkul pinggang Soraya dan berbisik di dekat telinga Soraya, "Aku tak pernah membawa wanita kemari, jika itu yang ada dipikiranmu."

Soraya kaget. Bagaimana Ardan bisa mengetahui apa yang ada di pikiranku? Batin Soraya.

"Angel?" Soraya menyesali pertanyaan yang tak sengaja terlontar saat melihat ekspresi wajah Ardan yang mengeras mendengar nama wanita itu.

"Jangan sebut wanita ular itu lagi? Dan sejujurnya kukatakan padamu. Tak ada wanita yang pernah aku bawa masuk ke kamar pribadi ini. Ini hanya kamar untuk melepaskan lelah dan tempatku tidur saat aku harus lembur. Dan mungkin sekarang kamar ini akan jarang aku tempati." kata Ardan sambil merangkul pinggang Soraya dengan kedua tangannya. Posisi mereka menjadi berhadapan. Soraya mengalungkan tangan ke leher suaminya.

Soraya menatap mata Ardan dan melihat kejujuran di sana.

"Kenapa?"

Ardan memandang lembut istrinya.

"Karena aku akan memilih pulang menemui istriku tercinta daripada tidur sendirian di kamar ini."

Soraya tersipu mendengar perkataan Ardan.

"Bagaimana jika kau lembur?"

"Aku akan membawamu kemari dan kita akan tidur bersama di kamar itu."

"Dan aku harus menunggui dirimu yang lembur, begitu?" tanya Soraya sambil mendelik.

Ardan terkekeh.

"Tentu saja. Itu adalah resiko menjadi istri seorang pengusaha sepertiku." terdengar nada bangga dalam suaranya.

"Huh, itu terdengar menyebalkan." gumam Soraya, "tapi karena aku mencintaimu, bagaimana lagi. Jika memang harus begitu, aku bisa apa. Lebih baik aku menjaga suamiku ini dari para wanita yang kelaparan, kan!" sambungnya sambil mengedipkan sebelah mata.

"Hmm... Sepertinya ide ku tadi membuatku tak bisa melirik wanita lagi." kata Ardan seolah menyesal.

"Apa? Kau berani?" Soraya menatap dengan tajam.

"Tidak! Tentu saja tidak. Aku tak akan bermain wanita lagi. Kau bisa pegang janjiku." katanya sambil mengecup ubun-ubun Soraya.

Perasaan Soraya menghangat. Dia bahagia dengan perlakuan suaminya sekarang yang telah banyak berubah.

"Sudah? Yuk, kita makan!" katanya tanpa melepas rangkulannya.

Soraya dan Ardan duduk berhadapan. Soraya mengambilkan nasi dan lauk untuk Ardan, kemudian untuk dirinya sendiri.

"Mas .... "

"Hmm ... Ada apa?"

"Mmm ... Boleh aku menanyakan sesuatu?"

Ardan mengangguk sambil meneruskan makan.

Soraya membersihkan bibirnya dengan tisu, kemudian mereguk minumannya.

"Bagaimana jika aku hamil? Terakhir kita melakukannya, Mas tidak memakai pengaman. " tanya Soraya hati-hati.

Ardan minum sebelum menjawab pertanyaan Soraya. Kemudian dia menatap istrinya dan berkata, "Aku memang ingin menghamilimu."

Soraya terperangah mendengar jawaban Ardan. Rasa bahagia menelusup dalam dadanya.

"Tapi mengapa baru sekarang kau mau memiliki anak denganku?"

Ardan memandang Soraya dengan intens.

"Mami sudah cerita tentang trauma ku kan?"

Soraya mengangguk.

"Karena trauma itulah aku menolak untuk memiliki anak. Tapi itu dulu. Sekarang trauma itu sudah sembuh berkat dirimu. Karena itu aku tak mau kehilangan dirimu. Kau adalah obatku. Jadi, jangan berpikir untuk pergi dariku! Aku akan mengejar dirimu tak peduli ke mana pun kau pergi."

Tatapannya menajam, membuat Soraya ngeri sekaligus merasa berarti.

Soraya sendiri tidak mengerti, padahal perkataan Ardan sarat akan ancaman dan terdengar mengintimidasi. Namun dia justru merasa senang karena tersirat dirinya begitu penting dalam hidup seorang Ardan Hadisaputra.

Entahlah! Mungkin itulah yang dinamakan cinta. Mudah diucapkan namun sulit untuk dimengerti. Benar-benar tak masuk akal!

__________ Helna__________

Antoni keluar dari lift dan melangkahkan kaki ke ruangan Ardan tapi dicegah oleh Amel, sang sekretaris.

"Maaf, Pak! Anda tidak boleh masuk!"

"Mengapa? Kau kan tahu siapa aku, aku bukan tamu."

Amel merasa serba salah. Dia cukup mengenal Antoni yang merupakan sepupu bos, tapi tadi jelas sekali perintah Ardan agar tidak mengganggunya dan bos tidak menerima tamu.

"Maaf, Pak! Tadi Pak Ardan berpesan untuk tidak mengganggunya dan beliau sedang tak mau menerima tamu."

Antoni mengernyit.

"Apakah Ardan sedang bersama wanita?"

Amel mengangguk.

Sialan! Masih belum tobat tuh anak. Batin Antoni dengan geram.

Antoni segera melangkah ke pintu. Tangannya meraih handle pintu tapi dicegat oleh Amel.

"Tolong kerjasamanya, Pak! Saya tak mau kena marah bos." kata Amel memelas.

"Kamu tenang saja. Aku yang akan bertanggungjawab kalau Ardan marah." katanya sambil mendorong pintu.

