NovelToon NovelToon
Air Mata Shafira

Air Mata Shafira

Status: tamat
Genre:Angst / Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Tamat
Popularitas:146.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Gentra

Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.

Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.

Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Erick diam saja saat Wulan bertanya, pria itu mengalihkan tatapannya dari smartphone ke arah istri keduanya.

“Katakan padaku, Sayang! Apa kamu mencintainya?” Wulan kembali bertanya.

Erick menarik napas dalam barulah menjawab dengan datar, “Dia istriku juga, aku bertanggung jawab pada mendiang kedua orang tuanya!”

Sakit hati Wulan, saat Erick mengakui kalau Shafira adalah istrinya juga, ia tidak ingin perasaan Erick berkembang menjadi cinta atau sejenisnya.

“Kamu mau mencari dia?”  

“Ya, aku sudah menyuruh Hendra untuk mencari perempuan itu di mana saja!”

Hendra adalah orang kepercayaan Erick selama ini untuk urusan yang bersifat rahasia.

“Aku pikir dia belum jauh dari sini, dia jalan kaki, tidak mungkin bisa sampai keluar kota dalam waktu beberapa jam saja!”

“Jangan pikirkan soal dia, aku tahu apa yang harus aku lakukan!”

“Aku akan membantumu mencarinya!”

“Tidak perlu, Sayang! Temani Mama saja, itu sudah cukup bagiku!” Erick berkata sambil mendekati Wulan dan mencium keningnya.  

Pria itu pergi ke ruang kerjanya sambil menelepon seseorang yang ia percayai. Meninggalkan Wulan yang masih terpaku seorang diri.

Sesampainya di ruang kerja, Erick duduk dengan posisi menghadap ke jendela.

“Kau sudah mengumpulkan mereka?” tanya Erik, ketika benda pipih itu sudah menempel di telinga.

“Ya, Tuan!” seru seseorang di seberang smartphone miliknya.

“Kalian sekarang ada di mana?”

Orang bernama Hendra itu kemudian menjelaskan posisi dirinya dan anak buahnya, ada beberapa orang yang sedang mengecek lokasi di sekitar kediaman Erick. Sebagian lagi menyusuri jalanan ke arah pekuburan orang tua istrinya, dan sebagian lagi di beberapa titik di mana Shafira pernah berkunjung ke sana.

“Baiklah, aku suka dengan cara kerjamu! Lanjutkan! Aku tunggu kabar baik dari kalian!”

Erick menutup telepon secara sepihak begitu ia selesai bicara. Ia duduk dengan posisi menghadap meja dengan gelisah. Matanya sibuk mengamati layar laptop dari kamera CCTV, yang mengarah ke sisi kanan rumahnya. Di sana menunjukkan kamar di mana Shafira berhasil kabur dengan mudahnya.

Sayangnya, kamera itu terbatas, rekaman terakhir menunjukkan kalau Shafira melompat ke balik dinding yang kebetulan, tak begitu tinggi. Setelah berhasil menaiki susunan batu yang dibuatnya sendiri, bayangan tubuh Shafira tak terlihat lagi.

“Siaaal!” pekiknya berulang kali.

Tiba-tiba ada rasa kehilangan, ruang kosong di sudut hatinya berdenyut, dan nama Shafira terukir di sana.

“Shafira! Awas saja kalau aku berhasil menemukanmu nanti!” gumamnya lagi sambil mengepalkan kedua tangannya dengan keras.

***

Shafira membuka mata dengan perlahan setelah ia mendengar suara seseorang memanggil-manggik namanya dengan lembut. Gadis itu melihat pemandangan kamar yang asing di sekitarnya. Aroma harum pun tercium dari indra penciumannya, bau wewangian yang sangat menenangkan dan membuat hati serta pikirannya tentram.

Saat itu ia berada di dalam kamar dengan cat serba putih baik di tembok atau pun seluruh perabotan di dalamnya. Aroma wangi itu berasal dari aroma terapi pilihan sesuai rekomendasi dokter yang memeriksa Shafira.

