Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad Nikah
Ririn tampak cantik pagi itu. Kebaya putih sederhana membalut tubuhnya dengan anggun tidak berlebihan, tidak mencolok, justru memancarkan ketenangan yang membuat siapa pun yang melihatnya terdiam sesaat.
Rambutnya disanggul rapi, riasannya lembut, menonjolkan wajahnya yang selama ini jarang benar-benar diq perhatikan.
Anggie berdiri paling dekat dengannya, menatap Ririn dari ujung kepala sampai kaki dengan mata berbinar.
“Ya ampun Rin,” ucap Anggie jujur, nyaris berbisik. “Lu cantik banget, sampai gue pangling.”
Ririn terkekeh kecil, tangannya refleks merapikan ujung kebaya.
“Masa sih,” katanya pelan, meski senyum gugup tak bisa dia sembunyikan.
Dewi yang sejak tadi bersandar di meja rias langsung menyambar, senyumnya jahil seperti biasa.
“Pak Baskara bakal terpana sih lihat kamu begini, Kalian pasangan yang serasi yang satu ganteng yang satu lagi cantik,”
Dewi lalu mendekat dan berbisik, “Pasti kamu udah nggak sabar ketemu Pak Baskara, kan?”
Ririn menunduk, pipinya menghangat.
“Apaan sih,” gumamnya pelan. “Biasa aja.”
“Biasa aja dari mana,” Anggie menimpali sambil terkekeh. "Keliatan tegang begitu,”
Kalimat itu membuat dada Ririn bergetar dia menarik napas pelan, mencoba menenangkan diri.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Riani, ibu Baskara, muncul dengan senyum hangat yang langsung membuat ruangan terasa lebih terang.
“MasyaAllah,” ucap Riani begitu melihat Ririn. “Ririn cantik sekali.”
Ririn refleks berdiri dan menunduk hormat.
“Terima kasih, Mah,” ucapnya lirih, suaranya sedikit bergetar.
Riani mendekat, merapikan sedikit selendang di bahu Ririn dengan penuh kasih.
“Bas dari tadi gelisah,” katanya sambil tersenyum. “Kayaknya dia sudah nggak sabar.”
Anggie dan Dewi langsung tertawa kecil.
“Ayo,” lanjut Riani lembut. “Kita ke ruang tamu.”
Langkah Ririn terasa ringan sekaligus berat saat dia berjalan menuju ruang tamu. Di sana, Baskara sudah duduk berhadapan dengan penghulu. Setelan jasnya sederhana, namun rapi begitu melihat Ririn, Baskara terdiam.
Tatapannya tertuju penuh pada Ririn tak berpindah, tak berkedip.
Ririn ikut terhenti sejenak. Untuk pertama kalinya, dia melihat Baskara bukan sebagai bos, bukan sebagai pria dingin penuh kendali, melainkan sebagai seseorang yang terlihat gugup.
Perlahan Ririn mendekat duduk di samping Baskara.
"Kamu Cantik," Ucap Baskara berbisik, Ririn tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Acara pernikahan berlangsung sangat sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada keramaian berlebihan. Hanya Riani, Anggie, Dewi, Aryo, beberapa tetangga sekitar rumah, dan Iqbal yang datang belakangan berdiri agak jauh, menyaksikan dengan senyum tenang yang sulit dibaca.
Saat ijab kabul dimulai, suasana menjadi hening.
“Saya terima nikahnya Ririn Pradana binti Satria Pradana dengan maskawin,”
Suara Baskara terdengar mantap, jelas, tanpa ragu.
“SAH.”
Ucapan penghulu itu langsung diamini oleh semua yang hadir.
Riani mengusap air mata yang jatuh di sudut matanya. Anggie menutup mulutnya, menahan tangis haru,.Dewi tersenyum lebar sambil bertepuk tangan kecil.
Baskara menoleh ke arah Ririn.
Wanita yang dulu dia anggap terlalu tinggi untuk ia gapai terlalu lembut untuk dunia kerasnya kini resmi menjadi istrinya.
Ririn mendekat, lalu mencium tangan Baskara dengan lembut. Sentuhan itu sederhana, tapi membuat sesuatu di dada Baskara runtuh perlahan.
Perjanjian mereka kesepakatan pernikahan pura-pura itu, entah sejak kapan, semua itu terasa menguap begitu saja.
Baskara menggenggam tangan Ririn sedikit lebih erat.
