NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan yang tidak direncanakan

Malam itu hujan turun perlahan di kota.

Mobil Raka melaju melewati jalanan yang mulai basah oleh air hujan. Lampu kendaraan yang berlawanan arah memantul di kaca depan mobil, menciptakan kilatan cahaya yang sesekali menyilaukan mata.

Alya duduk di kursi penumpang sambil memegang map berisi proposal dari Kusuma Group.

Sejak keluar dari kantor tadi, ia belum benar-benar berhenti memikirkan isi dokumen itu.

Proyek energi yang diajukan perusahaan keluarga Kusuma terlihat menjanjikan.

Namun Alya juga menemukan beberapa celah kecil yang mungkin tidak diperhatikan orang lain.

“Apa kamu menemukan sesuatu?” tanya Raka tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

Alya menutup map itu.

“Ada beberapa hal yang menarik.”

Raka tersenyum tipis.

“Menarik bagaimana?”

Alya bersandar di kursinya.

“Proyek ini terlihat bagus di atas kertas. Tapi ada beberapa detail yang seolah sengaja tidak dijelaskan terlalu dalam.”

Raka meliriknya sebentar.

“Kamu pikir itu kesalahan?”

Alya menggeleng.

“Tidak.”

Ia menatap hujan di luar jendela.

“Lebih seperti… strategi.”

Raka tidak berkata apa-apa lagi.

Namun dari ekspresinya terlihat ia mulai tertarik dengan analisis Alya.

Keesokan paginya Alya datang ke kantor lebih awal dari biasanya.

Sebagian besar karyawan bahkan belum tiba.

Ruang kerja terasa lebih sunyi.

Ia duduk di mejanya lalu membuka laptop.

Beberapa grafik dan catatan analisis langsung muncul di layar.

Semalam ia sudah menuliskan beberapa kesimpulan awal.

Namun sekarang ia ingin melihat semuanya dengan lebih tenang.

Beberapa menit kemudian suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Dina datang sambil membawa roti dan kopi.

“Kamu datang lebih pagi lagi?” katanya.

Alya tersenyum kecil.

“Ada laporan yang harus diselesaikan.”

Dina duduk di kursinya.

“Proyek Kusuma Group itu?”

Alya mengangguk.

Dina menggigit rotinya sambil berkata, “Aku masih tidak percaya Daniel memberikan laporan sebesar itu padamu.”

Alya menatap layar laptopnya.

“Mungkin dia hanya ingin melihat apakah aku bisa menyelesaikannya.”

Dina tertawa pelan.

“Kalau kamu berhasil, karirmu pasti naik cepat.”

Alya tidak menjawab.

Ia tidak pernah terlalu memikirkan karier.

Baginya pekerjaan ini hanyalah jalan.

Jalan menuju sesuatu yang jauh lebih besar.

Menjelang siang, Daniel kembali memanggil Alya ke ruangannya.

Kali ini ekspresinya terlihat sedikit serius.

“Aku baru menerima pesan dari Kusuma Group,” katanya.

Alya duduk di kursi di depannya.

“Pesan?”

Daniel mengangguk.

“Mereka ingin mengadakan pertemuan lanjutan minggu ini.”

Alya tidak langsung bereaksi.

Daniel melanjutkan,

“Agung Kusuma sendiri yang akan datang.”

Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat.

Namun wajahnya tetap tenang.

Daniel memperhatikannya sejenak.

“Kamu terlihat tidak terlalu terkejut.”

Alya tersenyum tipis.

“Mungkin karena proyek sebesar ini memang membutuhkan diskusi lebih lanjut.”

Daniel tertawa kecil.

“Jawaban yang aman.”

Ia lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.

“Aku ingin kamu ikut dalam pertemuan itu.”

Alya sedikit terdiam.

“Sebagai analis proyek?”

“Ya.”

Daniel menatapnya dengan serius.

“Kamu orang yang paling memahami laporan ini sekarang.”

Alya mengangguk pelan.

“Baik.”

Ketika ia keluar dari ruangan itu, pikirannya mulai bekerja.

Pertemuan langsung dengan Agung lagi.

Kali ini bukan di acara makan malam santai.

Melainkan di meja negosiasi.

Beberapa hari berikutnya Alya menghabiskan banyak waktu mempelajari proposal Kusuma Group.

Ia membaca ulang setiap halaman.

Memeriksa angka-angka.

Membandingkan dengan laporan pasar.

Semakin ia mempelajari proyek itu, semakin jelas terlihat bahwa perusahaan Kusuma benar-benar serius.

Namun Alya juga menyadari sesuatu.

Agung bukan tipe pengusaha yang mengambil keputusan sembarangan.

Jika proyek ini diajukan ke Aurora Capital, berarti ada alasan kuat di baliknya.