“Shafira ..., kau sudah bangun?” suara seorang pria terdengar lembut menyapa.  

Shafira menoleh ke samping dan ia melihat wajah teduh sedang memandangnya dengan tatapan penuh makna.

Dia Ardan, membuat heran. Shafira berusaha mengumpulkan kesadaran dan mencerna kembali apa yang baru saja ia alami sebelum berada di tempat itu.

“Ardan? Di mana aku?” tanyanya dengan suara lirih.

“Kamu ada di kamarku!” katanya tenang, senyum lembut terukir di wajah tampan itu.

Pikiran Shafira tentu menolak, ini tidak benar, ia sudah menikah tentu tidak bisa berada di kamar seorang pria yang bukan suaminya.

“Kenapa aku bisa ada di rumahmu?” katanya sambil berusaha menyibakkan selimut tipis yang menutupi tubuhnya.  

Ia bersyukur karena masih berpakaian lengkap dan tidak kekurangan apa pun. Namun, dari gerakan ringan itu, ia merasakan sekujur tubuhnya ngilu dan membuatnya kembali berbaring.

“Kamu pingsan di jalan! Untung saja aku menemukanmu! Coba kalau orang lain, kamu bisa saja—ahk, sudahlah! Yang penting kamu aman sekarang!”

“Aku pingsan? Di mana?”

“Di Jalan Kertajaya, apa yang kamu lakukan di sana? Apa sekarang kamu sudah ingat?”

Shafira mencoba mengingat tapi kepalanya justru berputar dan berdenyut nyeri. Sebelah tangan kirinya di infus ada beberapa plaster penutup luka di kaki dan tangannya.  

“Sebenarnya aku—“ ucapannya terputus.

“Kamu kenapa?”

Shafira diam sejenak, lalu Ardan memberinya minum air mineral dan gadis itu meneguknya sampai habis. Sejak ia masuk ke kamar itu dan berhasil kabur, belum ada makanan dan minuman apa pun yang berhasil dikonsumsinya. Ia bersyukur sekarang ia tidak mual.

“Aku kabur dari Erick!” katanya sedikit gugup. Ia ragu dengan pendiriannya saat itu.

“Erick?”

Ardan menatapnya penuh selidik, meskipun sebenarnya pria itu sudah tahu, ia masih penasaran juga. Ia menyelidiki segala sesuatunya tentang Shafira melalui seorang teman kepercayaannya. Namun, ia tetap ingin gadis itu mengakuinya sendiri.

“Ya, dia suamiku yang sudah mengurungku, makanya aku kabur!”

Akhirnya Shafira menceritakan semuanya secara jujur pada Ardan, dari awal ia bertemu dan kemudian menikah dengan Erick. Mau tidak mau ia harus mengatakannya sebab kejadian ini, membuatnya tidak bisa menutupi semuanya lagi.

Sebenarnya, kalau dikatakan terpaksa menikah juga tidak, sebab ia menyetujui keinginan ibunya dengan suka rela. Tentu dengan harapan bahwa, kehidupannya akan jauh lebih baik. Harapannya tidak salah, tapi kenyataanlah yang membuatnya tersiksa. Disebabkan oleh sang suami yang tidak melakukan apa yang sudah menjadi kewajibannya.

Saat itu Shafira sudah menyerah untuk memahami suaminya dan keadaannya yang terkurung. Ia mendapat perlakuan tidak manusiawi dari suaminya sendiri.

Shafira ingat, ia memang berhasil melompati dinding pembatas rumah besar itu. Namun, setelah berjalan beberapa meter di jalanan yang kebetulan sepi, ia merasa sekujur tubuhnya gemetar hebat. Ia berhenti untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lemas, haus, lapar, sakit kepala dan yang lebih sakit lagi adakah hatinya.

Setiap kali ada mobil sedan melintas, ia bersembunyi, karena khawatir jika orang yang ada di dalamnya adalah Erick. Hal itu berlangsung sampai beberapa waktu, hingga tubuhnya tidak kuat lagi, tidak mampu berdiri, seolah sekitarnya gelap dan sunyi dan ia pun tak sadarkan diri.  