“Kita jalani pelan-pelan,” ucapnya lirih, hanya untuk Ririn.
Ririn terdiam menatap Baskara tak berkata apapun hanya senyuman yang terlihat dari wajahnya.
Di antara tatapan, genggaman, dan keheningan kecil itu, ada rasa yang sulit dijelaskan bukan euforia berlebihan, bukan pula keterpaksaan hanya perasaan utuh dan tenang.
Seolah mereka berdua baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama hilang, tanpa pernah benar-benar mereka sadari.
Setelah akad selesai, suasana rumah terasa lebih hidup. ketegangan yang sejak tadi menekan dada perlahan mencair, berganti dengan senyum, napas lega, dan mata yang berkaca-kaca.
Anggie adalah orang pertama yang menghampiri Ririn.
“Selamat ya, Rin,” ucapnya dengan suara bergetar.
Air mata jatuh begitu saja di pipinya. Tanpa ragu, Anggie langsung memeluk Ririn erat seerat mungkin, seolah takut sahabatnya itu akan menjauh.
“Makasi ya, Gie,” Ririn membalas pelukan itu, suaranya lirih. “Udah nemenin gue dari awal. Dari kondisi gue yang paling berantakan.”
Anggie menggeleng cepat, masih memeluknya.
“Gue nggak ke mana-mana, Rin dari dulu, sekarang, sampai nanti lu nikah bukan berarti kehilangan gue.”
Ririn tersenyum di balik air mata.
“Gue tau,” ucapnya pelan.
Sementara itu, Dewi dan Aryo lebih dulu menghampiri Baskara.
“Selamat ya, Pak,” ucap Dewi sambil menjabat tangan Baskara dengan senyum tulus. “Akhirnya resmi juga.”
“Terima kasih, Wie,” jawab Baskara singkat, tapi nada suaranya jauh lebih hangat dari biasanya. “Makasih sudah datang.”
Aryo maju setelahnya dia menatap Baskara beberapa detik lebih lama, seolah memastikan sesuatu.
“Selamat ya, Bas,” katanya sambil tersenyum. “Akhirnya lu nikah juga.”
Baskara tidak berkata apa-apa dia justru langsung menarik Aryo ke dalam pelukan.
Aryo sedikit terkejut Baskara yang dia kenal beberapa tahun terakhir jarang sekali melakukan hal sesederhana ini. Pelukan itu membuat dadanya sesak, bukan karena canggung, tapi karena memori persahabat mereka.
“Terima kasih udah datang,” ucap Baskara pelan.
Aryo menepuk punggung sahabatnya lamanya itu.
Tak lama kemudian, Iqbal melangkah mendekat.
Wajahnya santai seperti biasa, senyumnya tipis, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
“Selamat, Mas,” ucapnya tulus.
“Bal…” Baskara tersenyum kecil. “Makasih udah datang.”
Mereka saling berpelukan tidak lama, tapi cukup untuk saling memahami tanpa banyak kata.
“Kamu bener, Mas,” ucap Iqbal pelan setelah mereka berjarak. “Soal satu hal, aku memang selalu kalah.”
Baskara tersenyum, tidak pahit, tidak juga bercanda sepenuhnya.
“Jaga Ririn baik-baik ya.” kata Iqbal lagi Baskara menepuk bahu Iqbal.
“Lu bakal nemuin kebahagiaan lu sendiri, Bal. Sama perempuan yang tepat.”
Iqbal mendengus kecil, senyumnya melebar.
“Tenang aja, Mas gue kan lebih cakep dari elu,” katanya santai.
“Cewek yang ngantri juga banyak.”
Baskara tertawa kecil tawa yang jarang keluar belakangan ini.
“Dasar.”
Setelah itu, Iqbal melangkah ke arah Ririn.
Kali ini senyumnya benar-benar lepas. Tidak ada tuntutan, tidak ada penyesalan yang ingin ditagih.
“Selamat ya, Rin,” ucapnya lembut. “Kamu kelihatan bahagia.”
Ririn menatapnya, matanya berkaca-kaca dia mengangguk pelan.
“Makasih, Bal.” Untuk semua yang tak pernah terucap,
Untuk perasaan yang akhirnya dilepaskan dengan ikhlas.
Iqbal tersenyum sekali lagi, lalu mundur pelan.memberi ruang pada cerita yang kini bukan lagi miliknya.
Di tengah rumah sederhana itu, di antara tawa, air mata, dan pelukan, satu bab telah resmi ditutup.