Bumi dan Bulan bukanlah sebuah nama planet dan satelit dalam tata surya melainkan nama seorang pria dan wanita yang saling membenci tapi dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Perjodohan mereka telah direncanakan sejak mereka kecil oleh kedua orang tua mereka. Bagaimana kisah selanjutnya? Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvani Rosita Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Bulan
Malam hari Bulan sudah memasukkan bajunya didalam kopor tapi beberapa bajunya sengaja dia tinggalkan didalam lemari pakaiannya. Bulan duduk dilantai bersandar di lemarinya sambil memandang seluruh isi kamarnya. Air matanya tertampung disudut matanya karena berat meninggalkan kamar kesayangannya.
"Kamu boleh sesekali pulang kerumahmu jika kamu mau, kita tidak akan pergi keluar negeri Bulan, kita hanya pindah rumahku yang jaraknya juga tidak terlalu jauh dari rumah orang tuamu. Kenapa kamu sok dramatis sekali jadi wanita? Makanya kalau belum siap nikah ya jangan nikah! Kalau aku jadi kamu aku sudah kabur dihari pernikahanku..!"
"Kenapa kamu saja yang tidak kabur dihari pernikahan kita Bumi? Kamu telah menghancurkan masa depanku! Karena kamu menikah denganku aku jadi pergi dari rumah ini!"
"Kalau aku kabur mamaku pasti bunuh diri, jadi terpaksa aku menikahimu. Dan aku juga kasihan kepada orang tuamu karena anak gadisnya tidak ada yang mau nikahi padahal umurnya sudah 25 tahun."
"Dasar brengsek! malam ini kamu tidur disofa itu! Aku akan tidur diranjang."
Bulan menarik tangan Bumi turun dari ranjang hingga dia terjatuh dari lantai. Bulan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidurnya itu.
"Kamu jadi perempuan tidak ada lembut-lembutnya kepada pria. Pantas saja kamu tidak laku-laku."
"Ayo tidur bersama." Bumi kembali berdiri dan menjatuhkan tubuhnya disamping Bulan.
"Bumi, apa yang kamu lakukan? Jangan mendekat!" Teriak Bulan karena Bumi menempelkan badannya kepada Bulan.
"Apa yang aku lakukan? Pertanyaanmu terlalu konyol. Ingat, kamu itu istriku, jadi terserah aku mau melakukan apa terhadapmu!" Bumi meletakkan tangannya diperut Bulan.
"Bumi!" Bulan melepaskan tangan Bumi dan dia berpindah ke sofa menjauhi Bumi yang sedang tertawa.
"Hahaha kamu takut?" Bumi masih tertawa dia tidak sadar jika dia berada dirumah Bulan.
"Sumpah dia bukan hanya menyebalkan tapi dia memang sudah gila." Ucap Bulan dan malam ini dia kembali tidur disofa sedangkan Bumi leluasa menguasai tempat tidurnya.
Pagi hari matahari seakan malu-malu menunjukan sinarnya. Terdengar tetesan hujan jatuh membasahi atap rumah Bulan. Suasana diluar sana begitu mendung sama seperti perasaan Bulan saat ini yang sedang sedih.
"Bulan, berhenti dong menangis, mama akan datang melihatmu sesekali. Kamu harus belajar untuk terbiasa tanpa mama dan papa karena kamu juga akan menjadi ibu untuk anak-anakmu." Ucap mamanya memeluk Bulan yang sedang terisak karena tangisannya.
"Hiks..hiks..hiks.. .mama kok tega merelakan Bulan pergi bersama orang asing. Mama nggak sayang lagi sama Bulan? Atau Bulan bukan anak kandung mama?"
"Hei hei.. mama sangat sayang Bulan, jangan sok drama lagi kamu sampai bilang kamu bukan anak kandung mama. Sudah sana pergi, suamimu sudah lama menunggumu."
"Papa nggak menahan Bulan untuk pergi?" Bulan kembali berusaha mencari dukungan dari papanya.
"Nggak sayang, papa ingin kamu bahagia bersama Bumi. Jadilah istri yang baik untuk Bumi. Jangan sering-sering bertengkar dan jangan sering-sering pulang kerumah ini jika ada masalah, tapi kamu harus selesaikan berdua masalah itu. Pokoknya papa nggak mau ada laporan dari Bumi karena kelakuan kamu yang kekanan-kanakan itu."
"Papa, apa papa nggak sayang sama Bulan."
"Papa akan selalu menyayangimu sampai kapanpun, papa akan merindukan kamu juga." ucap Papa Bagas.
"Tasya sayang sama kak Bulan. Tasya bakalan rindu sama kakak nantinya." Tasya juga memeluk Bulan.
"Maaf, mama dan papa tidak ikut mengantarmu nak."
"Iya ma." Bulan berjalan meninggalkan rumahnya. Sekali lagi dia berbalik menatap rumahnya dan orang tuanya yang berdiri dipagar melihat kepergian Bulan.
"Ma, pa... mengapa kalian tidak menahanku, aku ingin sekali kalian mengatakan, Bulan kamu nggak usah pergi, tinggal saja disini." gumam Bulan dalam hatinya.
Bulan masuk kedalam mobil dan melambaikan tangan kepada orang tuanya.
"Ma, papa rasanya ingin nangis. Papa sebenarnya nggak tega Bulan pergi. Tapi apa daya, dia telah menjadi milik orang sekarang."
"Sama pa, mama juga berusaha tegar dihadapannya padahal mama merasa sunyi jika dia tidak berada dirumah ini."
"Tasya juga ma, sudah tidak ada lagi yang Tasya gangguin dirumah ini."
Mereka bertiga meneteskan air mata masih melihat kepergian Bulan yang sudah hilang dari pandangan mata mereka.
seru kayaknya🥰
asekkk udah berubah judul lagu kita🙆🙆
iya kan thoorrt...