Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Dara Farastasya membutuhkan seorang penjaga
...SELAMAT MEMBACA...
...Semoga suka yaa...
...🐰...
..."Lara bukan sekadar rasa. Melainkan penyebab kehancuran."...
Debu jalanan sampai menempel di tubuhnya, yang hanya dilindungi kaos tipis berwarna putih. Begitu lama dia duduk di trotoar karena perasaannya hancur lebur. Tidak peduli orang menatapnya aneh. Lelaki dengan tampilan kacau itu terus menunduk melihat sepasang kakinya menginjak aspal.
"Kak Agun, ikut Dara pulang, ya?" ujar seorang gadis yang hanya berani berdiri di belakangnya.
Lelaki itu seakan tuli, tidak mendengarkan sama sekali
Dara berjongkok di samping Agun. "Kak, Dara mohon." Gadis itu menatap dengan penuh harapan.
Tubuh gadis itu bergetar, air mata terus menetes tanpa henti. Rasa takut menyelimutinya, dunia ini terlihat sangat menyeramkan.
Dara, dia melihat cairan merah terus menetes dari kepala sang kakak. Darah itu membuatnya takut. Dara bersembunyi di balik tong sampah, menuruti perintah Agun.
Gadis itu menutup telinga dengan kedua tangan, mengigit bibir untuk menahan teriakan agar tidak lepas, dan berharap seseorang datang menolong.
Agun dikeroyok empat laki-laki bertubuh besar, yang terlihat lebih tua darinya. Agun tidak dapat menghindar karena tubuhnya pun sudah terkulai lemas, sebab masalah percintaan membuatnya frustrasi. Tersungkur di tanah dengan berlumur darah.
Sorot mata Agun sendu, mengarah kepada sang adik yang ketakutan. Malam ini menjadi hari tak terlupakan bagi Dara.
.....
Seorang gadis berjalan keluar dari sebuah supermarket. Wajahnya penuh keringat dan terlihat kelelahan. Dia membawa kantong plastik hitam di tangan yang berisi sampah, menuju tempat sampah di seberang jalan. Setelah membuangnya, gadis tersebut kembali ke area supermarket.
Rasanya bosan, dia memutuskan untuk duduk di teras sambil meluruskan kedua kaki yang terasa kaku. Mengedarkan pandangannya sembari melepas penat, dia menggerai rambutnya. Lalu, diikat kembali helaian halus itu.
Area supermarket mulai sepi karena menunjukkan pukul 9 malam. Gadis itu harus lembur setiap hari. Berada di daerah belakang bangunan, tempat yang menjadi pelampiasan lelahnya.
Bekerja dari pagi hingga malam, membuatnya selalu kelelahan sepulangnya. Apalagi pekerjaan tambahan, paksaan dari rekan kerja yang tidak menyukainya. "Capek," keluhnya.
Dara Farastasya, pegawai supermarket di bagian kasir, semenjak dua tahun lalu. Dengan bayaran yang memuaskan, Dara berat untuk meninggalkan pekerjaannya meskipun sering ingin keluar karena beberapa alasan.
Dara adalah seorang gadis yang tidak terlalu tertarik dengan yang namanya percintaan, atau semacamnya. Seumur hidupnya, dia hanya satu kali saja dekat laki-laki saat masih di bangku SMA. Namun, hubungan mereka berakhir sebelum mendapatkan status pacaran.
Hidung mancung, bibir tipis, pipi berisi, rambut sebahu yang sehat dan indah, serta mata bulat menjadi ciri khasnya. Dara mempunyai tubuh tidak terlalu tinggi, sekitar 155 cm. Beberapa orang memanggilnya pendek, padahal dia sudah percaya diri dengan tinggi badannya.
Bulan tidak terlihat bertengger di atas sana, awan hitam menutupinya. Kelam. Bintang tak muncul satu pun, mereka mendukung suasana hati Dara.
