Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Resonansi Luka dan Kemunculan Sang Benalu
Tangan Valerie gemetar hebat saat ia melemparkan foto-foto kemesraan Jerome dan Elena ke atas meja mahoni di ruang kerjanya. Setiap lembar gambar itu terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya tanpa ampun.
"Keluar, Jerome! Pergi pada wanita pemujaanmu itu! Jangan pernah injakkan kakimu di kantor keluarga Vaughn lagi!" teriak Valerie dengan suara yang pecah karena tangis.
Jerome tidak bergerak pergi. Sebaliknya, pria itu melangkah maju dengan wajah yang mendadak sepucat kertas. Ia tidak tampak marah, melainkan... tersiksa. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan mendominasi kini meredup, digantikan oleh gurat penderitaan yang sangat nyata.
"Valerie... dengarkan aku..." suara Jerome serak, nyaris tenggelam dalam deru napasnya yang tidak beraturan.
"Dengarkan apa?! Bahwa aku hanya pengganti? Bahwa kau menikahiku hanya untuk membalas dendam pada Aiden?!" cecar Valerie, mengabaikan rasa sesak yang mulai menghimpit dadanya sendiri.
Tiba-tiba, Jerome jatuh bertumpu pada satu lututnya. Ia mencengkeram kemeja hitamnya tepat di atas jantung dengan kuat. Kepalanya tertunduk, dan peluh dingin mulai membanjiri pelipisnya yang tegas.
"Ugh... Argh!" Jerome mengerang kesakitan. Suara erangannya terdengar begitu pedih, seolah-olah ada pisau tak kasat mata yang benar-benar sedang menghujam jantungnya berulang kali.
Valerie terpaku di tempatnya berdiri. Kemarahannya sesaat tergantikan oleh rasa bingung dan cemas yang luar biasa. "Jerome? Kau... kau kenapa? Jangan berpura-pura!"
Jerome merasakan rasa sakit itu menghantamnya seperti ombak raksasa. Ini bukan sekadar perih fisik seperti cambukan tempo hari, melainkan rasa sesak yang menghimpit paru-parunya hingga ia sulit meraup oksigen. Hatinya berdenyut dengan ritme yang menyakitkan, beresonansi dengan setiap isakan dan rasa kecewa yang terpancar dari mata Valerie.
"Sialan..." Jerome mengerang, mencoba mengatur napas yang tersengal. "Valerie... demi Tuhan... berhentilah menangis..."
Jerome mendongak, menatap istrinya dengan mata yang memerah. Tangannya yang gemetar meraih ujung gaun Valerie dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Bagaimana mungkin... aku ingin menyakitimu... jika setiap kali kau terluka, akulah yang merasa seperti sedang mati?"
Valerie tertegun, matanya yang basah menatap Jerome dengan penuh selidik. "Apa maksudmu?"
"Ikatan ini, Val... aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi jiwaku terikat mati padamu," ucap Jerome di sela-sela denyut menyakitkan di dadanya. "Jika wanita di foto itu benar-benar lebih penting darimu, aku tidak akan merasa sehancur ini saat kau membenciku. Rasa sakit hatimu... mengalir langsung ke jantungku."
Jerome mencengkeram tangan Valerie, menempelkannya tepat di atas dadanya agar wanita itu bisa merasakan betapa kencang dan tidak stabilnya detak jantung Jerome saat ini.
"Berjanjilah untuk tenang... dan aku bersumpah, malam ini juga, aku akan menunjukkan segalanya padamu. Siapa wanita di foto itu sebenarnya. Jangan percaya pada Elena... dia hanya masa lalu yang sudah mati," Jerome memohon dengan nada yang sangat rentan.
BRAKK!
Pintu ruangan CEO yang sudah rusak akibat tendangan Jerome tadi kembali terbuka dengan kasar. Sesosok pria masuk dengan senyum sinis yang memuakkan, bertepuk tangan pelan seolah sedang menonton pertunjukan drama kelas bawah.
"Wah, wah... Paman Jerome yang agung ternyata sedang berakting picisan?"
Aiden melangkah masuk dengan angkuh, matanya berkilat penuh kemenangan saat melihat Jerome yang masih berlutut di lantai. Ia menoleh ke arah Valerie yang masih tampak syok.
"Valerie, jangan tertipu. Dia hanya sedang memanipulasimu dengan rasa sakit buatannya itu," Aiden terkekeh gelap. Ia mendekati meja dan memungut foto-foto Elena. "Elena adalah cinta sejatinya. Dia menikahimu hanya karena Kakek mengancam akan mencoretnya dari ahli waris jika dia tidak segera memberikan 'keturunan sah' untuk menandingi kehadiranku. Kau hanya rahim sewaan baginya."
"Tutup mulutmu, Aiden!" desis Jerome, mencoba bangkit berdiri meski tubuhnya masih terasa lemas.
Aiden justru tertawa semakin keras. Ia sengaja melangkah mendekati Valerie, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia mencengkeram lengan Valerie dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih.
"Akh! Lepaskan, Aiden!" pekik Valerie kesakitan.
Seketika itu juga, Jerome tersentak hebat. Ia memegangi lengannya sendiri, meringis seolah kulitnya sedang dicabik-cabik. Aiden yang melihat reaksi itu langsung menyeringai lebar. Teorinya terbukti; Jerome benar-benar menjadi lemah karena wanita ini.
"Jadi benar ya?" Aiden mempererat cengkeramannya pada lengan Valerie, sengaja membuat wanita itu semakin kesakitan. "Setiap kali aku menyakiti wanita ini, kau juga akan hancur, Paman? Betapa menyedihkannya sang Iblis Renfred sekarang."
"LEPASKAN DIA!" Jerome menerjang maju. Amarah yang meledak mengalahkan rasa sakitnya. Ia menghantam wajah Aiden dengan pukulan telak yang membuat keponakannya itu terpelanting menabrak sofa.
Jerome segera menarik Valerie ke dalam pelukannya, melindunginya dengan tubuh besarnya. Ia menatap Aiden dengan sorot mata yang sanggup membunuh. "Jika kau menyentuhnya sekali lagi, aku tidak akan mempedulikan hubungan darah kita. Aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa melihat cahaya matahari lagi, Aiden."
Aiden menyeka darah dari sudut bibirnya, bangkit dengan sisa keberaniannya. "Kita lihat saja, Paman. Sekarang aku tahu cara membunuhmu tanpa harus menyentuh seujung kuku pun dari tubuhmu."
Aiden berjalan keluar dengan tawa mengejek yang menggema, meninggalkan Valerie yang gemetar dalam pelukan Jerome. Valerie menatap Jerome dengan haru sekaligus takut; ia menyadari bahwa mulai sekarang, keberadaannya bukan lagi sekadar istri, melainkan nyawa kedua bagi pria di hadapannya.
...****************...