NovelToon NovelToon
Kultivator Tinta Surgawi

Kultivator Tinta Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Action / Epik Petualangan / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Bai Feng, Si Jenius yang Terusik

Angin di koridor batu Sekte Mo-Yun terasa lebih tajam daripada di pelataran bawah. Di sini, udara membawa aroma tinta segar yang mahal, bukan lagi bau debu jalanan. Guiren melangkah perlahan, dipandu oleh ketukan tongkat kayunya yang beradu ritmis dengan lantai pualam. Di sampingnya, Xiaolian memegang lengan jubahnya, bahunya sedikit menyusut setiap kali mereka berpapasan dengan murid-murid berseragam rapi.

Di ujung koridor, dekat dengan Paviliun Tinta Utama, sekelompok murid berkumpul. Pusat perhatian mereka adalah seorang pemuda dengan jubah abu-abu perak yang melambai elegan. Bai Feng. Ia berdiri dengan tangan di balik punggung, memperhatikan gulungan kanvas yang baru saja dinilai.

Bai Feng tidak sombong dengan cara yang berisik. Ia adalah definisi dari ketenangan yang terlatih. Namun, saat Guiren melintas, gerakan tubuh Bai Feng membeku sejenak. Ia telah mendengar tentang "garis lurus" di pelataran ujian, sebuah torehan yang membuat Penatua Han terdiam lebih lama daripada saat melihat lukisan naga milik Bai Feng sendiri.

"Jadi, ini orangnya?" suara Bai Feng lirih, namun cukup jernih untuk menghentikan langkah Guiren.

Bai Feng melangkah maju, memisahkan diri dari kelompoknya. Matanya yang tajam memindai sosok Guiren, dari kain penutup mata yang kusam hingga sepatu kain yang hampir jebol. Ada kilatan rasa tidak nyaman di balik sorot matanya yang tenang. Bagi Bai Feng, keberadaan Guiren bukan sekadar gangguan estetika, itu adalah anomali yang mengusik rasa amannya.

"Puncak Terasing adalah tempat bagi mereka yang tidak memiliki masa depan," ucap Bai Feng, berdiri tepat di jalur jalan Guiren. "Membawa beban tambahan ke tempat seperti itu hanya akan mempercepat kehancuranmu sendiri. Bukankah lebih baik untuk meninggalkannya di dapur?"

Pandangannya beralih sejenak ke arah Xiaolian. Xiaolian mengeratkan genggamannya pada lengan Guiren, namun ia tidak menundukkan kepala sepenuhnya. Ia menatap sepatu Bai Feng yang bersih tanpa noda, sebuah kontras yang menyakitkan dengan kaki mereka yang berdebu.

Guiren berhenti. Ia tidak bisa melihat wajah Bai Feng, namun ia bisa merasakan riak energi yang dipancarkan pemuda itu, sebuah kombinasi dari superioritas yang rapuh dan ketakutan yang disembunyikan dengan rapi. Bai Feng adalah tipe orang yang membangun dunianya di atas pujian, dan perhatian Penatua Han pada seorang pengemis buta adalah retakan pertama pada dinding dunianya.

"Masa depan tidak ditentukan oleh di mana seseorang tidur, tapi oleh ke mana tinta itu mengalir," sahut Guiren dengan datarnya.

Bai Feng menyipitkan mata. Ujung jarinya bergerak sedikit, sebuah refleks bawah sadar seolah ingin meraih kuasnya. Ia terbiasa menjadi matahari di antara murid-murid seangkatannya. Melihat seseorang yang bahkan tidak bisa melihat matahari namun mampu menarik perhatian Penatua Han menimbulkan rasa sesak di dadanya. Jika seorang murid luar yang cacat bisa melakukan apa yang ia lakukan, maka status "jenius" yang ia sandang akan kehilangan maknanya.

"Kau bicara tentang tinta seolah kau memahaminya," Bai Feng melangkah lebih dekat, merendahkan suaranya hingga hanya mereka bertiga yang bisa mendengar. "Tapi di Mo-Yun, tinta adalah darah. Dan darahmu terlihat sangat tipis, Pengemis. Jangan mengira satu garis kebetulan bisa membuatmu berdiri sejajar dengan kami."

Guiren tetap diam. Ia merasakan ketegangan Bai Feng, bukan ketegangan seorang petarung yang siap menyerang, melainkan ketegangan seorang anak yang takut mainannya diambil. Baginya, provokasi ini hanyalah kebisingan yang tidak perlu. Ia tidak datang ke sini untuk pengakuan, ia datang untuk bertahan hidup.

"Ayo, Lian’er," bisik Guiren.

Ia menggeser tongkatnya, mencari celah di samping Bai Feng. Pemuda berstatus jenius itu tidak menghalangi secara fisik, namun ia membiarkan auranya menekan saat Guiren melintas.

Bai Feng memperhatikan punggung Guiren yang menjauh. Ia melihat bagaimana Xiaolian dengan protektif menuntun kakaknya, dan bagaimana Guiren berjalan dengan keteguhan yang tidak goyah meski dihina. Di dalam hati Bai Feng, benih iri itu mulai berakar. Bukan iri karena harta, tapi iri karena ia melihat sesuatu pada diri Guiren yang tidak ia miliki, sebuah tujuan yang begitu lurus sehingga tidak membutuhkan penonton.

"Satu garis," gumam Bai Feng pada dirinya sendiri, jemarinya mengepal di balik lengan jubah. "Aku akan melihat berapa lama garis itu bisa bertahan sebelum aku mematahkannya."

Di sisi lain, Guiren terus berjalan menuju Puncak Terasing. Ia tahu bahwa mulai hari ini, ia bukan hanya harus bertarung melawan kemiskinan dan keterbatasan fisiknya, tapi juga melawan orang-orang seperti Bai Feng yang melihat kehadirannya sebagai ancaman bagi dunia kecil mereka yang sempurna.

Langkah kaki mereka bergema menuju bagian gunung yang paling sunyi, meninggalkan kemegahan paviliun demi sebuah gubuk yang mungkin hanya tinggal puing-puing.

1
anggita
mampir ng👍like+iklan☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!