Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunyi Komputer
Lantai 12 Gedung Arthatama memiliki bau yang spesifik. Campuran antara pengharum ruangan aroma lemon sintetik yang disemprotkan otomatis setiap lima belas menit, dan bau samar kertas tua yang menumpuk di sudut ruangan arsip. Bagi Raka, ini adalah bau "aman". Bau rutinitas. Di sini, di balik sekat *cubicle* berwarna abu-abu kusam, dia bisa menjadi mesin.
Raka menatap layar monitornya. Kursor berkedip di kolom B42 pada lembar kerja Excel yang berisi laporan anggaran kuartal kedua. Angka-angka itu masuk akal. Logis. Tidak ada perasaan dalam matematika, dan itulah sebabnya Raka menyukainya. Dia mengetik dengan kecepatan stabil, suara *keyboard* mekanikalnya berpadu dengan dengung rendah pendingin ruangan sentral dan puluhan jari lain yang sedang melakukan hal serupa di ruangan itu.
"Ka, *file* presentasi buat Pak Andre udah siap?"
Suara itu datang dari balik sekat di sebelahnya. Raka berhenti mengetik, lalu menoleh sedikit. Bayu muncul, kepalanya menyembul dari balik partisi dengan rambut yang sedikit berantakan dan dasi yang sudah dilonggarkan, padahal jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Bayu adalah kebalikan dari Raka; dia berisik, ceroboh, tapi entah bagaimana selalu lolos dari masalah karena pandai bicara.
"Udah," jawab Raka singkat. Dia menggeser *mouse*, membuka folder 'FINAL_REVISI_V3', dan menunjuk layar. "Tinggal kirim *email*. Mau gue CC ke lo?"
"Boleh, penyelamat hidup emang lo," Bayu menyeringai, lalu menyandarkan dagunya di atas partisi pembatas. "Muka lo kaku banget pagi ini. Macet parah?"
"Biasa," sahut Raka, kembali menatap angka-angka. "Tanggal 14, kan? Orang gajian, jalanan penuh."
"Ah, iya. Tanggal 14," ulang Bayu, nadanya tidak menaruh curiga.
Bagi Bayu, tanggal 14 hanyalah penanda pertengahan bulan, waktu di mana saldo rekening mulai menipis tapi belum kritis. Bagi Raka, angka itu seperti kerikil tajam di dalam sepatu. Kecil, tidak mematikan, tapi menusuk setiap kali dia melangkah.
Raka menekan tombol *Enter* sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Dia mencoba fokus kembali pada tabel pivot di depannya. Dia sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Dia membalas tiga *email* klien yang rewel, memperbaiki format laporan yang berantakan dari divisi pemasaran, dan bahkan merapikan tumpukan dokumen fisik di mejanya berdasarkan abjad. Dia melakukan apa saja agar otaknya tidak memiliki celah kosong. Karena jika ada celah kosong, kenangan itu akan merembes masuk seperti air di kapal bocor.
Pukul dua belas siang, lampu di ruangan itu berkedip sekali—tanda jam istirahat dimulai. Suara kursi didorong mundur terdengar serentak, diikuti riuh rendah obrolan tentang menu makan siang.
"Ka, jadi mie ayam nggak?" Bayu sudah berdiri, merapikan kemejanya. "Anak-anak mau ke Mie Ayam Pak Tejo yang di belakang gedung. Katanya pangsit gorengnya lagi enak banget hari ini."
Raka merasakan perutnya menegang. Mie ayam.
Ingatannya tidak meminta izin untuk muncul. Sekilbat bayangan melintas: *sebuah warung tenda sederhana di pinggir jalan Dago, uap panas mengepul dari mangkuk, dan tangan seorang gadis yang dengan cekatan memisahkan potongan sawi dari mangkuknya ke mangkuk Raka karena dia tidak suka sayur.*
"Enggak, deh," tolak Raka. Suaranya datar, terkontrol. Dia pura-pura masih sibuk menggulir layar *browser*. "Gue bawa bekal. Kalian duluan aja."
Itu bohong. Raka tidak pernah membawa bekal.
"Yaelah, serius lo? Tumben amat," Bayu mengerutkan kening, tapi tidak memaksa. "Ya udah, nitip nggak?"
"Nggak usah. *Thanks*, Bay."
Bayu mengangkat bahu dan pergi bersama rombongan lain yang tertawa-tawa membahas gosip terbaru tentang resepsionis di lobi bawah. Raka menunggu sampai ruangan itu sepi, barulah dia menghela napas panjang. Dia mematikan monitor, mengambil dompet dan kartu aksesnya, lalu berjalan keluar. Bukan ke kantin, bukan ke warung mie ayam, melainkan ke arah *lift* barang yang lebih sepi.
Dia butuh tempat di mana tidak ada interaksi sosial.
Lima menit kemudian, Raka duduk di kursi tinggi menghadap jendela kaca di sebuah minimarket 24 jam di lantai dasar gedung sebelah. Di depannya ada sebotol teh kemasan dingin yang mulai berembun dan satu buah onigiri rasa tuna mayo yang masih terbungkus plastik.
