NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Wajah Baru di Medan Lama

Gaun itu bukan sekadar pakaian; itu adalah baju zirah. Kain satin hitam pekat membalut tubuh Alana dengan presisi yang menakutkan, tanpa renda, tanpa payet berkilauan yang norak. Potongannya tajam, mempertegas bahu dan punggung tegak yang selama sebulan terakhir ia latih untuk tidak membungkuk di hadapan nasib.

Di pantulan cermin apartemen yang disewa atas nama perusahaan Elang, Alana nyaris tidak mengenali wanita yang menatapnya balik. Rambutnya yang biasa digerai berantakan kini disanggul modern, menyisakan leher jenjangnya terekspos, bersih dari kalung apapun. Ia tidak butuh perhiasan. Kehadirannya malam ini adalah pernyataan, bukan hiasan.

"Mbak Alana..." Rini berdiri di ambang pintu kamar, memegang tas tangan kecil berwarna perak. Matanya berkaca-kaca. "Mbak kelihatan... beda. Bukan cuma bajunya. Tapi tatapannya."

Alana mengambil tas itu, lalu memasukkan satu benda paling penting malam ini: kartu nama baru yang baru selesai dicetak tadi sore. Tinta emas di atas kertas hitam 300 gram. Terasa berat dan tajam di ujung jari.

"Anak cengeng yang dulu menangis di dapurmu sudah mati, Mbak Rini," ujar Alana datar, memulas lipstik merah gelap di bibirnya. "Malam ini, kita jualan. Pastikan berkas penawaran untuk Blue Coral Resort sudah masuk ke email panitia tender sebelum pukul sembilan."

Rini mengangguk tegas, mode kerjanya kembali aktif. "Siap, Bu Alana. Sudah terkirim lima menit lalu."

Suara bel pintu memecah keheningan. Elang sudah menunggu.

***

Ballroom Hotel Mulia berdengung oleh suara percakapan sopan yang menyembunyikan ribuan kepentingan. Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma parfum mahal dan amisnya ambisi. Ini adalah habitat asli Hendra Wardhana, tempat di mana kesepakatan miliaran rupiah dibuat di antara denting gelas kristal, sementara moralitas ditinggalkan di pintu masuk bersama tiket valet parking.

Alana melangkah masuk, lengannya terkait longgar di lengan Elang Pradipta. Elang mengenakan tuksedo abu-abu gelap yang membuatnya terlihat seperti hiu di antara kumpulan ikan mas koki. Pria itu tidak tersenyum, matanya memindai ruangan dengan kalkulasi dingin.

"Ingat posisimu," bisik Elang tanpa menoleh, bibirnya nyaris tak bergerak. "Kamu bukan lagi putri terbuang yang mencari pengakuan ayah. Kamu adalah mitra strategis Sagara Group. Jangan gemetar."

"Aku tidak gemetar," balas Alana. Dan itu benar. Jantungnya memang berdegup kencang, tapi tangannya stabil. Rasa takut yang dulu melumpuhkannya kini telah memadat menjadi bahan bakar.

Kehadiran mereka segera menarik perhatian. Bisik-bisik mulai terdengar seperti desis ular di rumput kering. Alana bisa mendengar potongan kalimat mereka: "Itu anaknya Hendra, kan?", "Katanya narkoba?", "Kok sama Elang Pradipta?", "Bukannya sudah diusir?"

Alana mengangkat dagunya, menatap lurus ke depan. Di sana, di dekat panggung utama, berdiri pasangan emas malam itu. Hendra Wardhana, tampak gagah namun gurat kelelahan di matanya tak bisa disembunyikan oleh botox, sedang tertawa menanggapi lelucon seorang pejabat bank. Di sebelahnya, Siska.

Siska mengenakan gaun merah menyala dengan belahan dada rendah, penuh payet berkilau yang memantulkan cahaya lampu gantung. Di lehernya melingkar kalung berlian yang Alana kenali dari brankas ibunya—perhiasan yang dulu Hendra bilang "hilang" saat pindahan. Darah Alana mendidih, tapi wajahnya tetap sedingin marmer.

Siska adalah orang pertama yang menyadari kehadiran mereka. Tawanya terhenti di tengah jalan. Gelas *wine* di tangannya miring sedikit, nyaris menumpahkan isinya. Ia menyenggol lengan Hendra, membisikkan sesuatu dengan panik.

Hendra menoleh. Matanya membelalak saat melihat putrinya berdiri di samping musuh bisnis terbesarnya.

"Ayo," kata Elang, menarik Alana maju. "Waktunya menyapa tuan rumah."

Langkah mereka membelah kerumunan. Alana merasakan tatapan orang-orang membakar punggungnya, tapi ia fokus pada satu titik: wajah Siska yang berubah dari kaget menjadi meremehkan.

"Wah, wah," Siska menyambut mereka lebih dulu, suaranya sengaja dikeraskan agar orang di sekitar bisa mendengar. "Tamu tak diundang datang juga. Mas Hendra, kok anakmu yang 'sakit' ini bisa lolos keamanan? Saya kira rehabilitasinya belum selesai."

Serangan langsung. Siska memainkan narasi 'anak pecandu' untuk mendiskreditkan Alana di depan publik. Beberapa tamu menutup mulut, menahan tawa atau rasa kaget.

Hendra menatap Alana dengan jijik. "Ngapain kamu di sini? Pulang. Jangan bikin malu saya lagi. Kamu nggak punya uang untuk berada di ruangan ini."