Amel menjadi pucat dan lunglai, kembali ke kursinya dan duduk dengan cemas.

Mati aku kali ini, pikirnya.

Ardan dan Soraya sedang berdiri menghadap ke kaca sambil memperhatikan arus lalu lintas di bawah.

Ardan memeluk Soraya dari belakang dan menumpukan dagunya di bahu kiri Soraya.

Mereka asik berbicara sambil sesekali Ardan mencium pipi Soraya. Sehingga mereka tidak menyadari kedatangan Antoni.

Kemarahan yang tadi dirasakan Antoni perlahan mereda melihat aktivitas romantis di depannya.

Kebahagiaan mereka seakan menular kepada Antoni.

Antoni berdiri untuk beberapa saat memperhatikan pasangan yang sedang asik itu. Tiba-tiba ide jahilnya muncul. Dia tersenyum geli.

"Hai, sepupu! Lama tak jumpa."

Sapaannya mengejutkan Soraya dan Ardan. Soraya terlihat risih dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Ardan yang malah makin mengeratkan pelukannya.

"Mau apa kesini?"

"Hanya ingin tahu kabarmu. Apakah kalian akan segera berpisah? Karena aku sedang menunggu jandamu!"

Kata Antoni sambil mengedipkan sebelah mata pada Soraya, seakan menggodanya.

Ardan menggeram jengkel.

"Apakah populasi wanita sudah punah? Sehingga kau terus menerus mengejar istriku, huh!"

Ujung bibir Antoni berkedut, berusaha menahan tawa. Dia masih ingin mengerjai Ardan. Kapan lagi bisa membuat sepupunya itu seperti kucing kebakaran jenggot. Eh, emang kucing punya jenggot?

"Tapi aku maunya sama dia. Boleh ya, buat aku saja?"

Ardan merasa ubun-ubun nya sudah mulai berasap. Matanya menatap tajam pada Antoni seakan ingin mencabik-cabiknya.

Soraya yang merasa suasana sudah mulai panas segera menengahi.

"Sudah ... Sudah! Tak malu sama umur? Kalian ini seperti anak kecil yang sedang berebut mainan."

Ardan melepas pelukannya dan ingin menghampiri Antoni tapi di cegah oleh Soraya.

"Kenapa, sepupu? Kelihatannya kau marah sekali. Memangnya aku salah apa?" tanya Antoni dengan tengil.

"Belum sadar apa salahmu?"

Antoni menggeleng sambil mengangkat bahu dengan cuek.

Ardan merangkul pinggang Soraya posesif.

"Kau menggoda istriku. Dan aku tak suka karena aku cemburu!"

"Cemburu itu tanda cinta lho! Memangnya kamu mencintainya?"

Antoni seperti meragukan Ardan. Dan itu membuat Ardan semakin kesal.

"Iya ... Aku mencintainya! MENCINTAINYA! Kau puas? Jadi sekarang dan selamanya, jangan ganggu istriku lagi!"

Soraya terperangah mendengar pengakuan Ardan. Selama ini suaminya memang tak pernah menyatakan cinta padanya. Ardan hanya mengatakan membutuhkan dirinya dan tak dapat hidup tanpanya.

"Kau dengar itu, Soraya? Sekarang kau bisa yakin karena mendengar sendiri pengakuannya." kata Antoni puas.

Soraya menutup mulutnya karena kejutan ini begitu membahagiakan. Dadanya terasa membuncah. Air mata haru menetes di pipinya.

Akhirnya ... Akhirnya kau mencintaiku, Tuan Ardan Hadisaputra!

Bersambung ...

__________________________________

Like dan krisannya ya!

Jahil ya si Antoni?

Tapi aku suka. 🥰

Ini ngetik nya cepat2, mumpung si kecil lagi tidur.

Bagaimana dengan part ini? Suka?

Siap-siap untuk masuk konflik ya!

Siapkan hati dan tisu!

Huu... Huuu... Aku yang ga kuat! 😭😭😭

1
Ghiffari Zaka
iZhin mampir Thor🙏🙏🙏
Nelly oktavia
siapa yng bersma soraya
Nelly oktavia
banyak cerita yang belom terungkap
Nelly oktavia
ada pa ini semua rencana Soraya
Nelly oktavia
perpisahan itu membuat kamu bahgi lakukan
Siti Masitah
terlalu mudah luluh
Siti Masitah
trauma sih trauma tapi doyan ngelonte...
Siti Masitah
gitu aja....
Siti Masitah
q rasa soraya wanita yg sangaaat botol
Rehan Rehan
👍👍
Yenisia Afila
Datang2 ngaku nenek mau ambil hal selama ini gk ada konstribusi dlm hidupnya, dasar wanita edan
Wasdiah Mahfud
Kecewa
Raden Roro Natasya
aku punya temen persis dlm cerita ini, tp terbalik, papi nya asli brazil, maminya Tionghoa kelahiran Indonesia... wajah nya lbh ke Amerika latin dr pd ke Tionghoa... cakep kok dia muslim sekeluarga...
Rini Haryati
ceritanya keren
sukses
semangat
mksh
Dewi Kesumawati
tapi kamu tetap masih terlalu baik. karena siksaan itu tidak lama dirasakan marsha. hehe, sayang sekali
NAZERA ZIAN
aku mampir ya Thor. mampir juga di karya ku. "GADIS MASA LALU" Siapa tahu suka.. 😊😊🙏🙏
cocoms
bagus alur ceritanya
Fe☕
Done 💃
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor lnjjt
Sri Wahyuni
yg slah anak y yg d hancurkn perusahaan ortu y ga etis lah sm az jhat y mlah soraya kya iblis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!