“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
"Ayamnya harus dihabiskan ya, Lio. Biar nanti di sekolah suaranya jadi lantang seperti singa!" seru Cahaya memenuhi ruang makan yang biasanya sedingin kulkas itu.
Elio mengangguk antusias sembari menyuap nasi goreng terakhirnya dengan penuh semangat. Cahaya duduk di sampingnya, masih sesekali meringis karena pinggangnya masih sedikit kaku, tapi ia berusaha menutupi itu demi Elio.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Jeremy melangkah masuk dengan penampilan yang sangat kontras dengan suasana hangat di meja makan.
Rambutnya berantakan, kaosnya basah oleh keringat dan yang paling mencolok adalah buku-buku jarinya yang lecet, memar kebiruan, dan menyisakan bekas darah kering.
Cahaya melirik sekilas, lalu membuang muka dengan ketus. "Oh, monsternya sudah pulang. Habis berburu di hutan mana, Om? Sampai tangan babak belur begitu?"
Jeremy tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke arah Cahaya, lalu beralih pada Elio. Langkah Jeremy terhenti saat Elio tiba-tiba turun dari kursinya dan berlari kecil menghampirinya.
"Daddy..." sapa Elio pelan. Mata bocah itu tertuju pada tangan Jeremy yang terluka.
Dengan ragu, Elio mencoba menyentuh ujung jemari ayahnya. "Tangan Daddy... sakit?"
"Jangan sentuh aku!" bentak Jeremy kasar sambil menarik tangannya menjauh.
Elio tersentak, bahunya merosot seketika. Ia terdiam di tempatnya berdiri, menunduk dalam-dalam dengan jemari yang saling bertaut cemas.
"Maaf, Dad. Lio cuma... cuma mau kasih ini."
Elio menyodorkan selembar kertas yang sudah agak lecek dari saku seragamnya.
"Hari ini sekolah Lio ulang tahun. Ada acara pertunjukan dan Lio ikut tampil. Kata guru, daddy harus datang."
Jeremy menyambar kertas itu, membacanya sekilas dengan tatapan meremehkan, lalu meremasnya begitu saja.
"Aku tidak punya waktu untuk urusan konyol seperti ini. Aku punya banyak pertemuan penting di kantor."
"Tapi Lio cuma tampil sebentar, Dad." suara Elio nyaris hilang.
"Aku bilang tidak ya tidak! Suruh Martha saja yang datang. Jangan menggangguku dengan hal-hal tidak berguna!" Jeremy membentak lagi, membuat Elio mundur dua langkah dengan wajah pucat.
Brak!
Tidak tahan, Cahaya menggebrak meja makan dengan keras hingga sendok dan garpu berdenting nyaring. Ia berdiri dengan susah payah, menahan rasa nyeri di pinggangnya, lalu berjalan pincang menghampiri Jeremy.
"Heh, Om Sombong! Mulutnya bisa disekolahkan lagi tidak?!" teriak Cahaya tepat di depan wajah Jeremy.
"Jangan ikut campur! Ini urusan keluargaku!"
"Keluarga? Om sebut ini keluarga?!" Cahaya tertawa sarkas. "Lio cuma minta waktumu satu jam, bukan minta seluruh aset perusahaanmu yang membosankan itu! Tanganmu babak belur karena memukul dinding, kan? Hebat ya, memukul benda mati bisa, tapi mengusap kepala anak sendiri saja tanganmu kayak mau meledak?"
Wajah Jeremy memerah padam mendengar omelan Cahaya yang mengingatkannya pada seseorang.
"Kau tidak tahu apa-apa soal posisiku!"
"Posisimu? Posisimu itu cuma pria pengecut yang takut mengakui kalau dia butuh anaknya!" Cahaya merebut remasan kertas dari tangan Jeremy, merapikannya kembali dengan kasar. "Dengar ya, tuan besar Sebastian yang terhormat. Kalau Om tidak sudi datang karena merasa terlalu berkelas untuk acara sekolah, biar saya yang datang sebagai walinya!"
