Kisah Dinda yang terpaksa harus menikah dengan seorang mantan napi.
Semua berawal dari balas dendam Aris yang tak bisa memiliki Nesa (kakaknya Dinda) dan juga membela adik kandungnya. Yang di mana Aris takut kalau Lia akan dinikahi oleh pak Wahyu (papa kandung Jo). Jadi Aris menculik Dinda dan di sana Aris melakukan hal yang tak diinginkan. Hingga di saat Dinda menikah dengan Briyan, Dinda dinyatakan hamil.
Karena Briyan tahu kalau anak yang di kandung Dinda bukanlah anaknya, maka perceraian pun terjadi. Hingga Aris datang kepadanya, untuk siap bertanggung jawab.
Di situ, Dinda dengan berat hati menerima Aris alias mantan napi karena Aris pernah di penjara gara-gara melakukan pemukulan terhadap muridnya dulu. Semua Dinda lakukan hanya demi anak yang ia kandung.
Akankah rumah tangga Dinda baik-baik saja? Ataukah Aris menikahi Dinda karena dendamnya dengan suami Nesa (Johan) belum terbalaskan?
Baca selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Diterima
Dengan jalan kaki Dinda akan menemui Briyan. Sedikit was-was juga, teringat akan di mana Aris pernah membekapnya saat ia jalan kaki kemarin. Hari ini Dinda hanya berdoa saja, semoga dia tak kenapa-kenapa dan dijauhkan dari marabahaya.
Tapi sepertinya doa Dinda terijabah. Dinda selamat sampai tujuan. Maka di sinilah ia sekarang. Duduk manis bersebarangan dengan Briyan. Kentara sekali bagaimana bahagianya Briyan menemui kekasihnya itu.
Berbeda dengan Dinda sendiri. Dia sedikit bingung harus berkata apa nantinya.
"Abang rindu sama Dinda," ucap Briyan sambil meraih jemari Dinda.
Dinda menunduk dalam, ia tak berani menatap manik mata Briyan. Pacar pertamanya yang mengenalkan dia bagaimana indahnya cinta. Namun sekarang--- Dinda sudah kotor, sangat kotor. Padahal setiap Briyan menginginkan yang satu itu, Dinda selalu menolaknya. Tapi sekarang, tak ada lagi mahkotanya. Apakah Briyan masih mau bersamanya?
"Dinda, apa yang sebenarnya terjadi? Abang minta maaf Din, kalau bercanda abang waktu kemarin sangat keterlalun. Abang rindu kamu Dinda, rindu kebersamaan kita, rindu ciuman kita." Briyan meremas kuat jemari Dinda. Otak orang yang satu ini, sekali ngeres tetaplah ngeres. Tak tahukah Briyan? Perkatannya barusan menghantam kejiwaan Dinda langsung.
Dinda membulatkan matanya. Ia gelisah dalam duduknya. Buliran dingin bertengger di dahinya. Sekuat tenaga Dinda menahan gejolak yang ada di dalam dadanya. Dinda harus bisa, dia harus terlihat normal seperti biasanya. Dia heran, kenapa cowok hanya memikirkan nafsunya saja? Adakah ketulusan yang sebenarnya?
Briyan yang menyadari ada yang berbeda dengan Dinda jadi khawatir. Reflek Briyan memberikan Dinda es yang baru diantarkan pramusaji di mejanya.
"Minum dulu Dinda, kayaknya kamu lagi sakit," suruh Briyan.
Dengan tangan gemetar, Dinda menyambut es itu dan segera meminumnya. Di dalam minumnya, Dinda masih berusaha mengontrol amarahnya. Dinda harus tenang. Kalau tidak, Briyan akan bertanya-tanya nantinya. Dinda ingin merahasiakan aibnya itu dengan keluarganya saja. Tidak di depan Briyan, Briyan pria yang Dinda cintai. Dinda tak ingin ditinggalkannya. Meskipun Briyan cowok mesum, tapi hati Dinda sudah terlanjur cinta.
Dinda menarik nafas dan mengeluarkanya. Setelah dirasa tenang, Dinda akhirnya mau berbicara juga dengan Briyan.
"Aku juga merindukanmu Bang," balas Dinda kemudian. Sedikit ragu dan lega saat mengungkapkannya.
"Tapi ada apa waktu itu Din? Aku melihatmu sangat kacau," tanya Briyan yang masih ingin membahas tentang kepulangan Dinda yang dilihatnya kala itu. Di mana Dinda sangat kesulitan berjalan, bahkan semuanya terlihat berantakan.
Dinda menggeleng. "Gak ada apa-apa kok Bang. Waktu itu Dinda hanya ingin menyendiri. Dinda kurang enak badan, jadi Dinda gak mau bertemu siapa-siapa dulu," balas Dinda berusaha menutupi rasa gugupnya sendiri. Dinda takut Briyan akan mudah menebaknya nanti.
"Tapi kenapa kamu pakai baju cowok Din?" Briyan tak pantang menyerah ternyata. Dia terus gencar melontarkan pertanyaan penasarannya. Briyan gak tahu, kalau mental Dinda belum normal sepenuhnya. Tapi untunglah, Dinda bisa mengontrol emosinya.
"Gak apa bang, Dinda gak bawa baju waktu itu. Temen Dinda kan tomboi. Jadi Dinda dipinjemi bajunya yang kebanyakan baju cowok," kilah Dinda dengan sedikit kesusahan saat menyadari bahwa dirinya tengah berbohong saat ini.
Briyan memicingkan kedua matanya. Tatapan yang penuh akan curiga tentunya. Tak biasanya kekasihnya ini bersikap aneh seperti ini.
