Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Ruang kerja Tuan Tuqman, ayah Naya, berada di ujung koridor lantai satu. Naya menghela nafas panjang sebelum membuka pintu.
Namun baru saja hendak menari gagangnya, pintu itu terbuka. Sosok Lucio muncul dari balik pintu, pria yang selama ini digambarkan oleh ayahnya sebagai sosok yang mengerikan.
Lucio tampan, bahkan terlalu tampan untuk menjadi seseorang yang tidak punya hati. Jas gelapnya jatuh sempurna di bahu lebar, kancingnya terpasang rapi, seakan pertemuan di dalam ruangan barusan hanyalah urusan kecil yang tidak layak meninggalkan jejak emosi. Namun ketenangan di wajahnya membuat tengkuk Naya meremang.
Pandangan mereka bertemu. Hanya sesaat, tapi cukup lama untuk membuatnya lupa bernapas. Mata pria itu menelusurinya singkat dengan gerakan lambat, seolah dia sedang dibaca, dipetakan, lalu disimpan dalam ingatan. Naya merasa dirinya telanjang tanpa disentuh oleh tatapan yang tajam dan dalam. Bibir pria itu melengkung tipis.
“Naya, apa yang kamu lakukan disini?” Tuan Tuqman keluar tak lama kemudian, wajah ayahnya seketika pucat mendapati Naya berada di depan ruang kerjanya.
“Anda tampak panik? Kudengar dari para pelayan kalau dia sedang sakit, tapi kelihatannya dia baik-baik saja.” Ujar Lucio menilai Naya dalam sekali pandang, wanita itu tampak sangat sehat.
“I–itu–”
“Aku tidak sakit, aku hanya tidur dan kebablasan sampai dua hari.” Naya menjawab sebelum ayahnya sempat menjelaskan.
“Istirahatlah, Naya. Papa masih ada urusan dengan Tuan Lucio.” Tuan Tuqman memberi
isyarat supaya Naya segera pergi.
“Urusan kita sudah selesai.” Lalu Lucio pergi tanpa memberi pandangan kedua pada Naya. Tuan Tuqman menghela nafas lega.
“Papa kan sudah bilang jangan sekali-kali muncul di depannya.” Omel Tuan Tuqman. Dia melangkah lebar menuju ruang baca yang terletak bersebelahan dengan ruang kerjanya. Tangannya membuka jas hitam yang sedari tadi membuatnya sesak.
“Kenapa sih pa?” Tanya Naya tidak mengerti, mengikuti sang ayah.
Tuan Tuqman tidak menjawab, tidak memberi penjelasan. Dia duduk di sofa mewah ruang baca kemudian menatap Naya lembut.
“Papa senang kamu sudah bangun, bagaimana perasaanmu sekarang?” Tanyanya lembut.
“Aku baik-baik saja. Tapi ada yang ingin aku sampaikan pada papa.” Naya ikut duduk di samping ayahnya, meski hatinya berat, dia tahu dia harus secepatnya mengatakannya.
“Apa itu? Papa selalu mendengarkan,”
Naya tersenyum tipis seolah memastikan bahwa dirinya benar baik-baik saja. “Aku mau memutuskan hubunganku dengan Ardan.”
“Apa yang baru saja kamu katakan, Naya?” Tanya Tuan Tuqman. Pria paruh baya yang masih tampan di usia yang tidak lagi muda itu tidak percaya dengan permintaan putrinya.
Naya mengamati wajah ayahnya yang sudah dijamah keriput di beberapa bagian, hal itu mengingatkan Naya kalau ayahnya sudah hampir mendekati usia senja. Ia tahu, ayahnya sudah sangat ingin melihatnya menikah dan melahirkan cucu. Tapi, Naya benar-benar tidak bisa jika itu dengan Ardan.
“Aku serius, Pa. Aku udah nggak mau bertunangan dengan Ardan, aku mau membatalkannya.” Naya mengulangi kembali perkataannya beberapa saat lalu, bahwa dia serius ingin mengakhiri keterikatan antara dirinya dan Ardan.
Naya sudah mencintai Ardan sejak mereka masih remaja labil, Naya juga meminta ayahnya untuk menjodohkan mereka. Dengan kekuasaan ayahnya, mudah sekali membuat Ardan memilihnya.
Tetapi sekarang Naya sadar semua itu tidak ada gunanya, pria itu telah berselingkuh dengan adik tirinya. Ardan tidak akan pernah mencintainya, tidak akan pernah memilihnya secara sukarela. Ardan mencintai Rima, dan sekalipun dia tidak bisa memili Rima, mereka tetap menjalin hubungan secara diam-diam.
Jadi sebelum pernikahan terjadi, sebelum ia dihancurkan lebih hebat dari hari itu, ia ingin mengakhirinya lebih cepat. Ia ingin melepaskan seseorang yang sejak dulu ia genggam erat, yang ia jaga begitu kuat. Ia melepaskan untuk membebaskan mereka berdua dari rasa sakit.
