NovelToon NovelToon
Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Darah, Dendam Dan Tahta, Mojopahit Cronicle

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 27 — TANPA AMPUN

Tidak ada aba-aba.

Tidak ada teriakan untuk meyerang.

Yang pertama jatuh bahkan tidak tahu dirinya telah mati. Kematian yang cepat, sistimatis dan terorganisir.

Pisau muncul dari balik semak-semak, masuk di bawah rahang, dan dengan brutal menembus ke otak. Tubuh itu kejang sekali, lalu ambruk tanpa suara. Darah jatuh terserap kedalam tanah yang becek seperti hujan kecil yang menimpa bumi, air yang membasahi tanah.

Lima detik kemudian, hutan meledak, kekacauan pun terjadi.

Raka terseret jatuh ke dalam lumpur. Seseorang menindih tubuhnya, menutup mulutnya keras. Bau keringat, besi, dan tanah basah memenuhi hidungnya.

“Jangan bergerak,” bisik suara asing di telinganya.

Raka tidak sempat bertanya siapa. Panah melintas di atas kepala mereka, menancap ke batang pohon. Ujungnya bergetar, lalu diam.

Dari arah sungai, dua bayangan melompat keluar—bukan melarikan diri, tapi menyerang. Golok beradu dengan pedang. Percikan api kecil muncul sesaat, lalu satu tubuh terlempar ke air dengan suara benturan tumpul.

Air memerah.

Raka menatap tanpa sadar. Tidak ada teriakan. Tidak ada sumpah serapah. Mereka membunuh seperti bekerja.

Seseorang ditarik rambutnya, lehernya dipatahkan dengan cepat. Yang lain berusaha menusuk dari belakang, tapi pisaunya ditangkap, pergelangan tangannya dipelintir, tulangnya retak, bunyi patahan tulang terdengar jelas sebelum tubuhnya dilempar ke arah pohon.

Raka ingin muntah. Tidak ada satu pun wajah yang dia kenal. Semua terasa asing. Tidak ada alasan personal. Mereka mati hanya karena berada di jalur yang sama, jalur pembunuhan.

“tundukkan kepalamu!” teriak seseorang.

Terlambat.

Ledakan kecil—bukan api, tapi tanah dan batu—menerjang. Raka terpental. Dunia terasa berputar cepat. Telinganya berdengung.

Saat pandangannya kembali fokus, ia melihat nenek.

Masih luka. Masih berjalan tertatih.

Tapi bergerak.

Tongkatnya menghantam lutut seseorang. Bukan keras—tepat. Kaki itu tertekuk ke arah yang salah. Sebelum jeritan keluar, ujung tongkat menghantam pelipis. Tubuh itu roboh seperti karung beras.

Satu orang lain menyerang dari samping. Nenek tidak menghindar. Ia melangkah masuk ke jarak mati, membiarkan bilah lewat di samping tubuhnya, lalu menghantam ulu hati lawan. Sekali. Dua kali. Ketiga—lawan berhenti bergerak.

Darah menetes dari lengan nenek, tidak dihiraukan, fokus kepada pertempuran.

Raka merangkak mundur. Kakinya tersangkut akar. Ia jatuh lagi. Tangan seseorang meraih bajunya.

Bukan nenek.

Seragam itu dikenalnya.

Seragam kerajaan. Mata Raka mendelik kaget penuh ketidakpercayaan. Mengapa mereka bisa ada disini...

Pria itu tidak bicara. Ia menarik Raka berdiri dan langsung mengikat pergelangan tangannya. Gerakannya cepat, tanpa kesulitan, terasa sudah biasa.

Raka menendang. Tidak kena. Pukulan mendarat di perutnya. Napasnya hilang.

“Target harus tetap hidup,” kata suara datar.

Target.

Bukan nama.

Bukan manusia.

Tongkat menghantam helm prajurit itu dari samping. Helm retak. Darah menyembur dari bawahnya. Pegangannya pada Raka melemah.

Nenek menarik Raka menjauh.

“Raka, bangun dan lari,” katanya pendek. Pandangan Raka masih nanar, mengumpulkan kesadaran, saat menyadari posisi dan kondisi tubuhnya, Raka cepat menjawab “Lari ke mana Nek?!”

“Lari dulu yang penting selamat, mau kemana baru dipikirkan kemudian.”

Mereka berlari. Hutan terasa menyempit. Cabang-cabang pohon diterabas, terasa mencambuk wajah dan tubuh Raka, mencambuk wajah. Tanah licin. Di belakang, suara langkah mengejar—bukan satu, bukan dua.

