NovelToon NovelToon
Pergi Dengan 1 Milyar

Pergi Dengan 1 Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Single Mom / Lari Saat Hamil
Popularitas:52.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.

8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Zea merasa lebih segar setelah mandi air hangat, capek kemarin juga terasa berkurang. Bangun tidur tadi, ia cek panas Arka sudah turun, dan itu membuat ia lega. Tampak Arka masih nyenyak saat ia keluar dari kamar mandi, namun tidak dengan bapaknya Arka, Naka sudah bangun, duduk di sisi ranjang sambil telepon seseorang. Saat tatapan mereka saling beradu, buru-buru ia membuang pandangan.

Ia berjalan cepat ke arah nakas di samping ranjang, membuka tas ranselnya yang ada disana untuk mengambil sisir dan pouch make up. Rasanya canggung berada dalam satu ruangan bersama Naka. Apalagi kalau ingat kejadian kemarin dan kasus penculikan Arka, rasanya geram sekali.

Zea mengambil cermin kecil dari dalam pouch, lalu memakai skincare basic serta bedak dan lipstik. Tak lupa menyisir rambut yang agak berantakan, sambil seseorang melirik Naka. Rasanya sungguh tak nyaman berada dalam satu ruangan dengan laki-laki yang bukan mahram, meski ada Arka disana.

"Aku mau keluar nyari makan, mau dibelikan apa?" tanya Naka, berjalan mendekati Zea.

"Gak usah, aku bisa beli sendiri," sahut Zea tanpa menoleh, fokus menatap pantulan dirinya di cermin kecil. Melihat Naka makin mendekat, ia mulai was-was. "Ini rumah sakit!" peringatnya, masih trauma dengan kejadian semalam. Mode siaga langsung aktif saat Naka tetap mendekat ke arahnya, lalu tiba-tiba. "NAKA!" teriak Zea tertahan saat Naka menarik kunciran rambutnya hingga terlepas. Menoleh sambil mendelik kesal.

"Tutupi lehermu."

Reflek, Zea menyentuh lehernya. Sesaat kemudian teringat kejadian kemarin. Jangan-jangan... Ia melihat lehernya dari cermin, dan seketika, mulutnya menganga lebar. Ada beberapa kissmark di laher dan dekat tulang selangka. Jangan-jangan, kemarin Rizal, Vira, dan nakes yang bertugas melihatnya.

Naka mengantongi ikat rambut Zea, lalu melangkah santai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Zea menatap punggung Naka yang hilang di balik pintu kamar mandi sambil terus menggerutu. Beruntung rambut panjangnya saat digerai dan di kedepankan, bisa menutupi tanda merah di leher, kalau tidak, bisa tak punya muka ia untuk bertemu orang.

"Mau makan apa?" Naka kembali bertanya setelah keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar sekarang, dengan rambut sedikit basah.

"Gak usah," sahut Zea yang duduk menghadap Arka, membelakangi Naka. Ia sedang sibuk dengan ponsel, berkirim pesan dengan Nisa, memberi kabar jika ia telah bertemu dengan Arka.

"Mau nasi uduk? Atau mau bubur ayam? Arka biasanya suka sarapan apa?"

Zea membuang nafas kasar, membalikkan badan menghadap Naka. "Kita gak ada hubungan apa-apa, jadi gak usah sok peduli. Dan satu lagi, sepertinya kita sudah gak ada urusan, jadi mending kamu pulang, dan gak udah kesini lagi."

Naka menyeringai tipis, kedua lenganya masuk ke saku celana. "Yakin udah gak ada urusan?"

Zea bangkit seraya tersenyum, melangkah mendekati Naka. "Kamu masih marah, masih dendam sama aku? Masih gak terima aku lebih milih uang 1 milyar daripada kamu?"

Rahang Naka seketika mengeras mendengar Zea membahas soal itu.

"Kamu sendiri yang bilang Naka, kalau aku sudah mendapatkan karma, suamiku meninggal. Apa masih kurang karmaku? Dan masalah uang 1 milyar dari Papa kamu, itu gak seratus persen bener, aku gak terima uang sebanyak itu.'

"Maksudnya?" kening Naka mengernyit.

"Papa kamu menipuku, ia hanya memberiku 100 juta, tak sesuai dengan perjanjian yang aku tanda tangani."

