Bagi Raka, menikah dengan Aluna itu bencana, seperti Gempa dengan kekuatan 10 SR. Dan sialnya, dia tidak bisa mengelak karena perjodohan konyol orang tuanya.
Dan, bagi Aluna, menikah dengan Raka adalah ajang balas dendam, karena Raka yang selalu menghukumnya di sekolah.
Tapi ternyata, ada satu hal yang mereka lupa, bahwa waktu bisa merubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Selatan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Toko kue dan toko buku
"Lo ngapain tidur di kamar gue!"
Saya menguap lebar, lalu menatap ke arah Luna yang sedang menatapku tajam.
"Lo nggak ngapa-ngapain gue kan!"
Saya tersenyum kecut, lalu menatapnya. Dia menatapku semakin tajam.
BRUG!
dia meninju bahuku kencang, reflek aku mengaduh, padahal dia baru saja bangun, tapi tenaganya sudah sekuat ini.
Dia menyibak selimut yang membungkus tubuhnya, lalu ber puh lega.
"Semalem gue ketiduran." Gumamku menjelaskan.
Saya yang sedang bersender di dinding segera duduk normal dan memindahkan kakiku menginjak lantai.
Memang benar kok, semalam itu saat saya membisikan doa untuk Luna saya tidak sengaja ikut berbaring di kasurnya, bukan tidak sengaja sih, tapi ayolah, bolehkan jika aku memeluk isteriku sendiri. Hanya memeluk, tolong garis bawahi.
"Sudah jam lima, gue mau solat." Seruku, lalu berdiri dan meninggalkannya yang masih memeriksa pakaiannya. Entah apa yang dia periksa.
"Gimana kakimu?" Tanyaku saat sarapan, ini kali pertama saya melihat Luna memasak, biasanya dia selalu bangun kesiangan.
"Sudah baikan." Katanya ketus. Dia menyendok telur dadar yang sepuluh menit lalu ia buat. Rasanya tidak buruk, eh malah enak.
"Gue kemaren gajian. " Gumamku, lalu menegak air.
Dia hanya diam acuh.
"Gue mau nepatin janji yang waktu itu, kalau udah punya uang, kita ke rumah Orangtuamu." Lanjutku.
Luna yang tadinya acuh, kini menatapku sambil berbinar-binar,
"Serius?" Tanyanya memastikan.
Aku hanya tersenyum sebagai jawabannya. Lalu kemudian dia ikut tersenyum lebar.
"Pulang sekolah, kita beli kue buat Mama yah." Kataku, dia hanya mengangguk saja.
***
Luna sudah berjalan sedikit normal, buktinya dia sudah bertingkah konyol dengan teman-temannya di lapangan.
Maksudku bertingkah konyol adalah, ketika Luna mengerjai teman-teman perempuan nya dan lihat, sekarang mereka kejar-kejaran mengejar Luna.
Saya tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tapi sepertinya asik. Saya saja yang melihat Luna dan teman-temannya dari lantai dua ikut tersenyum saat mereka tertawa, jangan tanya tahu dari mana.jelas ekspresi tertawa seseorang tidak bisa di bohongi.
"Ka, pulang sekolah ke toko buku yuk. Buku SBMPTN sudah terbit lho." Kata Sela di sampingku.
Saya menoleh ke arahnya, "Maaf, mungkin lain kali, pulang sekolah ini gue mau ke toko kue." Kataku jujur, dia tampak cemberut lalu menundukan kepalanya.
Sela ini gadis yang baik, selain pintar dia juga cekatan. Orang-orang bilang Sela itu jelmaan bidadari, tutur katanya halus, otaknya cerdas, prilakunya baik,entah apa yang kurang dari dirinya. Bahkan aku sering lihat banyak laki-laki yang mengungkapkan cintanya, dan selalu dia tolak dengan alasan dia mau mengejar cita-citanya dulu.