Panah menghantam tanah di dekat kaki Raka. Ia tersandung. Nenek menariknya lagi, hampir jatuh bersama.

Dari kanan, tiga orang muncul. Dari kiri, dua. Mereka bertemu—bukan untuk bekerja sama.

Tapi saling membunuh.

Tanpa kata, mereka saling menyerang.

Raka terjebak di tengah. Raka semakin berdenyut, apa yang terjadi? Dua kelompok, satu ingin menangkap Raka satu untuk membunuh.

Satu orang terbelah bahunya. Yang lain menusuk perut lawannya, tapi langsung dibalas dengan pisau di leher. Darah muncrat ke wajah Raka. Hangat.

Ia menjerit keras. Kaget? Jelas...

Teriakan itu membuat semuanya berbalik.

Mata, semua mata mulai berhitung. Menimbang posisi dan jumlah.

“Ambil bocah itu!”

Raka lari lagi. Nafasnya terbakar. Dadanya sakit. Ia hampir tidak merasa kakinya sendiri.

Sungai muncul di depan.

Tidak ada pilihan lagi.

Raka melompat kedalam sungai. Byuurrr....

Air dingin menghantam keras. Arus menarik tubuh Raka ke bawah. Ia berusaha muncul, tapi tarikan terlalu kuat untuk anak kecil. Dunia terasa padam,

Dan.... sebuah tangan mencengkeram lengannya untuk menarik Raka agar tidak tenggelam..

Nenek. Sebelum pingsan Raka sempat melihat dengan samar siapa yang telah menolongnya dari arus sungai.

Mereka terbawa arus beberapa detik sebelum berhasil ke tepi. Raka batuk, muntah air dan darah.

Di seberang, sebuah bayangan berdiri, telah menunggu. Berdiri lama. Panah dilepaskan.

Seseorang entah darimana, yang muncul secara tiba-tiba, muncul entah dari mana, menebas pemanah itu dari belakang. Kepala hampir terlepas.

Tidak ada kemenangan.

Hanya jeda waktu untuk mengambil nafas.

Raka gemetar. Ia menatap nenek. Wajah perempuan itu pucat, tapi matanya tajam, sorot yang hidup, dan… marah terlihat dari kilat matanya.

“Nek Kenapa mereka semua menjadikanku umpan?” suara Raka pecah.

Nenek tidak menjawab.

Dari balik pepohonan, terdengar suara terompet pendek.

Isyarat.

Wajah nenek berubah. Bukan takut tetapi waspada. Rasa sakit dihiraukan, keselamatan lebih diutamakan

“Cepat bangun dan lari Raka,” kata Nenek.

Langkah berat mendekat. Barisan rapi. Perisai. Tombak.

Prajurit Kerajaan.

Raka berdiri, tubuhnya lemah. Ia berbalik mencari jalan untuk lari.

Tidak ada. Jalan yang coba Raka raih hanya delusi belaka.

Pasukan itu menyebar cepat, menutup semua celah. Tidak tergesa, tidak panik. Mereka terlatih tahu waktu, posisi dan mengunci targetnya.

Satu prajurit maju. Mengangkat tangan.

“Serahkan bocah itu,” katanya tenang.

Nenek berdiri di depan Raka.

Tongkatnya bergetar sedikit.

Satu langkah lagi.

Raka sadar—kalau ini berakhir, bukan dengan pertarungan besar. Tapi dengan tangan yang menariknya pergi.

“Sekarang waktunya, lari..” bisik nenek.

Dari semak belakang, sesuatu meledak—bukan api, tapi kekacauan. Serangan mendadak dari arah yang salah. Dua prajurit jatuh. Formasi pecah sesaat.

Cukup untuk lari.

Mereka berlari lagi. Dunia Raka terasa seperti mimpi buruk tanpa bangun.

Di belakang, suara besi, teriakan pendek, lalu sunyi.

Mereka berhenti jauh di dalam hutan, napas tersengal.

Raka jatuh terduduk.

Ia menatap tangannya. Darah orang lain. Banyak. Anyir, amis, dan Raka mulai terbiasa. Perlahan tapi pasti, pengalaman hidup mati telah merubah karakter, pembawaan, sikap, pola pikir dari Raka.

“Ini belum selesai,” sebuah pernyataan kata-kata yang pelan tapi menusuk dan bukan bertanya.

Nenek tidak menyangkal.

Ia hanya berkata, lirih tapi pasti,

“Ini baru dimulai.”

Di kejauhan, suara terompet lain menggema.

Lebih banyak.

Lebih dekat.

Raka menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya, ia berharap—

bukan untuk selamat,

tapi untuk tidak lagi menjadi alasan seseorang harus mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!