Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24.Perkelahian yang tak seharusnya.
Malam turun lebih cepat di Perbatasan Timur.
Langit menggelap seperti tinta yang ditumpahkan perlahan di atas cakrawala. Angin musim dingin berdesir di antara pepohonan, membawa suara daun kering yang saling bergesekan pelan seperti bisikan rahasia.
Yun Lan bergerak.
Cepat.
Hampir tak terdengar.
Ilmu meringankan tubuh yang ia pelajari dari Yun membuat langkahnya seperti bayangan yang meluncur di atas batu dan akar pohon. Air sungai yang masih menetes dari ujung rambutnya tidak lagi terasa dingin. Tubuhnya kini digerakkan oleh sesuatu yang jauh lebih kuat daripada rasa beku.
Amarah.
Dan kewaspadaan.
Di depan sana, siluet pria itu mundur perlahan di balik semak. Ia belum pergi jauh.
Masih di sana.
Masih terlalu dekat.
Pedang Yun Lan terangkat tanpa suara. Matanya menyipit, tajam seperti bilah baja yang ia genggam.
Tak ada kata.
Tak ada peringatan.
Begitu jarak cukup dekat, Yun Lan langsung menyerang.
Gerakannya secepat kilat.
Bilah pedangnya menyapu udara dengan desisan halus, mengarah lurus ke bahu pria itu.
Hong Lin nyaris tak sempat berpikir.
Naluri prajuritnya bekerja lebih dulu.
Tangannya sudah mencabut pedang sebelum pikirannya menyusul. Bunyi baja beradu memecah sunyi malam.
Tang!
Percikan kecil api menyala di antara dua bilah pedang yang saling menahan.
Hong Lin terkejut.
Bukan karena serangannya.
Tapi karena kecepatan orang yang menyerangnya.
“Maaf!” ucapnya refleks, sambil mendorong balik pedang Yun Lan menjauh dari tubuhnya.
Yun Lan tidak menjawab.
Ia menyerang lagi.
Kali ini dari samping, rendah, mengarah ke paha.
Hong Lin meloncat mundur, menahan napas. Serangan itu terlalu presisi untuk sekadar orang yang marah. Ini gerakan terlatih. Terukur. Mematikan.
“Maafkan aku!” katanya lagi, kali ini dengan suara lebih tegang.
Bukan nada meremehkan.
Bukan nada mengejek.
Benar-benar… meminta maaf.
Hong lin tidak di berikan kesempatan untuk menjelaskan.
Tapi tangannya tidak ragu menangkis dan membalas.
Dua pedang menari di bawah cahaya bulan yang pucat.
Bilah bertemu bilah.
Gerakan cepat.
Napas berat.
Langkah kaki di atas tanah basah yang licin.
Yun Lan memanfaatkan gelap.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Rambut basahnya menempel di punggung.
Pakaian dalam tipis yang tertutup pakaian latihan basah membuat gerakannya ringan, luwes, hampir seperti bayangan.
Ia menyerang tanpa suara, tanpa teriakan.
Aku tidak akan membiarkan orang kurang ajar ini hidup, pikir Yun lan.
Setiap tebasan yang di berikan Yun lan membawa kemarahan yang dingin.
Hong Lin mulai menyadari sesuatu.
Lawan ini… bukan orang biasa.
Bukan wanita desa.
Bukan wanita sembarangan.
Gerakannya terlalu bersih.
Terlalu efisien.
Terlalu… berbahaya.
Ia menahan satu tebasan lagi.
Tangannya mulai kebas.
“Berhenti! Aku tidak berniat—”
Yun Lan memutar tubuhnya, pedang menyapu dari atas, memaksa Hong Lin mundur lagi.
Ia tidak ingin mendengar.
Tidak peduli.
Yang ia tahu hanya satu hal orang ini telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat.
Dan itu tidak bisa dibiarkan.
Hong Lin menyadari lawannya sengaja mendorongnya ke arah pohon-pohon besar.
Ke tempat yang lebih gelap.
Ke tempat yang lebih sempit.
Ia mencoba membaca gerakan Yun Lan.
Tapi setiap kali ia mencoba menebak, Yun Lan sudah berada satu langkah di depan.
Serangan datang dari sudut yang tak terduga.
Langkah kaki nyaris tak terdengar.
Ilmu meringankan tubuh itu membuat Yun Lan seperti bayangan malam.
Hong Lin mulai terdesak.
Bukan karena kalah.
Tapi karena ia terus menahan diri.
Ia tidak ingin melukai orang ini.
Ia tidak mau melawan seorang wanita.
