Surat keterangan infertil dari rumah sakit, membuat hidup Anyelir seketika hancur. Tidak ada kebanggaan lagi pada dirinya karena kekurangan tersebut. Namun sebuah kesalahan semalam bersama atasannya, membuat dia hamil. Mungkinkah seorang wanita yang sudah dinyatakan mandul, bisa punya anak? Atau ada sebuah kesalahan dari surat keterangan rumah sakit tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATM BAB 8
"Masuk!" ucap Sagara dari dalam saat mendengar pintu ruangannya diketuk. Bibirnya mengulum senyum, sudah bisa menebak siapa yang datang.
"Permisi, Pak," ucap Anye setelah menutup pintu kembali. Dia berjalan ke arah meja kerja Sagara. "Ini berkas yang Bapak minta," ia meletakkan map yang diberi Dirga ke atas meja.
"Apa kabar?" Sagara mengangkat wajah, menatap Anye.
"Alhamdulillah, baik," sahut Anye sambil tersenyum meski sedikit dipaksakan. Tatapan Sagara, membuat dia grogi. "Permi_"
"Kenapa harus buru-buru sih?" potong Sagara, tersenyum sambil memainkan pena yang terselip di jemarinya. "Kamu gak kangen sama aku?"
Anye memutar kedua bola matanya malas. "Sepertinya urusan saya disini su_"
"Belum," potong Sagara sekali lagi. "Belum selesai," laki-laki itu berdiri, berjalan mendekati Anye. Anye yang grogi, mundur selangkah, menjauh dari Sagara. "Masih banyak yang harus kita bicarakan. Aku kangen sama kamu, Nye."
Anyelir menghela nafas berat. "Bisa gak, gak usah bahas masalah pribadi. Ini kantor."
Sagara melihat jam tangannya. "Ya udah, kita makan siang di luar sebentar lagi, biar bisa ngobrol hal di luar pekerjaan."
"Maaf, saya gak bisa," tolak Anye.
"Aku bos loh disini."
Entah apa maksud kalimat tadi, tapi itu membuat Anye muak. "Kamu tetap aja gak berubah, pemaksa."
"Masa sih?" Sagara mendudukkan bokongnya di sudut meja, tersenyum menatap Anye. "Kamu masih sama, Nye, cantik kayak dulu."
"Tolong jangan ganggu aku, aku udah nikah."
Sagara tersenyum getir, ia sudah tahu tentang itu. Beberapa saat yang lalu, dia sudah meminta Dion mencari data diri Anyelir. Tentu bukan hal yang sulit mengingat Anye adalah karyawan disini. Dari biodata tersebut, dia tahu kalau Anye sudah menikah.
"Kamu tahu, Nye, kesalahan terbesar aku, adalah melepas kamu waktu itu. Aku nyesel, Nye. Aku gak bisa move on dari kamu."
Anyelir tersenyum kecut. "Kamu fikir aku percaya? Enggak!" bersedekap sambil tersenyum simpul. "Aku gak akan percaya sama mulut buaya kayak kamu. Playboy, tukang selingkuh."
"Aku udah insaf."
"Baguslah kalau begitu, biar gak ada lagi wanita yang jadi korban kamu kayak aku dulu. Sepertinya obrolan kita sudah terlalu jauh dari pekerjaan. Permisi." Anye langsung balik badan, berjalan menuju pintu.
"Nye, Anye, Anyelir!"
Anye tak menggubris panggilan tersebut meski itu dari pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan ini. Rasanya lega sekali setelah berhasil keluar dari ruangan pria itu. Ia berjalan cepat kembali ke kubikel kerjanya, menjatuhkan bobot tubuh di kursi sambil membuang nafas kasar. Ingin menjadikan kerja sebagai pelarian dari masalah rumah tangga, tapi disini malah muncul masalah baru, Gara alias Sagara.
Flashback on
"Nanti pas wisuda kamu, aku boleh datang gak?" tanya Anye saat makan siang di sebuah kafe bersama Sagara. Hari-harinya di Jakarta, terasa lebih menyenangkan sejak dia kenal dengan Sagara.