Dara menyipitkan mata saat melihat seorang lelaki misterius berjalan di seberang sana. Gadis itu mengamatinya. "ADA TONG SAMPAH, TUH!" seru Dara ketika melihat orang tersebut membuang kaleng sembarangan. Padahal, tepat di sampingnya terdapat tempat sampah.
Lelaki dengan pakaian hitam tersebut menghentikan langkah, kemudian menoleh ke arah Dara dan melemparkan tatapan tajam.
Tatapan menusuk. Dara seketika tidak berkutik, tubuhnya berdiri bersamaan dengan bulu-bulunya. Dara menelan ludah melihat orang itu dengan gemetar dan debaran jantung. Dia terlihat menyeramkan. Bercak darah terdapat di wajah, tatapan sinis, dan penampilan misterius. "Psikopat!" umpat Dara. Lalu, lari terbirit-birit masuk ke supermarket.
Dara menjadi tidak tenang. Napasnya masih memburu setelah dirinya berganti pakaian. Tangan itu bergetar hebat dan muncul rasa gelisah. Dia duduk di kursi yang terdapat di ruang ganti, mencoba menenangkan diri. "Gimana kalau dia cari aku," gumamnya.
Gadis itu memainkan jemarinya, menunduk melihat sepasang kaki yang digerakkan ke kanan dan kiri. Wajah dengan bercak darah terus terputar di ingatannya. "Takut." Bahkan, beberapa rekan kerja menjadi bingung melihat tingkah Dara.
"Kenapa, Dara?" tanya seorang teman dekat Dara. Dia duduk di samping sembari mengikat tali sepatu.
Dara menggeleng cepat. "Gak apa-apa, kok," jawab Dara.
Teman Dara yang bernama Putri itu menatap kosong, kemudian mengangguk pelan dan melenggang pergi dari sana.
Dara mengerutkan dahi, sekarang dia memikirkan bagaimana caranya pulang. "Gimana kalau ketemu dia lagi?" ucap Dara. "Apa aku minta jemput aja?" Dia bermonolog, dijawab oleh keheningan di dalam ruangan itu.
Mempunyai kepribadian yang penakut, Dara terlihat seperti gadis pendiam. Bahkan, beberapa rekan kerjanya selalu memerintah di atas tugas Dara. Namun, Dara tidak bisa menolak karena takut akan ancaman-ancaman mengerikan untuknya.
Dara masih bersyukur dan mampu bertahan karena beberapa rekan juga baik kepadanya. Hanya saja, mereka tidak satu profesi.
Pada akhirnya, gadis yang tengah ketakutan itu menghubungi rumahnya dan meminta agar dijemput. Dara mendapat jawaban, bahwa sang adik akan menjemputnya.
Takut sekali. Dara tidak berani keluar supermarket. Kejadian kelam di masa lalu, membuatnya mempunyai trauma mendalam. Namanya Dara, tetapi dia sangat takut dengan darah. Bahkan, Dara bisa pingsan, atau paling rendah tingkatannya adalah gemetaran.
Saat sang adik tiba, Dara benar-benar bertanya di luar aman atau tidak. Adiknya itu jahil, jadi dia sedikit menjahili kakaknya.
Tino Anugraha, adik laki-laki Dara yang berusia 15 tahun. Tubuhnya lebih tinggi dari Dara, rambutnya hitam sedikit bergelombang, bibir kecil dan tebal, serta rahang kokoh membuatnya terlihat menawan. Wajahnya dominan seperti anak kecil.
Tino berjalan mendahului Dara yang melangkah dengan gelisah. Sesekali cowok itu melirik ke arah sang kakak. Tino berdecak kesal, kemudian menarik tangan Dara untuk menggandengnya. "Penakut banget, sih. Udah besar Kakak itu!" tegur Tino.
Dara merasa kesal, sehingga dia mencubit lengan Tino, membuat cowok tersebut memekik pelan. "Kamu nggak tahu seseram apa orang itu," ketus Dara.
