Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
“Paman Bara.”
Ya dia adalah Bara sebastian. Pamannya. Usianya sekitar lima puluh tahun, namun penampilannya masih rapi dan berwibawa seperti seorang pengusaha sukses. Namun di balik sikap elegan dan kata-kata yang terdengar bijak, Bara memiliki sifat yang busuk. Ia licik, penuh ambisi, dan tidak ragu mengorbankan siapa pun demi kepentingannya sendiri. Senyum yang sering ia tampilkan bukanlah tanda kehangatan, melainkan topeng yang menutupi rencana-rencana tersembunyi.Bagi Bara, keluarga bukan selalu tentang kasih sayang, melainkan tentang kekuasaan dan keuntungan. Dan dalam diam, ia memiliki sesuatu yang diincar dari Elvan.
Pria itu tersenyum tipis.
“Lama sekali kita tidak bertemu.”
Elvan menutup pintu dengan pelan.Tatapannya berubah tajam.
“Apa yang paman lakukan di sini?”
Bara menyesap minumannya dengan santai.
“Begitu cara kamu menyambut keluarga?”
“Kita bukan keluarga.”
Hening beberapa detik.
Bara tertawa kecil.
“Kamu masih sama seperti dulu. Dingin.”
Elvan berdiri tegak di depannya.
“Saya ulangi. Kenapa paman datang?”
Tatapan Bara berubah sedikit lebih serius.
“Karena waktunya sudah tiba.”
Alis Elvan sedikit mengerut.“Waktu untuk apa?”
Bara meletakkan gelasnya di meja.“Untuk menyelesaikan urusan lama.”
Ruangan terasa lebih sunyi.
Elvan mengepalkan tangannya.
“Urusan lama sudah selesai sejak bertahun-tahun lalu.”
Bara tersenyum miring.
“Belum.”
Ia bersandar santai di sofa.
“Apalagi sekarang… kamu kembali dekat dengan gadis itu.”
Mata Elvan langsung menajam.
“Jangan sebut dia.”
Bara mengangkat alis.“Oh? Jadi memang benar.”
Elvan tidak menjawab.Namun ekspresi wajahnya sudah cukup memberi jawaban.
Bara tertawa pelan.
“Menarik sekali.”
Ia berdiri perlahan.Langkahnya tenang mendekati Elvan.
“Kamu tahu… kalau dia mengingat semuanya…”
Suara Bara menjadi lebih rendah.
“Maka semua yang kamu bangun akan hancur.”
Elvan menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau paman menyentuh dia—”
Bara langsung memotong dengan senyum dingin.
“Tenang saja.”
Ia menepuk bahu Elvan pelan.“Aku belum melakukan apa-apa.”
Beberapa detik hening.
Lalu Bara menambahkan dengan suara yang lebih tajam.
“Untuk sekarang.”
Jantung Elvan berdetak keras. Karena ia tahu satu hal.
Jika Bara sudah kembali…Maka masalah yang selama ini ia sembunyikan…
akan segera meledak.
Dan kali ini—
Dira mungkin akan ikut terseret di dalamnya.
Pintu ruang tamu tertutup pelan.
Namun suasana di dalam rumah masih terasa berat.
Elvan berdiri tegak di hadapan Bara. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras menahan emosi.
Bara justru terlihat santai. Ia berjalan perlahan mengelilingi ruangan seperti sedang menikmati tempat itu.
“Rumahmu bagus,” katanya ringan.
Elvan tidak menanggapi.“Apa yang paman mau?”
Bara berhenti di depan jendela besar. Lampu kota terlihat berkilau di kejauhan.
“Aku hanya ingin melihat… sejauh apa kamu sudah berubah.”
Elvan menjawab dingin. “Saya tidak berubah.”
Bara tersenyum kecil.
“Oh tidak. Kamu berubah.”
Ia menoleh perlahan.
“Dulu kamu tidak punya kelemahan.”
Hening.
Lalu Bara melanjutkan dengan suara rendah.“Tapi sekarang… kamu punya.”
Nama itu tidak disebut.Namun keduanya tahu siapa yang dimaksud.
Elvan mengepalkan tangannya.
“Jangan libatkan dia.”
Bara tertawa kecil. “Kamu masih berusaha melindunginya?”
