Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14: Tubuh Lima Elemen
Lima belas hari telah berlalu sejak tantangan Panggung Hidup Mati diumumkan.
Di luar Lembah Abu, sekte sedang ramai membicarakan peluang taruhan. Pasaran taruhan sangat berat sebelah 1 banding 50 untuk kemenangan Wang Jian. Hampir tidak ada yang memegang Li Wei, kecuali beberapa murid miskin yang berharap pada keajaiban atau sekadar membenci arogansi Wang Jian.
Namun, di dalam Lembah Abu, suasana hening dan mencekam.
Seluruh tanaman herbal telah dipanen habis. Ladang itu kini kosong, digantikan oleh galian parit-parit rumit yang membentuk pola geometris aneh sebuah Formasi Pengumpul Roh Besar.
Li Wei berdiri di pusat formasi, telanjang dada. Tubuhnya kurus namun berotot, penuh dengan bekas luka latihan. Di sekelilingnya, ia telah menanamkan Batu Roh (seluruh tabungannya) dan Inti Ratu Laba-laba sebagai mata formasi.
"Ini gila," bisik Li Wei, menatap tanah di bawah kakinya.
Di bawah sana, Vena Naga Utama sedang bergejolak, marah karena disegel terlalu lama. Membukanya sama dengan meledakkan bendungan tepat di wajah sendiri.
"Wang Jian berada di Lapis 6 Puncak. Dia punya teknik Klan Wang, senjata pusaka, dan pil obat tak terbatas," Li Wei menganalisis dengan dingin. "Dengan kondisiku sekarang di Lapis 5, peluang menangnya di bawah 30%. Aku butuh terobosan."
Li Wei menarik napas dalam-dalam. Ia duduk bersila di mata formasi.
Tangannya membentuk segel tangan yang rumit, teknik terlarang yang ia temukan dari fragmen ingatan Giok: [Penyedot Langit Pembalik Arus].
"Buka!"
Li Wei menghantamkan telapak tangannya ke tanah.
DUMMM!
Seluruh Lembah Abu berguncang hebat seolah gempa bumi. Burung-burung di hutan sekitar beterbangan panik.
Tanah di depan Li Wei retak. Dari celah itu, bukan uap putih lembut yang keluar seperti sebelumnya, melainkan pilar cahaya berwarna emas kotor yang meledak ke atas dengan raungan seperti naga yang terluka.
Itu adalah Qi Bumi Murni yang telah terkompresi selama ratusan tahun. Berat, liar, dan menghancurkan.
"AAARGH!"
Li Wei menjerit saat energi itu menghantam tubuhnya.
Rasanya bukan seperti dialiri tenaga, melainkan seperti dipukuli ribuan palu besi dari dalam. Kulitnya seketika memerah, lalu retak-retak seperti porselen pecah. Darah segar merembes keluar dari pori-porinya, mengubahnya menjadi patung darah dalam hitungan detik.
Giok Dao Abadi di dadanya bergetar panik, mencoba menyerap kelebihan energi itu. Tapi alirannya terlalu deras. Vena Naga ini terlalu kuat untuk tubuh Lapis 5.
"Jangan... diserap semua!" geram Li Wei, menggigit lidahnya agar tetap sadar.
Jika Giok menyerap semuanya, dia selamat, tapi kultivasinya tidak akan naik. Dia harus membiarkan energi liar itu menghancurkan tubuhnya, lalu membangunnya kembali.
Itu adalah prinsip Penempaan Tulang (Bone Forging).
"Hancurkan... lalu bentuk ulang!"
Li Wei memaksakan kesadarannya untuk mengendalikan energi liar itu. Ia memandu arus emas itu memasuki meridian utamanya. Meridiannya yang sempit dipaksa melebar paksa. Rasa sakitnya tak terbayangkan seperti menelan pecahan pisau yang mengalir di pembuluh darah.
Krak. Krak.
Tulang rusuknya patah karena tekanan internal. Lalu tulang lengannya.
"Belum cukup!" teriak Li Wei gila.
Ia mengambil Inti Ratu Laba-laba di depannya dan menelannya bulat-bulat.
Energi racun dan elemen kayu dari inti monster itu meledak di perutnya, bertabrakan dengan energi emas Vena Naga.