Beruntunglah Dara, Tino tidak datang terlambat menjemputnya dan lelaki itu membawa motor. Sesegera mungkin, Dara naik dan menyuruh sang adik agar melajukan motornya.
.....
Dara menghempaskan tasnya sembarang ke kasur, kemudian dia membanting tubuh ke belakang sambil meregangkan otot. Matanya mulai terpejam, larut ke dalam rasa kantuk yang teramat.
"Mandi dulu, Kak!" titah seorang wanita yang berjalan masuk. Dia asal masuk karena pintu kamar sang putri terbuka. Dara terbangun karenanya, kemudian memandangi ibunya tengah memposisikan tubuhnya duduk di tepi ranjang.
Netra Dara bertemu dengan milik Fabila, seorang wanita yang melahirkan Dara. "Kamu pasti masih takut, ya?" ucap Bila.
Dara mengangguk singkat, kemudian menundukkan kepala. Kejadian tadi, mengingkatkan Dara dengan peristiwa kelam di masa lalu. "Bunda tahu? Dara masih belum bisa lupa," ungkap Dara.
Bila mengulas senyum tipis. Dia pun mengerti bagaimana perasaan sang putri. Bila juga tidak kalah sedihnya. "Bunda paham." Mengelus kepala Dara hingga gadis itu mengangkat pandangannya, kemudian berhambur memeluk bundanya.
Dara meneteskan air mata di sana. Pelukan menenangkan, yang tidak ada di saat dulu dirinya ketakutan. "Andai waktu itu Dara bisa bujuk Kak Agun lebih cepat," gumam Dara.
"Bukan salah kamu. Ini semua takdir," kata Bila, seraya membelai rambut lembut sang putri. "Biar kamu nggak takut, kayaknya kamu memang butuh seseorang yang bisa melindungi."
Dara mendongak, menatap Bila yang tersenyum lebar. "Maksudnya? Seorang pengawal atau semacam bodyguard?"
Wanita itu menggelengkan kepala, membuat Dara mengerutkan keningnya dan melepaskan pelukan. Senyuman Bila benar-benar membuat Dara takut, seperti orang tidak sehat.
"Kamu butuh seorang suami."
Mata Dara langsung melebar mendengar kalimat itu keluar dari bibir bundanya. "Buat apa?" tanya Dara.
Bila menggelengkan kepala mendengar dan melihat respon sang anak. "Kamu tanya suami itu buat apa?" Bila mengulurkan tangan, memegang pundak Dara. "Kamu butuh seseorang untuk menemani kamu. Dan, umur kamu sudah cukup untuk menikah," katanya.
"Enggak, Bun! Dara belum siap!" Dara memundurkan tubuhnya beberapa centimeter, menjauhi sang Bunda yang memasang raut wajah penuh harapan. Sedangkan Dara, dia kembali ketakutan. "Umur Dara belum cukup," sambungnya.
"Dara, 22 tahun sudah boleh."
Dara menghela napas panjang. "Dara nggak punya pacar."
"Bunda sudah ada calonnya." Bila menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum lebar kepada sang putri. "Dino Pamungkas, 25 tahun, anak dari teman dekat Ayah," ucap Bila.
"Tapi, Dara nggak kenal, Bunda!"
"Kenalan dulu, makanya." Bila tertawa geli melihat wajah aneh putrinya. "Besok malam, kalian akan bertemu sekaligus membicarakan tanggal pernikahannya."
"Tenang saja! Dia tampan, kok, Bunda udah pernah lihat," lanjut Bila.
Dara berdecak kesal, membuang muka, kemudian kembali menatap sang bunda sambil menggenggam tangannya. "Bukan masalah itu, Bun," celetuk Dara. "Kalau dia bukan anak baik, gimana?"
"Kita lihat saja besok."
...(✿☉。☉)...