"Eh tapi, bisa kan. Beli kue dulu lalu ke toko buku." Ujarnya kemudian. Aku masih menatapnya, wajah yang tadi murung kini justru sedang tersenyum penuh harap.
Saya menengok kembali ke lantai satu, tepatnya di lapangan dengan Luna sebagai objeknya.
"Ka, gimana? Nggak bisa yah, kalau nggak bisa juga nggak apa-ap-
"Bisa kok, tapi jangan lama-lama yah." Seruku, dia tampak tersenyum senang, lalu menepuk-nepuk bahuku pelan. "Makasih Ka."
Aku hanya mengangguk, lalu menghela nafas gusar.
Kemudian Sela pamit ingin menemui temannya di kelas sebelah, katanya.
Ku rogoh saku celanaku, dan ku telpon seseorang di sebrang sana.
"Ada apa?" Tanyanya sewot.
"Woy Lun, gimana elah."
Samar-samar saya mampu mendengar seseorang berbicara pada Luna.
"Pulang sekolah gue ada perlu sebentar. Tadinya gue sekalian mau beliin kue, tapi gue nggak tahu kue kesukaan orang tua lo apa. Jadi, bisa nggak lo beli kue sendiri?"
"Ya!"
TUUT!
Luna meng-akhiri telponnya.
Sebelum pulang, saya sengaja menemuinya ke kelas, dia sedang bermain lempar kertas dengan teman sekelasnya.
"Widih ada ketua Osis!" Kata seseorang yang berambut gondrong,
Aku hanya melihatnya sekilas, lalu kuabaikan.
"Mau apa lo kesini, mau Razia? Ini udah bel pulang." Kata Putri, saya tahu kalau ketua kelas Luna adalah Putri, si Ranking satu.
"Mau ketemu Aluna." Kataku datar.
Luna yang tadi masih melempari Indra bulatan kertas kini diam menatapku malas. Lalu dia keluar, begitu juga denganku, dan kuberi dia uang seratus ribuan dua lembar. Dia tampak menatapku tidak suka, lalu menendang kakiku sambil protes mengusirku dari hadapannya.
Selesai, kini saya bisa mengantar Sela membeli buku yang dia mau.
Saya berjalan gontai menuju parkiran, disana Ssla sedang menungguku.
"Udah ke toiletnya?" Tanya Sela lembut.
"Sudah." Jawabku.
Kini, saya dan Sela menaiki motor masing-masing untuk keluar parkiran dan menuju toko buku.
"Raka, kamu sudah tahu mau kuliah dimana?" Tanya Sela yang sedang memilih-milih buku.
"Entahlah." Kataku, aku ikut memilah buku juga, barang kali ada yang cocok.
"Orang tuaku, memintaku untuk kuliah di luar Negeri." Gumam Sela.
"Bagus dong, emang dimana?"
"Di Jerman." Katanya, dia masih sibuk membaca judul buku.
"Oh gitu."
"Iya, tapi, aku butuh temen. Kamu mau nggak kuliah di Jerman juga bareng aku, nanti kita sebrang-sebrangan apartemen lalu buat sandi Morse pake senter." Tuturnya, dia menatapku lalu tersenyum ramah.
"Kayaknya nggak bisa, ada beberapa hal yang harus gue urus sebelum kuliah, dan gue nggak niat buat kuliah di luar Negeri. Lagi pula ini masih lama, masih ada waktu sekitar dua tahun lagi kan." Gumamku.
"Raka."
Saya menoleh kebelakang, gitu juga dengan Sela. Dari jarak lima langkah, saya melihat Luna dengan Indra yang sedang menenteng belanjaan, biar kutebak pasti itu adalah kue.
"Kalian." Cicit Sela.
Indra menatapku tajam sekaligus kesal. "Jadi, ada penghianat." Dengus Indra.
Saya hanya menatap mereka bergantian, Luna yang menatap kami tanpa mimik wajah yang jelas, dan Indra yang menatapku dengan tampang sangarnya.
"Ayo Ndra, pulang." Gumam Luna sambil menyeret lengan Indra.