Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Ponsel yang Tertinggal
Pagi itu, suasana kelas Manajemen Internasional terasa lebih pengap dari biasanya. Meski AC sudah diatur ke suhu terendah, ketegangan yang dibawa oleh Jordan Abraham tetap mampu membuat seisi ruangan merasa gerah. Jordan masuk dengan langkah tegap, mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya, kontras dengan kulit wajahnya yang tampak lebih segar mungkin karena kejadian di jembatan semalam.
Di barisan ketiga, Airin duduk dengan gelisah. Hari ini ia mengenakan dress motif bunga tulip kecil berwarna kuning pucat. Rambutnya diikat setengah, menyisakan keriting gantungnya yang indah di bagian bawah. Ia terus menunduk, mencoba fokus pada buku catatannya, namun pikirannya terus melayang pada sentuhan bibir Jordan di punggung tangannya semalam.
Jordan mulai menjelaskan materi tentang Global Supply Chain. Suaranya yang berat dan maskulin bergema, membuat para mahasiswi kecuali Airin menatapnya tanpa berkedip. Di tengah-tengah penjelasannya tentang risiko logistik di laut internasional, Jordan mulai berjalan mengitari kelas.
Langkah kaki Jordan yang mantap perlahan mendekat ke arah baris ketiga. Airin bisa merasakan jantungnya mulai berpacu. Ia meremas pulpennya kuat-kuat saat menyadari bayangan tinggi Jordan kini berdiri tepat di samping mejanya.
Tanpa menghentikan penjelasannya, Jordan merogoh saku jasnya. Dengan gerakan yang sangat tenang namun sangat berani, ia meletakkan sebuah ponsel di atas buku catatan Airin.
"Pastikan kalian tidak meninggalkan barang-barang penting saat melakukan riset lapangan," ucap Jordan dengan nada datar yang seolah-olah merupakan bagian dari materi kuliahnya.
Airin terbelalak. Itu ponselnya! Ponsel yang semalam disita oleh Jordan dan tertinggal di saku jas pria itu. Airin segera menutupi ponsel tersebut dengan telapak tangannya, wajahnya memerah sempurna karena malu dan takut. Ia melirik ke kiri dan ke kanan dengan gerakan patah-patah, sangat takut jika Thea, Dion, atau Kriss melihat interaksi mencurigakan ini.
Namun, sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Airin. Thea sedang asyik memperbaiki riasan wajahnya di balik buku, sementara mahasiswa lain sibuk mencatat poin-poin yang ada di layar proyektor.
Jordan sempat memberikan kerlingan mata yang sangat tipis sebelum melanjutkan langkahnya kembali ke depan kelas. Ia tampak sangat puas melihat ekspresi panik Airin yang menggemaskan.
"Rin, lo kenapa? Kok mukanya merah banget kayak kepiting rebus?" bisik Dion dari belakang.
Airin tersentak, hampir menjatuhkan pulpennya. "Aah, tidak apa-apa, Dion. Hanya sedikit gerah."
"Gerah? AC nya dingin gini, Rin," timpal Kriss sambil menyipitkan mata.
Kriss sebenarnya sempat menangkap gerakan tangan Jordan tadi, namun ia tidak melihat dengan jelas benda apa yang diletakkan sang dosen di meja sahabatnya itu. Ia hanya merasakan ada aura yang sangat berbeda di antara mereka berdua pagi ini. Ada sesuatu yang 'selesai' di antara mereka semalam, dan Kriss bersumpah akan mencari tahu apa itu.
Di depan kelas, Jordan menuliskan beberapa poin di papan tulis. Ia sesekali melirik Airin lewat pantulan kaca jendela. Baginya, permainan kucing-kucingan ini baru saja dimulai. Ia menyukai bagaimana Airin berusaha keras untuk bersikap biasa saja, padahal ia tahu gadis itu sedang berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri.
"Untuk tugas kelompok minggu depan..." Jordan sengaja menjeda kalimatnya, menatap lurus ke arah Airin. "Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Jangan ada yang menyimpan rahasia dari kelompoknya sendiri, karena rahasia selalu punya cara untuk terungkap."
Airin menunduk semakin dalam. Ia tahu kalimat itu ditujukan khusus untuknya. Dosennya ini benar-benar gila, pikir Airin. Jordan baru saja secara tidak langsung mengancamnya lagi di depan umum, dan yang lebih parah, Airin menyadari bahwa ia mulai tidak keberatan dengan ancaman-ancaman manis pria itu.