NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CACA YANG SAKIT

Beberapa hari setelah kejadian dengan keluarga Wijaya, cuaca di kampung mulai berubah drastis.

Hujan deras mengguyur daerah sekitar selama tiga hari berturut-turut, membuat jalanan menjadi licin dan beberapa bagian kampung tergenang air. Suhu udara juga turun drastis, membuat banyak orang merasa tidak nyaman.

Caca yang biasanya selalu sehat dan aktif mulai merasa badan tidak enak sejak pagi hari. Dia mencoba tetap kuat karena dia harus membantu Mama Lila menyiapkan makanan untuk warga yang terdampak banjir, tapi tubuhnya semakin lemah dan kepalanya mulai pusing.

“Kamu tidak baik-baik saja kan, Caca?” tanya Rafi yang langsung menyadari bahwa ada yang salah dengan teman baiknya. “Kamu wajahnya pucat sekali dan badanmu terasa sangat panas kalau saya sentuh.”

“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit capek saja,” jawab Caca dengan suara yang lemah, mencoba untuk tersenyum namun tidak berhasil.

Namun tidak lama kemudian, Caca tidak bisa lagi menahan rasa tidak nyaman dan akhirnya jatuh pingsan di lantai dapur. Rafi segera menangkapnya dan memanggil bantuan dengan suara yang penuh kegelisahan.

“Bu! Ayah! Tolong cepat datang! Caca jatuh pingsan!” teriak Rafi dengan suara yang mulai bergetar karena khawatir.

Mama Lila dan Pak Bara segera datang dan membantu membawa Caca ke kamar tidur. Mereka segera memanggil dokter yang tinggal di dekat kampung, yang datang dalam waktu singkat dengan membawa peralatan medisnya.

“Dia mengalami demam tinggi akibat terlalu capek dan terpapar udara dingin yang ekstrem,” ujar dokter setelah memeriksa Caca. “Dia perlu beristirahat dengan cukup dan minum obat secara teratur. Jangan biarkan dia terlalu banyak bekerja sampai kondisinya benar-benar pulih.”

Setelah dokter pergi dan memberikan obat-obatan yang diperlukan, Rafi tidak mau meninggalkan sisi Caca sama sekali.

Dia duduk di samping ranjang tidur Caca, mengelus dahinya dengan lembut dan memberikan air hangat setiap kali Caca merasa haus.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah tidak enak badan?” tanya Rafi dengan suara penuh rasa sayang dan sedikit kesal. “Kamu tidak perlu selalu kuat dan tidak mau mengganggu orang lain.”

Caca membuka mata dengan susah payah dan melihat Rafi dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tidak mau mengganggu semua orang. Ada begitu banyak hal yang harus dilakukan untuk membantu warga yang terdampak banjir.”

“Kesehatanmu lebih penting dari segalanya,” jawab Rafi dengan lembut. “Tanpamu, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kamu adalah kekuatan dalam diriku, Caca.”

Selama beberapa hari berikutnya, Caca harus beristirahat di rumah. Mama Lila dan Bu Siti terus merawatnya dengan penuh perhatian, memberikan makanan bergizi dan obat-obatan secara teratur.

Rafi datang menjenguknya setiap hari setelah selesai membantu pekerjaan di kampung, seringkali membawa buku cerita untuk dibacakan atau bunga segar dari taman belakang rumahnya.

Warga kampung juga tidak tinggal diam. Mereka datang satu per satu untuk memberikan dukungan dan membawa makanan yang bisa membantu Caca pulih dengan cepat.

Ada yang membawa bubur ayam, sup sayuran hangat, bahkan kue yang dibuat sendiri dengan cinta.

“Kamu adalah orang yang sangat berarti bagi kita semua, Caca,” ujar Bu Siti saat memberinya makan sup hangat. “Kamu selalu siap membantu orang lain tanpa pamrih. Sekarang giliran kita untuk membantu kamu.”

Pada hari kelima Caca sakit, dia akhirnya bisa bangun dan duduk di kursi dekat jendela. Cuaca sudah mulai membaik dan matahari mulai bersinar kembali di langit kampung.

Rafi datang dengan membawa sebuah bunga mawar merah yang cantik – yang pertama kalinya dia berikan pada Caca.

“Untuk kamu,” ujar Rafi dengan sedikit malu saat memberikannya. “Semoga kamu segera pulih dan bisa kembali bermain bersama kita seperti dulu.”

Caca menerima bunga dengan senyum lebar. “Terima kasih, Rafi. Aku sudah merindukan kamu dan semua orang. Aku tidak sabar untuk segera pulih dan kembali membantu pekerjaan di kampung.”

“Sabar saja ya,” ujar Rafi dengan lembut. “Kita sudah menangani semua pekerjaan di sana. Yang penting kamu benar-benar pulih dengan baik.”

Saat itu Pak Bara datang dengan membawa sebuah kotak kecil. Di dalam kotak itu ada sebuah kalung dengan liontin bentuk bunga yang terbuat dari perak. “Ini untukmu, Caca,” ujar Pak Bara dengan senyum. “Sebagai tanda bahwa kamu adalah bagian penting dari keluarga kita. Kita berharap kamu selalu sehat dan bahagia.”

Caca merasa sangat terharu. Dia mengenakan kalung itu dengan hati-hati dan berterima kasih kepada Pak Bara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!