Jeremy tertegun, ia sempat kehilangan kata-kata. "Kau? Siapa kau berani mewakiliku?"
"Saya Cahaya! Orang yang jauh lebih peduli pada Lio daripada ayahnya sendiri yang cuma tahu cara mengumpat dan marah!" Cahaya menoleh pada Elio yang masih gemetar ketakutan, lalu tersenyum lembut. "Lio, jangan sedih ya. Kak Aya yang akan datang. Kak Aya akan duduk di baris paling depan dan teriak paling kencang saat Lio tampil. Oke?"
Elio menatap Cahaya dengan mata berbinar haru, lalu mengangguk pelan. "Benar, Kak?"
"Kakak janji pahlawan super!" Cahaya mengacungkan jempolnya.
Cahaya kembali menatap Jeremy dengan tatapan menghina. "Sana pergi ke kantormu yang mewah itu. Cari uang yang banyak sampai Om bisa beli hati baru, karena hati yang sekarang sepertinya sudah busuk."
Jeremy membuka mulutnya, hendak membalas, tapi ia benar-benar kehabisan kata-kata. Serangan verbal Cahaya terlalu cepat dan telak menghantam logikanya.
Ia hanya bisa berdiri mematung saat melihat Cahaya dengan tertatih-tatih membantu Elio memakai tas sekolahnya dan menuntunnya keluar rumah tanpa menoleh lagi padanya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, seorang Jeremy Thomas Sebastian merasa seperti pecundang di bawah atap rumahnya sendiri. Ia melihat tangannya yang luka, lalu melihat pintu yang tertutup, merasakan kekosongan yang tiba-tiba menyesakkan dada.
"Sial! Apa-apaan perasaan ini?" gummanya.
*
*
"Elio, kenapa melamun? Kak Aya di sini, Sayang," bisik Cahaya lembut sambil menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya di kursi belakang mobil.
Tangis Elio yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah. Bahunya terguncang hebat, membasahi baju Cahaya dengan air mata yang terasa begitu menyakitkan.
"Kenapa daddy benci Lio, Kak? Apa Lio memang anak pembawa sial seperti yang Daddy bilang? Apa karena Lio, mommy jadi tidak ada?"
Suara serak bocah itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Cahaya. Ia mendekap Elio lebih erat, mengusap punggungnya dengan penuh kasih.
"Tidak, Lio. Jangan pernah katakan itu. Kamu adalah anugerah terbesar yang sangat diinginkan mommy. Daddy hanya... dia hanya sedang tersesat dalam kesedihannya sendiri."
Elio terisak, napasnya tersengal di antara tangisnya. "Lio selalu berusaha jadi anak baik. Lio belajar rajin, Lio tidak nakal, supaya daddy mau tersenyum sedikit saja pada Lio. Tapi daddy selalu marah. Lio cuma ingin daddy datang melihat Lio menyanyi hari ini. Apa Lio salah?"
Cahaya menyeka air mata di pipi Elio, menatap dalam ke mata kecokelatan yang redup itu.
"Lio... Kak Aya tanya satu hal ya? Setelah semua sikap dingin daddy, apa Lio masih menyayangi daddy?"
Tanpa ragu sedikit pun, Elio mengangguk pasti. "Lio sangat sayang daddy. Meskipun daddy galak, Lio selalu berdoa supaya daddy tidak sedih lagi. Lio cuma punya daddy di dunia ini, Kak."
Cahaya tertegun. Ketulusan hati anak ini begitu murni hingga membuat dadanya sesak. "Anak baik. Ternyata kamu jauh lebih dewasa dari papamu yang keras kepala itu. Sudah ya, jangan menangis lagi. Hari ini Kak Aya yang akan jadi saksi betapa hebatnya Lio di panggung. Kita tunjukkan pada dunia kalau Lio adalah bintang paling terang, oke?"
"Iya, mommy." Elio menyandarkan kepalanya di bahu Cahaya.
"A-apa Lio bilang? Mommy?" ulang Cahaya.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