"Undangan hanya untuk dua orang, orang tua aku aja," sahut Sagara yang duduk tepat di depannya, namun tak menatapnya, malah asyik dengan ponsel. Jemarinya bergerak luwes, mirip orang yang sedang chatingan.
Anye menghela nafas panjang. "Ya gak masuk ke Aula, cuma nunggu kamu di luar. Aku pengen foto sama kamu saat pakai toga. Pengen juga ngerasain vibes nya wisuda. Tahun depankan insyaallah aku juga wisuda."
"Kalau cuma foto, nanti sepulang dari wisuda, aku samperin kamu di kosan, kita foto-foto bareng," Sagara menyahut santai.
Anye tertunduk lesu, sedih dengan penolakan Sagara. Padahal sebenarnya selain foto, dia ingin kenalan dengan orang tua laki-laki itu. Ia berharap, hubungannya dengan Sagara, bisa lebih jauh lagi hingga pernikahan. "Kamu gak pengen ngenalin aku ke orang tua kamu ya? Kita udah hampir setahun loh jadian."
"Nantilah, kapan-kapan," Sagara menyeruput lattenya. Dia memang tidak makan, hanya ngopi sambil menemani Anye yang katanya lapar.
"Kapan-kapan itu kapan?"
Sagara menghela nafas berat, mengalihkan pandangan dari ponsel pada Anyelir. "Nanti ya," ia menggenggam tangan Anye yang ada di atas meja. "Belum saatnya."
"Kamu, pernah gak kepikiran untuk nikah muda?" Anye iseng bertanya. Dia belum pernah sejatuh cinta ini pada laki-laki, bahkan saking cintanya, dia sampai kepikiran untuk nikah muda. Sagara sudah lulus, sedangkan dia tahun depan.
"Enggak sih."
Jawaban Sagara membuat Anye tertunduk lesu, semangatnya seketika hilang.
"Aku mau kerja sambil lanjut S2," ujar Sagara.
Anye berdecak kesal karena sejak tadi, Sagara sama sekali tidak melihat ke arahnya. "Ga, bisa gak sih, kalau sama aku itu fokus, jangan main HP mulu."
"Gitu ya," Sagara tersenyum simpul, meletakkan ponsel yang ada di tangan kirinya ke atas meja.
"Yang di HP, menarik banget ya?" Anye mendengus kesal.
"Apaan sih," Sagara menggenggam tangan Anye yang ada di atas meja. "Sama HP aja cemburu. Kamu yang paling menarik di mataku, Nye."
"Halah, gombal mulu kamu," Anye memutar kedua bola matanya malas.
"Udah dong, jangan cemberut." Sagara menarik piring makanan Anye ke arahnya. "Aku suapin ya." Namun baru saja satu suapan masuk ke mulut Anye, ponsel di depan Sagara menyala dan bergetar, ada panggilan masuk.
"Siapa yang telepon?" Anye menatap curiga. Sagara terlalu cepat meraih benda tersebut, membuat dia tak bisa melihat gambar atau nama kontak yang memanggil.
"Teman, bentar ya," Sagara beranjak dari duduknya, hendak menjauh dari meja tapi lengannya di tahan Anye.
"Jawab disini aja." Sebenarnya Anye sudah curiga kalau Sagara selingkuh. Cowok itu sering ke gap chatingan sambil senyum-senyum, bikin dia curiga. "Bia ya, yang telepon?"
"Bi-Bia siapa?" Sagara seketika gugup saat tebakan Anye sangat tepat. Tapi yang jadi masalah, darimana Anye tahu tentang Bia.
sebenarnya robby suami yang baik dan bertanggung jawab, tapi karena kebohongannya yang menjadikan posisi anye jadi bulan2nan hinaan keluarga robby, sedang robby sebagai suami selama ini juga lemahhh...tak tegas dalam melindungi istrinya dan sekarang saat anye minta cerai, robby ingin bertahan...kebohonganmu yang akan membuat anye pergi darimu Rob...