Tapi ada sesuatu dalam gerakan lawannya yang membuatnya ragu untuk menyerang penuh.
Saat pedang mereka kembali beradu keras, sesuatu terlepas dari pakaian Hong Lin.
Benda kecil dari logam itu terlempar ke tanah.
Tak ada yang menyadari.
Pertarungan terus berlanjut.
Yun Lan menyerang dari kanan.
Hong Lin menangkis, melangkah ke samping.
Kakinya menggeser tanah.
Dan—
Krek.
Kaki Yun Lan menginjak benda logam itu.
Keras.
Bunyinya berbeda.
Refleks, Yun Lan melirik ke bawah.
Dalam sepersekian detik itu, matanya menangkap kilau yang sangat ia kenal.
Lencana.
Lencana dengan lambang yang sama persis seperti yang dipakai Komandan Zhou di dada kirinya.
Simbol kepemimpinan perbatasan.
Darah Yun Lan seperti berhenti mengalir.
Tangannya yang terangkat untuk menyerang berikutnya tertahan.
Pikirannya berputar cepat.
Orang ini bukan orang sembarangan.
Bukan pria hidung belang.
Bukan orang yang bisa ia lukai seenaknya.
Ini seseorang dari lingkaran komando.
Seseorang yang… salah sasaran.
Salah orang.
Dalam sepersekian detik kebekuan itu, Hong Lin melihat kesempatan.
Ia melangkah maju.
“Dengarkan—”
Tapi Yun Lan sudah mengambil keputusan.
Cepat.
Tepat.
Ia mengayun pedangnya bukan untuk menyerang, tapi untuk memancing.
Gerakan besar yang memaksa Hong Lin menangkis dengan kuat.
Tang!
Percikan api kembali menyala.
Yun Lan memutar tubuhnya.
Ilmu meringankan tubuhnya bekerja lagi.
Ia menghilang dari depan Hong Lin.
Dan muncul di samping kirinya.
Sebelum Hong Lin sempat memutar badan, tangan kosong Yun Lan sudah bergerak.
Cepat.
Tepat di belakang leher.
Pukulan titik lemah yang ia pelajari untuk melumpuhkan lawan.
Tidak mematikan.
Tapi cukup untuk membuat seseorang kehilangan kesadaran.
Tubuh Hong Lin langsung lemas.
Pedangnya jatuh dari tangan.
Matanya terbelalak sesaat, lalu gelap.
Tubuh tinggi itu roboh perlahan ke tanah.
Yun Lan berdiri terengah.
Napasnya berat.
Bukan karena lelah.
Tapi karena adrenalin yang masih bergemuruh di dadanya.
Ia menatap pria yang kini tak berdaya itu.
Rasa bersalah muncul seperti gelombang yang datang terlambat.
“Bodoh…” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
Ia berlutut.
Memeriksa napas Hong Lin.
Masih stabil.
Hanya pingsan.
Yun Lan menghela napas panjang.
Ia meraih lencana yang terinjak tadi.
Membersihkannya dengan ujung pakaiannya yang basah.
Lambang itu kini terlihat jelas di bawah cahaya bulan.
Tak salah lagi.
Ini orang penting.
Sangat penting.
Dengan hati-hati, Yun Lan menyeret tubuh Hong Lin ke dekat pohon besar.
Menyandarkannya di batang yang kokoh.
Ia menaruh kembali lencana itu di pakaian Hong Lin, tepat di tempat seharusnya.
Tangannya berhenti sebentar.
Menatap wajah pria itu.
Dalam keadaan pingsan, wajah Hong Lin terlihat jauh lebih muda.
Lebih tenang.
Tidak setegang saat bertarung tadi.
Dan entah kenapa, itu membuat dada Yun Lan terasa lebih sesak.
Ia tidak bermaksud sejauh ini.
Ia hanya ingin melindungi rahasianya.
Bukan melukai orang yang tidak tahu apa-apa.
“Maaf…” gumamnya sangat pelan.
Lalu ia bangkit.
Tanpa menoleh lagi.
Ilmu meringankan tubuhnya kembali bekerja.
Dalam beberapa detik, sosoknya sudah lenyap di antara pepohonan.
Meninggalkan Hong Lin sendirian di bawah cahaya bulan.
Malam kembali sunyi.
Seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Yun lan salah memilih lawan, dan untungnya dirinya tidak bersuara maupun bisa menyembunyikan wajahnya di kegelapan malam.
Pertarungan malam itu tidak seharusnya terjadi, Yun lan pun kembali ke kamp perbatasan timur dan bersikap tidak pernah terjadi apapun.