"Jujurlah Din, sebenarnya ada apa?" Kali ini Briyan sedikit meninggikan suaranya.
Kondisi mental Dinda yang tak baik-baik saja, akhirnya Dinda melontarkan pertanyaan yang salah.
"Kalau Dinda sudah dinodai orang lain, masihkah bang Briyan mau menerima Dinda?"
Briyan membelalakkan matanya. Kaget bukan main.
"Ayo ikut aku Din," ajak Briyan.
"Kemana Bang?"
Namun tak ada sahutan dari Briyan. Setelah dia membayar pesanannya tadi. Dia langsung mengajak Dinda ke suatu tempat.
***
Dua insan manusia itu sedang duduk di kursi. Mereka berdua tengah berada di taman kota. Ya, Briyan membawa Dinda ke sini agar Dinda lebih leluasa menjelaskan. Bebas tanpa di dengar orang lain.
"Jelaskan Dinda, apa maksudmu tadi?" tanyanya lagi.
Dinda mulai menangis, dia terisak. Harus dari manakah dia menjelaskannya?
"Dinda jelaskan!" Ulang Briyan.
Dinda menunduk. "Aku udah gak perawan lagi Bang," jelasnya to the point. Ya, jika Briyan sungguh-sungguh. Briyan pasti tetap menerimanya. Itu keyakinan Dinda.
"APA!" Terkejut sudah si Briyan.
"Apa, jadi loe---" ucapan Briyan menggantung. Panggilannya yang dulunya kamu sudah berubah jadi loe.
"Iya Bang," sahut Dinda lirih. Dinda cuma ingin jujur sekarang.
"Selama ini loe gak pernah ngijinin gue buat nyentuh loe Din, kenapa loe bisa kayak gitu di belakang gue?" tanya Briyan emosi.
Akhirnya Dinda menjelaskan semuanya. Dari penculikan hingga pemerkosaan yang ia alami. Briyan hanya diam mendengarkan saja. Sejatinya dia juga pria yang kotor juga. Dia playboy tengil yang juga sering main perempuan. Bahkan perjakanya hilang kapan aja si Briyan udah lupa. Baginya, kasus Dinda ini tak begitu bermasalah. Briyan masih oke. Bisalah buat menerima Dinda.
"Gue gak mempermasalahkannya loe masih perawan atau gak Din? Gue mau nikahin loe, tapi dengan syarat loe gak mengandung anak dari pria bejat itu. Gue masih sayang dan cinta ama loe Din, jadi gue masih mau menerima loe," jujur Briyan. 'Meskipun gue juga sering main wanita di belakang loe,' lanjut Briyan dalam hatinya.
"Jadi abang mau menerima Dinda?" tanya Dinda dengan senang. Dia terharu akan sikap tulus Briyan. Ya, inilah yang Dinda suka dari Briyan. Karena Briyan tak mungkin meninggalkannya.
Dinda mendongakkan kepalanya. Matanya yang berair kini tengah bertabarakan langsung dengan mata coklat tua milik Briyan.
Briyan mengangguk tanda yang diucapkannya tadi benar. "Hanya saja, jangan hamil anak dari pria brengsek itu ya. Gue jijik sama anaknya," balas Briyan penuh tuntutan.
Dinda yang mengerti itu hanya mengangguk saja. Berharap perbuatan Aris tak membuahkan hasil di rahimnya. Iya, Dinda tak boleh hamil. Apalagi mengandung anak dari si monster keji itu.
Di tempat yang sama. Seorang pria tengah kecewa. Ya, seperti sebelum-sebelumnya sejak kejadian mengenaskan itu. Aris selalu membuntuti Dinda kemana pun Dinda pergi. Dia hanya berharap Dinda baik-baik saja, dan besar harapannya Dinda mau menerima lamarannya. Namun ketika melihat kenyataan malam ini, harapan Aris langsung pupus begitu saja.
Ada yang mencintai Dinda dengan tulus apa adanya. Bahkan saat Dinda tak suci sekalipun, pacar Dinda masih mau menerimanya.
Dinda memang pantas untuk dicintai. Aris hadir hanya ingin menyakitinya saja. Lebih baik dia pergi saja. Toh, percuma menunggu. Dinda juga tak pernah mau padanya.
"Semoga kau bahagia Dinda. Maafkan aku yang merusak hidupmu. Aku akan pergi," gumam Aris sedih.
Aris melangkahkan kakinya menjauh dari taman itu. Dia akan mencari adiknya, si Lia. Hidup keluarganya sudah hancur berantakan. Semua karena ulahnya.
Ibunya yang sakit entah di mana keberadaannya. Begitu juga Lia, bahkan Aris juga sudah menghancurkan kisah cinta adiknya itu. Hingga kini karma itu datang. Harapan dan rencananya failed. Gagal dan kini dia yang sakit hati.
Back to Dinda
"Jadi apa rencana Abang soal hubungan kita?" tanya Dinda. Dia ingin kepastian. Agar Aris tidak mengejarnya lagi.
"Em, aku mau kabarin mamah dulu. Rencananya sih kalau mamah udah setuju. 3 Minggu lagi Abang akan nikahin kamu," ujar Briyan dengan pasti.
"Benarkah Bang?" tanya Dinda memastikan.
"Bener sayang. Bersiaplah menjadi istri Briyan."
Dan Dindanya tersenyum. Hingga keadaan kembali seperti semula. Dinda terlihat bahagia.
Bersambung...
Akankah pernikahan mereka berjalan lancar?
masih nyimak