Ia melangkah mendekat.
“Padahal kamu tahu… semua ini dimulai karena dia.”
Mata Elvan langsung berubah tajam.
“Itu bukan salahnya.”
Bara mengangkat alis.
“Bukan?”
Ia menatap Elvan lurus.
“Kalau dia tidak ada di tempat itu hari itu… ayahmu tidak akan mati.”
Ruangan terasa membeku.Kalimat itu seperti pisau lama yang kembali ditancapkan.
Namun Elvan tidak bergeming.
“Paman memutar cerita , jadi silahkan pergi .”
Bara mendengus pelan.
“Benarkah?”
Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya.Sebuah foto lama.
Foto dua keluarga yang berdiri bersama.
Keluarga Elvan.
Dan keluarga Dira.
Foto itu diletakkan di atas meja.
“Elvan… kamu tahu yang sebenarnya terjadi.”
Tatapan Elvan turun ke foto itu.Kenangan lama mencoba muncul kembali.
Suara benturan.
Jeritan.
Api.
Namun Elvan menutup matanya sejenak.Saat membukanya lagi, tatapannya sudah kembali dingin.
“Paman yang menghancurkan semuanya.”
Bara tersenyum tipis.
“Belum tentu.” Bara menyeringai " Kamu tidak tahu apa-apa el"
Ia melangkah menuju pintu.Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
“Kamu harus hati-hati.”
Elvan tidak bergerak.
Namun kata-kata berikutnya membuat udara terasa lebih berat.
“Karena kalau gadis itu mulai mengingat masa lalunya…”
Bara menoleh sedikit.
“Kebencian keluarga mereka pada keluargamu akan kembali.”
Ia membuka pintu.
“Dan saat itu terjadi…”
Suara Bara menjadi sangat dingin.“Dia sendiri yang akan menjauh darimu.”
Pintu tertutup.
Meninggalkan rumah dalam kesunyian.Elvan berdiri lama di tempatnya.
Tangannya masih mengepal.Matanya kembali melihat foto lama di meja.
Foto masa kecil itu.
Dira kecil tersenyum lebar di sana.
Dan seorang anak laki-laki berdiri di sampingnya sambil memegang tangannya.
Elvan mengambil foto itu.
Suara Bara masih terngiang di kepalanya.
“Kalau dia mengingat semuanya…”
Elvan menutup matanya sebentar.Ia tidak takut pada Bara.Ia tidak takut pada musuh mana pun.Namun satu hal membuatnya gelisah.
Jika Dira benar-benar mengingat masa lalu…
Mungkin benar kata Bara.
Gadis itu sendiri yang akan pergi darinya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…
Elvan merasa sesuatu yang jarang ia rasakan.
Takut.
"Dan aku akan bikin rasa benci itu hilang " gumamnya
***
Pagi itu kantor Bagaskara Group terlihat seperti biasa.
Karyawan sibuk berjalan di koridor. Beberapa staf membawa berkas rapat. Suasana profesional dan rapi seperti setiap hari.
Namun di lantai paling atas…
Di ruang kerja CEO yang luas dan sunyi, suasananya jauh berbeda.
Elvan berdiri di depan jendela besar yang menghadap kota. Tangannya berada di saku celana, wajahnya dingin seperti biasa.
Di belakangnya, Kenzo berdiri sambil menyilangkan tangan.
“Jadi… itu benar?”
Suara Kenzo terdengar serius.
Elvan tidak langsung menjawab.
Ia masih memandang ke luar jendela beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.
“Bara sudah kembali.”
Kenzo langsung menghela napas berat.
“Sial.”
Ia berjalan beberapa langkah ke depan.
“Aku sudah curiga sejak kejadian preman kemarin.”
Elvan menoleh sedikit.
“Dia sedang menguji kita.”
Kenzo mengerutkan kening.
“Kalau dia benar-benar mulai bergerak… berarti Dira juga dalam bahaya.”
Hening beberapa detik. Kenzo menatap Elvan lebih tajam.
“Kita harus memperketat keamanan dia.”
Elvan mengangguk pelan.
“Itu sudah aku lakukan.”
“Tapi itu tidak cukup.”
Kalimat Kenzo membuat ruangan kembali sunyi.Elvan akhirnya berbalik menghadapnya sepenuhnya.