Alana melepaskan kaitan tangannya dari Elang. Ia berdiri tegak, tingginya setara dengan Siska berkat sepatu hak tingginya. Ia tidak menunduk, tidak memohon, dan tidak menangis.

"Selamat malam, Pak Hendra. Ibu Siska," sapa Alana dengan nada formal yang membekukan suasana. "Saya rasa ada kesalahpahaman. Saya hadir di sini bukan sebagai anak Bapak, dan jelas bukan untuk meminta uang saku."

Alana memberi isyarat pada pelayan yang lewat, mengambil segelas air mineral dengan santai, lalu kembali menatap ayahnya.

"Saya di sini mewakili Terra Architecture, firma yang baru saja mengajukan penawaran untuk desain ulang interior Blue Coral Resort di Bali. Kebetulan Pak Elang adalah investor utama kami."

Hening sejenak. Hendra menatap Elang dengan rahang mengeras. "Elang... kamu memungut sampah saya untuk melawan saya?"

Elang tersenyum tipis, sangat tipis. "Sampah bagi satu orang adalah harta bagi orang lain, Pak Hendra. Dan Alana bukan sampah. Dia arsitek yang brilian. Saya sudah melihat portofolionya."

Siska tertawa remeh, mencoba menguasai kembali situasi. "Arsitek? Alana, kamu itu lulusan baru yang bahkan nggak becus ngurus rumah sendiri. Terra Architecture? Kantornya di mana? Di kolong jembatan?"

Alana tersenyum. Senyum yang tidak mencapai mata, senyum yang ia pelajari dari Siska sendiri. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah mantan sahabatnya itu, melanggar ruang pribadi Siska.

"Kantor kami sederhana, Siska. Tapi setidaknya, kami transparan," ujar Alana, suaranya pelan namun tajam, cukup keras untuk didengar oleh Hendra dan beberapa pengusaha di lingkaran terdekat mereka. "Kami tidak perlu melakukan *mark-up* harga marmer Italia hingga tiga ratus persen seperti yang dilakukan vendor interior petahana. Marmer Carrara palsu buatan lokal yang diklaim impor itu... kalau Bapak Hendra tahu margin keuntungannya lari ke rekening siapa, mungkin beliau akan berpikir ulang tentang efisiensi perusahaan."

Wajah Siska memucat drastis. Warna merah di pipinya lenyap seketika. Ia tahu persis apa yang dimaksud Alana. Proyek renovasi lobi kantor Wardhana bulan lalu menggunakan marmer palsu lewat PT. Cipta Karya Semesta, dan selisih dananya masuk ke tas Hermes yang sedang dijinjingnya sekarang.

Hendra mengernyit, menatap Siska sekilas, lalu kembali ke Alana dengan tatapan curiga. "Apa maksudmu?"

"Hanya observasi profesional, Pak," Alana memotong cepat, lalu membuka tas kecilnya. Ia mengeluarkan kartu nama hitam-emas itu. Dengan gerakan luwes, ia menyelipkannya ke saku jas Hendra, tepat di atas jantungnya.

"Cek email tender besok pagi. Penawaran kami tiga puluh persen lebih efisien dengan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Bisnis adalah bisnis, bukan begitu, Pak?"

Alana mundur selangkah, kembali ke sisi Elang. Ia melihat tangan Siska gemetar memegang gelas *wine*. Kemenangan kecil itu terasa manis, lebih manis dari sampanye manapun.

"Permisi," ujar Alana. "Kami masih harus menyapa klien lain yang lebih menghargai integritas."

Tanpa menunggu jawaban, Alana berbalik. Elang menuntunnya menjauh dari pasangan Wardhana yang kini tampak kaku.

Begitu mereka mencapai sisi lain ruangan yang lebih sepi, dekat pintu balkon, Elang berhenti. Ia menatap Alana lekat-lekat.

"Tadi itu..." Elang memulai.

Alana menahan napas, takut ia terlalu agresif. "Terlalu kasar?"

"Efektif," koreksi Elang. Ada kilatan apresiasi di matanya. "Kamu melihat wajah Siska? Dia ketakutan. Kamu memegang kartu yang dia tidak tahu kamu miliki. Itu taktik yang bagus."

Alana menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. Adrenalin mulai surut, digantikan oleh rasa lelah yang tiba-tiba. Tangannya yang memegang gelas air mineral sedikit gemetar.

"Dia memakai kalung Ibuku," bisik Alana, suaranya bergetar. "Dia berdiri di sana, di samping Ayahku, memakai kalung wanita yang sudah dia hancurkan hidupnya."

Elang mengambil gelas dari tangan Alana dan meletakkannya di meja cocktail. Ia tidak menawarkan pelukan atau kata-kata manis. Ia menawarkan realitas.

"Maka ambil kembali," kata Elang dingin. "Bukan dengan memintanya, Alana. Tapi dengan membeli seluruh gedung tempat dia berdiri, sampai dia tidak punya pilihan selain menjual kalung itu untuk makan. Kita baru saja mulai. Jangan biarkan emosi membuatmu lengah sekarang."

Alana menatap Elang, lalu mengangguk. Pria itu benar. Kemarahan adalah energi, tapi dendam membutuhkan strategi. Malam ini, ia telah menancapkan bendera perang. Ayahnya tidak lagi melihatnya sebagai anak yang merengek, melainkan sebagai ancaman. Dan Siska... Siska kini tahu bahwa Alana memiliki gigi taring.

"Ayo," kata Alana, menegakkan kembali punggungnya. "Kenalkan aku pada pemilik rantai hotel yang ada di pojok sana. Kita butuh proyek kedua."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!