Perang energi terjadi di dalam tubuh Li Wei. Emas vs Ungu.
Tubuh Li Wei menggelembung, pembuluh darahnya menonjol mengerikan. Dia berada di ambang Penyimpangan Qi (Qi Deviation) di mana tubuhnya akan meledak menjadi hujan darah.
Di saat kritis itulah, Li Wei mengaktifkan [Manual Pedang Lima Arah].
Teknik ini membutuhkan keseimbangan lima elemen. Energi Vena Naga (Bumi), Inti Laba-laba (Kayu/Racun), Darahnya sendiri (Air), Hawa Panas tubuhnya (Api), dan Pedang Besi di pangkuannya (Logam).
"Lima Elemen... Berputar!"
Giok di dadanya bersinar terang, menjadi poros roda yang menyatukan kelima energi yang bertabrakan itu.
Wuuung...
Kekacauan itu perlahan menjadi harmoni.
Energi emas Vena Naga mulai meresap ke dalam tulangnya, mengubah tulang putih biasa menjadi tulang yang berkilau metalik. Energi inti monster meresap ke ototnya, membuatnya ulet dan kebal racun ringan.
Rasa sakit perlahan mereda, digantikan oleh sensasi kekuatan yang meluap-luap.
Darah kotor dan serpihan tulang lama dimuntahkan keluar dari mulut Li Wei. Kulitnya yang retak mengelupas, digantikan oleh lapisan kulit baru yang lebih halus namun sekeras kulit kayu tua.
Li Wei membuka matanya.
Tidak ada lagi warna hitam di sana. Pupil matanya berputar dengan lima warna samar sebelum kembali normal.
Kabut di sekelilingnya tersedot masuk ke dalam tubuhnya dalam satu tarikan napas raksasa.
BOOM!
Gelombang kejut menyapu ladang, meratakan gundukan tanah di sekitarnya.
Li Wei berdiri. Tulang-tulangnya berbunyi kletuk-kletuk memuaskan.
Dia mengepalkan tangannya. Udara di genggamannya meletup.
Qi Condensation Lapis 6.
Tapi ini bukan Lapis 6 biasa.
Jika Qi milik Wang Jian adalah api unggun yang besar, Qi milik Li Wei sekarang adalah lahar padat. Berat, panas, dan mematikan.
"Tubuh Lima Elemen Awal... Berhasil," gumam Li Wei.
Ia melihat ke arah Pedang Baja Hitam di tanah. Pedang itu retak karena tidak kuat menahan aura tadi.
Li Wei memungut pedang itu. Ia mengalirkan Qi barunya. Retakan di pedang itu... menutup kembali.
Ini adalah efek samping elemen Logam dan Bumi yang ia serap. Qi-nya memiliki sifat "memperkuat" benda fisik.
"Masih ada sepuluh hari lagi," Li Wei menatap langit malam yang penuh bintang.
Fisiknya sudah siap. Kultivasinya sudah mengejar. Tapi dia tahu, Wang Jian punya teknik pedang tingkat tinggi. Li Wei butuh lebih dari sekadar kekuatan kasar. Dia butuh teknik pembunuh.
Li Wei mulai mengayunkan pedangnya di tengah ladang yang hancur. Bukan jurus indah, tapi gerakan sederhana: Tusuk. Tebas. Tangkis.
Satu kali. Seribu kali. Sepuluh ribu kali.
Ia tidak berhenti makan atau tidur. Ia hanya berlatih sampai tangannya berdarah, sampai ototnya menjerit, sampai gerakan pedang itu menjadi insting, bukan lagi pikiran.
Di hari terakhir sebelum turnamen, Li Wei melakukan satu tebasan terakhir ke arah batu besar di pinggir lembah.
Srekk.
Ia tidak menggunakan Qi. Hanya gerakan murni.
Batu itu tidak pecah. Li Wei menyarungkan pedangnya dan berjalan pergi.
Detik kemudian, batu besar itu terbelah dua dengan permukaan potongan yang halus.
"Wang Jian," bisik angin yang membawa suara Li Wei keluar dari lembah. "Aku datang untuk mengambil nyawamu."