Tatapan mereka bertemu.
Ada sesuatu yang lebih berat dalam pembicaraan ini.
“Ada cara lain,” kata Elvan pelan.
Kenzo mengangkat alis.
“Cara apa?”
Elvan menarik napas pelan.
Lalu mengatakan sesuatu yang membuat Kenzo terdiam.
“Aku akan menikahi Dira.”
Ruangan langsung terasa lebih sunyi.
Kenzo menatapnya beberapa detik tanpa bicara.
Seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Kamu serius?”
“Iya.”
Kenzo berjalan mendekat beberapa langkah.
“Ini bukan keputusan kecil, Elvan.”
“Aku tahu.”
Kenzo mengusap wajahnya.
“Dira masih SMA.”
“Aku tidak akan menuntut lebih kewajibannya sekarang.”
Kenzo mengernyit.
“Maksud kamu?”
Elvan menjelaskan dengan tenang.
“Kita bisa mengikat perjanjian dulu, agar dira aman .”
Ia menatap Kenzo dengan serius.
“Dengan begitu semua orang tahu dia berada di bawah perlindungan aku .”
Kenzo terdiam.Ia memahami maksudnya.
Nama Elvan dan kekuatan Bagaskara Group cukup untuk membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum menyentuh Dira.
Namun tetap saja…
“Apa kamu yakin ini bukan cuma alasan untuk melindungi dia?”
Pertanyaan itu membuat Elvan sedikit menegang.
Kenzo menatapnya tajam.
“Kamu tahu maksud ku .”
Hening beberapa detik.
Elvan akhirnya menjawab dengan suara rendah.
“Aku sudah melindunginya sejak lama.”
Kenzo langsung memahami.Ini bukan keputusan yang tiba-tiba.Ini sesuatu yang sudah lama ada di hati Elvan.
Kenzo menghela napas panjang.
“Kalau aku setuju… bagaimana dengan Dira?”
Elvan terdiam sebentar.
“Itu yang akan menjadi bagian paling sulit.”
Kenzo langsung tertawa kecil.
“Sulit?”
Ia menggeleng.
“Dira bisa kabur dari rumah kalau dengar ini.”
Elvan bahkan bisa membayangkannya.
Dira yang bar-bar.
Dira yang suka kebebasan.
Dira yang tidak suka diatur.
Namun tatapannya tetap tegas.
“Aku akan menjelaskannya.”
Kenzo menatapnya lama.Lalu akhirnya berkata pelan.
“Kalau ini benar-benar untuk melindungi dia…”
Namun sebelum pergi, Kenzo menambahkan sesuatu.
“Tapi ingat satu hal.”
Elvan menatapnya.Kenzo berkata dengan suara serius.
“Kalau kamu menyakiti adik aku …”
Tatapannya berubah tajam.
“Aku sendiri yang akan menghancurkan kamu.”
Elvan tidak terlihat tersinggung.Justru ia mengangguk kecil.
“Itu hak kamu sebagai kakaknya.”
Kenzo akhirnya keluar dari ruangan.Pintu tertutup pelan.
Elvan kembali berdiri di depan jendela.
Di pikirannya hanya ada satu wajah.
Dira.
Gadis yang ribut.
Gadis yang keras kepala.
Dan gadis yang bahkan belum tahu…
bahwa hidupnya akan segera berubah besar.
Karena keputusan yang baru saja dibuat.
***
Waktu berjalan dengan cepat .
Sore itu suasana sekolah ramai seperti biasa.
Bel pulang baru saja berbunyi dan siswa-siswa mulai keluar dari kelas mereka dengan wajah lega.
Di koridor lantai dua…
Dira berjalan bersama Sinta dan Bayu, tapi seperti biasa suaranya yang paling keras.
“Aku nggak ngerti kenapa guru matematika bisa kasih PR sebanyak itu!”
Bayu langsung menimpali.
“Karena kamu nggak pernah ngerjain di kelas.”
Dira langsung menunjuknya.
“Eh! aku ngerjain ya!”
Sinta menyilangkan tangan.“Setengahnya.”
Dira mendengus.
“Setengah juga usaha.”
Mereka bertiga tertawa.
Di tangga menuju gerbang sekolah, beberapa siswa menoleh karena suara Dira yang selalu heboh.