Pemandangan di luar jendela hanyalah trotoar yang dipadati karyawan yang bergegas mencari makan siang. Panas matahari Jakarta memantul dari aspal, menciptakan fatamorgana yang menyilaukan. Di dalam sini dingin. Terlalu dingin, sebenarnya.
Raka membuka bungkus onigiri itu dengan hati-hati, menarik plastik pembungkusnya sesuai instruksi nomor 1, 2, dan 3. Dia menggigit ujung nasi kepal itu. Rasanya hambar. Nasinya dingin dan agak keras karena terlalu lama di lemari pendingin, nori-nya tidak lagi renyah. Tapi Raka terus mengunyah. Dia makan bukan untuk menikmati rasa, tapi sekadar mengisi bahan bakar agar tubuhnya tidak ambruk sore nanti.
Lagu dari *speaker* minimarket berganti. Intro gitar akustik yang familiar terdengar. Lagu pop Indonesia tahun 2000-an yang sering diputar di radio.
Raka berhenti mengunyah.
*Lagu ini.*
Dulu, mereka sering berdebat soal selera musik. Raka menyukai *rock* klasik yang bising, sementara gadis itu menyukai lagu-lagu pop melankolis yang liriknya mudah dihafal. Gadis itu pernah memaksanya mendengarkan lagu ini berulang-ulang saat mereka terjebak hujan di halte bus kampus, membagi satu *earphone* kabel yang kusut.
*"Dengerin deh liriknya, Raka. Ini tuh sedih banget,"* katanya waktu itu. Matanya berbinar, kontras dengan langit abu-abu di luar.
*"Cengeng,"* ejek Raka saat itu, meski diam-diam dia menikmati bahu mereka yang bersentuhan.
Sekarang, lagu itu terdengar di minimarket yang dingin, di tengah kota yang sibuk, dan Raka sendirian. Gadis itu tidak ada di sini untuk memaksanya mendengarkan liriknya. Dan ironisnya, Raka sekarang hafal setiap kata dari lagu yang dulu dia sebut cengeng itu.
Dia meletakkan sisa onigiri yang baru dimakan separuh ke meja. Selera makannya hilang total. Dia memutar botol tehnya, memperhatikan tetesan air kondensasi yang meluncur turun membasahi permukaan meja formika putih.
"Mas, kursi ini kosong?"
Suara seorang wanita membuyarkan lamunannya. Raka mendongak. Seorang wanita dengan *lanyard* biru—karyawan bank dari gedung seberang—berdiri membawa mangkuk mie instan seduh.
"Kosong," jawab Raka cepat. Dia segera membereskan sampahnya. "Silakan. Saya sudah selesai."
Raka beranjak pergi sebelum wanita itu sempat mengucapkan terima kasih. Dia berjalan cepat keluar dari minimarket, seolah-olah sedang dikejar sesuatu. Panas terik Jakarta langsung menyergap kulitnya begitu pintu otomatis terbuka, tapi itu lebih baik daripada dingin yang mencekik di dalam sana.
Dia kembali ke lobi kantornya, melewati gerbang keamanan dengan menempelkan kartu akses. Bunyi *bip* nyaring terdengar, lampu indikator berubah hijau.
*Silakan masuk,* kata mesin itu.
Raka masuk ke dalam *lift*. Dia menekan tombol 12. Di dalam kotak logam itu, dia melihat pantulan dirinya di dinding cermin. Kemejanya rapi, rambutnya tersisir, wajahnya bersih. Dia tampak seperti seorang profesional muda yang sukses. Tidak ada yang tahu bahwa di dalam dadanya ada rongga besar yang bergaung setiap kali dia diam.
Pintu *lift* terbuka. Lantai 12. Bau lemon sintetik dan kertas tua kembali menyambutnya.
Bayu sudah kembali, sedang tertawa sambil memegang tusuk gigi di mulutnya. "Wah, udah balik lo, Ka. Rugi lo nggak ikut, pangsitnya beneran juara."
Raka memaksakan seulas senyum tipis—senyum yang sudah dia latih bertahun-tahun untuk situasi seperti ini. "Besok-besok deh. Masih kenyang gue."
Dia duduk kembali di kursinya. Monitor menyala, menampilkan kembali deretan angka di Excel yang tadi ditinggalkannya. Kursor itu masih berkedip di tempat yang sama. Pekerjaan menunggunya. Dunia korporat tidak peduli apakah Raka sedang sedih, patah hati, atau merindukan seseorang yang sudah tidak ada di garis waktunya saat ini.
Garis waktu terus bergerak maju. Laporan ini harus selesai pukul empat sore.
Raka meletakkan jari-jarinya di atas *keyboard*. Dia menarik napas dalam, menahan getaran halus di tangannya, lalu mulai mengetik. Bunyi *tek-tek-tek* kembali terdengar, menyatu dengan simfoni monoton kantor itu, mengubur kembali kenangan tentang hujan, *earphone* kusut, dan onigiri dingin ke sudut terdalam pikirannya. Setidaknya, sampai jam pulang kantor nanti.