Naka auto tertawa, "Tapi tetep aja kan, kamu terima uang dari Papaku? Uang hasil menukar cinta. Miris!" menatap Zea tajam dengan kedua telapak tangan terkepal kuat.

Zea membuang nafas kasar, "Aku terpaksa, aku ada alasan."

"Halah, sok terpaksa, ngaku aja kalau emang tergoda dengan uang 1 milyar," Naka tersenyum kecut. "Tapi sayangnya malah ketipu, cuma dapat 100 juta," ia tertawa cekikikan. "Matre ya matre aja, gak usah bilang terpaksa."

"Kayaknya emang percuma ngomong sama kamu, karena aku memang seburuk itu di mata kamu." Zea kembali balik badan, duduk di tempat semula. Ngomong sama Naka cuma bikin ia emosi, gak mau denger penjelasan, yang ada ngejudge duluan. Emang yang paling bener, segera mengakhiri urusan dengan Naka, jangan lagi lah bersinggungan dengan keluarga mereka.

"Kamu bilang gak ada urusan lagi diantara kita, lalu Arka bagaimana? Bukannya kemarin kamu bilang jika dia anakku?"

Reflek Zea bangkit, balik badan lalu meletakkan telunjuk di depan bibir. Menoleh, memastikan Arka masih tidur dan tak mendengar yang barusan.

"Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau Arka_" Naka melotot saat Zea tiba-tiba membekap mulutnya dengan telapak tangan. Wanita itu lalu menariknya menjauh dari ranjang.

Zea menarik Naka masuk ke dalam kamar mandi lalu menutupnya. Ia tak mau Arka mendengar obrolannya dengan Naka, jangan sampai dia tahu jika selama ini sudah dibohongi soal ayahnya.

Naka terkekeh sambil geleng-geleng. "Mau ngapain bawa aku berduaan di kamar mandi?"

"Hah!" Zea melihat sekitar, lalu mengusap wajah dengan telapak tangan saat sadar. Tadi ia terlalu panik, takut Arka dengar omongan Naka, jadi yang ada di fikirannya hanya membawa Naka menjauh. Eh...malah masuk ke kamar mandi berdua. "Udahlah, udah terlanjur masuk," gumamnya pelan.

"Belum tuh, belum masuk," Naka menatap bagian bawah perutnya sambil tersenyum simpul.

Zea nyengir, lalu geleng-geleng kepala. "Belum berubah juga ya, dari dulu masih sama, otaknya kotor."

"Maksudnya apa belum berubah? Kamu masih ingat kebiasaan aku dulu? Masih belum move on?" tersenyum mengejek.

"Hah!" Zea melongo, lalu menutup mulut, menahan tawa. "Gak salah ngomong gitu? Bukannya kamu yang belum move on? Nyulik anakku buat apa kalau bukan buat ketemu aku?" tersenyum kecut. "Aku udah nikah, lha kamu?" ejeknya.

"Aku udah mau nikah kok," tak terima dibilang belum move on.

"Baguslah kalau gitu, biar kamu gak ngurusin hidup aku lagi, biar aku dan Arka bisa hidup tenang."

Naka maju, mendesak Zea mundur hingga punggungnya mentok, menatap dinding. Menatap dingin dengan kedua lengan berada di samping kiri dan kanan wajah Zea, mengungkungnya. "Jangan harap aku gak ngurusin hidup kalian kalau sampai terbukti Arka anak aku."

Wajah Zea pias, mulai gelisah. "A, aku hanya asal ngomong kemarin, gak usah dipercaya. Arka anak suamiku."

"Benarkah?" Naka memajukan wajah, hidungnya yang hampir menyentuh hidung Zea, sampai-sampai wanita itu memalingkan wajah. "Kalau terbukti kamu sudah misahin aku dari anakku, jangan marah jika nanti, aku balas dengan memisahkan kamu dari anakmu!"

"Jangan macam-macam kamu!" tekan Zea dengan nafas naik turun, kedua telapak tangannya terkepal kuat. "Kamu bukan siapa-siapaku, Naka. Kalau pun Arka anakmu, dia anak di luar nikah, kamu tak punya hak sedikitpun atas dia."

"Oh ya!" Naka tersenyum penuh arti.