Namun Dira tidak peduli.
Ia melangkah keluar gerbang sekolah sambil masih mengomel.
“Tugas… preman… drama sekolah… hidup aku lengkap banget ,entah nanti apa lagi .”
Sinta tertawa.
“Kamu kayak tokoh utama sinetron dir .”
Bayu tiba-tiba menunjuk ke depan.
“Eh itu abang kamu .”
Dira menoleh.
Sebuah mobil berhenti di depan sekolah.Dan Kenzo berdiri di sampingnya dengan tangan di saku jaket.
Begitu melihat Dira, Kenzo melambaikan tangan.Beberapa siswi juga memperhatikan ke arah kenzo .
“DIRA!”
Dira langsung berhenti.Ekspresinya berubah datar.
Sinta meliriknya.
“Kenapa?”
Dira memalingkan wajah.
“Lagi kesel.”
Bayu bingung.
“Kesel sama siapa?” Dira menunjuk Kenzo.
“Sama dia.”
Kenzo yang melihat Dira diam saja langsung berjalan mendekat.
“Kamu nggak masuk mobil?”Dira memalingkan wajah ke arah lain.
“Enggak.”
Kenzo mengerutkan kening.“Kenapa lagi?”
Dira melipat tangan.
“Lagi marah.”
Kenzo menghela napas.
“Masih karena kemarin?”
Dira tidak menjawab.Ia malah menendang kerikil kecil di jalan.
Kenzo menatapnya beberapa detik lalu mengacak rambutnya.
“Dira…”
Dira langsung menjauh.
“Jangan sentuh!”
Sinta dan Bayu yang masih berdiri di dekat gerbang menonton dengan wajah terhibur. Beberapa siswi yang lain juga mendengar. Sebagaian terhibur sebagian merasa iri.
Bayu berbisik.
“Drama keluarga.”
Sinta mengangguk serius.
“Episode hari ini.”
Di depan mobil, Kenzo menatap adiknya yang pura-pura cemberut.
“Kamu marah karena abang gak jemput kamu?”
Dira akhirnya bicara.
“Iya!”
Kenzo mengangkat alis.
“ Kan abang sudah minta maaf . Itu memang kesalahan abang.”
“Tapi abang ngomelnya ke aku kayak polisi!”
Kenzo menahan senyum.
“Abang cuma khawatir.”
Dira tetap memalingkan wajah.
“Pokoknya aku marah.”
Kenzo menghela napas panjang.Lalu membuka pintu mobil.
“Baiklah.”
Dira melirik sedikit.Kenzo melanjutkan santai.
“Kalau kamu masih marah… abang pulang sendiri saja.”
Ia masuk ke kursi pengemudi.
Mesin mobil dinyalakan. Dira langsung panik.
“EH!”
Kenzo pura-pura tidak dengar.
Mobil mulai bergerak sedikit.
Dira langsung berlari dan membuka pintu belakang.
“BANG KENZO!”
Kenzo tertawa kecil.“Katanya marah.”
Dira duduk dengan wajah kesal.
“Masih marah!”
Kenzo melirik lewat kaca spion.“Tapi tetap ikut pulang.”
Dira menunjuknya dengan kesal.
“Karena ini mobil abang !”
Kenzo tertawa kecil.“Alasan yang bagus.”
Mobil akhirnya melaju meninggalkan sekolah.
Dira masih bersandar di kursi dengan wajah merajuk.
Namun beberapa menit kemudian…
Ia tiba-tiba bertanya.“Bang.”
Kenzo melirik kaca spion.“Ya?”
“Kalau aku benar-benar dalam bahaya… abang bakal lindungi aku kan?”
Pertanyaan itu membuat Kenzo terdiam sejenak.
Namun ia menjawab tanpa ragu.
“Selalu.” ucapnya " Abang akan selalu melindungi kamu, kamu adek satu-satunya yang paling abang sayang "
Dira mengangguk kecil.
Lalu kembali melihat ke jendela.
Ia tidak tahu…
Bahwa saat ini kakaknya dan seseorang lain sedang merencanakan sesuatu besar untuk melindunginya.
Sesuatu yang mungkin akan membuat Dira jauh lebih marah daripada hari ini.
Bersambung........