NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

WUSHH!!! BOMM!!!

Liang Shan mengayunkan goloknya dalam satu putaran penuh. Namun, yang keluar bukanlah sekedar tebasan baja. Dunia di sekitar mereka seolah-olah terhenti. Suara mendadak hilang.

Ruangan itu tampak seperti cermin yang dipukul palu godam—pecah berkeping-keping dalam distorsi ruang yang mengerikan.

Gelombang energi hitam kemerahan melahap segalanya. Tubuh Tiga Pemetik Nyawa hancur seketika, tubuh mereka lenyap menjadi abu sebelum sempat berteriak.

Zhuo Long mencoba menangkis dengan pedangnya, namun pedang legendaris itu juga patah menjadi ribuan serpihan kecil.

Pria tua tersebut terlempar menghantam dinding makam dengan dada yang hancur. Seluruh aula makam bergetar hebat, atap-atap batu mulai runtuh menimbun mayat-mayat terakota.

Liang Shan berdiri tegak di tengah kehancuran, namun tubuhnya kaku seperti patung. Goloknya tertancap di lantai sebagai tumpuan agar ia tidak tumbang. Asap tipis keluar dari pori-pori kulitnya.

Zhuo Long, yang masih memiliki sisa napas terakhir, menatap Liang Shan dengan ngeri.

"Jurus terkutuk! Demi ambisi pribadi, bahkan kau rela menghancurkan jiwamu sendiri ..." ujarnya terbata-bata.

Liang Shan tidak membalas. Dengan sisa kesadarannya yang hanya tinggal setitik, ia melangkah menuju peti mati kaisar pertama, lalu merenggut Serpihan Darah Naga dari atas dada mumi kaisar.

Begitu permata merah itu menyentuh tangannya, sebuah energi hangat yang murni merayap masuk, memberikan kekuatan sementara untuk menggerakkan kakinya.

"Liang Shan!" Han Xiang berlari menghampiri sambil memapah tubuh pemuda itu yang terasa sedingin es.

"Kita ..., harus pergi ..., sekarang," bisik Liang Shan parau.

Yue Niang segera membantu memapah di sisi lain. Mereka bertiga berlari melewati lorong-lorong yang mulai runtuh. Di belakangnya, suara gemuruh makam yang amblas menelan semua rahasia dan jasad para penjaga.

Tidak ada jenderal kekaisaran yang tahu apa yang terjadi di sana. Juga tidak ada pasukan yang melihat pertarungan itu.

Bagi dunia luar, makam itu hanya runtuh karena gempa yang tidak dapat dijelaskan.

Saat mereka berhasil keluar dari saluran air dan menghirup udara malam yang bebas, Liang Shan menatap ke langit.

"Akhirnya ..." Liang Shan bergumam sebelum seluruh dunianya menjadi gelap.

Ia jatuh pingsan di pelukan Han Xiang, tepat saat fajar pertama mulai menyentuh cakrawala Kota Menara Langit.

Gema reruntuhan Makam Naga masih terngiang di telinga, namun kesadaran Liang Shan telah lama tenggelam dalam kegelapan yang pekat.

Tubuhnya, yang kini menjadi wadah bagi benturan hawa sakti murni dan racun yang menghancurkan jiwa, terasa seperti sebongkah es yang perlahan retak.

Han Xiang dan Yue Niang tidak membuang waktu. Di bawah naungan mentari yang mulai muncul, mereka membawa tubuh lunglai Liang Shan menjauh dari Ibu Kota.

Dengan bantuan sisa-sisa anggota Matahari Hitam yang menyambut di perbatasan, mereka tiba di sebuah gubuk tersembunyi di dalam Lembah Kabut Abadi, sebuah tempat yang dipenuhi tanaman obat langka dan terlindung oleh formasi pepohonan kuno.

Sepanjang hari, matahari terbit dan tenggelam tanpa disadari oleh Liang Shan. Di dalam gubuk kecil itu, Han Xiang tidak pernah melepaskan jemarinya dari nadi pemuda tersebut.

Wajahnya yang cantik tampak kuyu, matanya merah karena kurang tidur. Ia terus menyuapkan sari tanaman Embun Pagi dan ramuan penguat jantung ke bibir Liang Shan yang membiru.

Di sudut ruangan, Yue Niang duduk bersila. Kecapinya tidak berhenti berdenting dengan nada-nada rendah yang bergetar lembut, berfungsi sebagai jangkar agar sukma Liang Shan tidak melayang pergi meninggalkan raga yang hancur akibat jurus Langit Retak, Jiwa Terbelah.

Saat senja hari kedua mulai turun, kelopak mata Liang Shan bergerak sedikit. Ia menghembuskan napas panjang yang terasa dingin, lalu perlahan membuka mata.

Hal pertama yang dilihat olehnya adalah wajah Han Xiang yang menangis bahagia.

"Kau sudah kembali ..., kau benar-benar kembali," bisik Han Xiang sambil memeluk leher Liang Shan.

Liang Shan berusaha duduk, meski setiap inci ototnya memprotes. Yue Niang segera meletakkan kecapinya dan membantunya bersandar.

