Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cuaca Gunung
Pagi ketiga di Gunung Slamet, Tio terbangun oleh seberkas sinar matahari yang menyelinap masuk melalui celah tenda. Tapi kali ini, ada energi berbeda yang mengalir di sekujur tubuhnya. Hari ini adalah hari besar. Hari ini ia akan mencapai puncak.
Jam tangannya menunjukkan pukul 05.30. Tio meregangkan tubuh, merasakan pegal-pegal kemarin sudah berkurang drastis. Tidur semalaman di ketinggian 2.700 meter memang tidak pernah benar-benar nyenyak—udara tipis membuat pola tidur sedikit terganggu—tapi tubuhnya sudah cukup beradaptasi. Ia bangun dengan perasaan segar, siap menaklukkan sisa perjalanan.
Dari dalam tenda, ia mendengar suara angin di luar. Tidak terlalu kencang—masih bersahabat. Kabut tipis mungkin menyelimuti area sekitar, tapi itu biasa di pagi hari. Ia membuka resleting tenda sedikit, mengintip keluar. Langit timur mulai memutih, pertanda matahari akan segera naik. Beberapa awan tipis bergelantungan di langit, tapi secara umum, cuaca terlihat cerah.
Semoga bertahan sampai siang, doanya dalam hati.
---
Tio keluar dari tenda, berdiri, dan meregangkan tubuh lebih lama. Udara pagi menusuk kulit—napasnya langsung berubah menjadi embun putih. Tapi ini dingin yang menyenangkan, dingin yang membuatnya merasa hidup. Ia berjalan sedikit menjauh dari tenda, mencari tempat yang agak lapang, lalu melakukan peregangan lebih serius. Gerakan-gerakan yoga sederhana yang ia pelajari dari video-video online: downward dog, cat-cow, child's pose. Tubuhnya merespons dengan baik. Sendi-sendi berbunyi kecil, otot-otot mulai memanas.
Setelah puas meregang, ia kembali ke tenda dan mulai menyiapkan sarapan. Hari ini menu yang lebih sederhana—oatmeal instan dengan potongan buah kering, dan tentu saja, segelas teh hangat yang tidak pernah absen.
Sambil menunggu air mendidih, Tio duduk di kursi lipatnya, memandangi pemandangan pagi. Dari tempat tendanya yang berada di cekungan bebatuan, ia tidak bisa melihat banyak—hanya langit di atas dan tebing-tebing batu di sekeliling. Tapi ia tahu, di luar sana, Puncak Slamet sedang menunggunya.
Air mendidih. Tio menuangkan oatmeal ke dalam mangkuk, menambahkan air panas, mengaduk hingga mengental. Lalu menuang air lagi ke dalam mug, mencelupkan kantong teh, menambahkan gula dan susu bubuk. Sarapan sederhana yang terasa mewah di ketinggian.
Ia makan perlahan, menikmati setiap suapan. Oatmeal hangat mengalir ke perut, memberi energi yang akan ia butuhkan untuk pendakian hari ini. Teh manis menemani, menghangatkan tubuh dari dalam.
Sambil makan, ia merencanakan rute. Dari sini ke puncak, jika jalurnya normal, sekitar 4-5 jam. Ia berencana berangkat pukul 7 pagi, tiba di puncak sekitar pukul 11-12 siang. Istirahat sebentar, lalu turun. Jika cepat, mungkin ia bisa kembali ke tenda ini sebelum sore, lalu turun lebih jauh ke Pos 3 atau bahkan Pos 2. Tapi semua tergantung kondisi.
Yang penting sekarang: sampai puncak dulu.
---
Setelah sarapan, Tio membereskan peralatan. Tapi sebelum memulai pendakian, ada satu urusan penting yang harus ia selesaikan: air.
Sumber air terakhir sebelum puncak berada di area yang tidak jauh dari tempat tendanya—sebuah mata air kecil yang muncul dari celah bebatuan, konon tidak pernah kering meski musim kemarau. Informasi ini ia dapat dari peta fotokopian Pak Giman dan dari beberapa laporan pendaki yang ia baca sebelum berangkat.
Tio mengambil kedua botol airnya—satu botol 1,5 liter yang sudah setengah kosong, dan satu botol cadangan 1 liter yang masih penuh. Strateginya: isi ulang botol yang setengah kosong di mata air, gunakan untuk perjalanan ke puncak. Botol cadangan tetap disimpan di tenda untuk persediaan setelah turun.
Dengan membawa botol dan kantong air lipat cadangan, Tio meninggalkan tenda dan berjalan mengikuti jalur setapak kecil yang menurun ke arah barat. Sekitar 10 menit berjalan, ia mulai mendengar suara gemericik air. Semakin dekat, suaranya semakin jelas. Dan akhirnya, ia sampai.