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil melintas dan melihat seorang gadis dengan tas kecil di punggungnya tergeletak di jalan. Begitu melihatnya, pengendara—yang tak lain adalah Ardan, begitu terkejut.

“Shafira! Shafira!” teriaknya panik, “Kenapa kamu bisa ada di sini?”

Tanpa pikir panjang, ia membawa tubuh gadis itu ke dalam mobilnya dengan segera. Ia menghubungi seseorang selama dalam perjalanannya ke rumah sakit dan meminta seseorang menyelidiki sesuatu tentang gadis itu.  

Ardan curiga karena melihat banyaknya luka lebam di sekujur tubuh Shafira.

“Shafira ...! Bangunlah, apa sebenarnya yang kamu alami?” katanya lagi, setelah selesai menelepon.

Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah gadis yang tak sadarkan diri di sampingnya.

Sesampainya di IGD, Shafira segera ditangani, dan selama menunggu, Ardan menerima laporan tentang penyelidikannya. Ia pun kecewa sekaligus marah, tapi ia tidak bisa melampiaskan kemarahannya saat itu juga.

Lebih dari satu jam setelah mendapatkan penanganan dari pihak medis, Shafira akhirnya bisa dipindahkan ke ruang rawat inap sesuai keinginan Ardan.

Mengingat kejadian yang dialami Shafira, Adan merasa harus menyembunyikan gadis yang masih menguasai hatinya itu. Lalu, ia pun memindahkan perawatannya ke rumahnya sendiri, setelah melalui prosedur yang ada.

Maksudnya hanya satu, agar Erick tidak mengetahui keberadaan istrinya dan Ardan ingin menjaga Shafira sampai ia benar-benar bisa memulihkan kondisi tubuhnya dengan sempurna.

“Ardan, bagaimana kamu bisa menemukan aku?”

“Kebetulan! Aku sebenarnya jarang lewat di jalan itu, tapi kemarin entah kenapa aku ingin lewat di sana setelah rapat.”

“Oh, terima kasih, tapi kenapa kamu membantuku?”

Bersambung  

1
Rusmiati Eyus
ceritany bgs dn sngt menarik
💞®²👸ᖽᐸ🅤ᘉᎿ🅘💞: Terimakasih kk🙏
total 1 replies
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa: Sama² kak thor....karya yang baik
dan yang penting tetap semangat kak thor ✌️
total 2 replies
Yunerty Blessa
cerita yang menarik....ada sebahagian bisa dijadikan pelajaran..
syabas kak thor
Yunerty Blessa
sabar bu Renata... mereka adalah tamu kalian...
Yunerty Blessa
ibu mertua yang baik dan perhatian sekali....
Yunerty Blessa
tahniah buat kelahiran baby boy kalian...
Yunerty Blessa
aduh lucunya 🤣🤣
Yunerty Blessa
akhirnya Riyan dan Shafira bisa hidup bahagia lagi.... tahniah buat pernikahan kalian....
Yunerty Blessa
menyesal kan
Yunerty Blessa
maka nya isteri itu disayangi bukan disyaki
Yunerty Blessa
apa sudah jadi dengan Erick....
Yunerty Blessa
akhirnya Shafira menerima Riyan juga...
Yunerty Blessa
syabas Riyan
Yunerty Blessa
salah satu nya wasiat kedua orang tua Shafira tidak ditetapi oleh Erick 😏
Yunerty Blessa
takut pilihan nya dibeli oleh calon Ardan....
Yunerty Blessa
terima lah Shafira...
Yunerty Blessa
itulah balasan buat Erick kerana terlalu jahat sama Shafira
Yunerty Blessa
seorang anak haus akan kasih sayang seorang ibu
Yunerty Blessa
kalau memang kau tidak mahu kehilangan Shafira lagi.....nikahi dia Riyan....
Yunerty Blessa
berarti Riyan juga suka dengan Shafira....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!