"Jangan pernah mengusik anakku!"

"Ibu... Ibu.. "

Zea mendorong kedua bahu Naka mendengar suara teriakan Arka.

"Ibu.... " Arka menangis tak mendapati Ibunya di dalam kamar. Ia sendirian, kamar kosong.

"Iya, Sayang." Buru-buru Zea keluar dari kamar mandi, berjalan cepat menghampiri Arka yang duduk di atas ranjang sambil menangis.

"Ibu...." Arka mengulurkan kedua lengannya ke arah ibunya.

"Kenapa nangis, ada yang sakit?" Zea memeluk Arka, mengusap kepala hingga punggungnya.

"Aku kira, Ibu pergi ninggalin aku."

"Enggak Nak, Ibu gak kemana-mana. Ibu hanya ke toilet sebentar."

Arka melihat Naka keluar dari dalam toilet, berjalan ke arahnya. Tadi keduanya tak ada, kamar kosong, makanya ia langsung menangis. "Ibu di toilet bersama Om Bos?"

"Hah?" Zea melepas pelukannya, menatap Arka gugup.

"Ibu dan Om Bos ke toilet bareng-bareng? Biasanya kalau Ibu di kamar mandi, aku gak boleh masuk. Katanya laki-laki dan perempuan tidak boleh berada di toilet bersama, kok Ibu sama-sama Om Bos?"

Zea memutar otak untuk mencari alasan yang tepat. "E... tadi Ibu di dalam, terus Om Bos di luar, gantian, antri."

"Ck, dasar tukang bohong," gerutu Naka pelan, namun masih bisa di dengar Zea yang berada tepat di sampingnya.

"Tadi aku kok gak ngeliat Om Bos di luar kamar mandi, katanya antri?"

"I, itu, tadi Ibu suruh Om Bos masuk sebentar untuk beneran keran air, bocor."

"Oh... "

Naka mendekatkan bibirnya di telinga Zea, berbisik. "Kayaknya kamu udah pro kalau urusan bohong. Gak hanya aku yang kamu bohongi, anak kamu juga kayaknya tiap hari kamu bohongi."

Zea menoleh, mendelik kesal.

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mesumnya🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
nyinyir amat jd lakik
Humaira
sakkarepmu lah naka, kamu sama aja sama bapakmu, menyebalkan 😤😤
Septi
ya ampun sampai kepikiran keramas 🤣🤣
Septi
wkwkwkwkwk ngomongin orang depan orang nya🤣
Septi
wkwkwkwkwk korban salah sasaran kah🤣🤣
Septi
siap-siap aja bayar hutang yang menumpuk🤣
Valen Angelina
papamu yg jahat naka..jgn nyesal ya nanti klo Uda terbongkar
NUR..8537
makasih unt up..nya🙏smg Kaka sehat slalu 💪🙏😘
NUR..8537
naka" km akan menyesal stlh tau semua..nya🥹 good job kaka👍🙏😘
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Naka mmg ngeselin, pak Very mmg pemain pembohong
jumirah slavina
buahahahahahahahahahaaaaa 🤣🤣

o...o'o... kycduk kalian....

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
astaga s' dodol🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
kita gak usah membela diri sm orang yang menganggap kita buruk krn gak ngaruh yang ada bikin emosi., jelaskan cukup 1x sisa 'y biar Tuhan yang urus.,

itu sih Aku ya Ze😄🤣
Bunda Idza
kamu cerdas banget si nak....☺️
Bunda Idza
sepertinya udah tau banget kamu Naka ☺️
Sugiharti Rusli
semoga saja dia bisa berpikir lebih dalam tentang kondisi si Zea dulu yang pasti sangat memprihatinkan dalam kondisi hamil,,,
Sugiharti Rusli
kalo dulu saat si Zea pergi dalam keadaan hamil Arka, seharusnya dia berpikir apa uang yang si Zea ambil bisa mencukupi mereka b-2 selama 8 tahun ini
Sugiharti Rusli
dia hanya mau melihat kesalahan dan keburukan si Zea saja yang dia bilang cewe matre,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kan setelah dia operasi dan bisa melihat lagi orang" yang dulu tahu keberadaan si Zea tiba" dipecat/dipaksa resign pasti sama Verdy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!