Mata air itu muncul dari sela-sela dua batu besar, membentuk kolam kecil alami sedalam sekitar setengah meter. Airnya sebening kristal—ia bisa melihat dasar kolam yang berupa pasir hitam dan kerikil kecil. Beberapa tetes air menetes dari lumut di atasnya, menambah aliran yang tenang.
Tio berlutut, mencelupkan tangan. Airnya dingin sekali, hampir membuat jari-jarinya kebas. Tapi rasanya segar. Ia mengambil botol, membuka tutupnya, dan mulai mengisi. Air mengalir masuk dengan suara gluk-gluk yang memuaskan. Satu botol penuh. Dua botol penuh. Kantong lipat juga ia isi sebagai cadangan ekstra.
Saat sedang asyik mengisi air, Tio melihat sesuatu di dasar kolam. Sebuah benda gelap, setengah terkubur di pasir. Ia mengerjap, mencoba fokus. Benda itu... seperti logam? Atau batu hitam? Ia memasukkan tangan, meraihnya, dan mengangkatnya ke permukaan.
Sebuah koin kuno. Tidak terlalu besar—sekitar sebesar uang logam seribu rupiah. Warnanya kehijauan karena oksidasi, dengan lubang persegi di tengahnya seperti koin Cina kuno. Di permukaannya, samar-samar terlihat ukiran aksara yang tidak ia kenali.
Tio memandangi koin itu lama. Koin apa ini? Kok bisa ada di sini?
Pendaki lain mungkin yang menjatuhkan? Tapi koin ini terlihat terlalu kuno untuk sekadar barang jatuh. Dan posisinya setengah terkubur di pasir, seolah sudah lama berada di sana.
Setelah berpikir sejenak, Tio memutuskan untuk mengembalikannya. Ia meletakkan koin itu perlahan di dasar kolam, tepat di tempat ia menemukannya. Lalu ia menyelesaikan pengisian air, mencuci muka dengan air dingin yang menyegarkan, dan berjalan kembali ke tenda.
Ia tak tahu, tindakan kecil itu—mengembalikan koin ke tempatnya—mungkin adalah keputusan terbaik yang ia buat hari ini.
---
Pukul 07.15, Tio sudah siap di jalur. Ransel kali ini lebih ringan—hanya berisi bekal makan siang, jaket ekstra, headlamp, kamera, air minum 1,5 liter, dan perlengkapan darurat minimal. Sisanya ia tinggal di tenda.
Medan menuju puncak dari lokasi tendanya dimulai dengan tanjakan curam melewati padang rumput yang mulai jarang. Pepohonan semakin menghilang, digantikan oleh semak-semak khas pegunungan tinggi: edelweis, bunga-bunga kecil berwarna ungu dan kuning, serta ilalang yang bergoyang ditiup angin.
Tio berjalan dengan ritme stabil. Empat langkah tarik napas, empat langkah buang napas. Jangan terlalu cepat, jangan terlalu lambat. Pertahankan energi untuk perjalanan pulang.
Semakin tinggi ia naik, pemandangan semakin terbuka. Di belakangnya, ia bisa melihat Puncak Malang yang semalam ia singgahi, kini tampak kecil. Di kejauhan, gunung-gunung lain mulai muncul—Sindoro dan Sumbing, meski samar tertutup kabut tipis. Di bawah, hamparan awan membentuk lautan putih yang menutupi lembah.
Tio berhenti beberapa kali untuk berfoto, merekam video singkat untuk kamera aksinya. "Ini dia, perjalanan menuju puncak Slamet. Lo liat di belakang gue? Itu Puncak Malang, tempat gue kemarin. Sekarang gue lebih tinggi dari itu. Rasanya... wow."
---
Pukul setengah sebelas, Tio mencapai area yang disebut "Batu Loncat" oleh para pendaki—sebuah punggungan sempit dengan jurang di kedua sisi. Jalurnya hanya selebar satu meter, dengan bebatuan lepas yang licin. Di kiri dan kanan, tebing curam jatuh bebas ke lembah yang tertutup awan. Satu langkah salah, dan...
Tio mengatur napas, fokus. Ia melangkah hati-hati, menguji setiap pijakan dengan tongkat bambu. Jangan melihat ke bawah, katanya dalam hati. Fokus ke depan. Jangan lihat jurang.
Butuh waktu 15 menit untuk melewati bagian ini—terasa seperti satu jam. Ketika akhirnya mencapai area yang lebih luas, Tio menghela napas lega. Tangannya sedikit gemetar, campuran antara ketakutan dan adrenalin.
