"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Hari Libur sang Pengantin Jauh
Di Antara Rindu dan Kitab yang Tertutup
Tiada kuliah, tiada pula sujud yang kau tunaikan,
Hanya ada waktu luang yang kini kau habiskan.
Masa libur dan masa halangan datang beriringan,
Menjadikan harimu penuh dengan angan-angan.
Di sana kau bebas merajut mimpi di balik bantal,
Sedang di sini aku menanti, dengan debar yang tak lagi dangkal.Biar jauh, biar jarak benua tetap membentang,Namamu selalu kusebut, dari fajar hingga petang.
Setelah drama "Mas ikut ke kamar mandi" yang sukses membuat jantungnya hampir copot, Bungah kembali ke kamarnya dengan wajah yang masih terasa hangat. Ia segera meraih ponselnya dan mendapati Zidan masih setia menunggu di layar, meskipun pria itu sekarang sudah mengganti jas akadnya dengan koko santai dan sarung.
Bungah merebahkan tubuhnya kembali ke kasur, memeluk guling erat-erat sambil menatap layar.
"Sudah selesai?" tanya Zidan dengan nada lembut, tidak ada lagi nada menggoda seperti tadi, hanya ada perhatian yang tulus.
"Sudah, Mas... Mas sih, pagi-pagi sudah buat orang jantungan," gerutu Bungah sambil mengerucutkan bibirnya.
Zidan tersenyum tipis. "Maaf ya. Habisnya, melihat kamu panik itu salah satu hobi baru Mas sekarang. Oh iya, jadwal kuliahmu hari ini bagaimana? Jam berapa berangkat?"
Bungah menggelengkan kepalanya di atas bantal. "Hari ini libur, Mas. Semesteran sudah beres, tinggal nunggu jadwal ujian akhir beberapa minggu lagi. Dan kebetulan... Adek juga lagi halangan, jadi nggak perlu ke masjid atau buru-buru bangun buat Subuhan."
Zidan manggut-manggut. "Berarti hari ini benar-benar bebas?"
"Nggih, Mas. Rencananya Adek cuma mau tidur-tiduran saja di kamar, paling nanti masak mi instan atau beli koshary di depan asrama. Malas keluar, hawanya lagi dingin banget di Kairo."
Zidan terdiam sejenak, menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur karena Bungah bisa beristirahat, namun ada sedikit rasa cemburu pada bantal yang bisa memeluk istrinya sepanjang hari.
"Enak ya yang lagi libur," ucap Zidan pura-pura iri. "Mas di sini malah harus bersiap menyalami tamu lagi. Setelah ini ada acara ramah tamah keluarga besar di rumah utama. Mas harus tampil 'alim' lagi, padahal pengennya temani kamu video call sampai siang."
Bungah tertawa renyah. "Kasihan suamiku. Ya sudah, Mas pergi saja dulu, jangan sampai dicariin Bunda. Nanti Bunda curiga kalau Gus Zidan hilang lagi."
"Bunda sudah tahu kalau Mas lagi sama kamu, Dek. Beliau tadi cuma lewat depan kamar sambil senyum-senyum," jawab Zidan. Ia lalu membenahi posisi duduknya. "Tapi janji ya, meskipun libur, jangan lupa makan. Mas nggak mau kalau nanti jemput kamu di bandara, kamu malah makin kurus."
"Iya, Mas Zidan sayang..." sahut Bungah tanpa sadar.
Begitu kata "sayang" itu keluar, Bungah langsung menutup mulutnya dengan guling. Ia lupa kalau sekarang ia sudah punya hak untuk memanggil Zidan begitu.
Zidan yang mendengar itu mendadak terdiam. Ia memejamkan matanya sejenak, seolah sedang menikmati alunan musik yang paling indah. "Panggil lagi, Dek. Mas belum siap dengar tadi."
"Nggak mau! Mas pergi sana, sudah ditunggu tamu!" seru Bungah malu-malu.
Zidan akhirnya menyerah. "Baiklah, Mas pamit dulu. Istirahat yang cukup ya, Istriku. Nanti kalau senggang, Mas telepon lagi. Fi amanillah."
"Fi amanillah, Mas..."
Setelah layar ponsel mati, Bungah menatap langit-langit kamarnya dengan senyum yang tak kunjung padam. Hari libur ini terasa sangat berbeda. Meskipun ia sendirian di Kairo, ia tahu bahwa di sebuah pesantren di Jawa Timur, ada seorang pria yang hatinya selalu tertinggal di kamarnya