Sore sebelum pertemuan berlangsung, Alya pulang dengan membawa beberapa catatan tambahan.

Raka sudah menunggunya di apartemen.

“Apa kamu siap untuk besok?” tanyanya.

Alya meletakkan tasnya di meja.

“Siap atau tidak, aku tetap harus datang.”

Raka menuangkan dua gelas air.

“Pertemuan bisnis dengan Agung Kusuma bukan hal kecil.”

Alya duduk di sofa.

“Aku tahu.”

Ia memandang catatan di tangannya.

“Dan kali ini aku tidak hanya menjadi tamu.”

Raka mengangguk pelan.

“Kali ini kamu bagian dari diskusi.”

Alya menarik napas panjang.

Perasaan gugup tentu ada.

Namun ia juga merasakan sesuatu yang lain.

Semacam ketenangan yang aneh.

Mungkin karena ia tahu dirinya sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.

Keesokan paginya ruang rapat besar di Aurora Capital terlihat sangat rapi.

Meja panjang di tengah ruangan sudah dipenuhi dokumen.

Beberapa staf berjalan keluar masuk menyiapkan proyektor dan laptop.

Alya duduk di salah satu kursi sambil membuka laptopnya.

Daniel berdiri di ujung meja sambil berbicara dengan manajer lain.

Tidak lama kemudian pintu ruang rapat terbuka.

Beberapa orang dari Kusuma Group masuk.

Di tengah mereka berjalan Agung.

Ia mengenakan jas hitam sederhana, tetapi kehadirannya langsung menarik perhatian seluruh ruangan.

Tatapannya bergerak menyapu meja rapat.

Kemudian berhenti sejenak pada Alya.

Bukan karena ketertarikan pribadi.

Melainkan karena ia mengingat wanita itu dari acara makan malam beberapa hari lalu.

“Sepertinya kita bertemu lagi,” katanya singkat.

Alya mengangguk sopan.

“Selamat pagi.”

Daniel berdiri menyambut Agung.

“Terima kasih sudah datang.”

Mereka berjabat tangan sebelum akhirnya semua orang duduk di kursi masing-masing.

Pertemuan dimulai dengan pembahasan umum tentang proyek energi tersebut.

Beberapa presentasi ditampilkan di layar.

Grafik pertumbuhan pasar.

Estimasi biaya.

Potensi keuntungan.

Diskusi berlangsung cukup serius.

Setelah hampir tiga puluh menit, Daniel berkata,

“Alya, mungkin kamu bisa menjelaskan analisis yang kamu buat.”

Beberapa orang langsung menoleh ke arahnya.

Alya berdiri dengan tenang.

Ia menampilkan beberapa slide di layar.

Penjelasannya singkat tetapi jelas.

Ia menunjukkan potensi besar proyek itu.

Namun juga menjelaskan beberapa risiko yang mungkin muncul.

Ketika ia selesai berbicara, ruangan menjadi sedikit sunyi.

Beberapa manajer dari Kusuma Group saling berpandangan.

Agung menatap layar presentasi beberapa detik sebelum akhirnya berkata,

“Analisis yang cukup tajam.”

Ia menoleh ke Alya.

“Kamu melihat beberapa hal yang bahkan tidak dibahas dalam proposal kami.”

Nada suaranya tidak marah.

Justru terdengar seperti seseorang yang menghargai pengamatan orang lain.

Alya menjawab tenang,

“Saya hanya mencoba melihat kemungkinan dari berbagai sisi.”

Agung tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya dalam pertemuan itu, ekspresinya terlihat sedikit lebih hangat.

Namun tetap profesional.

Pertemuan berlanjut dengan diskusi yang lebih mendalam.

Beberapa keputusan awal mulai dibicarakan.

Ketika rapat akhirnya selesai hampir dua jam kemudian, sebagian besar orang terlihat puas.

Agung berdiri sambil merapikan dokumen di mejanya.

Sebelum keluar dari ruangan, ia menoleh ke arah Alya.

“Kamu bekerja dengan baik,” katanya singkat.

Alya hanya mengangguk.

Agung kemudian berjalan keluar bersama timnya.

Ketika pintu ruang rapat tertutup, Daniel tertawa kecil.

“Sepertinya kamu berhasil membuat kesan yang cukup baik.”

Dina yang duduk di ujung meja bahkan terlihat hampir tidak percaya.

Alya menutup laptopnya perlahan.

Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa.

Namun satu hal menjadi semakin jelas.

Setiap langkah kecil yang ia ambil sekarang mulai membawa dirinya lebih dekat ke pusat permainan besar yang sedang berjalan.

Dan tanpa disadari siapa pun…

Cerita yang ia jalani perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!