NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Ruang OSIS SMA Nusantara sore itu terasa pengap meskipun pendingin ruangan sudah dinyalakan maksimal. Di atas meja besar yang penuh dengan tumpukan kertas, laptop yang menyala, dan botol air mineral yang setengah kosong, Ayrania Johan tampak sedang bertarung dengan ribuan angka dan kata.

"Jadi, untuk bagian guest star, kita punya tiga opsi. Tapi kalau kita ambil opsi pertama, anggaran untuk dekorasi harus dipangkas dua puluh persen," ucap Rendy, sang Ketua OSIS, sambil menunjuk ke arah layar laptop yang sedang mereka berikan perhatian penuh.

Ayra mengangguk pelan, jemarinya lincah menari di atas keyboard. Namun, gerakannya mulai melambat. Sejak satu jam yang lalu, kepalanya mulai terasa berdenyut-denyut. Efek terkena terik matahari saat praktik tolak peluru pagi tadi tampaknya mulai terasa sekarang.

"Ay? Kamu nggak apa-apa?" tanya Rendy lembut. Ia menyadari Ayra berkali-kali memijat pelipisnya dan sesekali memejamkan mata dengan rapat.

"Nggak apa-apa, Kak. Cuma pusing dikit, mungkin karena kurang minum," jawab Ayra, mencoba memberikan senyum profesionalnya yang biasa.

"Jangan dipaksain. Kita bisa lanjut besok pagi kalau kamu capek," Rendy menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Ia meletakkan tangannya di atas meja, hampir menyentuh tangan Ayra yang sedang memegang mouse. "Wajah kamu pucat banget, Ay."

Ayra menggeleng. "Tanggung, Kak. Sedikit lagi selesai bagian anggarannya. Nanti kalau dibawa pulang malah nggak fokus."

Di luar ruang OSIS, di koridor yang sudah mulai sepi, sesosok cowok dengan jaket basket hitam sedang berdiri bersandar pada tembok. Alano sudah menunggu di sana sejak sepuluh menit yang lalu. Ia tahu Ayra sedang rapat, tapi melihat jarum jam sudah melewati pukul lima sore, kesabarannya mulai habis.

Alano mengintip dari kaca kecil di pintu ruang OSIS. Rahangnya mengeras saat melihat Rendy duduk sangat dekat dengan Ayra. Ia bisa melihat betapa lelahnya wajah Ayra, dan itu membuatnya semakin kesal pada Rendy yang masih saja membahas soal proposal Pensi.

Tok! Tok! Tok!

Alano tidak menunggu izin masuk. Ia langsung membuka pintu dengan kasar, membuat kedua orang di dalam ruangan itu tersentak kaget.

"Waktu kerja paksa udah selesai, Pak Ketua," suara Alano menggema, dingin dan penuh sindiran.

Ayra mendongak, matanya yang sayu menatap Alano dengan bingung. "Lano? Kamu ngapain di sini? Kan aku bilang aku ada rapat."

"Rapat atau lagi disiksa?" Alano berjalan masuk, menghampiri meja mereka. Ia menatap tajam ke arah Rendy. "Liat tuh sekretaris lo. Matanya udah merah, pucet. Lo mau dia pingsan di sini?"

Rendy berdehem, mencoba tetap tenang. "Kita lagi bahas hal penting, Lan. Ayra sendiri yang bilang dia mau nyelesaiin ini sekarang."

"Oh, gitu?" Alano beralih menatap Ayra. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Ayra tanpa permisi. "Ay, badan lo panas banget. Lo demam."

Antara Tanggung Jawab dan Rasa Sakit

Ayra mencoba menepis tangan Alano, tapi tenaganya seolah menguap. "Aku nggak apa-apa, Lano. Dikit lagi selesai kok..."

"Selesai apanya?! Lo mau mati konyol gara-gara kertas ini?" bentak Alano pelan namun tegas. Ia langsung menutup laptop Ayra tanpa ampun. "Ayo pulang."

"Lano! Aku belum simpan datanya!" seru Ayra panik.

"Udah tersimpan otomatis. Sekarang ikut gue," Alano menarik kursi Ayra menjauh dari meja. Ia menoleh ke arah Rendy yang tampak keberatan. "Rendy, kalau ada yang kurang, lo lanjutin sendiri. Jangan manfaatin sifat nggak enakan Ayra buat kepentingan OSIS lo."

Rendy berdiri, wajahnya mulai tampak kesal. "Gue nggak manfaatin dia, Lan. Ini tanggung jawab kita bareng-bareng."

"Tanggung jawab juga termasuk tau kapan harus berhenti," balas Alano telak. Ia mengambil tas Ayra, menyampirkannya di bahunya sendiri, lalu menarik tangan Ayra dengan lembut namun tidak bisa dibantah.

Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Ayra hanya bisa pasrah. Kepalanya benar-benar terasa berputar sekarang. Alano membantunya naik ke atas motor sport-nya, memastikan Ayra duduk dengan nyaman sebelum ia sendiri naik.

"Pegangan yang kuat. Kalau lo jatuh, gue yang dimarahin Mama Aura," ucap Alano.

Ayra menurut. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Alano, menyandarkan kepalanya di punggung cowok itu—punggung yang sama yang tadi siang ia obati. Merasakan kehangatan tubuh Alano dan aroma parfumnya, entah kenapa rasa pusing Ayra sedikit berkurang.

"Makasih ya, Lan..." bisik Ayra hampir tak terdengar karena terpaan angin.

Alano tidak menjawab, tapi ia menggenggam tangan Ayra yang melingkar di pinggangnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang stang motor. Ia memperlambat laju motornya, tidak ingin guncangan di jalan membuat pusing Ayra bertambah parah.

Di balik helmnya, Alano tersenyum tipis. Meskipun ia kesal karena Ayra memaksakan diri, ia merasa senang karena setidaknya di saat lemah seperti ini, Ayra tidak mencari Rendy. Ayra mencarinya—atau setidaknya, Ayra membiarkan dirinya ditemukan olehnya.

"Dasar bego," gumam Alano pelan, ditujukan untuk gadis di belakangnya yang kini mulai memejamkan mata karena kelelahan. "Udah tau sakit masih aja sok kuat."

Sesampainya di rumah, Alano tidak langsung membiarkan Ayra turun. Ia membimbing gadis itu masuk sampai ke depan pintu rumah Papa Johan.

"Malam ini jangan belajar. Minum obat, terus tidur. Gue bakal bilang ke Mama Aura biar lo nggak diganggu," pesan Alano sebelum ia melompati pagar rumahnya sendiri.

Ayra menatap punggung Alano yang menghilang di balik pintu rumah sebelah. Ia memegang dadanya. Perasaan ini... ia masih belum bisa menyebutnya cinta, tapi ia sadar bahwa Alano adalah satu-satunya orang yang tahu batas kemampuannya bahkan sebelum Ayra sendiri menyadarinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!