Dari sisa perjalanan, puncak sudah mulai terlihat. Masih sekitar satu jam lagi.
---
Pukul 11.45, Tio akhirnya tiba di puncak Gunung Slamet.
Tidak ada plang megah, tidak ada tiang bendera. Hanya hamparan bebatuan vulkanik hitam yang luas, dengan beberapa area berpasir. Di tengah-tengahnya, sebuah tugu kecil sederhana berdiri—tanda bahwa ini adalah titik tertinggi. Ketinggian: 3.428 meter di atas permukaan laut.
Tio melepas ransel, duduk di atas batu, dan untuk beberapa saat hanya diam. Memandangi dunia dari atas. Di selatan, Samudra Hindia membentang biru, tertutup kabut tipis. Di utara, Laut Jawa berkilauan. Di timur, rangkaian gunung berjajar: Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi, bahkan jauh di sana samar-samar Lawu. Di barat, puncak Slamet sendiri yang masih menjulang—karena ia berdiri di atasnya.
Ia mencapai puncak. Ia berhasil.
---
Tio mengeluarkan bekal makan siangnya: roti lapis isi keju dan daging asap, plus sebatang cokelat. Ia makan sambil memandangi pemandangan, kadang-kadang mengunyah pelan, kadang berhenti hanya untuk tersenyum sendiri.
Setelah makan, ia mengeluarkan kamera, merekam pesan panjang.
"Gue di puncak, gue berhasil. Perjalanan tiga hari, medan yang berat, tebing, jurang, dan gue sampai juga. Lo tau, rasanya... campur aduk. Capek, seneng, lega. Tapi yang paling gue rasain sekarang: bersyukur. Gue bersyukur badan ini masih kuat, alam ini masih ngizinin gue berdiri di sini."
Ia mengarahkan kamera ke pemandangan.
"Ini pemandangan yang nggak akan lo dapet di kota. Ini yang namanya... merdeka. Bener-bener merdeka."
Selesai merekam, ia duduk lagi, menikmati sisa waktu di puncak. Sekitar 30 menit ia habiskan di sana—terlalu cepat untuk perjalanan sejauh ini, tapi ia harus segera turun.
---
Saat Tio mulai membereskan barang dan bersiap turun, ia melihat ke langit. Awan mulai berubah. Dari putih cerah menjadi kelabu. Di barat, gumpalan hitam mulai terbentuk, bergerak cepat ke arahnya.
Ah, mungkin cuma awan biasa, pikirnya.
Tapi dalam 15 menit, langit berubah drastis.
Angin tiba-tiba bertiup kencang. Dingin, menusuk tulang. Kabut turun begitu cepat, dalam hitungan menit jarak pandang turun drastis—dari tak terbatas menjadi hanya 10 meter. Tio masih sempat berjalan turun sekitar 200 meter dari puncak ketika hujan mulai turun.
Bukan hujan biasa. Hujan lebat, deras, dengan butiran air sebesar kelereng kecil. Dalam sekejap, Tio basah kuyub. Jaket tipisnya yang seharusnya tahan air, kewalahan. Air merembes masuk, membasahi lapisan dalam.
Tio mencari tempat berteduh. Di dekatnya ada sebuah batu besar menjorok, membentuk atap alami. Ia merangkak ke bawahnya, merapatkan tubuh, menggigil. Hujan menderas di luar, suaranya memekakkan telinga.
Sabar, tunggu reda, katanya dalam hati. Pasti cepet reda.
Tapi hujan tak kunjung reda. Setengah jam. Satu jam. Satu setengah jam.
Tio mulai gelisah. Jika terus begini, ia akan kehabisan waktu. Sore akan segera tiba. Jika gelap tiba saat ia masih di jalur, tanpa tenda...
Nggak, nggak boleh.
Saat hujan sedikit mereda—dari deras menjadi gerimis lebat—Tio memutuskan untuk nekat turun. Ia keluar dari bawah batu, mencoba mengingat jalur. Tapi kabut tebal mengubah segalanya. Setiap batu tampak sama. Setiap arah tampak asing.
Tio berjalan ragu, mencoba satu arah, lalu mundur, mencoba arah lain. Semuanya tampak salah. Ia mengeluarkan kompas dari tas—jarumnya berputar tak menentu, mungkin terganggu oleh kandungan mineral vulkanik di sekitarnya.
Ponsel? Mati sinyal dan basah.
Tio berdiri di tengah kabut putih pekat, hujan gerimis membasahi wajahnya, dan untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, rasa takut yang sesungguhnya menyentuhnya.
Gue kehilangan arah.