“Baru tiga hari lalu kamu mengatakan kalau kamu sangat mencintainya, kamu juga bilang ingin secepatnya menikah. Apa yang membuatmu berubah pikiran? Apa dia menyakitimu?” Tanya Tuan Tuqman, caranya bicara nyaris menggeram. Wajahnya sedikit berubah menjadi kecewa dan marah.
“Nggak, pa. Aku hanya merasa keputusanku sebelumnya terlalu terburu-buru,” kata Naya sesaat setelah menekan perasaannya yang bergejolak tak karuan.
Tok…tok…tok…
Ketukan pada pintu membuat pembicaraan serius antara ayah dan anak itu terhenti sejenak.
Tuan Tuqman menoleh ke pintu. “Masuk.”
Seorang kepala pelayan tua masuk dengan kepala tertunduk. “Di luar ada Tuan Ardan, dia ingin menjenguk Nona Naya.”
Bibir Naya menyunggingkan senyum getir, menjenguk? Padahal Naya telah terbaring tidak sadarkan diri selama dua hari dan Ardan baru datang sekarang? Naya benar-benar baru menyadari betapa tidak baiknya pria itu untuknya.
“Ayo, pa, kita harus menemuinya.” Naya berdiri, menggandeng tangan ayahnya lalu berjalan keluar bersama ayahnya. "Papa harus menyampaikan hal ini padanya dan keluarganya secepatnya." katanya lagi sambil berjalan.
"Baiklah, apapun untuk putri kecil papa." Tuan Tuqman menghela nafas berat seraya mengusap lembut rambut Naya. Meskipun Tuan Tuqman sedikit heran dengan sikap aneh putrinya. Entah kenapa sejak bangun dari tidur dua harinya, Naya agak berubah. Tuan Tuqman belum mengetahui pasti apa yang berubah dari Naya tetapi dia bisa merasakannya.
Di ruang tamu Ardan duduk ditemani oleh Rima. Mereka begitu akrab. Dulu Naya menganggapnya hanya sebatas keakraban biasa, namun sekarang Naya tahu mereka saling mencintai.
“Om,” Ardan langsung berdiri melihat kedatangan Tuan Tuqman.
“Sayang,” setelah itu Ardan menyapa Naya. Naya hanya mengangguk, tapi dalam hati merasa jijik.
“Duduk Ardan, ada yang mau om sampaikan.” Kata Tuan Tuqman, wajahnya menjadi lebih serius.
Ardan kembali duduk sambil memberi ruang antara dirinya dan Rima, tapi matanya menatap Naya heran saat melihat gadis itu tidak duduk di sampingnya. Menyadari sikap aneh Naya, Ardan memiliki firasat buruk tentang pembicaraan mereka kali ini.
“Begini Ardan, dengan berat hati saya mengatakan bahwa hubunganmu dengan Naya tidak bisa dilanjutkan.” Tuan Tuqman mengangkat tangan ketika Ardan hendak protes. “Nanti malam kabarkan pada orang tuamu, saya akan berkunjung untuk membicarakan ini.”
Untuk sesaat Ardan membeku, matanya melirik Naya yang duduk tenang di samping ayahnya. Rima yang ada di samping Ardan tanpa sadar mencengkeram pahanya, gugup.
Naya melihatnya.
“Kenapa om? Hubungan kami baik-baik saja, persiapan pertunangan juga hampir selesai.” Kata Ardan tidak mengerti. Di satu sisi dia merasa senang karena tidak lagi harus menikahi Naya, namun disisi lain dia juga bingung.
“Bisa kita bicara berdua?” Tanya Naya. Ardan mengangguk.
Keduanya meninggalkan ruang tamu, berjalan bersama ke ayunan di halaman belakang. Naya duduk di sisi kanan, menatap lurus pada danau buatan yang dibuat khusus oleh ayahnya sebagai hadiah ulang tahun ketiga belas.
“Kenapa tiba-tiba?” Tanya Ardan setelah mereka duduk.
“Aku merasa kita berdua nggak cocok.” Naya menjawab sembari tersenyum tipis. Harusnya ia mengatakan bahwa ia melihat Ardan tidur dengan Rima. Harusnya ia mengatakan ia tahu perselingkuhan mereka. Tapi, Naya tidak punya banyak tenaga mengatakan semua itu, ia tidak punya kekuatan untuk menjelaskan bahwa ia tersakiti. Badannya gemetaran setiap kali mengingat itu.
Namun Ardan merasa tidak yakin dengan jawaban Naya, dia masih merasa ada yang tidak dikatakan oleh Naya.
“Naya, aku tidak mau hubungan kita berakhir.”
...***...