Dengan penuh ketelatenan, kedua gadis itu melayani Liang Shan, mulai dari memberinya bubur hangat, hingga membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di kulitnya.

Setelah kekuatannya mulai pulih sedikit, Liang Shan teringat sesuatu. Ia merogoh kantong ikat pinggangnya. Lima pecahan permata itu ada di sana, bercahaya redup namun menuntut perhatian.

"Sudah waktunya," gumam Liang Shan.

Ia lalu meletakkan kelima pecahan tersebut di atas meja kayu kecil di depannya. Han Xiang dan Yue Niang memperhatikan dengan napas tertahan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Liang Shan menyusun serpihan-serpihan itu. Begitu pecahan terakhir ditempatkan di tengah, sebuah keajaiban yang mengerikan terjadi.

WUSHH!!!

Udara di dalam gubuk mendadak menjadi sangat padat. Cahaya putih keemasan meledak, menelan pandangan mereka. Di tengah cahaya itu, muncul proyeksi ilusi yang sangat nyata.

Sepuluh sosok manusia muncul, berdiri melingkar seolah-olah mereka adalah hantu yang bangkit dari kubur sejarah.

"Siapa mereka?" tanya Han Xiang dengan suara bergetar.

"Sepuluh Iblis yang membasuh tangan mereka dengan darah keluargaku," jawab Liang Shan, suaranya sedingin es.

Di depan mereka, muncul sosok pertama, dia adalah Menteri Wei Zong, sang rubah politik dengan senyum licik yang masih terlihat nyata dalam proyeksi itu.

Di sampingnya berdiri Jenderal Long Zhanyuan, pria bertubuh raksasa yang memegang tombak naga, dialah yang memimpin pasukan pembantaian malam itu.

Namun, yang membuat Liang Shan mengepalkan tinju adalah tiga sosok yang berdiri di tengah.

Mereka adalah dalang utama, "Tiga Bayangan Tak Terlihat":

-Ratu Es Gunung Selatan: Sosok wanita yang sangat cantik tapi berdarah dingin, mantan kekasih Liang Qi di masa lalu yang masih mencintainya.

-Pendekar Tapak Hitam: Sosok pendekar tua tanpa tanding dari aliran hitam yang memberikan Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang kepada Liang Shan.

-Dewa Tanpa Nama: Sosok misterius dari dunia persilatan hitam yang konon memberikan perintah langsung kepada Sekte Iblis Utara.

Selain mereka, ada lima tokoh besar lainnya, yaitu pendekar-pendekar bayaran dari berbagai sekte terlarang yang kini sudah tidak jelas keberadaannya.

Ada yang bersembunyi sebagai pertapa, ada juga yang berganti identitas menjadi saudagar kaya di negeri seberang.

"Mereka semua harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya kepada Keluarga Liang," desis Liang Shan.

Cahaya permata itu tidak berhenti sampai di situ saja. Proyeksi tersebut berubah, memperlihatkan gambaran sebuah bunga yang tumbuh di atas puncak gunung yang selalu tertutup petir.

Bunga itu berwarna ungu gelap dengan sembilan kelopak yang bersinar.

Sebuah tulisan kuno muncul di udara: Bunga Teratai Sembilan Jiwa.

"Itu adalah obatnya," Han Xiang membaca tulisan tersebut dengan mata terbelalak.

"Tapi ..., itu tidak mungkin. Kitab kedokteran kuno menyebut bunga itu sebagai pusaka negeri dongeng. Konon ia hanya tumbuh di Puncak Langit Terlarang, sebuah tempat yang bahkan tidak ada di peta dunia persilatan. Banyak yang menganggapnya sebagai mitos untuk menghibur mereka yang sekarat."

Liang Shan menatap bunga itu. Harapannya untuk sembuh total terasa sangat jauh, hampir mustahil. Namun, permata itu memberikan sesuatu yang lebih praktis untuk saat ini.

Cahaya dari permata meresap masuk ke dalam kening Liang Shan dan mentransfer sebuah teknik pernapasan rahasia.

"Teknik Metamorfosis Racun Langit."

1
jhoni
parah bnget jalan cerita nya, bnr" d luar nurul... mc nya lemah jg keracunn trus musuh" nya kekuatan nya d atas mc, ending nya mo bikin ke ajaiban ya thor bwt mc nya bebas dari racun trus ranah nya meningkat dratis🤣🤣🤣🤣
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
mcnya terlalu lemah terluka parah terus Thor... kurang menarik bacanya
asri_hamdani
bukannya lidahnya udah dipotong Mentri Wei 🤔
asri_hamdani
Menarik, cerita wuxia classic 👍
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
ini cerita silat clasic...🤔🤔😀😀
Junn Badranaya: Benar, kak
total 1 replies
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
nyimax....🤔🤭
jhoni
ne mc nya ga bs d sembuhin apa tu racun nya, lawan nya aja d luar nurul Thor🤭
Junn Badranaya: Bisa kak, wkwk. Kan itu ujian buat dia bisa lebih tragis🤣
total 1 replies
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!